
"Waktu mungkin dapat memisahkan kita suatu hari nanti. Akan tetapi hingga saat itu tiba, tetaplah bersama."
(Hotaru)
.
Setelah beberapa hari menyetujui jadwal pemotretan Laluna untuk sampul Fashion & Beauty Korean Magazine, Laluna berangkat ke kantor yang sudah di tentukan untuk di make-up dan kemudian di potret. Bukan hanya Laluna tapi juga Jimin, mereka melakukan pemotretan bersama. Untuk mereka, itu adalah pemotretan pertama yang mereka lakukan bersama setelah hampir setahun menikah.
Jam demi jam berlalu, kini pemotretan telah selesai dan keduanya juga sudah mengganti pakaian. Tujuan mereka selanjutnya berbeda, Jimin yang akan mampir ke kantor, dan Laluna yang meminta untuk pergi sendiri ke rumah sakit tanpa harus di temani suami-nya.
Karena harus berpisah di sana, Jimin memberikan Laluna mobil untuk ke rumah sakit. Dari pada mengkhawatirkan dirinya sendiri, ia lebih mengkhawatirkan keadaan istri-nya saat ini. Untuk berangkat ke kantor, ia bisa menghubungi sekretaris Lee supaya menjemputnya.
Namun, meskipun ia mengiyakan Laluna untuk pergi sendiri. Seorang Park Jimin tak akan lengah lagi. Ia memasang pelacak di mobil yang sekarang sedang di kendarai Laluna. Dengan begitu, ia bisa memantau keadaan di sekitar istri-nya meskipun dari kejauhan.
Kini, Jimin benar-benar tak akan membiarkan siapapun mengganggu miliknya. Istri-nya, tak boleh di sentuh siapapun.
.
__ADS_1
.
Di sebuah gedung pencakar langit, di lantai paling atas, berdiri seorang pria berbadan kekar dan tinggi. Mengenakan setelan serba hitam dengan sebuah p1stol tanpa suara ada di tangan kanannya. Dari ketinggian itu ia terlihat seakan memantau sesuatu yang akan masuk ke dalam perangkapnya. Beberapa saat setelah itu, senyumannya mengembang memperlihatkan kesenangannya saat itu. Segera ia mengambil ponselnya terlihat akan menghubungi seseorang.
"Seperti permintaan anda, None. Park." Tuturnya mengatakan bahwa pria yang sekarang menjadi lawan bicaranya adalah seorang wanita dengan marga Park.
". . . . . . . "
"Kami sudah mengurus semuanya, anda hanya perlu bertemu dengan orang itu."
". . . . . . "
" . . . . . . "
"Kami akan menunggu kedatangan anda, None. Park."
.
__ADS_1
.
.
Setelah melakukan pemeriksaan rutin, ia memutuskan untuk langsung pergi ke tempat yang sudah di kirimkan oleh bawahannya yang ia minta untuk berangkat ke Korea beberapa hari lalu. Entah mengapa Laluna terlihat terburu-buru disana, ia sama sekali tak bisa santai saat itu.
Seperti biasa, Maserati Ghibli masih lah mobil kesayangannya. Tak tanggung-tanggung, bahkan ia menyetir pada kecepatan 90KM/jam. Dengan kecepatan itu, ia hanya butuh waktu beberapa menit untuk keluar dari area kota Seoul. Laluna sudah tak tahu dimana ia saat itu. Namun, ia hanya mengikuti arah jarum petunjuk jalan di mobilnya.
Sekitar setengah jam berkendara keluar dari kota, Laluna berhenti di sebuah gudang yang terlihat seperti tempat penyimpanan barang bekas. Dari pada terlihat seperti sebuah gudang, itu lebih terlihat seperti sebuah badan truk besar yang sudah tak terpakai.
Memasuki area yang di batasi dengan pagar kawat, ia sudah bisa melihat ada beberapa mobil yang di kendarai bawahannya yang datang dari Indonesia. Ia mempercepat langkahnya dan langsung mendorong dengan keras pintu penutup tempat sempit dan pengap itu. Untunglah masih siang, jadi cahaya matahari bisa menjadi penerangan tambahan ke dalam tempat itu.
Seperti dugaannya, para bawahannya--mereka semua sudah di sana dan sudah siap dengan segala alat yang memang menjadi keahlian masing-masing. Laluna perlahan melangkah masuk, dan para lelaki berbadan kekar yang menjabat sebagai bawahannya atau tepatnya di sebut anak buah keluarganya, menuntunnya menuju pada seorang wanita yang ada di tengah penerangan lampu di ruangan itu.
Begitu sampai di hadapan wanita itu, Laluna tersenyum sinis dan sedikit membungkuk menatap wajah yang terlihat merah padam seakan menahan amarah dan rasa sakit.
"O.. li.. vi.. a.. benar?" Laluna memgeja nama wanita dihadapannya itu.
__ADS_1
Melihat Laluna yang leluasa menyentuh barang-barangnya di tempat yang menjadi persembunyiannya selama ini, Olivia marah besar dan hendak berdiri untuk mengh4ntam Laluna. Namun, sayang sekali kaki tangannya terikat pada kursi yang sudah di beri semen sehingga kursi itu sudah mengeras di sana. Ingin membentak, mulutnya pun sudah penuh lantaran di sumpal dengan kain.
"Aku pikir, sehebat apa perempuan yang sudah berani menyakit1 milikku. Ternyata dia seb*ruk dirimu?" Tutur Laluna duduk dengan bersilang kaki di hadapan Olivia