
▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ
.
.
▪︎PROLOG
"Hay... pagi semua."
Dia, seorang wanita dengan dress selutut bermotif bunga-bunga berwarna kuning dan warna utamanya putih. Laluna Charol Rawles, atau biasa di sapa Laluna. Dari nama belakangnya saja kalian pasti sudah tahu bagaimana latar belakang kehidupan wanita itu. Bagi kalian yang belum tahu, simak saja kehidupan wanita itu dan temukan sendiri jawabannya.
"Pagi, Laluna. Wah, kau sudah banyak berubah, ya? Kemarilah, kami sudah sangat merindukan mu!" Nah, perempuan itu, dia adalah teman seperjuangan dengan Laluna di masa SMA mereka dulu.
Namanya, Gracella Caroline. Mungkin merasa rindu karena mereka baru bertemu kembali setelah sama-sama melewati pendidikan mereka di Universitas pilihan mereka beberapa tahun ini. Ada yang keluar negeri, ada yang di luar daerah, ada yang di luar kota.
"Kalian Sudah lama disini?" Tanya wanita itu--Laluna--dan kemudian ikut duduk disebelah teman-temannya.
"Eh, tidak. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaan mu sekarang?" Tanya teman Laluna yang lain.
"Benar juga. Aku dengar kau tak sempat menyelesaikan kuliah mu, ya?" Tanya yang lainnya. Mendengar itu, ia hanya tersenyum.
"Kita merasa bersalah, Luna. Maaf karena tak bisa hadir saat kamu butuh semangat dari teman-teman mu." Itu si Gracella yang bersuara. Tangannya meraih jemari lentik milik Laluna dan mengusapnya dengan lembut.
"Iya... iya... Aku mengerti. Bisa bersama kalian lagi, itu sudah lebih dari cukup untuk ku." Laluna tersenyum dan mulai mencairkan suasana dengan memberi pertanyaan random pada teman-temannya. Mungkin wanita itu tidak ingin lagi mengingat masa kelam yang merenggut cita-citanya itu.
__ADS_1
"Oh iya, aku ke seberang sebentar, ya. Tiba-tiba aku menginginkan Americano. " Laluna mulai melangkahkan kakinya setelah mendapat aggukan dari teman-teman.
"Iya, aku tahu it--"
Bruhk!
Ke lima wanita itu berdiri dari duduk mereka dan mencari-cari dari mana asal suara yang mengejutkan itu. Karena suara itu tak jauh dari tempat mereka.
"Laluna?... " Gracella bergumam dan mereka masih berdiri melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Tepatnya, tak berani ikut campur.
"Ck... Lihat-lihat kalau jalan!" Pria dengan kemeja putih yang di lapisi jas dengan warna navy di atasnya. Di tangannya memegang sebuah ponsel yang terlihat masih terhubung ke sebuah panggilan.
"Gara-gara kau, jas ku terkena noda kopi!" Memang benar, Laluna tak sengaja menabrak pria itu dan membuat tutup kopi cup yang ada di pegangan pria itu jatuh dan mengenai jasnya.
"Maaf, Pak. Saya tidak sengaja. Jika anda berkenan ijinkan saya bersihkan jas anda di toilet seraya anda menunggu pesanan." Ucap Laluna dengan sopan di sertai permintaan mohon maafnya.
Pria itu terlihat arogan sekali, bukan? Bagaimana ya... keadaan istri dan anaknya. Ah, pemikiran yang terlalu jauh ya?
Ngomong-ngomong, pria itu seorang CEO dari perusahaan besar di tanah kelahirannya. Park Jimin, laki-laki berkebangsaan korea-indonesia ini sekarang tengah menetap di korea dan seperti yang tercantum di atas, bahwa dia adalah seorang CEO. Rasanya, tak ada yang tidak mengenal garis keturunan keluarga Park dari perusahaan JM Group.
Setelah menyerahkan jas yang sudah terkena noda itu pada perempuan yang menabraknya--Laluna--ia segera menuju kasir dan memesan makanannya.
"Astaga, terasa seperti mimpi... ya Tuhan, bangunkan aku jika ini mimpi. Jika bukan, pertemukan aku dengannya lagi suatu hari nanti." Hanya itu yang di ucapkannya semenjak beberapa menit lalu ketika memasuki toilet sampai sekarang disaat dirinya tengah mengeringkan jas berharga sang CEO, Park jimin.
"Dia sangat tampan, ya ampun... aroma parfumnya saja, ah...." Laluna begitu menikmati aroma parfum yang keluar dari jas itu. Bahkan, sesekali wanita itu tampak memeluk dan mencium jas tersebut.
__ADS_1
"Kau sudah selesai dengan jas ku?"
Sebuah suara di luar toilet membuat Laluna tersentak dan kemudian cepat-cepat melipat jas navy yang sudah ditunggu oleh sang pemilik di luar sana. "Sudah," Wanita itu membuka pintu utama toilet dan menyerahkan jas tersebut pada pria yang ada di hadapannya itu.
Tunggu,
Tidak ada ucapan terima kasih? Laluna membatin dan kemudian ikut pergi keluar dari area toilet sehingga terlihat seperti mengekori pria itu--Jimin.
Keduanya keluar dari restoran dan berpisah dengan arah dan tujuan yang berbeda. Laluna yang ingin membeli satu cup Americano, dan si CEO muda yang ingin kembali ke kantornya.
"Apa yang dilakukannya di Indonesia?" Gumam Laluna. Ternyata wanita itu masih memikirkan Park Jimin--CEO yang sukses di Korea Selatan. Negera asal pria itu.
.
Setelah selesai acara pertemuaan dengan teman-temannya, Laluna memutuskan untuk langsung kembali ke rumah dan istirahat. Karena pada dasarnya wanita keras kepala itu masih tidak di perbolehkan untuk melakukan hal-hal yang membuat tubuhnya merasa lelah berlebih. Bukankah keras kepala namanya jika sudah di peringatkan tapi tetap di langgar?
Laluna bergegas turun dari mobil dengan rasa pusing di kepala. Rasanya ingin transportasi saja untuk langsung sampai ke kamarnya di lantai dua. Tapi, hey! Sadarlah bahwa kau hanya manusia biasa.
Ayo kenali wanita itu lebih dalam lagi. Laluna Carol Rawles, perempuan yang terlahir dengan keturunan darah biru dan juga lahir dengan penggabungan gen antara dua negara, Korea-Indonesia.
Wanita yang punya banyak mimpi, banyak rencana, banyak tujuan. Namun hanya bisa di capainya beberapa saja. Di umurnya yang sudang menggenap angka 25, dia masih belum mengikat hubungan dengan siapapun. Dia masih belum membayangkan bahwa dia ingin menikah.
Perempuan itu lebih menyukai semesta dari pada cinta. Ya, mencintai bulan. Dia menganggap dirinya dan bulan terikat, terikat hubungan yang hanya dimengerti olehnya seorang. Dia mencintai salah satu bentuk ciptaan Tuhan itu.
Sejak kecil, ia selalu dan selalu akan menghabiskan waktu bermainnya di malam hari dengan bulan di rooftop. Mungkin saat dia lahir, orangtua nya tahu bagaimana Laluna akan menghabiskan waktunya. Dan mungkin saja itu sebab namanya adalah Laluna.
__ADS_1
.
.