Secret Baby Twins CEO

Secret Baby Twins CEO
Ada Gumpa


__ADS_3

°°°~Happy Reading~°°°


"Daddy shama mommy Mollin tunggu long-long mallah shini tium-tium beulldua. Mollin eundak dapat tium!!!"


Sentakan itu berhasil membuat keduanya terkejut bukan main hingga Ana refleks mendorong tubuh suaminya menjauh darinya. Membuat Marcus sontak memberengut. "Sayang..." Rengek Marcus merasa dicampakkan.


Membuat Ana sontak menghela nafas dalam. Suaminya benar-benar tidak bisa memahami suasana yang ada. "Maaf mas, Ana tidak sengaja."


"Kamu tega dorong mas setelah semalam mas bekerja sangat keras demi bisa membahagiakan kamu?" Nah kan, semakin hari tingkah suaminya itu semakin mirip dengan si kecil Maurin yang selalu saja merengek ingin di manja.


"Ngga, mas. Bukan begitu. Ana tadi--"


"Mommy shama daddy diam-diam Mollin sheundilli? Mollin eundak di ajak shuppik-shuppik ini?" Lihat, Maurin kecil bahkan kini ikut merengek karena tak digubris Ana yang tengah sibuk membujuk bayi besarnya.


"Sebentar ya mas. Ana janji setelah ini mau menuruti semua kemauan mas." Bisik Ana. Jika tidak dijanjikan seperti ini, yakin Marcus akan tetap merengek di tengah rengekan sang putri.


"Beneran sayang? Kamu serius?" Nah kan, wajahnya langsung berbinar.


"Iya mas. Ana janji."

__ADS_1


"MOMMY... Mommy diam-diam Mollin sheundilli?" Sungut Maurin berapi-api.


"Tidak kok sayang. Kemari. Mommy ada sesuatu yang ingin mommy katakan pada Maurin."


Perlahan mimik wajah itu mulai melunak. Kaki-kaki kecil itu mulai melangkah mendekat pada sosok Ana yang kini tersenyum teduh pada sang putri. "Shekellet mommy?"


"Ya. Apa Maurin mau mendengarkannya?"


"Okklosh mommy. Mommy teupat shuppik-shuppik. Molla eundak shaball mau dungall-dungall."


"Baiklah. Kakak Maurin dengarkan mommy baik-baik. Tadi, adek bayinya menendang perutnya mommy, sayang. Apa kakak Maurin mau merasakan tendangan adek?"


Sejenak gadis kecil itu terdiam. "Meunendang? Kaki adek bayi oek-oek na dah kelluall mommy?"


"Bisha shepeulti itu? Adek bayi oek-oek na shuttullong sheukalli ya mommy."


"Ya, apa Maurin ingin merasakannya?"


"Ya mommy. Mollin mau Mollin mau... ."

__ADS_1


Ana membawa tangan kecil itu untuk menyentuh perutnya. Perlahan, tendangan kecil itu Maurin rasakan, membuat gadis kecil itu seketika memekik. "Mommy, pullut mommy ada gumpa?"


"Ahahaha, itu bukan gempa sayang. Itu tendangan dari adeknya Maurin."


"Adek bayi oek-oek tundang-tundang pullut mommy dalli dallam shana?" Pekik Maurin penuh keterkejutan.


"Iya, sayang. Maurin senang kan bisa merasakan tendangan dari adek?"


Gadis kecil itu menggeleng dengan tangan berkacak pinggang. Wajahnya tampak memberengut kala menatap pada perut sang mommy. "Adek bayi oek-oek keunnapa nakall sheukalli tundang-tundang pullut na mommy huh... Adek bayi oek-oek eundak bolleh shepeulti itu, nanti kaka Mollin pukull adek bayi oek-oek tau lassha. Mau kaka Mollin pukul adek bayi oek-oek?


Membuat kedua orang itu sontak tertegun menatap sang putri penuh tak percaya. Apa gadis kecil itu tengah memarahi adiknya karena menendang perut Ana?


"Sayang, bukan begitu. Adek menendang-nendang di dalam perut mommy karena ingin menyapa kakak Maurin."


"No mommy. Kallau adek bayi oek-oek ingin shapa-shapa kakak Mollin keunnapa eundak shuppik-shuppik aja. Dangan tundang-tundang pullut na mommy shepeulti itu. Eundak bolleh itu. Nanti pullut mommy shakit gimana?"


🍁🍁🍁


Annyeong Chingu

__ADS_1


Happy reading


Saranghaja 💕💕💕


__ADS_2