Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 34 gk tahu judul ap jdi skip ajh


__ADS_3

.


.


.


07:21 AM


5/12/2022. Korea Selatan, Seoul.


Seperti pagi biasanya, setelah meninggalkan sebuah pesan teks dan suara untuk istrinya, Jimin kemudian berangkat ke kantor. Merasa merindukan sang istri, ia pun memilih mobil Maserati Ghibli kesayangan Laluna yang beberapa waktu lalu sering di kendarai Laluna.


Satu hari lagi. Hari yang sudah dia tunggu-tunggu semenjak seminggu yang lalu. Hari dimana Laluna akan di pulangkan ke Korea Selatan dan menjalani perawatan lanjutan di sana menurut yang Jimin ketahui.


Besok adalah hari ketujuh Laluna di Indonesia juga sebagai hari ia di kembalikan ke Korea. Namun, entah impian Jimin itu akan terwujud atau malah sebaliknya. Pasca operasi sore hari kemarin yang berlangsung selama 7 jam lamanya, akhirnya mereka berhasil. Namun yang dokter itu khawatirkan adalah detak jantung wanita itu terlihat tak karuan. Kadang kala sedikit cepat, kadang normal, bahkan terkadang melambat dan mampu membuat mereka panik.


Dengan keadaanya yang masih kritis, Lalisa memutuskan untuk tetap disana dan menunggu Laluna sampai temannya itu siuman. Perempuan itu benar-benar berniat, bahkan ia tak ingin pulang ke Korea malam nanti lantaran ingin pulang bersama Laluna meskipun tugasnya disana sudah siap.


"Ayo bangun Luna, kau tak ingin kan? Melihat wajah menyedihkan dari suami-mu." Lalisa berucap pelan seraya menggenggam tangan Laluna dan ia sandarkan pada dahinya.


Jujur saja, terkadang Lalisa menumpahkan air mata lantaran tak sanggup membanyangkan bagaimana jika...


Sudahlah,


Bukankah Jimin dan Laluna akan bersama setelah ini? Tak ada yang perlu di khawatirkan selagi mereka masih saling mencintai dan cinta itu semakin dalam.


Masih pada posisi yang sama, Lalisa berdiri dari duduknya seraya mengusap air matanya kasar sampai menghilangkan jejak di pipinya. Seorang lelaki dengan kemeja berwarna hitam dengan jas-nya yang ia gantungkan di pergelangan, lelaki itu masuk ke ruang ICU dimana Laluna di rawat.


"Sayang...! " Panggil Pria itu. Dokter hebat yang sudah berhasil menyelesaikan perangnya yang sengit dengan penyakit mematikan, Jeon Jungkook.

__ADS_1


Mendengar suaranya, Lalisa langsung berpaling dan menjemput kedatangan pria itu yang baru sampai di tengah ruangan. Namun, Jungkook malah terdiam seraya memandang kekasihnya itu selama beberapa menit. Layaknya sebuah patung pasangan di tengah kota.


"Berapa kali harus aku ingatkan?" Jungkook mendahului Lalisa dan berdiri di ujung brankar dimana Laluna terbaring dengan serangkain alat medis yang aneh menempel pada tubuh dan kepalanya yang masih di perban.


"Apa aku membuat kesalahan?" Lalisa yang tak mengerti ia pun bertanya dan ikut menghampiri Jungkook.


Pria itu berbalik, menarik perempuan cantik di hadapannya ke dalam pelukan seraya berujar dengan lembut, "kalau ingin menangis, tak perlu di tahan. Itu hanya akan membuatmu merasa sesak. Menangislah, Sayang."


Tanpa di minta untuk yang kedua kalinya, tangis perempuan itu pecah di dalam pelukan Jungkook. Tangisnya semakin menjadi di kala Laluna yang sedang terbaring terlihat oleh dirinya melalui celah pelukan sang kekasih.


Lalisa saja begini tangisnya ketika melihat keadaan Laluna. Bisa bayangkan bagaimana Jimin dan seluruh keluarga mereka nanti?


.


.


.


Ia benar-benar bersemangat untuk menyelesaikan semua pekerjaannya dan mempersiapkan segala kebutuhan untuk menjemput Laluna besok pagi di bandara. Dan juga ia bisa mempunyai waktu luang dengan istrinya tanpa harus mengorbankan jam kerjanya. Jimin merasa begitu bahagia saat ini.


"Sekretaris Lee, semuanya sudah selesai. Tolong berikan catatan ini pada karyawan yang membutuhkan bimbingan dalam project baru perusahaan. Aku harus pulang dan sedikit bersih-bersih di rumah." Jimin menyerahkan setumpuk berkas dan dokumen yang sudah ia selesaikan di atas meja sekretarisnya dan melenggang keluar begitu saja.


"Hadiah apa yang harus kuberikan untuknya?" Gumam Jimin dan masuk ke mobilnya.


"Ia bahkan sudah memiliki perhiasan termahal yang tak pernah dimiliki wanita mana pun." Tutur Jimin terlihat kebingungan. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang lantaran berniat berhenti di salah satu toko perhiasan dan membelikan Laluna hadiah.


Perhiasan termahal yang di maksud pria itu adalah "L'incomparable Necklace" dan cincin mas kawin mereka. Masih ingat dengaan kalung L'incomparable dan cincin The Pink Star yang kebetulan Laluna kenakan saat menghadapi Olivia secara langsung? Juga dengan brosh berekor merak? Ketiga-tiga perhiasan tersebut jika di gabungkan akan menginjak angka Kuadrat Triiliun USD.


.

__ADS_1


.


Dari lorong kiri dan kanan rumah sakit terlihat beberapa suster dan tiga orang dokter yang berlari ke arah yang sama namun dari arah yang berbeda. Mereka terlihat bergegas dengan membawa beberapa peralatan medis di tangan mereka. Bahkan ada dua orang suster yang mendorong alat kejut jantung menuju ruangan yang sepertinya akan penuh oleh perawat.


"Biar kami saja, tinggalkan alatnya di dalam." Itu Jungkook. Pria itu masuk ke ruangan ICU dan berusaha membuat seorang Dokter yang bernama Joe yang sudah panik disana untuk tetap tenang.


"Tunggu, Dokter." Seorang suster dengan sebuah papan cek kesehatan di tangannya berjalan cepat menghampiri Jungkook yang hendak memulai aksinya. Jungkook menjeda aksinya dan kembali berpaling menghadap suster itu.


"Pagi tadi, Presdir Park suami Nona Laluna menghubungi pihak rumah sakit dan menanyakan kabar beliau. Saya katakan semuanya baik-baik saja untuk saat ini, namun ternyata dengan itu Presdir salah paham dan langsung memutuskan keputusannya tanpa menunggu saya menjelaskan lebih detailnya." Suster itu bercerita.


"Presdir Park berkata bahwa--"


"Dia akan menunggu besok di bandara, kan? Itu sudah jelas, untuk apa berbelit-belit!" Ujar Lalisa cepat setelah memotong perkataan suster di sebelahnya. Tanpa menunggu lagi, Lisa menarik alat kejut jantung dan langsung memberi aba-aba pada Jungkook.


Sebenarnya, Lisa merasa kesal dengan suster itu, juga Jungkook yang terpancing omongan suster. Jika lebih meladeni apa yang suster itu katakan, bisa-bisanya Laluna akan benar-benar koma.


Oleh karena itu ia memotong pembicaraan suster itu dan langsung melakukan beberapa bantuan pada Laluna yang terlihat tenang namun sudah memucat dengan garis hijau di komputer yang sudah tak banyak jumlah persennya yang tersisa.


"Syukurlah!" Ia (Lalisa) langsung memeluk tubuh Laluna yang sedikit dingin dan membiru.


"Kapan kau akan membuka matamu Luna? Kita harus pulang ke Korea dimana orang yang kita cintai sama-sama ada disana. Ayo bangun, Laluna!" Seperti biasa, ia tak 'kan mampu menahan air matanya untuk tidak keluar ketika berhadapan dengan Laluna.


.


.


.


MUMET MIKIRIN ALUR TERAKHIR😭🗿

__ADS_1


Kenapa udah rpat² banget sii paragrafnyaa!! Keceel sma om mark😭😭☹


__ADS_2