
Beberapa hari berlalu setelah kejadian menghilang dan kembalinya Jimin secara misterius dengan tiba-tiba sikapnya berubah tanpa ada suatu sebab yang di ketahui oleh Laluna. Pagi ini, ia akan di periksa dan kembali di berikan catatan mengenai kesehatannya oleh Lalisa dan Jungkook yang ahli dalam penyakitnya.
Namun, pagi ini kedua sejoli itu terlihat berbinar wajah mereka. Sejak memasuki kamar Laluna, Lalisa selalu tersenyum, begitu juga dengan Jungkook. Setelah melakukan pemeriksaan, Laluna mendapatkan kertas catatan kesehatannya dan langsung ia buka dan ia baca di saat itu juga.
Keajaiban!
"I--ini... aku... " Laluna menatap kedua temannya itu. Apakah itu alasan mereka tersenyum sejak tadi? Jika iya, tak ada alasan untuk tidak tersenyum jika mengetahui hal itu. Bahkan, Laluna sendiri sudah menangis sendu.
"Aku tak percaya ini. Terima kasih, Tuhan." Tutur Laluna dan mengelus perutnya yang terlihat membuncit beberapa saat.
"Ini nyata, Laluna." Ucap Jungkook dan duduk di sebelah Lalisa di tepi ranjang.
"Awalnya, kami juga tak percaya dan kami memutuskan melakukan percobaan ulang karena takutnya itu kesalahan di pengujian. Namun, meski sudah beberapa kali mengulanginya hasilnya tetap sama. Tak berbeda bahkan satu persen pun dari hasil permata. Anak itu, dia memberi kekuatan untuk mu supaya kau bisa melihatnya, Luna." Timpal Lalisa.
Sebuah kebahagian yang teramat sangat, sampai rasanya akan sulit jika di gambarkan dengan kata-kata. Yang pasti, Laluna benar-benar sangat bahagia saat ini. Ia merasa seakan dirinya wanita yang paling bahagia sekarang.
"Luna, beberapa hari ini aku melihat keanehan dari Jimin-ie Hyung. Sikapnya berubah, bahkan dia menolak untuk bicara dan bercerita pada ku. Apa kalian bertengkar?" Jungkook bertanya.
Mendengar pertanyaan itu, senyuman Laluna memudar. Tiba-tiba, wajah dingin terpasang begitu saja. Jungkook dan Lalisa, keduanya pun tak menyangka kalau Laluna akan marah dengan pertanyaan itu.
"Besok akan ku paksa dia membuka mulutnya. Sudah cukup! Aku sudah lelah jika nasib ku harus berputar ke awal lagi. Mau tak mau akan kubuat dia bicara dengan ku besok meskipun dia akan membenci ku lagi. Lagi pula, aku sudah memutuskan sesuatu sebelum aku pergi. Jadi, jika Jimin membenci ku, maka aku bisa tenang nantinya." Tutur Laluna dengan semangatnya yang menggebu. Entah apa yang membuatnya begitu bersemangat.
"Apa maksud mu? Keputusan macam apa?" Lalisa.
"Kalian akan tahu nanti."
.
.
.
2 HARI KEMUDIAN
Malam ini, Jimin pulang setelah dua hari kembali tak ada kabar dan entah kemana perginya. Dengan langkah gontai pria itu berjalan memasuki rumah. Rambutnya terlihat kusut, jas yang seharusnya rapi bertengger di badan tegap itu, kini berpindah menjadi sebuah gulungan kain tak berarti dan ia taruh di bahunya.
__ADS_1
Kemeja putih yang ia kenakan terlihat lusuh dan kotor. Terdapat beberapa bercak berwarna merah di bagian dadanya. Celana yang ia kenakan pun terlihat telah bercampur warnanya dengan lumpur basah yang sudah mengering.
Ia berjalan seakan menyeret tubuhnya, bahkan kakinya pun tak terlihat terangkat. Pandangannya lesu dan ia menunduk, bawah matanya menghitam dan matanya terlihat memerah juga sembab. Seperti orang yang baru selesai menangis.
Laluna berdiri di lantai dua dengan nafas yang sudah memburu. Pandangannya tak lepas dari Jimin yang terlihat begitu kacau saat itu. Tanpa sadar, ia menangis melihat keadaan suaminya yang terlihat begitu tak karuan. Ia sangat ingin berlari dan berhambur ke dalam tubuh pria itu. Namun dia sadar, kalau saat ini yang akan ia hadapi adalah...
"Jika aku diam saja, bisa-bisanya besok dia akan pulang dengan sebilah pisau menanc*ap di perutnya. Jika aku masih mendiaminya bahkan dalam keadaan kacau dan babak belur begitu, bisa-bisanya aku akan melihat satu hal yang tak akan sanggup aku lihat ke depannya. Aku harus bertindak. Tak peduli bagaimana kemarahannya nanti, aku tetap akan membuatnya menjawab ku."
ia menggepal sebelah tangannya seakan menggambarkan tekad dan semangatnya yang kuat untuk membujuk Jimin supaya bercerita padanya apa yang sebenarnya terjadi. Kini, tanpa ragu ia melangkahkan kakinya mendekati tangga untuk menghampiri suaminya yang terlihat masuk ke toilet utama di lantai dasar.
Meskipun keadaannya tak sepenuhnya sehat, demi suami-nya ia akan bertahan. Di hitung menit, Laluna sudah sampai di depan kamar mandi yang sedang di masuki Jimin. Sekarang, dia hanya perlu menunggu suaminya keluar dan ia akan menghadapi pria itu. Saat ini, yang akan ia hadapi memang wujud suaminya, tetapi jiwa baik dari pria itu telah lama pergi. Sekarang, ia akan menghadapi malaikat mautnya.
.
Pintu berwarna putih dengan ukiran berwarna gold itu terbuka setegah lebar, dalam hitungan detik keluarlah orang yang sudah di tunggu-tunggu oleh Laluna sejak tadi. Jimin berubah, ternyata ia masuk ke kamar mandi untuk mengganti pakaiannya dan membersihkan bekas luka yang ada pada sudut bibirnya.
Saat melangkah pelan keluar dari kamar mandi, Jimin di buat terkejut dengan kehadiran Laluna yang menurutnya itu sangat tiba-tiba dan instan. Pria itu langsung menyembunyikan pakaian bekasnya yang sudah tak layak pakai.
Meskipun begitu, Laluna sudah melihatnya. Ia sudah melihat bagaimana keadaan pria itu yang saat di tanya habis dari mana, ia akan menjawab dari kantor. Padahal, ia tak tahu Laluna tidak lah buta untuk melihat bercak darah dan lumpur yang selalu mengikutinya pulang kerumah setiap sore.
"Dari mana kau, suami-ku?" Tanya Laluna dan dengan sengaja menekan kata di akhir kalimatnya.
Jimin diam, seperti biasa.
"Jimin, aku tanya kau dari mana?"
Lihat? Laluna bertanya begitu pada suami-nya, Park Jimin. Jangan pikir saat itu bahwa dia sangat berani dan siap mendesak suaminya itu. Nyatanya, ia bahkan gemetar ketika memutuskan harus memutuskan kalimat dalam bentuk pertanyaan dengan nada yang begitu mengintimidasi dan terkesan ingin ikut campur.
Pria itu mengalihkan pandangannya pada istri-nya yang berhasil membuatnya terkejut. Terkejut dengan cara bertanya yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Dengan tatapan elangnya Jimin berpaling dan mendekat pada Laluna.
"Aku dari kantor. Apa ada masalah?" Jawabnya dan kembali menjauh dari wanita itu.
Mendengar jawaban yang sama setiap saat atas pertanyaannya, Laluna melupakan ketakutan dan berubah menjadi kesal. Sebenarnya, ia sangat berhak ikut campur lantaran mereka suami-istri. Tetapi, karena ingin menghargai keputusan suaminya Laluna mengalah dan bersikap seolah tak tahu apapun mengenai Jimin dan kegiatan suaminya sehari-hari.
Menghela napas berat, Laluna mendongak menatap pria di hadapannya itu dengan berani. Ia berjalan mendekat pada Jimin dengan tangan bersilang dada. Setelah mengikis jarak diantara keduanya, lagi. Laluna kembali menghela napas berat dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah selama beberapa detik dan kemudian pandangannya kembali tertuju pada Jimin.
__ADS_1
Entah sadar atau tidak, ia sudah menggambarkan ekspresi yang tak pernah tergambar sebelumnya. Matanya menjadi lebih dalam, eskpresi di wajahnya begitu dingin dan tegas. Dan, sadar atau tidak, Jimin merasa bukan Laluna yang ada di hadapannya.
"Dengar, Jimin." Laluna memulai.
"Apa kau ingat? Saat kau mengatakan bahwa jiwa kita kini terikat sumpah, sumpah yang kau yakini tak akan berani untuk aku langgar. Apa kau ingat sumpah itu seperti apa?" Laluna berhenti, seolah menunggu jawaban Jimin atas pertanyaan kecilnya.
"Apa maksud mu?"
"Kau lupa?" Laluna mundur untuk memberi jarak pada suaminya yang ingin melangkah pergi dari hadapannya. Namun, kemana pun dia pergi malam ini dia tak akan bebas dari bayangan Laluna.
"Sumpah untuk saling terbuka, artinya kau atau pun aku kita tak boleh saling menyembunyikan. Saling percaya satu sama lain, artinya kau atau pun aku! Kita harus mempercayakan rahasia masing-masing pada pasangan. Selanjutnya, saling menjaga. Artinya... aku atau pun kau! kita harus saling menjaga satu sama lai--" Belum selesai ucapannya terucap, ia sudah terdiam.
"AKU SEDANG MENJAGA MU, LALUNA!" Jimin berbalik dan mengeluarkan amarahnya dalam bentuk kalimat pendek. Namun, meninggi.
Jujur saja, Laluna langkahnya terhenti dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Dan di saat takut seperti saat ini, ia refleks akan memeluk perutnya dan mengatup kedua matanya. Dari gerakannya terbaca sekali bahwa dia sedang melindungi anaknya. Namun, sebenarnya tak ada ancaman apapun di sini untuk bayinya.
"Menjaga? Apa maksudnya?" Batin wanita itu dan kembali melangkah mengikuti Jimin yang hampir keluar dari area dapur.
"Jangan begini, sayang. Katakan apa yang sebenarnya terjadi belakangan ini? Apa seseorang berusaha menganggu mu? Apa ada yang berusaha membun*h mu? Atau kah ada yang mengancam mu?"
Seketika Jimin berhenti melangkah dan berbalik menghadap istrinya. Tatapannya berubah dan tak terbaca. Gabungan antara perasaan senang, sedih, marah dan kesal menjadi satu di mata sipit yang indah itu.
"Diam." Satu kata yang keluar dari mulut Jimin seketika membungkam Laluna yang masih mempunyai seribu soalan untuk di pertanyakan pada suaminya.
Melihat Jimin naik ke lantai dua, Laluna pun bergegas menyusul suaminya yang menaiki tangga. Namun, sebelum melangkahkan kakinya di atas anak tangga, ia terlihat khawatir dan penuh pertimbangan.
Ia harus mempertimbangkan dua kali jika ingin naik ke lantai dua. Perutnya yang sudah membuncit itu, tak mungkin ia mampu menaiki dua puluh anak tangga yang besar-besar dan lebar itu sampai lantai dua.
Menyadari ketidak mampuan Laluna, Jimin berhenti. Ia berbalik dan turun dengan cepat untuk menghampiri Laluna. Sisa beberapa anak tangga lagi untuk meraih tangan wanita itu, ia berhenti tiba-tiba. Dengan cepat ia kembali naik ke lantai dua, dan berlari begitu cepat masuk ke kamarnya.
Melihat itu, Laluna menghembuskan napas beratnya dan perlahan duduk pada anak tangga pertama yang dia anggap begitu si4l untuknya. Jika tahu akan begini, ia tak akan bersusah payah untuk turun tadi. Karena rasa penasarannya, ia malah terjebak di lantai satu.
.
Bersambung...
__ADS_1
.