Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 15 ( gak tahu judul )


__ADS_3

▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ


"𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪? 𝘈𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘭𝘢𝘯𝘨𝘪 𝘮𝘶? 𝘈𝘱𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘢𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘳𝘦𝘮𝘣𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘬𝘶? 𝘋𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳, 𝘛𝘶𝘢𝘯. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘪𝘭 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢𝘬𝘶, 𝘬𝘢𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘯𝘨𝘨𝘶𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘪𝘵𝘶. 𝘒𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘥𝘶𝘯𝘪𝘢 𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘮𝘶."


(𝙇𝙖𝙡𝙪𝙣𝙖 𝘾. 𝙍𝙬𝙡𝙨)


Semburat warna jingga di bagian barat bumi terlihat mengindahkan langit sore itu. Perlahan langit mendatangkan kegelapan mengurangi penerangan di jalanan yang masih di lalui beberapa mahasiswa di luar sana. Aneh, dan begitu sepi. Padahal ini sudah memasuki waktu malam, tetapi keduanya masih malas beranjak dari tempat masing-masing meskipun hanya untuk menyalakan lampu-lampu di rumah tersebut.


Jimin yang masih berperang dengan keputusannya, sedangkan Laluna yang masih terikat dengan dilema besar yang harus ia pilih. Penerangan yang temaram di halaman mau pun dari dalam, memberi kesan bahwa rumah itu sedang tak berpenghuni. Mereka benar-benar tak bisa berpikir hal lain selain memikirkan perasaan dan kehidupan masing-masing saat ini.


Wanita itu masih mengurung dirinya di kamar tamu di bagian belakang. Tak ada yang ia lakukan, hanya duduk berdiam diri di sebelah kolam berenang belakang yang mulai memantulkan cahaya rembulan di atas permukaan.


Ingatkah kalian bahwa dia mencintai bulan? Inilah saat-saat yang akan membuatnya merasa sedikit tenang, ketika dia dan bulan bertemu, meskipun hanya di pandang dari kejauhan.


Sedangkan Jimin, pria itu pun masih berdiam diri di ruang kerjanya. Berusaha mengalihkan perhatiannya dari fakta yang sedang mereka terima. Mencoba membuang jauh gambaran wajah seorang wanita yang sekarang di benc1nya, supaya tak sampai tangannya itu bergerak menghanc*rkan rahang perempuan yang sudah berani membangkang atas perintahnya.


Ke-egois-an telah menyelimuti pria itu. Kehendaknya yang tak terpenuhi membuat rasa benc1 dan kemarahannya mewakili perasaannya.


Keinginannya yang di abaikan membuatnya menjadi begini, tak berhati. Apa maksud dari penolakannya atas kehadiran rezeki yang Tuhan berikan dengan mudah padanya? Kali ini dia menolak kehadiran rezeki itu, bagaimana jika suatu saat nanti dia harus bersembah sujud dengan penuh permohonan untuk di anugerahkan kepanya rezeki yang pernah ia tolak mentah-mentah.


.


"Aku tahu aku tak akan sanggup. Pasti akan ada begitu banyak perubahan nantinya. Jika ku pertahankan bayi ini, aku harus menyerah. Jika ku pertahankan perjalanan ku saat ini, maka bayi ku yang harus pergi. Apa ini ya Tuhan... apa yang harus aku lakukan? Berikan aku petunjuk...."


Air di kolam renang terlihat riuh dengan ulah dirinya yang menendang-nendang kedalam kolam. Ia kesal. Wanita itu kebingungan, kebingungan dengan takdirnya. Takdir macam apa yang sekarang tertulis untuknya? Apa mati dan hidupnya pun akan sia-sia?


.


Pintu depan terbuka, memperlihatkan seorang pria dengan seragam putih dan tas kerjanya. Itu Jungkook, dan seorang wanita dengan seragam yang sama dengan dirinya. Dengan hati-hati keduanya melangkah masuk kedalam rumah. Mereka berjalan perlahan seraya meraba-raba di sekitarnya supaya tak sampai menabrak perabotan rumah lantaran rumah itu dipenuhi kegelapan.


"Ya ampun!! Hyung!!" Teriak Dokter itu tanpa permisi memanggil si Tuan rumah. Masih di posisinya di ruangan tengah rumah itu, tak ada yang datang menyambut kedatangan kedua orang itu.


"Aish! Kenapa gelap begini? Dimana mereka?" Jungkook berusaha meraih saklar lampu untuk memberikan penerangan pada rumah mewah itu. Setelah seluruh lampu ia nyalakan, barulah ia naik ke lantai dua menuju ruangan dimana itu ruangan kesayangan Jimin, sekaligus tempat pria itu menenangkan diri.


"Hyung!!" Dengan keras ia menggedor pintu berkali-kali tanpa henti sampai kemudian pintu terbuka dengan pemandangan seorang lelaki berkaos abu-abu, celana joger, bertelanjang kaki. Wajahnya tak bisa dilihat lantaran pencahayaan yang minim, membuat bayangan pun hampir tak tergambar di ruangan itu.


"Ada apa?" Suara berat dari dalam. Jimin keluar dari ruangannya dan berjalan melewati sang Dokter terlebih dahulu.


"Ada yang ingin aku katakan padamu. Tentang kandungan Laluna tempo hari yang tak bisa kuceritakan di hadapan mereka." Ucap Jungkook, membuat langkah Jimin terhenti.


Pria itu berbalik, menatap adiknya, "Jangan beri aku kabar baik, Jk." Ucap Jimin dan melanjutkan langkahnya menuruni tangga menuju ruang tamu.

__ADS_1


"Tidak, Hyung. Justru mungkin kau akan terkejut mendengar ini."


Di ruang tamu, sudah ada seorang wanita dengan seragam dokter yang terlihat cantik dan elegan. Wanita itu duduk di sofa seraya melihat-lihat beberapa dokumen bawaannya.


"Maksudmu? Duduklah, bicara dengan nyaman. Dan, siapa wanita ini?" Tanya Jimin langsung ke intinya.


"Ah, iya. Perkenalkan, Hyung, ini Lalisa Manoban. Dia seorang Dokter spesialis kanker dan kandungan dari rumah sakit Samsung Medical Center. Dan Lalisa, ini Park Jimin. Dia Hyung-ku."


"Dia sahabatku." Timpal Jimin membenarkan ucapan Jungkook.


"Kanker, tadi kau bilang? Jadi, apa yang ingin kau katakan?"


Jungkook meminta Dokter cantik itu untuk mengeluarkan beberapa Dokumen dan map yang telah mereka persiapkan. Pria itu mulai membuka laptopnya dan jemarinya menari-nari di atas keyboard mencari hal yang ia butuhkan saat itu.


Beberapa saat menunggu, Jungkook berhenti pada sebuah gambar yang menurut Jimin itu aneh, tidak jelas, gelap. Pria itu tak mengerti.


"Sebenarnya, kehamilan Laluna adalah sebuah keajaiban sekaligus bencana untuk dirinya sendiri. Tanpa harus ku katakan mungkin dirinya sudah lebih dahulu tahu. Selama ini, beberapa bulan setelah bersama apa yang kau ketahui mengenai penyakit wanita itu?" Jungkook memulainya dengan memperlihatkan sebauh hasil rontgen yang juga tak bisa di mengerti Jimin.


"Aku tahu dia sakit ketika hari itu dia pingsan di tangga dan di bawa kerumah sakit. Aku dengar dari mereka dia menderita kanker, dan sudah berhasil di sembuhkan. Orangtua nya juga mengatakan sekarang dia sudah sembuh dan hanya butuh istirahat lebih saja. Syukur dia sudah sembuh, aku tak ingin merepotkan hidupku."


Kedua orang disana terkejut dan saling melempar tatapan. Mereka terkejut ternyata...


"Ternyata dugaan ku benar, Lalisa." Ujar Jungkook pada Dokter dihadapannya itu. Jimin yang tak mengerti apa maksud mereka, ia hanya mengikuti tanpa ingin bertanya lebih. Menurutnya, itu bukan urusan dirinya. Lagi pula Laluna sudah bisa melakukan semuanya sendiri. Dia sudah sehat, kan?


"Kertas ini aku temukan di dalam saku piyama Laluna saat dia dirumah sakit. Baca saja nanti." Dokter itu kembali pada laptopnya dan membuka beberapa gambar.


"Apa maksud mu kehamilan itu bencana untuk dirinya juga?" Jimin mulai bertanya setelah sedikit membaca kertas yang sudah di tangannya itu.


Terdiam selama beberapa saat, Jungkook mendongak menatap pria tampan dihadapannya. "Laluna sedang tidak sehat, Hyung. Istrimu sakit, sakit parah. Kanker yang di idapnya saat ini, bahkaan sudah stadium 4." Begitu Jungkook berkata demikian, Jimin langsung menatap pria itu dengan serius sekaligus terkejut.


"Jika orangtuanya saja berkata begitu, itu berarti tak ada yang tahu, tak ada yang peduli pada keadaan yang pasti mengenai wanita itu sekarang. Mungkin hanya dirinya dan dokter yang menangani penyakitnya yang tahu. Kau lihat wajah dan rambutnya? Apa itu rambut asli? Dia bahkan terlihat sangat sehat dan bugar. Transisi yang hebat menurutku."


"Mengenai kehamilan itu, bisa hamil disaat mengidap kanker stadium akhir itu sebuah keajaiban yang besar, Hyung. Padahal sudah tidak mungkin untuk dirinya bisa hamil. Tetapi selain dari pada itu, dia juga akan segera berperang hebat dengan penyakitnya. Keadaannya yang sedang megandung, membuat pihak medis tidak bisa melakukan kemoterapi lantaran bisa menyebabkan beberapa kecacatan serius untuk kandungannya."


"Dan medis juga tidak bisa melihat perkembangan dan penyebaran kanker itu sudah sampai mana jika dia dalam kondisi hamil. Sampai nanti dia melahirkan anak itu, jika dia masih memiliki kekuatan untuk mempertahankan kehamilannya. Tak sampai disana, dia juga harus membuat keputusan besar saat itu, yaitu harus memilih antara hidupnya atau anaknya. Dan aku yakin, sangat yakin, Laluna sendiri sudah tahu mengenai hal ini dan aku juga mengerti apa alasannya mempertahankan kandungannya saat ini."


"Ini beberapa dokumen mengenai hasil pemeriksaan kemarin. Diam-diam aku dan Lalisa mengambil sample darahnya dan melakukan sedikit penelitian di lab. Dan inilah hasil yang aku dapatkan, Hyung." Jungkook mengeluarkan selembaran kertas dengan beberapa catatan singkat didalamnya.


"Lihatlah, Hyung. Dan ternyata stadium akhir itu bukan lagi awal-awal masuknya. Tetapi, dia sudah sampai di tengah perjalanannya, Hyung. Laluna sudah berjalan terlalu jauh. Dia sudah melewati masa lima tahunnya setelah dirinya di diagnosa oleh dokternya di Indonesia. Setelah kucari tahu informasi ke Indo. Ternyata dia..." Jungkook berhenti. Ia tak sanggup mengatakan itu, dengan melihat posisi Laluna saja sudah cukup membuatnya merasa sesak. Apa lagi mendiagnosis umur wanita itu.


"Apa Jungkook?!" Jimin mendesak. Perubahan di wajahnya terlihat jelas, kelopak mata bagian bawahnya terlihat sedikit memerah dan berair. Apa dia sedang berusaha menahan tangis?

__ADS_1


"Tn. Park Jimin, itu artinya istri anda hanya punya waktu beberapa bulan kedepan. Tak sampai setahun."


DEG!


Jimin menjatuhkan dokumen yang ada di tangannya. Dengan cepat dia bergerak lebih dekat dengan posisi Jungkook yang masih menunduk. Jimin menarik bahu Dokter itu supaya lebih menghadap dirinya. Dari pada terlihat khawatir, ia lebih terlihat seperti orang yang ketakutan sekarang.


"Apa yang dia katakan, Jungkook? Apa itu benar? Katakan padaku!"


Sebagai jawaban untuk teman tersayangnya itu, Jungkook hanya mengangguk pelan dan menatap Jimin dengan sendu. Jungkook tahu, hal ini pasti sudah menggetarkan hati Jimin untuk bisa lebih menyayangi istrinya, Laluna. Ia yakin pasti Jimin akan menaruh rasa sayangnya untuk Laluna mulai sekarang. Meskipun didasari rasa kasihan.


Jimin terdiam dan menunduk. "Kira-kira, berapa bulan lagi waktunya?" Tanya Jimin.


"Jika ini adalah tahun terakhirnya dan dia sudah melewati masa dua bulan di tahun ini, waktunya di perkirakan hanya tersisa sepuluh bulan." Lalisa menjelaskan.


Suasana menjadi sunyi seketika, seolah Laluna memang sudah pergi sekarang. Mereka terdiam dengan pikiran yang terus bermain. Apalagi Jimin. Mengingat semua perlakukan nya pada wanita itu, hatinya terasa sakit akan perbuatannya sendiri. Mendadak pria itu menyesali semuanya, semua yang membuatnya melukai perasaan Laluna. Ia menyesal telah mencampakkan Laluna begitu saja selama ini. Dalam lubuk hatinya yang dalam, ia berjanji, mulai sekarang dia akan memperlakukan Laluna sebagaimana seharusnya.


"Hiks... "


Mendadak kedua sejoli itu berpaling. Lalisa dan Jungkook. Mereka tersentak dan terkejut karena melihat seorang pria yang terkesan tegas dan kejam selama ini, sekarang sedang menangis karena menyesali perbuatannya pada seorang wanita yang dipaksa masuk ke dalam hidupnya. keajaiban apa ini? Pikir keduanya menatap Jimin yang masih menunduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Hyung, apa kau baik-baik saja?" Jungkook mengusap perlahan punggung pria itu dengan lembut berusaha membuatnya tenang.


"Entahlah, Jk. Bagaimana bisa aku begitu jahat pada manusia yang rapuh itu? Bukankah aku terlihat seperti tak punya hati?" Jimin mengangkat kepalanya dan menatap Jungkook dengan pandangan sendu. Terlihat begitu jelas beberapa bulir air mengalir di kedua pipinya. Bibir dan hidungnya mulai memerah.


"Sudahlah, Hyung. Aku mengatakan ini sebelum semuanya terlambat. Sebelum..." Ia menghentikan kalimatnya sejenak, "sebelum kita semua mempertanyakan penyebab kematian Laluna yang mendadak dan menjadi misteri." Lanjut pria itu. Dan Jimin semakin menyesak saja.


"Aku rasa kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang, Hyung. Kalau begitu, kami pamit." Ucap Jungkook dan berdiri dari duduknya dan berjalan keluar dari area ruang tamu dengan di ikuti Lalisa di belakangnya.


"Tunggu, sayang."


Jungkook secara tiba-tiba berbalik dan membekap mulut Lalisa dengan tangannya. Ia melirik Jimin yang masih terduduk diam di tempat. Entah apa yang di pikirkan seorang Jeon Jungkook saat itu.


.


.


Bersambung...


.


.

__ADS_1


Nih!


Yg ngarepin Jimin bakal luluh sama Luna^^


__ADS_2