
▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ
"Bahkan hewan pun memiliki Tuan-nya. Bagimanakah dengan nasib ku dan diriku yang tak bertuan? "
(Laluna said)
.
Petang menjelang malam, kesunyian pun menyapa. Langit oranye perlahan menghilang membawa kegelapan malam yang pekat dan dingin. Udara yang menusuk sampai ke tulang. Seperti yang di katakan suaminya, bahwa malam ini akan menjadi malam yang bising di kediaman mereka.
Dapat ia lihat dari balkon depan yang agak tertutupi tembok, para laki-laki itu mulai berdatangan. Pantas saja Jimin tak punya banyak teman yang benar-benar dekat dengannya, ternyata mereka memang sudah terikat satu sama lain yang tak bisa di gantikan oleh siapapun pertemanan itu.
Itu... tak pernah di lihat Laluna sebelumnya. Wajah dan eskpresi yang di perlihatkan Park Jimin, sangat asing untuknya. Ekspresi Jimin terbaca dengan jelas kalau dia sangat-sangat bahagia saat itu. Bahkan, ketika melihat teman-temannya sudah di depan, ia langsung berlari dan memeluk mereka satu persatu dengan durasi yang... ya, lumayan lama dan pastinya pelukan itu sangat nyaman.
"Apa dia pilih-pilih dalam berteman? Sudah hampir tiga bulan penuh disini, setiap yang datang berkunjung mau itu perempuan atau laki-laki, visual mereka yang paling menonjol. Apa Jimin memilih visual?" Wanita itu membatin.
Melihat mereka sudah masuk, Laluna pun ikut kembali ke dalam dan kembali melangkah untuk ke kamar. Tepat setelah dirinya tiba di kamar, pintu kembali terbuka yang memperlihatkan itu adalah Jimin. Dia tidak masuk, hanya berdiri di ambang pintu dan menatap Laluna beberapa saat. Kemudian kembali menarik knop pintu dan menutupnya. Mungkin dia hanya ingin memastikan kalau Laluna tak akan melanggar janjinya.
.
"Hyung, aku sangat merindukan kaliaan!" Tutur Jimin antusias. Di saat bersama orang-orang itu, entah kenapa pria itu terlihat jinak dan lembut, bahkan tak akan tega untuk disakiti.
"Kami juga, Jimin-shi." Seorang pria berbadan kekar dan berotot menimpali.
Sebut saja Kim Namjoon. Perkenalan singkat, mungkin?
Kim Namjoon, adalah seorang Profesor terkenal di dunia para mahasiswa. Namanya sudah melambung ke berbagai benua. IQ-nya lah yang membuat dirinya terkenal di saat usianya yang masih terbilang muda untuk menyandang Title Prof.
"Ngomong-ngomong, dimana Jungkook?" Itu lelaki berbahu lebar dengan wajah sempurna menurut sains, juga masuk nominasi Word Wide Handsome urutan sepuluh besar. Pria pecinta warna pink dan berprofesi sebagai Chef dengan bayaran termahal itu adalah orang yang paling memanjakan seorang lelaki yang mereka anggap adik bungsu mereka, yaitu si bontot, Jeon Jungkook. Kalian bisa memanggil pria berbahu lebar itu dengan Kim Seokjin.
"Iya. Aku sudah tak sabar... " Nah, yang itu, yang sedang cemberut itu. Dia Kim Taehyung, pemilik senyum kotak, mata yang unik, dan masuk nominasi Word Wide Handsome nomor #1 pada tahun 2020. Berprofesi sebagai Direktur muda di sebuah perusahaan ternama bagian pertanian yang bertempat di Daegu.
"Jimin-shi! Cepat telepon Jk!!" Itu dia lagi. Taehyung. Sepertinya dia sudah sangat merindukan Jungkook-nya tersayang. Sama seperti Jungkook yang merindukannya.
Dan bukannnya menanggapi permintaan pria itu, Jimin malah asik mengobrol dan terkadang tersenyum malu-malu. Ia tak pernah melepas kontak matanya dengan pria yang ada di hadapannya itu. Pria berkulit putih seputih salju, pemilik senyuman paling manis, terkesan lebih tenang namun mematikan. Kita panggil saja namanya Min Yoongi.
Min Yoongi. Pria genius yang kemampuannya semakin meningkat. Debut sebagai Idol di salah satu agensi kecil yang bahkan hampir tutup, dengan kehadirannya ia membuat nama agensi tersebut melambung ke seluruh dunia, menyapu rata seluruh penghargaan dari tahun ke tahun, profesinya sebagai idol penyanyi Rap tercepat di beberapa kategori.
Terbukti dalam sebuah lagunya yang dicampur dengan dua bahasa negara lain. Kini namanya ada dimana-mana dan profesinya kian hari kian meningkat. Dari Idol penyanyi, menjadi Produser lagu dan masuk kategori produser dengan lagu paling mahal.
"Kau tak punya nomornya?" Yoongi melirik Taehyung yang sekarang nyengir menanggapi perkataannya.
"HAHAHAHA!!"
Tawa menggelegar dari para teman-temannya yang kena semprot Yoongi yang memang dingin sedingin Antartika. Tapi, sebenarnya itu bukan apa-apanya. Masih ada begitu banyak kata-kata pedas yang belum terucap dari mulut Min Yoong. Mari, malam ini kita nikmati sama-sama.
"HAHAHA!!"
Tawa dari seorang pria yang duduk di kursi paling ujung kembali terdengar, sendiri. Mungkinkah dia baru Loading otaknya? Apa pola pikirnya lambat?
Tidak! Tidak. Panggil dia Jung Hosoek atau biasa di sapa Hobi. Pria berbadan flexible, berprofesi sebagai guru dancer internasional. Dia juga debut sebagai Idol dari agensi yang sama dengan Min yoongi, hanya saja skill mereka berbeda. Mereka berdua pernah hampir akan di debutkan sebagai Group, namun Min Yoongi atau singkatnya Suga, pria itu menolak dan akhirnya mereka debut Solo.
Jung Hoseok atau Hobi, dia juga masuk dalam List Idol Kpop terkaya dengan pemegang Black Card posisi pertama dari 999(Sembilan ratus sembilan puluh embilan) orang yang terpilih di dunia. Dia juga di kenal sebagai Sunshine, panggilan dari para penggemar karena mereka berpendapat, setiap melihat Hobi tertawa, mereka merasa seperti tak punya masalah apapun. Apalagi pria itu selalu tersenyum, bahkan tawa lebarnya pun terkesan candu.
.
"HYUUNG!!!"
Sebuah suara yang membuat mereka semua berhenti bicara dan membuat jantung mereka berhenti beberapa saat. Sontak semua laki-laki itu menoleh dan terdiam, sampai kemudian sebuah senyuman lebar terukir di wajah mereka.
Itu Jeon Jungkook. Laki-laki yang sudah di nantikan mereka sejak tadi. Dalam persahabatan mereka yang sudah bertahan sepuluh tahun itu, Jungkook adalah yang termuda. Dulu saat mereka tinggal di sebuah Hasukjib bersama, mereka lah yang mengurus sekolah dan merawat Jungkook kecil mereka. Mereka menjaganya supaya tetap sehat dan bahagia setiap hari sampai tahun-tahun berikutnya sampai pria itu lulus dari sekolahnya dan kemudian mereka berpisah untuk mengejar mimpi.
Mungkin karena itulah Jungkook adalah segalanya untuk mereka. Jungkook sudah seperti adik bungsu mereka. Apalagi Kim Seokjin, pria paling tua di persahabatan mereka. Dia sangat memanjakan Jungkook, sampai-sampai rasanya tak ada yang tak pernah di kabulkan olehnya setiap permintaan Jungkook.
"JUNGKOOK!!"
Pekik mereka serentak dan mereka langsung berdiri seraya merentangkan kedua tangan masing-masing dengan niat bertaruh siapa terlebih dahulu yang akan di peluk pria bontot itu.
Jungkook berhenti berlari. Dia tahu para Hyung-nya sedang bertaruh sekarang. Jika dia memilih salah satu, yang lain pasti akan kecewa dan merasa mereka kurang special untuknya. Namun, tak kehilangan akal, Jungkook justru ikut merentangkan tangannya dan menunggu siapa terlebih dahulu yang akan memeluknya.
Dan hasilnya? Bisa ditebak. Kini dirinya sesak dengan pelukan erat dari para hyung-nya, bahkan Jimin. Jimin juga ikut-ikutan memeluknya padahal mereka setiap hari bertemu. Mungkin itu pelukan sayang.
Setelah puas dan akhirya terkumpul sudah OT7, mereka mulai mengambil tempat masing-masing di kursi bar. Jimin duduk di samping Suga, Seokjin di depan si bontot dan di sebelahnya Kim Namjoon sang monster IQ. Di sebelah Jungkook, ada Kim taehyung sang direktur, dan di hadapannya ada Namjoon. Sedangkan Hoseok, di sebelah Jimin dan posisinya di ujung meja yang menghadap pada semua orang.
Dimulailah acara minum sekaligus melepas rindu yang di impikan Jeon Jungkook. Seperti yang di katakan dan di harapkannya, bahwa dia ingin meminta semua yang hilang dulu kembali malam ini. Meskipun hanya satu malam. Diam-diam, Jungkook menyeka air matanya yang tak bisa menahan rasa bahagia karena kini mereka bisa berkumpul kembali.
"Seperti yang aku katakan kemarin, aku ingin meminta semua yang sekarang sudah hilang, kembali malam ini. Tenang saja, Hyung. Permintaan ku tak aneh!" Celetuk pria itu mulai berdiri dengan sekotak Pizza keju yang entah kapan sudah di tangannya.
Jimin tersenyum dan mengangguk. Sementara yang lainnya hanya tersenyum dan penasaran apa maksud pria itu. Jungkook memulainya dari Kim Taehyung, orang yang ia bagi semua keluh kesahnya.
"Ayo kita main kejar-kejaran setelah mabuk nanti." Ujarnya seraya memeluk pria itu sekilas. Setelahnya, ia mulai melangkah pada Namjoon yang masih memasang senyuman ber-dimplenya yang manis.
"Hyung," Panggilnya yang sekarang sudah di depan Namjoon. Jungkook tersenyum dan terlihat menahan tangis. Melihat wajahnya yang sedih-sedih senang secara bersamaan, membuat mereka semua tertawa. Pria bontot itu berjalan ke belakang Namjoon dan kemudian memegang kepala pria itu dari belakang, ia menyingkirkan rambut yang menutupi dahi Namjoon. Dengan gerakan yang cepat, ia langsung mencium sekilas dahi pria itu dengan tawanya yang meledak. Sedangkan orang yang tiba-tiba dicium hanya tersenyum seperti saat pertama kali di lakukan Jungkook.
Kini Kim Seokjin. Tiba-tiba Jungkook memegang pergelangan pria itu dan menyandarkan kepalanya disana. "Hyung, dulu aku selalu minta ini-itu padamu. Padahal saat itu keuangan kita kurang. Tapi kenapa kau selalu menurutinya?" Jungkook mengangkat kepalanya menatap Hyungnya yang sekarang juga menatapnya dengan sayang. Seokjin hanya tersenyum.
"Karena sekarang kau sudah sangat kaya, aku ingin meminta lagi padamu. Apa boleh?"
"Owh, Jungkook-ie, apa yang tidak untukmu? Bahkan, sampai kau tua dan aku sudah sekarat, kau tetap Jungkook-ie kami yang masih kecil. Katakan, apa permintaanmu?"
"Dulu, aku selalu meminta susu pisang dan jajanan lainnya yang mahal-mahal, sekarang aku sudah besar. Jadi, jajanan ku sudah berbeda, kan?" Ia menghentikan ucapannya dan menatap Seokjin yang masih memperhatikannya.
"Jadi... aku minta, di ulang tahun ku nanti, aku ingin kau menjajaniku mobil-mobil mewah dari luar negeri!" Katanya antusias.
Beberapa saat mereka semua terdiam. Namun akhirnya tawa mereka menggelegar. Permintaan yang benar-benar membuat isi dompet Chef terkuras. Kita lihat saja bagaimana tanggapan Kim Seokjin yang dikenal tak bisa menolak permintaan Jungkook.
__ADS_1
Ngomong-ngomong, jajanan orang kaya memang berbeda, ya?
"Wow! Kau pintar memilih hadiah, Jungkook-ie. Tentu saja, mobil apa yang kau inginkan? Katakan pada ku saat ulang tahun mu nanti."
Mendengar tanggapan Seokjin, Jungkook tersenyum girang. Tentu dia hanya bercanda dengan permintaannya, namun biasanya Seokjin tak pernah bercanda dengan jawabannya. Jungkook berpindah menuju target selanjutnya. Jimin. Apa yang akan dilakukannya pada pria yang selalu ia temui itu? Apa pantas dikatakan melepas rindu juga?
"Hyung, aku akan menunggu tawa mu itu." Bisiknya dan mencium pipi Jimin sekilas.
Selanjutnya, Yoongi. Jungkook memegang dagu pria itu supaya menatapnya. Kemudian, tangannya teralih pada sebuah kopi cup di hadapan pria itu. Tanpa aba-aba, ia langsung meminum kopi itu habis tak tersisa sedikit pun. Apa dia ingin melihat Suga marah? Padahal dia tahu Suga sangat menyukai kopi.
Pria dingin itu melempar pandangan tajam pada si bontot yang sekarang nyengir. Sedangkan yang lain menahan tawa menunggu apa lagi adegan selanjutnya.
"Mau sekalian kumandikan dengan kopi?"
HAHAHAHA
Tawa mereka pecah. Begitu pula dengan Jungkook. Ia langsung memeluk yoongi, bahkan ia benar-benar mendekap dengan kuat tubuh pria itu. Suga terlihat menahan nafas panjang, bahkan ia tak bisa menarik nafas lantaran begitu eratnya adiknya itu memeluknya. "Mau kutusuk perutmu, baby ot7?" Bisik suga dan langsung di lepaskan tubuhnya.
"Hobi Hyuung!! Suapi akuu!!"
.
.
Seorang wanita dengan piyama-nya yang sedikit terbuka di bagian bahu, rambut tebal dengan warna hitam pekat itu dibiarkan tergerai mengikuti hempasan arah angin, di kedua lipatan siku tangannya, ada sebuah syal rajut berwarna biru. Syal tersebut ia gunakan untuk menutupi lengannya yang terbuka dari dinginnya angin malam kala itu. Ia duduk seraya menyandarkan tubuhnya pada sofa, di tangan kanannya terdapat selembar kertas yang tengah dibacanya dengan serius. Di tangan kirinya ada sebuah botol berukuran kecil yang didalamnya berisi pil-pil berbentuk tabung yang entah untuk apa pil itu.
Menghembuskan nafas panjang, ia menghempaskan tubuhnya begitu saja di atas sofa yang berukuran besar dengan bentuk bulat itu. Matanya menatap kosong pada langit semesta yang dipenuhi bintang-bintang yang berkelap-kelip. "Huuff...." Ia kembali menghembuskan nafas panjang.
"Jika dihitung, mungkin hanya beberapa bulan lagi. Tak sampai satu tahun. Aku harap dia bisa bertahan sampai hari itu tiba." Ia bertutur.
Udara malam semakin dingin. Jam di dinding sudah menginjak angka 9 lewat. Suara bising di bawah tak lagi terdengar. Bulan semakin terang menyalurkan sinarnya pada bumi yang sedang di penuhi kegelapan. Laluna, wanita itu masih enggan beranjak dari tempatnya tidur, di balkon. Padahal ia tahu, ini sudah saatnya untuk masuk sebelum dirinya terkena flu.
Bahkan, sekarang ia sudah mengatup kedua matanya. Tubuhnya terbaring begitu saja tanpa ada selimut yang menutupinya, hanya ada sebuah syal yang ia lingkarkan dikedua pergelangan tangannya.
Mungkin saja ia sudah tertidur?
Tapi, bagaimana bisa dia tidur disaa--
PRING!!
Sebuah suara yang cukup keras yang membuat dirinya terbangun. Laluna yang terkejut dengan suara seperti pecahan kaca tersebut, ia langsung berdiri dan berlari masuk ke kamar. Tiba-tiba kekhawatiran meliputi dirinya. Ia takut karena mabuk para laki-laki itu mungkin bisa saja saling melukai. Dan... bagaimana dengan Jimin sekarang?
setelah mengambil blazer piyama-nya yang ia taruh di tepi kasur, dengan cepat ia memakai blazer dan sendalnya. kemudian berlari keluar dari kamar untuk melihat apa yang terjadi, keadaan dibawah pun kembali riuh dan kedengarannya sangat tidak tenang. Laluna benar-benar khawatir. Ia mempercepat langkahnya menuruni tangga, bahkan ia berlari dan hampir melangkahi dua anak tangga sekaligus. Gil4 sekali, bukan? Kemudian berbelok ke dapur, dan...
Thap!
Pintu masuk ke bar dibuka dengan cepat. Dan?
Semua pandangan para laki-laki disana terpaku pada seorang wanita dengan piyama berkain sutra yang sedikit terbuka dibagian bahunya. Wanita itu terdiam, sama seperti ekspresi mereka saat itu. Namun, ada yang lebih terkejut di antara mereka semua.
Wajah pria itu memucat dan terlihat sedikit gemetar. Menyadari teman-temannya yang terkejut dengan kehadiran seorang wanita dengan piyama yang sangat tiba-tiba, Jimin beranjak hendak menarik Laluna untuk segera menyingkir dari sana. Namun, baru saja pria itu akan melangkah, Laluna sudah masuk ke ruangan tersebut.
"Maaf, karena membuat kalian terkejut. Saya Laluna, pekerja baru di sini." Laluna memperkenalkan dirinya. Sebagai pembantu.
Seketika suasana kembali mencair, mereka kembali berbincang dan tertawa, kecuali Jimin. Laluna pun pergi dari sana dengan alasan hendak kembali kedapur tanpa perlu persetujuan mereka.
Pria itu masih tertegun dan terkejut. Sedangkan teman-temannya kembali minum-minum dan menyantap beberapa potong Pizza yang dibawakan Jungkook. Semuanya kembali tertawa dan berbicara melanjutkan pembicaraan yang tadinya sempat terhenti karena Laluna.
Tapi tidak dengan Jimin. Ia masih tegang dengan kejadian semenit yang lalu. Meskipun wanita itu berhasil membuat teman-temannya percaya bahwa dirinya pembantu, Jimin tetap tidak akan tenang begitu saja. Ia mulai was-was kalau-kalau Jungkook nantinya yang akan mencaritakan rahasianya itu pada mereka. Saat akan pamit keluar untuk ke toilet, Jimin di hentikan Seokjin dan Namjoon.
"Jim, siapa wanita itu?" Tanya Namjoon seraya tersenyum kecil.
Jimin tambah bungkam. Ia tak tahu harus menjawab apa untuk pertanyaan itu. Haruskah ia ikut berbohong dengan mengatakan Laluna adalah pembantu dirumahnya? Atau.... Tidak! Pria itu tak akan mengatakan yang sebenarnya. Dia sudah berjanji tak akan mempublish Laluna untuk saat ini meskipun berstatus istrinya.
"Bukankah kalian sudah mendengarnya tadi?" Hanya itu yang keluar dari mulut mungil pria itu.
"Hyung," Jimin menoleh dikala Jungkook memanggilnya. Jungkook terlihat tak percaya. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, raut wajahnya seakan ia mempertanyakan, "kenapa Jimin Hyung berkata seperti itu?"
Hah...
Pada akhirnya, harapan Jungkook untuk mendengar tawa Jimin tak terwujud. Keinginannya ludes bersamaan dengan rasa kasihan Jimin atas Laluna.
"Sebenarnya setelah aku pikir-pikir lagi, yang membuatku terkejut bukan kehadirannya yang tiba-tiba. Tapi, kecantikannya, Jim. Hehe, apalagi dengan piyama seksi itu, astaga! Kenapa tak kau nikahi saja wanita itu?" Seokjin berujar.
"Diamlah, Hyung! Kau membuatku geli. Dan apa maksudmu piyama seksi? Jaga mata dan pikiran kau itu, ya!" Celetuk Jimin menatap Seokjin dengan tatapan sinis.
"Lah? Kenapa kau marah? Bukankah dia hanya pemb--" Belum selesai pria itu mengatakan kalimatnya, sudah langsung di sela Jimin.
"Sudah-sudah! Aku ke toilet dulu." Pria itu berlari kecil melewati teman-temannya yang sedang memperbincangkan istrinya. Entah kenapa, ketika mendengar Namjoon mengatakan bahwa Laluna seksi dan cantik, telinganya terasa memanas dan ubun-ubunnya sedikit nyut-nyutan.
Saat akan masuk ke toilet utama yang tempatnya di sebelah dapur, Jimin berhenti. Netranya teralih pada Laluna yang sedang memotong beberapa buah-buahan segar dan sedang ditata olehnya dalam piring. Seketika ingatannya mengenai apa yang sudah mereka sepakati semalam terlintas kembali di benak pria itu.
Ia merasa marah, tak suka, merasa dikhianati. Jimin tak suka dengan sikap Laluna yang melanggar janji. Perlahan ia melangkah pada wanita itu, tanpa membuat suara jejak langkah kakinya. Posisi Laluna yang sedang berdiri menghadap ke dinding-dinding dapur, ia pun tak tahu kalau ada seorang pria yang siap menerkamnya tanpa peringatan saat itu.
Tanpa memberi aba-aba sebagaimana kebiasaannya, Jimin langsung menarik tangan Laluna dengan keras dan membawanya ke sisi kanan kulkas yang terhimpit antara lemari hias dan kulkas besar itu. Laluna terpojok, ia terkunci pada posisinya.
Ia meringis. Meringis kesakitan beberapa kali lantaran pergelangannya yang terlihat memucat karena terhentinya peredaran darah. Dan itu karena genggaman erat suaminya. Meskipun kesakitan, ia tak berani berkata-kata. Matanya bahkan tak berani menatap pria tampan yang ada di hadapannya itu.
Jimin menghela nafas panjang seraya berkata dengan nada berbisik, "kenapa kau melanggar janji mu? Apa kau lupa siapa aku yang sebenarnya jika untuk mu?"
Laluna masih terdiam. Ia ragu, sangat ragu bahkan untuk mengucapkan sebuah huruf. Apalagi kalimat. Wanita itu masih menunduk dan terdiam. Selain tak berani, ia juga tak tahu harus menjelaskannya bagaimana. Apa Jimin akan percaya dengan alasan darinya yang mungkin terdengar tak masuk akal untuk mereka orang-orang yang belum pernah merasakannya?
"T-tidak, Jimin-shi. Itu... bukan aku sengaja. Tadi saat dibalkon aku dengar suara pecahan kaca dan sangat keras. Aku takut mungkin terjadi sesuatu, karena buru-buru aku lupa perjanjian itu dan langsung masuk ke bar untuk memastikannya. Ku pikir, itu pecahan botol minuman, oleh karena itu aku ke bar. Tapi... sepertinya itu hanya ilusi ku saja. Maafkan aku, Jimin!" Wajah wanita itu terlihat memohon.
"Kau... berhalusinasi? Apa itu bisa dipercaya?" Jimin semakin mencengkeram pergelangan Laluna, dan wanita itu kembali meringis. Kesakitan. Sungguh, ini adalah kekerasan fisik pertama yang ia dapatkan dari suaminya selama ini. Baru kali ini. Mungkin Jimin sudah muak dengannya?
__ADS_1
"Katakan saja bahwa kau ingin pamer tubuh mu itu, kan? Kau sengaja keluar hanya dengan piyama."
Laluna mengangkat pandangannya, menatap suaminya dengan mata yang terbuka lebar dan mulut yang membentuk huruf O. Ia tercengang, bagaimana bisa pria itu berpikir sampai ke sana? Apa tadi dia terlihat seperti seorang model majalah yang akan membuka tubuhnya untuk di ekspose?
"Apa yang membuatmu berpikir begitu tentangku?" Tanya Laluna masih dengan wajah terkejut seraya menahan sakit akan cengkeraman di pergelangannya.
"Haah..." Jimin kembali menghela napas panjang, "tapi tak apa, kali ini kau kumaafkan. Karena kau sudah membuat alasan yang sedikit masuk akal dan kau sudah mencoba melindungi aib ku. Jadi, kau kumaafkan." Lanjutnya dan melepaskan pergelangan Laluna dengan kasar seraya menghempasnya. Setelahnya Jimin masuk ke toilet.
Laluna menghela napas lega dan keluar dari himpitan itu. Ia memegangi pergelangan tangannya yang terasa perih, kebas, dan nyeri yang masih sangat terasa dan masih begitu terlihat bekas merah dan lembamnya. Perlahan, ia duduk di kursi di meja dapur. Tidur di atas meja dengan tangan yang menjadi alasnya. Wanita itu menyembunyikan kepalanya diantara kedua lipatan tangan. Ia... menangis.
"Aib?" Dengan tiba-tiba dia mengangkat kepalanya dan terlihat menatap lurus kedepan dengan sedikit senyuman dan air mata yang masih berjejak di pipinya. "Hahaha... " Kemudian dia tertawa tertahan supaya tak didengar orang-orang itu disana. Tapi mungkin bisa di dengar Jimin yang baru saja berlalu melewati meja dapur dan hendak masuk ke bar.
"Jadi, ternyata kau hanya aib? Dasar wanita bod*h kau! Sudah dewasa tapi kenapa masih membiarkan orang-orang melemparimu? Haha, apa kau tak bisa melawan meski itu sekali saja? Apa itu terlalu sulit untukmu?" Laluna berdiri dari duduknya dan berbalik, matanya mengarah pada pintu berwarna navy dengan knop kuning yang berjarak sekitar 3 meter dari posisi dirinya saat itu. Pintu masuk ke bar.
"Ya! Aku hanya aib untuk orang-orang. Aku memang bod*h, sudah dewasa dan membiarkan mereka mel*mpari, mem*kul, mengh*na, bahkan mengub*r diriku. Aku memang tak bisa melawan bahkan untuk mencoba melawan pun aku tak bisa dan tak akan pernah mencoba. Itu sulit! Sangat-sangat sulit untuk perempuan yang lemah seperti ku." Air matanya kembali mengalir dan ia kembali pada posisinya tadi.
.
"Oh, Jimin, dimana pembantu mu tadi?" Namjoon bertanya.
"Ada apa? Mungkin sudah istirahat." Ia menjawab dengan acuh dan kembali pada tempatnya.
"Taehyung mulai pusing karena terlalu banyak minum. Ku pikir kau bisa meminta padanya untuk membuatkan air hangat perasan lemon?"
Jimin melirik taehyung. Benar memang yang dikatakan Hyung-nya, pria itu terlihat sempoyongan. Tapi, apa dia harus melakukannya? Jimin terdiam. Ia masih tak ingin menatap wajah wanita itu. Ia masih tak ingin mendengar suara wanita itu. Bahkan, melihat bayangannya meskipun sekilas saja rasanya begitu memuakkan.
"Panggil saja dan suruh saja sendiri. Dia baik, dia akan menuruti siapapun." Ujar Jimin dan meneguk soju di hadapannya.
Mendengar jawaban pria itu, mereka saling melempar tatapan yang... agak sulit diterjemahkan. Namun, Jungkook tahu apa arti dari perkataan Jimin barusan. Ia juga mengerti kalau para Hyung-nya sedang mencurigai Park Jimin. Suasana menghening dan sunyi, yang terdengar hanyalah suara Taehyung yang mengigau. Tak ingin memperdalam pikiran mereka, Jungkook berdiri dari duduknya dan berjalan membuka pintu bar.
Sesaat semua pandangan mereka teralih pada pria berotot itu. Sampai kemudian pintu bar terbuka yang memperlihatkan bagian atas dari punggung mulus yang terbuka itu dan hanya tertutupi rambut bagian atasnya. Wanita itu menunduk, dalam posisi duduk. Karena membelakangi pintu, wajahnya tak dapat dilihat. dan sepertinya perempuan malang itu tak tahu kalau sedang diperhatikan orang-orang dibelakangnya.
"Laluna, tolong bawakan air perasan lemon dan beberapa buah-buahan segar ke dalam." Jungkook berujar dan kembali pada kursinya. Namun entah sengaja atau tidak, Dokter hebat itu membiarkan pintu terbuka dengan lebar yang langsung menghadap dapur juga memperlihatkan seorang wanita seksi, cantik dan anggun yang mulai mempersiapkan apa yang di minta olehnya.
"Kenapa kau biarkan terbuka, Jungkook-ie?" Tanya Jimin dengan nada biasa-biasa saja dan tatapannya yang lurus ke depan, namun matanya menggambarkan bagaimana kacaunya hati dan perasaanya saat itu.
"Tak apa, mungkin Laluna tak bisa membuka pintu nanti karena membawa nampan." Jungkook beralasan.
Melupakan semua kecurigaan mereka pada Jimin, obrolan yang tadinya sempat terhenti kembali dilanjutkan. Mereka mulai membicarakan hal yang tak dimengerti selain mereka sendiri. Hal yang mungkin hanya di perbincangkan ketujuh pria itu. Mereka berbicara secara bergantian, menunggu giliran. Ada Suga yang membocorkan rencananya untuk memproduksi sebuah lagu baru yang ia jamin akan menduduki tangga penghargaan bergengsi dunia.
Kemudian, ada Hobi yang juga menceritakan rencananya yang ingin membangun sebuah Club Dancer kelas dunia dan menerima pelajar dari seluruh penjuru, kemudian hasil dari Club tersebut akan ia donasikan sebagian untuk panti asuhan.
Dilanjutkan dengan Seokjin yang memberi kabar gembira bahwa ia sudah berhasil membangun restoran impiannya juga akan segera menikah dengan wanita idamannya selama ini. Takdir baik berpihak pada pria itu rupanya.
Selanjutnya, Jungkook. Ia berencana untuk membuat sebuah rumah sakit di luar negeri dan akan bekerja sama dengan seorang dokter hebat dari Dubai untuk melanjutkan proyek laboratoriumnya yang sempat terhenti karena beberapa kendala.
Lalu, Namjoon sang Monster IQ. Pria jakung itu ternyata bukan lagi berencana, tapi sudah dalam tahap finish. Selain dalam tahap penyelesaian kampus yang ia operasikan, saat ini ia juga sedang melakukan penelitian mengenai astronomi dan 00,05% kemungkinan ia akan bekerja sama dengan perusahaan penelitian astronomi bergengsi dunia, yaitu NASA. Meskipun kemungkinannya sedikit, tapi otaknya tak bisa diragukan.
Sekarang Taehyung. Pria itu masih mabuk. Namun terdengar gumaman dia mengatakan, "Aku... aku akan menikah beberapa bulan lagi. Aku tak ingin menikah dengan orang yang tidak aku cintai, tapi aku butuh seorang anak sekarang. Aku butuh penerus bisnis keluarga untuk generasi selanjutnya, aku juga butuh bahan untuk menarik perusahaan lain."
"Aku bisa saja menuruti keinginanku untuk mengambil anaknya dan tinggalkan ibunya. Tapi saat memikirkan itu, rasanya seperti aku sudah menghancurkan perempuan itu seperti pecahan kaca. Aish! Yang benar saja, Tae. Itu jahat! Bagaimana menurut kalian?" Hanya itu yang keluar dari mulutnya dengan nada dan gaya bicara khas orang mabuk.
Beberapa saat mereka terdiam karena terkejut. Dan kemudian semua tertawa keras mendengar rencana gila Direktur muda itu. Apa dia ingin meninggalkan istrinya setelah wanita itu melahirkan keturunan untuknya? Mereka tertawa begitu keras sampai-sampai suasana malam ini terasa lebih ringan di rumah yang sudah biasa sepi ini. Rumah dan pemiliknya yang sama-sama hampir kehilangan warna-warni kehidupan. Rumah yang hampir tak lagi terasa adanya "Kebahagiaan".
Tapi harusnya mereka memperhatikan sesuatu. Sepertinya mereka tak menyadari, kalau Jimin sudah hilang senyumnya. Tatapan dan auranya berubah. Apa.. itu karena perkataan Taehyung barusan menyinggung dirinya? Meskipun bukan disengajakan, tetapi itu menyangkut dirinya bukan?
Maksudnya, ia memang butuh keturunan sekarang. Tapi dia bahkan tak bisa mencintai wanita yang akan memberinya keturunan. Bahkan, pria itu masih belum ingin menikah. Tak ingin punya istri, namun ingin seorang anak. Apa-apaan itu?
Jimin menunduk, menyembunyikan wajah kesal dan... entahlah. Raut wajahnya tak bisa digambarkan dengan ekspresi apapun.
Disela-sela tawa mereka, Jungkook yang melihat Taehyung sudah tak terkendali rasa mabuknya, pria itu berniat kembali ke dapur untuk melihat apa Laluna melakukan yang di mintanya. Karena sudah beberapa menit wanita itu tak lagi terlihat di meja dapur.
Baru beberapa langkah ia berjalan hendak melewati meja, langkahnya terhenti. Mereka semua terkejut dan terdiam. Sempat saling melempar tatapan terkejut, sampai kemudian Jimin berdiri dan berlari ke pintu.
"Akh! Tolong... Jimin-shi."
Laluna menjatuhkan gelas yang berisi air perasan jeruk dan menggelinding sampai pada kaki Jungkook yang posisinya sudah di area dapur. Ia sudah terduduk dengan tangannya yang mencengkram erat tengkuk lehernya. Wanita itu terlihat kesakitan. Perlahan, tubuhnya melemas dan kehilangan kendali sampai ia terbaring di lantai.
"Hey!"
Jimin yang terlebih dahulu keluar, ia pun langsung menghampiri Laluna yang kesadarannya sudah di ambang-ambang ilusi. Wanita itu bisa melihat begitu banyak awan-awan dan kabut. Samar-samar ia bisa mendengar panggilan teman-teman Jimin dan Jimin yang mencoba membuatnya untuk tetap membuka mata.
Tapi Laluna tak bisa. ia tak bisa memaksakan diri. Perlahan, pandangannya memudar dan kemudian hanya warna hitam yang bisa dilihatnya. Ia juga tak lagi mendengar suara orang-orang itu.
.
.
.
Bersambung...
.
.
Hai^^
Makasi udah mampir♡
Ramein terus meski tak sesuai ekpektasi kalian yah^^ hhe
Oh ya, Cici punya kejutan buat kalian di part selanjutnya:)
.
__ADS_1
Btw itu gambaran Laluna dengan piyama dan blazer yang di pakenya.