Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 5 (Kenapa Harus Kamu?)


__ADS_3

▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ


W H Y S H O U L D Y O U


(Kenapa Harus Kamu?)


"Jangan perdulikan keberadaan ku. Pada dasarnya aku hanyalah bayangan yang di buang dunia."


(Laluna CR. Quotes)


.


Sore menjelang malam, tak terasa ia sudah di Korea saja saat ini. Rasanya begitu menyenangkan akhirnya bisa menginjak tanah kota Seoul yang terkenal ini. Namun, di sela-sela rasa yang menyenangkan itu, ada satu rasa yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Rasa yang hanya di mengerti jika kau mengalaminya.


Wanita itu melirik jam yang tergantung di dinding, lagi. Sejak tadi, entah sudah berapa kali ia melihat jam. Dan sudah berjam-jam pula ia di ruangan yang... sunyi ini.


Sangat sunyi sampai-sampai ia bisa mendengar detak jarum jam yang bergerak. Ia bisa mendengar suara air mancur di halaman belakang rumah. Ia bisa mendengar beberapa orang di jalanan di depan rumahnya sedang tertawa dan bercanda. Ia bisa mendengar desir angin malam yang sejuk menerpa pohon lebat di sebelah rumahnya. Ia bisa mendengar sebuah suara dari kamar di atas, dimana itu adalah kamar yang akan mereka tempati. Dan itu suara Jimin yang sedang...


Menangis.


Ya, pria itu menangis di kamarnya. Bahkan ia menangis tanpa menahan suara isakannya. Semakin sunyi saja rasanya ruangan ini. Rasanya ia ingin melakukan sesuatu untuk membuat suaminya berhenti menangis. Tapi nyatanya, Jimin bahkan tak memperbolehkan dirinya untuk bergerak selangkah pun dari ruang keluarga itu.


Saat akan hendak beranjak ke dapur untuk melihat-lihat apakah ada satu hal yang bisa di makannya disana, langkahnya terhenti. Ia kembali teringat dengan peringatan Jimin tadi sebelum naik ke lantai dua dan masuk ke kamarnya.


"Jangan berani-beraninya kau bergerak selangkah pun dari sofa ini. Tetap diam dan duduk disini sampai aku keluar nanti."


Perutnya sudah keroncongan, tenggorokannya terasa mengering, terlebih lagi ada beberapa AC di ruangan ini. Sekurangnya 2 AC. Rasanya ia sudah tak sanggup lagi menahan rasa lapar dan dahaganya sejak tadi. Selama di perjalanan, ia belum memakan dan meminum apapun. Dan begitu sampai di sini, ia langsung dilarang untuk melakukan apapun termasuk beranjak ke kamar mandi.


Apa yang harus di lakukannya sekarang adalah menunggu suaminya keluar dan mengijinkan dirinya untuk membuatkan mereka makan malam.


.


"Apa aku terlihat cengeng?" Pria berbadan tegap itu berdiri di hadapan sebuah cermin yang memperlihatkan refleksi dirinya disana.


Ia merasa malu dengan dirinya sendiri di kala ia mendapati matanya yang sudah membengkak lantaran benyak menangis. "Tapi meskipun sebagai laki-laki, aku juga mempunyai titik terendah dan terlemahku. Dimana saat itu yang hanya bisa kulakukan adalah menangis. Seperti saat ini." Ujarnya dengan perasaan aneh yang tadi sudah berhasil ia usir jauh-jauh supaya tidak mengganggu pikiran dan aktifitasnya nanti.


Perasaan yang aneh, bahkan sangat aneh sekaligus menyeramkan. Dimana ia merasa dia membenci dirinya sendiri. Dan dimana perasaan itu kemudian berpusat pada seorang wanita yang juga bernasib sama dengannya. Tak ada yang bisa mereka lakukan. Tetapi, perasaan itu berkata dan berpendapat lain atas wanita itu.


Entah kenapa dia merasa bahwa Laluna harus pergi dari hidupnya saat ini juga. Dan dimana kemudian sebuah niat jahat terlintas di benak pria itu. Bisikan yang menyuruhnya untuk segera mengusir wanita itu menuju Tuhan dengan tangannya. Tapi untunglah ia masih punya belas kasihan meskipun membenci hampir setengah hidupnya.


.


Angka sembilan di jam sudah hampir terlewati, pertanda sudah akan masuk tengah malam. Laluna yang baru saja selesai keramas di kamar mandi seraya mengganti dress dengan piama, ia berjalan perlahan mendekat ke kasur dengan handuk di tangannya. Perlahan, ia menduduki bokongnya di sisi kasur dan mulai mengelap rambutnya dengan handuk kecil yang ada di tangannya tadi. Ia mengelapnya dengan perlahan, dengan gerakan yang lembut. Dan benar-benar pelan.

__ADS_1


Tunggu, jangan kalian pikir bahwa Jimin juga ada disana. Tentu tidak. Jimin keluar tanpa mengatakan apapun padanya. Sejak tadi berada di bawah atap yang sama dan naungan yang sama, terakhir yang di katakan Jimin adalah, "Kau boleh tidur di sini, menyiapkan atau pun mengerjakan sesuatu yang sudah menjadi kewajiban seorang istri. Namun, jangan harap kita akan melakukan hal yang sama seperti sepasang pengantin lakukan. Ingat, malam pertama mu bukan dengan manusia, but devil (tapi iblis)." Hanya itu, setelahnya ia mengambil jaketnya dan keluar entah kemana.


Setelah merasa rambutnya sudah agak mengering, Laluna berpindah ke meja rias untuk mengeringkan rambutnya dengan hairdryer. Tetapi, baru saja akan mencolokkan gagangnya, ia di buat terkejut dengan pintu kamar yang terbuka begitu keras dan lebar sampai-sampai knop pintu terbentur keras dengan dinding. Dan itu Jimin.


"Ada apa, Jimin?" Laluna memberanikan diri untuk membuka suara.


Sejak tadi, dia hanya diam dan terus diam meskipun harga dirinya di injak oleh suaminya sendiri. Namun sekarang, ia mencoba memberanikan diri untuk bertanya apa yang sebenarnya diinginkan pria itu sampai-sampai dirinya terlihat begitu sampah di sana.


Ia tahu, pernikahan ini mengganggu kehidupan keduanya. Tapi apa ini di inginkan oleh Laluna? Bukankah mereka sama-sama di rugikan sekarang?


SREK...


Selembar kertas berwarna hitam berukuran sedang yang terbalut plastik pelindung di lemparkan Jimin pada wajah Laluna. Luna terkejut, ia langsung mengutip kertas itu dan mengamatinya. Ternyata itu adalah selembar undangan yang berbeda dengan yang di terima Jimin siang tadi dari sopirnya. Tapi, apa salah Laluna jika Jimin menerima undangan?


Ia membaca dengan detail secarik kertas bertuliskan huruf korea yang agak membuatnya kesusahan, meskipun pada akhirnya dia mengerti. Dan pada akhirnya ia juga mengerti, yang membuat suaminya emosi adalah...


"Namaku?" Gumamnya bingung.


"Kenapa, Luna?"Tanya Jimin yang tadinya berdiri di hadapannya, kini berpindah berdiri di balkon kamar, saling membelakangi dengan Laluna yang masih menghadap meja riasnya seraya mengamati dengan polos dimana kesalahan yang membuat Jimin begitu


Kesal dengan secarik kertas elegant itu.


"Kenapa? Kenapa apa maksudmu?" Laluna bertanya dengan bodohnya. Wanita itu masih saja tak mengerti apa maksud suaminya bertanya demikian.


"Sebenarnya apa yang ingin kau pertanyakan, Jimin?" Laluna mulai membuka suara. Ia sudah bosan dengan Jimin yang berbelit-belit dan terkadang hanya untuk memperlihatkan bahwa dia (Jimin) tidak suka padanya. Tanpa harus di katakan pun, dia pun tahu Jimin tidak menyukainya.


Pria itu sedikit terkesiap di kala mendengar pertanyaan Laluna seolah menampar dirinya. Ia langsung berbalik dan menatap Laluna. Sejak tadi, wanita itu sadar kalau suaminya saat ini sedang terbakar amarah yang entah bagaimana amarah besar itu terpancing. Yang pasti, Jimin sedang dalam keadaan yang tak bisa di ganggu.


Dan yang seharusnya di lakukan Laluna adalah keluar dan membuat dirinya jauh dari Jimin untuk sementara waktu, bukan hanya tetap duduk yang tentunya dia akan menjadi umpan.


"Aku sudah bersumpah pada semesta, bahwa aku akan menerima apa pun yang akan kau lakukan padaku. Bahkan, aku rela kalau kau my angel death (malaikat pencabut nyawa ku)."


Ia tak ingin melanggar sumpahnya. Hanya itu alasannya dia masih menetap disana.


"Yang ingin kupertanyakan adalah... KENAPA HARUS KAU LALUNA?!" Bentakan Park Jimin yang membuat ruangan itu ikut menggema. Karena terkejut, Luna langsung menutup matanya selama beberapa saat. Ini adalah bentakan pertama dalam hidupnya.


Dengan tubuh yang terlihat sedikit gemetar, Laluna berdiri dan berkata,"Jangan tanyakan pertanyaan yang aku sendiri mempertanyakan itu, Jimin."


"Baiklah, mari kita saling membuat ungkapan dan keterbukaan satu sama lain mengenai kehidupan kita sekarang. Supaya lebih mudah kita dalam mengenal satu sama lain." Ujar Jimin dengan tatapan dan senyumannya yang benar-benar terlihat ingin mencabut nyawa wanita itu.


Bukankah kalian juga tahu bagaimana tatapan pria bermarga Park itu? Dengan tatapan itu ia bisa membuat orang gila dan jatuh cinta dalam waktu yang bersamaan.


"Aku Park Jimin. Aku punya segalanya dan aku bahagia. Tapi aku tak punya kebaikan hati dimana aku akan membagi semua yang aku miliki dengan orang yang tak 'ku cintai. Tapi, kemudian kau datang dan sekarang? Karena kau istriku, apa kau berpikir semua yang aku miliki adalah milikmu juga? Semua ketenaranku sekarang akan menjadi ketenaran kau juga? Semua orang yang mencintaiku akan mencintaimu juga? Apa kau tahu artinya jika nama mu ada di undangan yang seharusnya hanya untukku?"

__ADS_1


Jimin berjalan mendekat, semakin dekat sampai-sampai Laluna harus mundur untuk memberi langkah pada pria itu. Ia langsung menyingkir dari sana dengan berpura-pura akan mengambil minuman di atas nakas dan kemudian mengambil posisi duduk di sisi ranjang. Mencoba memutus kontak mata dengan suaminya.


"ARTINYA AKU HARUS MEMBAWAMU BERSAMA KU KE PESTA ITU!!" Nadanya kembali meninggi. Meskipun bukan lagi sebuah bentakan, tapi nada bicaranya berubah dan meninggi. Yang dimana itu juga akan mengejutkan dan menakutkan.


"Rasanya sudah cukup kau ada di hidupku! Sudah cukup kau mengusik ketenanganku! Tapi kenapa ini masih berlanjut? Apa kau belum puas Laluna?!! Aku benar-benar tak ingin dan tak akan pernah membawamu dimana itu adalah acar--"


"KALAU BEGITU JANGAN, JIMIN!!" Ia berdiri. Membalas bentakan Jimin yang sejak tadi berdiri di sebelahnya.


"Aku Laluna Charoll Rawless. Aku gadis berdarah biru dari Indonesia. Aku punya harta dan segalanya yang kuinginkan, ku dapatkan. Aku anak perempuan satu-satunya yang terlahir di garis keturunan Rawless. Orangtua ku pemilik kebun jeruk terbesar di negara kami. Dan aku Alumni mahasiswa Oxford of University di America. Biar aku ingat, apa masih ada hal yang belum kusombongkan? Ah iya, aku lupa kalau sekarang aku hanya punya penyakit dan kematian. Dan aku harap itu datangnya darimu."


Setelah bertutur demikian, ia kembali pada posisi duduknya dengan air mata yang mulai mengalir perlahan. Segera ia menghapus jejak air mata itu, supaya tidak terlihat sagat rapuh di hadapan sang suami.


"Apa kau benar-benar sangat ingin mati di tanganku?" Jimin menunduk dan tangannya terulur perlahan yang kemudian berhenti pada dagu istrinya. Perlahan ia mengangkat dagu Laluna untuk melihat wajah itu.


"Cantik. Tapi kenapa kau ingin aku yang membuatmu mati?" Tanya Jimin seraya terseyum miring.


Laluna yang merasa sedikit risih, ia berusaha untuk melepas pegangan pria itu. Namun, laki-laki lebih kuat, apalagi dengan dirinya yang sedang sangat lemah. Jimin langsung mendorong istrinya itu sampai ia sedikit terpental di atas kasur.


Sedikit terkejut. Melihat posisinya yang sedang tidak wajar, Laluna dengan sigap langsung duduk dan berniat akan keluar sekarang. Namun, hal yang lainnya terjadi. Jimin memang membiarkan istrinya untuk berdiri dan sudah siap untuk pergi. Tapi dengan sigap ia langsung menangkap pinggang Laluna dan membawanya (Laluna) padanya.


Terlihat ketidaknyamanan yang teramat sangat pada diri Laluna yang sekarang sedang berusaha keluar dari dekapan yang semakin mengerat saja. Ya, semakin Laluna berusaha memberontak, semakin erat pula Jimin mendekap pinggangnya.


"Ternyata tubuhmu ideal juga, istriku. Kenapa kau tak membiarkan ku melihat pinggang ramping mu yang cantik itu? Apa... aku boleh melihatnya sekarang?" Bisik Jimin membuat bulu kuduk Laluna meremang. Begitu menggairahkan ketika nafas Jimin berhembus di tengkuk lehernya.


"Awas, Jimin!" Laluna memberontak dan benar-benar berusaha keras untuk lepas. Tapi seakan tak ada harganya usaha wanita itu pada diri Jimin, posisinya ternyata tak berubah sedikit pun.


"Kenapa? Bukankah pengantin memang melakukan itu di malam pertama mereka? Apa anda tidak bersedia melakukan tugas anda Ny. Park?"


"Berhenti, Jimin. Apa yang kau lakukan?!" Laluna meneriaki suaminya yang dimana sekarang tangan kanan pria itu naik dan berhenti pada tengkuk lehernya. Perlahan, pria itu mengikis jarak diantara wajah keduanya. Semakin dekat, dekat, dan sangat dekat hingga kemudian...


"Jangan lakukan itu jika kau tidak melakukannya dengan dasar cinta suamiku..." Laluna balas berbisik di kala bibir keduanya hampir bertemu.


Mendengar itu, Jimin berhenti. Dekapannya merenggang, dan kemudian bebas. Wanita itu langsung melenggang pergi dari hadapan suaminya.


.


.


.


.


Meskipun telat^^ tapi udah lega, hehe.

__ADS_1


__ADS_2