
.
.
Sang pengacara Kim Namjoon, Jimin dan anggota Ot7 lainnya sudah berkumpul di ruangan utama rumah bermarga Park. Kecuali Jungkook yang sedang bertugas ke luar negeri. Meninggalkan semua kegiatan mereka dan menghadiri panggilan adik sekaligus sahabat mereka, Jimin.
"Sebenarnya, aku tak tahu kenapa sampai meminta kalian untuk datang dan secara tiba-tiba begini. Maafkan aku karena sudah menganggu waktu kerja kalian Hyung, terlebih lagi Suga Hyung. Maafkan aku." Ujar Jimin.
"Aku hanya ingin bersama kalian." Imbuhnya kemudian.
"Tidak apa-apa Jim, kau adik sekaligus sahabat kami. Kita adalah keluarga, kapan pun kau butuh, kami ada untukmu." Seokjin sebagai yang tertua, meraih bahu Jimin dan menepuknya pelan.
"Begini, karena kita semua sudah disini, bagaimana jika aku beritahu kalian sesuatu?" Namjoon memandang mereka satu persatu, termasuk Jimin yang duduk di sebelahnya. Mereka mengangguk bersamaan, kecuali Suga.
"Hanya aku dan Suga Hyung yang tahu mengenai hal ini, karena Suga Hyung yang telah mengurus Olivia untuk di interogasi di ruangan Laluna." Namjoon memulai ceritanya.
"Suga Hyung juga terlibat?!" Taehyung bertanya mewakili pertanyaan mereka yang terkejut mendengar fakta itu.
"Tunggu, ruangan... Laluna?" Jimin merasa agak aneh dengan hal itu. Ia bingung, sejak kapan Laluna memiliki sebuah ruangan yang tak pernah di ketahui olehnya di rumah ini? Atau... mungkin saja Laluna punya sebuah tempat yang tidak dia ketahui.
"Iya, aku dan Suga Hyung juga baru tahu ketika anak buah Laluna membawa kami keluar kota, dan disana ada sebuah apartement mewah namun sepi yang ternyata milik keluarga Rawless yang diambil alih oleh Laluna." Namjoon memperjelas dan yang lainnya menyimak dengan seksama.
"Di dalam apartemen itu ada sebuah tangga menuju ruang bawah tanah yang hanya di ketahui beberapa orang saja. Ruangan khusus yang dilapisi baja anti peluru dan kedap suara. Hanya beberapa dari kita yang mengetahuinya. Tepatnya keluarga Rawless, sebagian anak buah mereka, aku dan Suga Hyung. Kenapa Olivia tidak aku sebut? Itu karena saat kami membawa dia kesana, dia dalam keadaan tidak sadarkan diri. Begitu juga ketika kami membawanya keluar dari sana."
"Yang ingin aku katakan sekarang adalah, bukan hanya Olivia seorang yang berniat mencelak4i dirimu, Jim. Olivia hanya mengikuti perintah dari orang yang menyuruh dan membayarnya."
"Ada apa dengan mereka? Apa yang membuat mereka begitu mengincar ku?" Jimin mengusap wajah dan kepalanya frustasi.
"Siapa dia Hyung? Siapa bosnya?" Taehyung bertanya.
"Park Chaeryong." Sontak mata mereka membola dan menatap Suga tak percaya atas apa yang baru saja mereka dengar dari Pria itu.
"Ya-yang benar saja kau ini?" Seokjin sedikit tertawa dan masih menatap Suga menunggu jawaban darinya.
"Buka ponselmu dan baca beberapa artikel baru mengenai penangkapan yang di lakukan Laluna. Ada yang terupdate aku yakin." Mereka semua membuka ponselnya dan mencari-cari beberapa artikel yang menyangkut Laluna dan Olivia yang masih menjadi Trending topik baru-baru ini.
Dan benar saja, beredar foto Chaeryong yang sedang di b0rgol dan di seret polisi untuk masuk ke mobil. Namun, yang mereka pertanyakan sekarang adalah, kenapa Chaeryong tidak di interogasi dan langsung di putuskan hukuman tanpa mengadakan persidangan? Bahkan, Jimin saja yang sebagai korb4n tidak tahu kalau Chaeryong ternyata sudah lebih dulu masuk penjara dibandimgkan Olivia.
"Lalu kenapa baru sekarang kabar ini meluas? Juga kenapa kau tak membuat pernyataan atas Chaeryong? Padahal seharusnya dia yang menerima hukuman paling berat." Hobi bertanya, pada Namjoon.
"Itu semua sudah keputusan Laluna. Kami yang menangani kasus ini juga tidak mengerti, Hyung. Tapi jika itu menurut aturan pidana Korea Selatan, seorang pidana yang tidak akan menjalani sidang atau pun interogasi yang akan melibatkan kekeras4n, maka hukum4nnya sudah di pastikan seumur hidup." Namjoon memperjelas.
"Mungkin itulah maksud Laluna. Ia menjerumuskan Chaeryong lebih dulu ke penj4ra begitu mendapat info dari Suga Hyung sebelum dia menghadiri acara pesta untuk mempublis dirinya malam itu." Tutur Namjoon, lagi.
"Apa karena itu? dia sempat beberapa kali mempertanyakan keberadaan Chaeryong pada penerima undangan saat akan masuk ke aula. Apakah Chaeryong ikut menghadiri pesta itu atau tidak. Ternyata, saat itu Chaeryong sudah tertangkap?" Jelas Jimin.
__ADS_1
"Benar sekali."
"Tapi kenapa beritanya baru di siarkan sekarang?" Tanya Taehyung.
"Laluna pernah berhutang budi pada Chaeryong lantaran sudah menolong Jimin malam dimana Jimin mabuk dan-- Awhk!" Kalimat Namjoon terhenti di kala sebuah kaki mungil menginjak kakinya sedikit keras memberi isyarat untuk tidak melanjutkan ceritanya atau mempersingkat sedikit cerita itu.
"Intinya, Laluna tidak ingin nama perempuan itu benar-benar tercemar kecuali Olivia. Meskipun sekarang semuanya sudah tahu bagaimana Chaeryong, ia sudah pernah berusaha untuk menutupi dari media bahwa wanita itu telah melakukan kejahat4n. Sedangkan yang membuat dirinya merasa begitu marah pada Olivia karena... " Namjoon menghentikan kalimatnya dan menatap Jimin selama beberapa saat.
"Karena Jimin menjalin hubungan rahasia dengan Olivia. Bahkan ketika mereka sudah resmi menikah. Laluna pernah mengatakan pada ku ketika kami berada di apartemennya di luar kota, katanya--
FLASHBACK:
Setelah memeriksa Olivia, Namjoon dan Laluna kembali ke lantai utama dan beristirahat. Hanya perlu beberapa langkah lagi dan mereka pasti berhasil membuat Olivia menangis di depan hakim.
"Apa yang kau rasakan sejauh ini?" Namjoon menghampiri Luna dengan dua buah cup americano di tangannya.
"Lega, sangat lega. Namun terkadang aku juga merasa marah, karena... kehilangan putra ku." Jawab Laluna seraya menatap keluar jendela.
"Apa menurutmu Jimin sudah sepenuhnya membaik?"
"Dulu, saat awal-awal menikah aku pernah membayangkan bahwa aku tak akan pernah bisa mendapatkan hatinya. Aku tidak asal menebak, itu semua terlihat dari raut wajahnya yang membenciku saat itu. Sangat membenci."
"Namun satu hal yang membuatku semakin percaya bahwa Jimin itu sebenarnya sangat baik dan lembut. Meskipun sudah sangat jelas bahwa dia tak pernah menginginkan aku dan pernikahan ini, tapi dia tak pernah menyiksaku dengan tangannya langsung."
"Aku memang kerap kali merasa tersiksa dengan tingkahnya yang tak karuan dan sulit terbaca, namun aku justru tak mengerti sebenarnya apa yang dia rasakan untuk ku saat itu. Jimin pernah begitu marah dan menamp4rku saat dia mengetahui aku hamil. Begitu marah dan berubahnya dia saat itu sampai-sampai rasanya aku ingin kabur saja dari rumah itu."
"Untuk sebagian lelaki, puncaknya kemarahan mereka adalah saling menyakit1 atau menyiks4 satu sama lain. Namun Jimin? Dia hanya mampu melayangkan sebelah telapak tangannya. Juga dengan sangat pelan dan lamban."
"Yang membuatku mimisan saat itu, sebenarnya karena penyak1tku. Bukan hantam4n tangannya. Satu hal lagi, kau tahu? Saat Jimin merasa tak berdaya dan hanya bisa pasrah, dia hanya akan mengurung diri dan menangis. Tanpa meluapkan kekesalan dan kemarahannya pada orang lain. Jika sebagian orang mungkin akan m4buk dan menjadikan seseorang yang ada di dekat mereka sebagai sasaran, namun Jimin berbeda."
"Aku bahagia menjadi bagian dari kisahnya. Jika ini sebuah skenario yang diciptakan, aku rasa bukan aku pemeran utamanya, tetapi suamiku."
"Tapi aku pernah juga membencinya dan tak menyangka ternyata dia sedang menjalin hubungan dengan wanita lain bahkan saat aku sudah menjadi istrinya. Ini memang bukan sepenuhnya salah Jimin, namun aku tetap tak ingin mengalah dari perempuan itu. Olivia..."
"Yang aku lakukan sekarang atas dirinya, bukan hanya hukuman karena dia sudah berani mengusik Jimin. Tetapi itu juga balasan dari ku karena dia tak ingin melepas Jimin meskipun tahu Jimin sudah menjadi suamiku."
FLASHBACK OFF:
"Ya... begitulah. Aku juga tak tega harus melukai perempuan secantik dia. Saat itu aku hanya merasa bahwa mereka sudah mengambil kebebasan ku dengan bekerja sama dengan Laluna. Dan mereka juga ingin ikut campur tangan ke dalam perusahaan ku, tapi ternyata kami berdua sama-sama diperalat disini. Lucu ya, kisah gila ini." Tutur Jimin sedikit tertawa kecil, namun tetap saja canggung rasanya ketika membahas mengenai Olivia dan Laluna secara bersamaan menurutnya.
"Sebenarnya tadi aku hanya ingin mengatakan bahwa Chaeryong adalah pelaku utamanya. Namun cerita ini menjadi panjang karena kalian terus bertanya semakin jauh. Maafkan aku jika membuatmu tak nyaman, Jimin-shi." Tutur Namjoon menatap pria bermata elang di sebelahnya.
"Hei, tidak masalah. Aku juga sedikit tahu kesalahan ku. Aku jadi bersyukur karena sudah punya istri sekarang. Haha!" Jimin tertawa di ikuti tawa teman-temannya yang merasa lega. Lega akhirnya bisa melihat tawa dari seorang Park Jimin.
Mereka semua mengakuinya. Bahwa, hidup Jimin selama ini tidaklah mudah. Kekayaan dan reputasi yang di miliki olehnya tak pernah benar-benar bisa ia nikmati. Menurut mereka, Jimin pria yang hebat.
__ADS_1
"Aku ingin tahu lebih banyak tentang Laluna." Sebuah gumaman dari direktur pertanian, Kim Taehyung itu terdengar sampai ke telinga orang-orang yang ada di sebelahnya.
"Saat dia kembali nanti, mari kita tagih cerita mengenai dirinya dan keluarganya." Ujar Jimin dan tersenyum.
.
.
.
Berkisar antara dua ruangan kosong dari ruang operasi dimana sudah ditempati Laluna di dalamnya, terlihat dua orang dokter sedang beradu argument yang sedikit membuat keduanya terbeban.
"Kau pikir ini mudah untukku?" Jeon Jungkook, pria itu maju beberapa langkah dan membuat wanita di hadapannya mundur.
"Sulit bagiku untuk percaya ini, Lisa. Tapi kita harus segera bertindak, ingat! Ini profesi dirimu dan kau harus menanggung apapun resikonya di dalam pekerjaan mu ini, Sayang." Jungkook mendekat dan hendak meraih bahu Lalisa untuk di bawanya kedalam pelukan. Namun, yang ia dapat ternyata penolakan.
Lalisa perlahan mundur dengan air mata yang sudah terjun begitu saja meninggalkan bekas di pipi dan menjadi pertanda betapa hancurnya hati. Wanita itu tak kuasa jika harus melihat Laluna dalam keadaan yang benar-benar sek4rat.
Bahkan ia sendiri yang harus mengoperasi wanita itu. Menurutnya operasi ini seharusnya tak perlu di lakukan lagi. Lagi pula mereka semua sudah tahu, di angkat atau tidak sel kanker itu hasilnya akan sama saja nanti. Laluna tetap akan...
pada keinginannya.
.
.
.
.
Malam readers-ku.
Apa kabar kalian?
Begini,
Maaf karena Cici udah up ga tepat wktu kemarin. Cici ga bikin pengumuman, itu karena Cici gaada alasan yang benerΒ² serius gitu.
Cuma, kalian tau kan udah pada sekolah lagi?^^
Nah alasannya ya itu, Cici ikut serta dalam club seni di sekolah dan tampil kamarin waktu murid angkatan terakhir wisuda.
Alasannya itu doang^^
Kalo bikin pengumuman masa mau boong bilangnya, "maaf ya semua, untuk sementara ini ga di up karena aku lagi sakit."
__ADS_1
WHAHAH!
Intinya, maafin Cici yah^^