Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 4 ( H.B.C.B.U.B DAN ITU D.M.H.I.)


__ADS_3

▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ


NEW LIFE, NEW STORY, NEW ORDEAL, AND IT STARTS TODAY.


(HIDUP BARU, CERITA BARU, UJIAN BARU, DAN ITU DI MULAI HARI INI.)


.


"Langit ku tak akan selamanya biru. Ada kalanya ia menjadi kelabu. Mengikut perasaan dan isi hati ku yang abu. Ada kalanya ia jingga, lalu kembali biru. Mengikut batin ku yang tak menentu. Hari ini, biarkan langitku menjadi biru. Bukti aku mulai mencintai mu."


(Laluna CR. Quotes)


.


Sebuah gedung mewah yang bertempat di ibu


kota sedang di hias dengan indahnya dan dipersiapkan untuk acara saklar yang beberapa jam lagi akan di langsungkan. Para pengurus katering juga mulai berdatangan dan memulai tugas mereka di bagian makanan.


Bunga-bunga yang menawan mulai di gantungkan bersamaan dengan sebuah lampu kristal yang di naikkan. Sehingga ketika lampu besar itu sudah berada di tengah-tengah plafon, seluruh ruangan tampak berkilau dengan silaun dari kristal-kristal kecil yang ada di lampu tersebut.


Di dua ruangan yang berbeda, seorang pria dan seorang wanita tengah di dandani sedemikian rupa. Bahkan sampai rupa aslinya tertutupi. Sebenarnya, tanpa di dandani pun wanita itu juga sudah cantik. Hanya saja, untuk memudarkan warna pucat di wajahnya yang cantik, di poleskan sedikit makeup.


"Sudah, sudah cukup." Laluna, si pengantin wanita. Ia terlihat begitu sesak dengan pakaian dan riasan yang sekarang melekat pada dirinya. Bukan apa-apa, sebelumnya dia tak pernah berdandan dan berpakaian seribet sekarang ini. Mungkin karena tak terbiasa.


Di sisi lain, Park Jimin; si pengantin pria yang sudah selesai dengan riasannya yang terlihat simple, ia segera keluar dari ruangan itu untuk mencari udara segar supaya dapat mengontrol emosinya. Tidak, bukan emosional semacam itu. Bukan gugup ataupun terharu kalau dirinya akan menikah hari ini. Sama sekali tidak. Melainkan merasa emosi dengan keputusan yang telah di ambilnya. Tepatnya diputuskan secara keterpaksaan.


Ia tak menyangka, bahwa dirinya yang seharusnya merasa bahagia dan terharu di pernikahan yang hanya akan di lakukannya sekali seumur hidup itu, justru membuatnya merasa ingin membakar seluruh hiasan yang sekarang menutupi dinding ruangan besar nan megah di ujung sana.


Ingin rasanya ia mengobrak-abrik seluruh meja dan apapun yang ada di ruangan itu dengan tangan dan tenaganya sendiri. Bahkan, maaf sebelumnya tetapi jika memb*nuh tidak termasuk dalam sebuah hukum di setiap negara maka dia akan memb*nuh pengantinnya juga.


"This is devil world." Gumamnya pelan dan hampir saja kaki kanannya melayangkan sebuah tendangan pada sebuah pot bunga yang terletak di ujung pintu masuk ke ruangan indah itu. Untunglah seorang pelayan memanggil dirinya, sehingga tendangan itu berubah menjadi seakan-akan dirinya tengah melihat-lihat sepatu hitam mengkilap yang ia kenakan.


.


Acara saklar itu pun dimulai. Tak banyak tamu yang mereka undang, hanya beberapa kerabat dekat dan beberapa wartawan saja yang di perbolehkan untuk masuk. Bahkan teman Laluna saja tak ada satupun.

__ADS_1


Tak ada yang special di acara itu. Semuanya berjalan sebagaimana biasanya, dimana pengantin wanita menaiki altar dan pengantin pria menjemput pengantinya dan kemudian janji suci di ucapkan. Dan terakhir adalah...


Disaat MC membacakan hal berikutnya yang harus di lakukan kedua pasangan yang telah sah menjadi suami istri itu, keduanya terlihat canggung dan kebingungan. Mata mereka saling pandang. Jika tak ingin melakukannya, sebenarnya mereka bisa menolak. Namun, mengingat ada beberapa wartawan dan tamu-tamu penting dari Korea Selatan juga rekan kerja ayahnya, Jimin tak ingin ini terlihat seperti sebuah acara pernikahan yang sangat di paksakan dan terpaksa di lakukan.


Perlahan, kedua tangannya bergerak mulai mencari posisi yang tepat di pipi Laluna, yang sekarang telah sah menjadi istrinya. Perlahan wajahnya mendekat, dan terus mendekat sampai nafas pria itu pun dapat di rasakan Laluna. Jimin perlahan memiringkan kepalanya dan...


Tidak.


Dia meletakkan ibu jarinya sebagai pembatas diantara bibir tebalnya dan bibir cherry Laluna. Meskipun bagi mereka semua ini adalah ciuman cinta dan kasih, bagi dirinya justru sebuah kebetulan. Sedangkan Laluna, Ciuman malaikat. Apa itu, Laluna?


Entah apa yang terjadi dengan wanita bernama Laluna itu, tetapi sepertinya dia sudah mulai mencintai Park Jimin--suaminya. Lucu.


.


.


Tak berselang lama setelah acara pernikahan kedua insan itu, mereka langsung di proses tempat tinggal dan bahkan langsung di kirim kembali ke Korea Selatan. Begitu mendesak, padahal mereka tahu kalau Jimin membenci hal-hal yang terkesan buru-buru dan tidak sabaran.


Begitu pula dengan Laluna. Dengan keadaannya yang di klaim mereka sudah baik-baik saja, ia dipaksa pergi dari negeranya dengan seorang lelaki bernotaben suami namun baru di kenalnya beberapa waktu lalu.


"Ketika pesawat mendarat, akan ada begitu banyak wartawan di bandara. Usahakan wajah mu tak terekspos dan segera ikuti bodyguards yang akan langsung mengantarmu ke mobil. Kau dengar?" Beberapa menit sebelum pendaratan, Jimin memperingati istrinya.


"Iya," jawab Laluna seraya mengangguki.


Beberapa menit berlalu, aba-aba bahwa pesawat akan segera mendarat berbunyi. Jimin mulai memeriksa barang bawaan mereka supaya tak ada yang tertinggal. Beberapa detik setelahnya, pesawat mendarat dengan mulus dan selamat.


Akhirnya, seperti yang ia harapkan. pria itu kembali lagi ke tanah asal setelah acara liburannya menjadi bencana.


Meski terkesan membenci, seorang seperti Park Jimin terkadang juga merasa iba dan berbelas kasih. Saat para penumpang mulai berdesakan untuk keluar pesawat, Jimin perlahan meraih tangan Laluna lalu di genggamnya dengan erat supaya wanita lemah itu tak sampai hilang di desakan ini.


"Aku memegangimu supaya tak sampai terseret mereka." Katanya sedikit.


Beberapa saat setelah keluar dari area yang berdesakan itu, Jimin dapat melihat bahwa ada begitu banyak wartawan yang menunggu kepulangannya ke Korea Selatan.


Tapi untunglah para zombie haus akan berita itu belum sempat melihat dirinya. Beberapa Bodyguards berbadan kekar, mereka berjalan cepat menghampiri Jimin dan langsung menarik pergelangan Laluna dengan pelan seraya menuntunnya menjauh dari Jimin yang perlahan mulai dikerumuni wartawan.

__ADS_1


"Apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Laluna pada salah satu bodyguards. Tak sia-sia dirinya pernah mendaftarkan diri di les bahasa. Ternyata bahasa Korea-nya bekerja dengan baik.


"Anda tenang saja Ny. Park, Tn. Park pasti bisa mengatasi semua ini." Jawab lelaki itu seraya memandang keluar dari dalam mobil. Untunglah masih ada bodyguards yang bertugas menjaga Jimin. Jika tidak maka CEO itu pasti akan pingsan karena kehabisan udara di sana.


.


"Hah... " begitu masuk ke dalam mobil Jimin langsung menyandarkan dirinya dengan helaan nafas lega dan lelah.


"ekspektasi mereka terlalu tinggi tentang kau dan hubungan kita." Ujarnya seraya memandang keluar jendela di mana kerumunan itu mulai tenang.


Laluna mengerti, kemana pun arah suaminya berbicara saat ini, itu hanya untuk merendahkan dan menghina dirinya. Tetapi tak ada yang bisa di lakukan olehnya sekarang selain hanya diam dan mengikuti alur cerita percintaannya.


"Pak, beberapa hari yang lalu perusahaan YG Group mengumumkan akan melangsungkan pesta pertunangan CEO mereka sekaligus sebagai acara untuk mempublish calon kekasihnya. Ini undangan yang di kirimkan untuk anda, Pak." Sopir itu menyerahkan sebuah amplop berwarna navy dan di lapisi kain sutra yang lembut. Tertulis di undangan itu untuk "CEO. Park Jimin dan Ny. Park sang istri."


Membaca itu Jimin pun dibuat terkejut dan sedikit kebingungan.


"Bagaimana bisa namanya ada di undangan ini? Bukankah undangan ini sudah lama di cetak?" Jimin bertanya pada sopir yang telah menerima undangan itu sebelum dirinya.


"Sebelum anda mengonfirmasi telah menikah dengan Ny. Laluna, media Korea telah lebih dulu mendapat berita dari Indonesia bahwa anda akan menikah pada senin pagi, kemarin. Maka dari itu, semua hal yang menyangkut dengan anda yang baru di kerjakan beberapa hari lalu langsung di perbarui. Termasuk undangan ini."


"Cepat sekali menyebar, ya?"


Laluna yang mendengar itu merasa sangat tidak nyaman dan tidak tega. Dia merasa seolah posisinya sekarang sudah mencuri ketenaran yang hanya di miliki Park Jimin seorang.


Perlahan, Laluna merubah posisi duduknya dengan membelakangi Jimin yang ada di sebelahnya. Kemudian ia menarik selimut yang tadinya hanya menutupi setengah tubuhnya, kini ia bawa untuk menutupi seluruh tubuhnya. Dengan lirih dan terdengar sedih wanita itu berkata, "Aku tak bermaksud, Presdir. Maafkan aku..."


Jimin yang masih tak percaya dengan kegilaan Media saat ini, ia hanya bisa menghembuskan napas panjang dan terlihat begitu tertekan. Pikirannya kembali pada lembaran undangan itu. Jika nama Laluna ada di sini, itu berarti aku juga harus mengajak dan memperkenalkan dirinya ke awak media? "Astaga, hal gila apa ini?!"


"Aku ingin kita sampai lebih cepat. Jangan ke apartemen, langsung kerumah ku saja." Pria itu mengusap wajahnya kasar dan terlihat kesal. Ia kembali merebahkan tubuhnya di atas sandaran kursi.


.


.


.

__ADS_1


Makasi udah mampir♡


__ADS_2