
.
1 MINGGU KEMUDIAN
Angin menerbangkan dedaunan yang rontok dari pohonnya. Ombak-ombak di lautan menghantam keras bebatuan di pesisir pantai mengombang-ambingkan apa saja yang ada di dalamnya. Langit biru berubah kelabu di hari itu, menjadi mendung dan mentari berubah murung. Tak berapa lama setelahnya hujan pun turun membasahi seluruh kota. Burung-burung pun terbang lebih rendah melawan arah angin dan melawan tusukan hujan yang perih di badan.
Di dalam lebatnya hujan hari itu, seorang pria dengan sebuah payung hitam di tangannya berjongkok di salah satu batu nisan dari sekian banyaknya jajaran kuburan. Kubur itu terlihat masih baru dan nisannya pun masih mengkilap meski di basahi air hujan. Juga dapat di tandai dengan tanahnya yang masih merah yang belum di tumbuhi rerumputan.
Tangannya tak henti-hentinya mengelus nisan berlapis marmer di hadapannya itu. Pria itu menangis, tangisnya begitu dalam dan berarti. Tangisnya begitu menyayat hati. Tangisnya di penuhi segala rasa yang mewakili hati. Tangisnya... mewakili setiap hati.
.
Berkisar antara beberapa meter dari posisi pria itu, sebuah mobil mewah Maserati Ghibli berwarna hitam mengkilap berhenti secara mendadak. Dari dalam mobil keluar seorang wanita dengan long dress dan rambut yang di biarkan tergerai begitu saja di terpa angin. Tanpa berpikir apapun, wanita itu berlari di dalam derasnya hujan menyusuri jajaran kuburan. Pakaian yang di pakainya sudah bercampur dengan warna tanah liat yang ia pijak, namun tampaknya bukan hal itu yang ia hiraukan.
Begitu berada di belakang pria yang sedang berjongkok di sebuah nisan seraya menangis itu, ia langsung menarik pria itu ke dalam pelukannya secara tiba-tiba. Dan memeluknya dengan erat. Sangat erat.
"DIA SUDAH MEMAAFKAN MU!!" Sebuah bentakan yang tegas dan perih keluar dari mulut mungil wanita.
Hujan menderas dan langit bergemuruh serta kilat menyambar seakan memotret moment menyedihkan hari itu. Pria itu menjatuhkan payung hitam yang sebelumnya ada di tangannya untuk melindungi mereka. Rasanya tubuh itu melemas kala mendengar isakan demi isakan yang ikut keluar dari mulut perempuan yang sedang memeluknya. Rasanya... tangisan itu menjelaskan bahwa ia lebih tak rela dari pada dirinya.
"Maafkan aku... " Lirih pria itu dan mempererat pelukan mereka.
"Aku sudah memaafkan mu bahkan sebelum kau ucapkan maaf, Jimin-ah." Wanita itu berujar dan menarik pria itu dari pelukannya, kemudian di ajaknya untuk pergi dari sana.
"Aku tak bisa meninggalkan anak ku, dia butuh aku. Dia butuh kita, Luna." Jimin menolak untuk pergi dan memilih untuk tetap di sana, di bawah derasnya hujan dan duduk di sebelah nisan bermarmer hitam.
Mendengar itu, Laluna justru semakin terisak dan perih hatinya. Ia tahu, meskipun ini bukan kesalahan yang sengaja di lakukan Jimin, tetapi pasti pria itu merasa bersalah yang teramat sangat. Meskipun begitu, ia tak ingin suaminya terus berlarut dalam kesedihan. Ia ingin pria itu belajar mengikhlaskan. Laluna berbalik, menghadap suami-nya dan memegang kedua bahu pria itu.
"Dengarkan aku. Ini bukan kesalahan mu saja, sayang. Ini juga kecerobohan ku, ini kesalahan ku yang sudah memaksamu. Tetapi, lebih baik kita tak perlu mengungkit hal itu lagi. Aku yakin, dengan kepergiannya kita akan belajar banyak dari ini. Aku tahu ini sangat menyakitkan, tapi kita harus mengikhlaskan anak kita, Jimin-ah. Biarkan dia beristirahat dengan tenang, sayang."
Ujarnya dengan air mata yang mengalir bersamaan dengan air hujan yang menghujani keduanya. Ia kembali memeluk suami-nya dan membawa pria itu untuk mengikutinya ke mobil. Akhirnya bujukannya berhasil membawa pria itu dan untuk mengikhlaskan kepergian putra pertama mereka yang pergi akibat kecerobohan kedua orangtua-nya.
Nisan itu kini sunyi, sangat sunyi. Hanya rintik hujan yang jatuh di atasnya dan mengenai kelopak bunga-bunga yang masih segar dan tertata di atas kubur itu. Juga sebuah payung hitam yang di tinggalkan sang ayahanda untuk melindungi nisan anaknya dari rintikan hujan.
Kini, nisan yang bertuliskan nama "Park Yoo-Joon" hanya bersisa sekedar nama di atas nisan. Nama yang belum pernah tertulis secara resmi di keterangan keluarga Park. Nama yang belum benar-benar terlahir ke dunia ini. Nama yang hanya sekedar nama, tak pernah berwujud, atau pun berbentuk. Nama yang hanya ada untuk di baca, tidak untuk di lihat atau di didengar suara atau wujud dari nama itu. Nama yang benar-benar sebuah nama.
__ADS_1
Mendiang
"Park Yoo-Joon"
Lahir: (--)
Umur: 06 Bulan (kandungan)
Ayah : Park Jimin
Ibu : Mrs. Park (Laluna Charoll Rawless)
.
.
Dari luar, terlihat beberapa buah mobil mewah terparkir di halaman. Menggambarkan akan betapa ramainya rumah itu sekarang. Karena Jimin yang masih tak sanggup untuk menyetir, sepulang dari kuburan Laluna lah yang terus menyetir sampai kerumah mereka. Setelah membawa mobil masuk ke dalam garasi, meskipun terkesan sudah lemah namun ia tetap bersikeras untuk memapah suami-nya yang sudah menggiggil kedinginan dan ia bawa masuk ke dalam.
Seperti tebakan mereka, di dalam sudah ada teman-teman Jimin juga beberapa teman kantor Jimin. Ada keluarga Rawless dan keluarga Park serta kerabat dekat kedua belah pihak.
Ia berjalan mendekat pada orang-orang yang sudah berkumpul di sebuah ruangan untuk sekedar menyapa dan kemudian ikut mengganti pakaiannya di kamar. Namun, baru saja akan memeluk Lalisa, orang pertama yang akan di sapanya, tiba-tiba lututnya melemah dan ia pun terjatuh ke dalam pelukan kecil temannya itu.
Lantaran ketiba-tibaan itu, semua orang sontak berdiri untuk meraih dirinya meskipun mereka sadar mereka jauh dari posisinya saat itu. "Laluna! Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Tanya Lalisa dan di susul Jungkook.
Sebagai dokter yang menangani Laluna selama ini, keduanya sudah menebak apa yang sedang terjadi dengan Laluna saat itu. Melihat itu, Lalisa dan Jungkook langsung memapah Laluna menuju kamar sementara yang ia tempati di lantai dasar.
.
.
"Jimin, kau harus menceritakan semuanya pada kami mengenai bekas luka ini. Pantas saja Laluna begitu mendesak mu, tak mungkin kau terlibat b4ku hant4m setiap hari seperti pelajar-pelajar nakal di luar sana." Namjoon hampir saja menjatuhkan gelas yang akan ia berikan untuk Jimin sebelum pria itu (Jimin) megambilnya.
"Akan kuceritakan nanti pada Laluna." Tutur Jimin dan mereka keluar dari kamar.
Begitu sampai di ruagan dimana orang-orang berkumpul saat itu, ia langsung di sambut oleh kedua orangtuanya dan mertuanya dengan pelukan seraya memohon maaf. Lantaran terlalu malas untuk menanggappi sikap mereka yang sudah tak bisa di percaya lagi, Jimin langsung duduk dan memulai obrolan bersama teman-temannya. Sedangkan para orangtua itu memutuskan untuk pergi lantaran sadar akan kesalahan mereka yang tak bisa di maafkan lagi.
__ADS_1
"Istri mu cantik, Jimin-shi. Seandainya saja wajahnya ketahuan media semenjak pertama kali ia tiba di Korea. Boom!! Pasti meledak majalah-majalah Fashion." Tutur seorang pria yang di kenal Jimin sebagai rekan kerjanya.
Hari ini, begitulah lalunya. Tak ada yang spesial, tak ada yang berkesan. Dan sampai hari ini pun, masih banyak rahasia yang belum terungkap di rumah besar itu. Rahasia yang tak 'kan ada yang tahu kecuali mereka mengikuti alurnya sampai akhir.
.
.
Jam di dinding menunjukkan angka sepuluh, pertanda beberapa jam lagi akan masuk larut malam. Di rumah megah nan besar yang tadinya ramai dan riuh, kini bersisa sunyi dan sepi juga kesedihan yang masih meliputi kediaman tersebut. Rumah itu terlihat begitu suram.
Jimin dan Laluna, keduanya masih berbaring di balik selimut dan saling memeluk satu sama lain mengisyaratkan betapa rindu dan besarnya rasa bersalah mereka terhadap sang buah hati yang telah pergi. Sejak sore tadi, mereka tak meregangkan pelukan itu sedikit pun.
"Luna, ada yang ingin aku ceritakan padamu." Tutur Jimin dan menatap istrinya.
Laluna pun duduk dari tidurnya dan bersanda pada dipan, pertanda ia siap mendengar cerita dari suaminya itu. Jimin ikut duduk dan mensejajarkan posisinya dengan Laluna.
"Begini, ini cerita besar yang selama ini aku sembunyikan. Ini jawaban yang ingin kau dengar atas pertanyaan mu." Ujar Jimin mengawali obrolan.
"Sebenarnya... "
.
.
.
Bukan sengaja Cici gantung crtinya yaπ₯²
Soalnya wktu Cici kirim teks selanjutnya ga keliatan lagi. Kaya kepanjngan gtu, maaf yaa..
Ga sengaja mau gantungin kok itu.
Klo aku lnjut ngetik kebawah, ntar pada kosong up-nyaππ₯²
Maapin deeh..
__ADS_1