Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 8 ( gak judul apa )


__ADS_3

▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ


"Aku masih belum bisa melihat dengan jelas pelangi mu. Sebenarnya, apa penderitaan yang membedakan kau dan aku?"


(Jimin Quotes)


.


Keheningan memenuhi rumah besar nan mewah itu. Hanya ada suara air mancur di halaman belakang yang terdengar jika sedang berada di dapur. Jika berada di ruang tamu, maka yang terdengar hanyalah suara detak jam besar yang berdiri di sudut ruangan. Jika ke kamar yang mereka tempati di lantai dua, maka yang terdengar hanyalah suara gemersik daun yang di terpa angin dan bergesekan dengan dinding kamar. Sedangkan jika di sebuah ruangan dari arah kiri di lantai atas, yang terdengar hanya suara ketikan di atas papan keyboard.


Dan itu di sana, di bagian kiri ruangan yang dekat dengan jendela lebar itu, itu Jimin. Di ruangannya bekerja. Di ruangan yang minim cahaya itu, hanya terdengar suara ketikan dari jemari mungilnya yang sedang serius mengurus pekerjaan.


Hari ini ia memilih untuk memantau peningkatan kantor dan karyawannya dari rumah. Entah apa yang membuat pria itu memilih bekerja dari rumah hari ini. Padahal, absen ke kantor adalah hal yang paling tidak disukai olehnya. Bahkan jarang ia absen jika sedang tidak terdesak.


Setelah beberapa saat memfokuskan diri ke komputer dan pekerjaannya, pria itu berhenti. Dengan perlahan, ia memijiti area pelipisnya yang terasa agak nyeri lantaran terlalu lama menatap layar bercahaya biru itu. Punggungnya pun mulai terasa nyeri karena terlalu lama duduk disana.


Mulai dari tadi pagi setelah ia dibuat kesal oleh gadis bernama Yuna, sampai saat ini ketika jam besar yang berdiri di sudut ruang tamunya bergema ke seluruh area rumah dan memecahkan keheningan selama beberapa saat di kediaman yang terlihat seperti tanpa penghuni itu. Selama itu ia sudah menghabiskan waktunya disana.


"Sudah jam 12 siang?" ia membuka ponselnya dan menampilkan keterangan waktu di lock screen.


Bingung antara harus turun untuk memeriksa keadaan di bawah atau tetap melanjutkan pekerjaannya sampai selesai. Pria itu mulai berpikir keras meskipun itu sebuah keputusan kecil yang harus di pilihnya. Tapi untuk seorang yang disiplin waktu seperti dirinya, ini benar-benar harus dipikir baik-baik sebelum memutuskan. Bukankah berlebihan?


Setelah banyak mempertimbangkan, akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan pekerjaannya sampai selesai, baru kemudian turun dan memeriksa apa yang perlu di periksa nantinya. Ia menyalakan kembali komputer dan mulai membuka kembali berkas-berkasnya.


Saat akan memulai, ponsel yang ada di sebelahnya di atas meja berdering pertanda ia mendapat panggilan.


Jimin membuka ponselnya dan memperlihatkan siapa yang tengah menghubungi dirinya. Itu adalah Tn. Rawles; Ayah Laluna. Sedikit malas bahkan hampir menolak panggilan itu, akhirnya Jimin menekan tombol hijau dan... langsung terdengar sapaan yang mengejutkan.


"Jimin, apa kau sedang di kantor?" Tanya di seberang sana.


"Tidak." Jawabnya, malas.


"Itu berarti kau di rumah?"

__ADS_1


"Ya."


"Tadi papa mencoba menelepon Luna. Tapi dia tak menjawabnya sekali pun, kami khawatir terjadi sesuatu dengannya. Apa dia baik-baik saja?"


"Mungkin dia lelah dengan kalian." Jawab Jimin enteng.


"Tolong, jaga putri kami, nak. Hanya kau yang bisa kami harapkan ketika kami jauh darinya."


"Aku punya banyak urusan dan tentunya lebih penting dari pada menjadi pengawal setianya sampai dia mati. Lagi pula, bukan kah kalian yang mengusirnya dan memohon supaya kubawa ke negeri asing ini?"


"Yaa! Hentikan drama itu, sudah cukup! Sekarang, ikuti saja sampai kita semua melihat bagaimana ahkhir dari drama yang kalian ciptakan sendiri. Apa putri semata wayang kalian itu akan bahagia dengan pria yang dianggapnya sebagai Angel of death bagi dirinya sendiri. Doakan saja aku tak sampai melukai putri kalian. Sampai nanti."


Dengan cepat ia mengakhiri sambungan itu secara sepihak. Sebenarnya, ia tak akan berani berbicara seperti itu apalagi terhadap orang yang di hormati olehnya selama ini. Namun, mengingat ternyata orang itu orang yang telah merenggut aturan di hidupnya, Jimin pun telah membuang rasa segan itu dari dirinya. Ia sudah tak lagi peduli setinggi apa derajat dan martabat mereka saat ini, menurut pandangannya mereka hanyalah orang tua yang tak becus, Toxic parent.


Jika terus mengingat dengan tingkah mereka, yang ada mood-nya rusak dan tak lagi ada rasa minat untuk melanjutkan pekerjaan. Ia memutuskan untuk segera mengabaikan mereka dan hendak melanjutkan kembali tugasnya.


Tapi, tiba-tiba perkataan Tn. Rawles mengenai Laluna terlintas begitu saja di benaknya, membuat ia penasaran kenapa dan apa yang sedang di lakukan wanita itu. Sejak tadi ia tak mendengar apa pun dari bawah atau dari kamar di arah kanan lantai atas, dimana itu adalah kamar mereka.


Karena penasaran yang tak terbendung lagi, Jimin mulai membereskan berkas-berkasnya di atas meja dan langsung keluar dengan ponsel yang ada di genggamannya.


Ia mulai melangkah melewati tangga yang membawanya ke lantai dasar dan berjalan menuju kamar mereka. Sebelum masuk, ia sempat menguping karena siapa tahu wanita itu sedang menangis atau sedang di kamar mandi.


Namun, karena tak mendengar suara apapun selain suara tirai yang di terpa angin sepoi-sepoi di siang itu, Jimin memutar knop pintu dan masuk ke kamar. Tak ada siapapun. Pintu kamar mandi pun terbuka lebar yang langsung memperlihatkan bathup kosong.


Apa mungkin di ruang ganti?


Ia menarik kembali pintu kamarnya dan melangkah kembali menuju sebuah ruangan yang bersebelahan dengan kamar mereka. Tanpa basa-basi lagi, langsung di buka nya pintu dan di masuki olehnya ruangan itu.


Ruangan bernuansa putih dengan pencahayaan yang terpadu antara kuning dan putih itu di hiasi dengan lemari-lemari besar nan mewah yang di dalamnya ada berbagai macam merk sepatu, tas, ransel, dan barang-barang branded lainnya dan tentunya milik Jimin. Pria itu celingak-celinguk mencari keberadaan dan bayangan istrinya, namun tak juga di temukannya disana.


Belum ada rasa khawatir sedikit pun di dalam dirinya, yang ada hanyalah rasa penasaran yang begitu besar akan keberadaan dan aktifitas Laluna sekarang.


Dengan cepat Jimin menuruni tangga menuju lantai utama. Ia mulai mencari di dapur, halaman belakang, seluruh kamar di lantai utama beserta kamar mandi di dalamnya, di ruang tamu, ruang TV, ruang keluarga, dan seluruh area yang ada di dalam kediaman luas itu. Namun, tak juga ia menemukan jejak Laluna.

__ADS_1


"Kemana perginya?" Gumamnya dan mulai melangkah keluar rumah, berniat mencari di halaman paling depan.


Bahkan setelah ia menyusuri seluruh area taman yang membuat kakinya seakan patah lantaran sudah begitu banyaknya ia berlari, tak juga Laluna di lihatnya. Tak ada pilihan lain, sekarang ia mulai was-was bagaimana kalau wanita itu melarikan diri? bagaimana kalau dia bun*h diri? Bagaimana kalau dia di c*lik? Itu semua akan merepotkan dan mengganggu rutinitasnya.


Jimin mengambil ponselnya dan mencari-cari nama Laluna, setelah didapatinya ia langsung menghubungi nomor itu.


10 detik...


20 detik...


25 detik...


1 menit...


Tak ada jawaban. Ia mencoba lagi, sampai beberapa menit menunggu. Masih saja sama hasilnya. Saat akan membatalkan panggilan lantaran ingin menelepon anak buahnya, panggilannya di jawab Laluna.


"Dari mana saja kau? Sejak tadi aku menelepon mu kenapa tak kau jawab satu pun? Sekarang katakan, apa kau melarikan diri dari rumah?!" Jimin nadanya meninggi lantaran kesal sekaligus lelah. Tak ada jawaban apa pun di seberang sana, yang ada hanya suara gemercik air dan hembusan nafas yang memburu. Dimana sebenarnya wanita itu?


"Jimin... to--long!"


Pria itu terksiap dengan matanya yang berkedip beberapa kali. Beberapa saat setelah otaknya mampu mencerna lirihan di seberang sana, ia pun berubah sedikit panik. "Apa? Dimana kau sekarang?"


Tak berapa lama setelah itu, kamera mode video call di aktifkan Laluna. Yang terlihat hanya loteng berwarna putih dengan lampus kristal besar yang menggantung di atasnya. Dimana Laluna?


"Aku kesana." Ucap Jimin setelah mengetahui dimana posisinya wanita itu. Dari langkah besar di percepatnya sehingga ia mulai berlari sekarang. Ia berharap Laluna baik-baik saja, karena kalau sampai wanita itu kenapa-napa, maka itu akan merepotkan dirinya seperti yang ia katakan tadi.


.


.


Bersambung...


.

__ADS_1


Coba klian tebak endingnya bakalan gimana. Sekaligus klian kasih pendapat klian gmna klo misalkan endingnya tidak sesuai dengan ekspektasi masing-masing?😅


Ini bukan bentuk spoiler end ya syg. Cici pengen tau aja kbanyakan dari kalian suka endingnya yg gmna😊


__ADS_2