Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 26 ( KILAS BALIK )


__ADS_3

"Sebenarnya... " Jimin.


KILAS BALIK:


JIMIN POV:


Hujan yang lebat dan petir begitu putih kilatannya. Lantaran memiliki satu alasan untuk trauma dengan hujan, aku berhenti dan berlindung di salah satu pohon rindang dan aku memarkirkan mobilku di sana.


Sekeras mungkin aku menyalakan speaker di mobil ku supaya tak sampai terdengar oleh pendengaran ku jatuhnya rintik hujan malam itu. Aku begitu takut untuk melanjutkan perjalanan dalam keadaan hujan lebat begini. Bahkan sekujur tubuh ku gemetar dan aku berkeringat dingin.


Sebenarnya aku ingin segera kembali untuk menemani istri-ku yang juga memiliki ketakutan terhadap suara gemuruh dan kilatan petir, juga hujan. Kami memiliki kelemahan yang sama. Namun, aku begitu lemah meskipun hanya sekedar untuk menyetir di bawah lindungan atap mobil. Melihat rintik hujan yang mengalir di atas kaca mobil ku saja membuat kepalaku pusing bukan main.


Lantaran mengkhawatirkan dirinya, aku berniat menghubungi bodyguards ku untuk menjaga di rumah dan sebagian akan ku suruh datang menjamput ku di sini. Jujur saja, saat ini aku berada jauh dari perkotaan. Jalanan di sini begitu sepi dan hanya ada satu atau dua truk besar yang lewat.


Saat akan menghubungi mereka, tiba-tiba ponselku berdering duluan. Aku pikir itu istriku, namun aku salah. Ternyata dia adalah Olivia, mantan kekasih ku yang sudah ku tinggal lantaran mencoba menjebak diriku.


"Ada apa?" Aku bertanya terus terang.


"Segera ke apartment ku jika kau tak ingin istri mu terluka." Ujarnya di seberang.


Darah ku berdesir seakan menggambarkan betapa khawatirnya aku saat itu. I-ini... ini terlalu tiba-tiba untuk ku. Bagaimana ini? Aku kebingungan dan khawatir bersamaan. Mendengar berbagai macam ancaman yang ia lontarkan atas ku terlebih lagi istri-ku, membuat ku tak mampu berpikir jernih dan akhirnya aku melawan trauma ku dan menancap gas menuju lokasi yang di katakan wanita itu. Tujuan ku satu, untuk menyelamatkan istri-ku.


Tak seberapa jauh dari kota, aku sampai di sebuah tempat yang sepi, sunyi dan gelap. Tempat itu terlihat seperti gudang penyimpanan barang yang sudah tak terpakai. Aku tak tahu pasti tempat apa dan dimana itu, sebelumnya aku tak pernah melihat tempat seperti itu.


Mengingat apa yang ia katakan, aku mempercepat langkah ku untuk memasuki tempat tersebut. Dari pada apartment, ini lebih terlihat seperti gudang penyimpanan. Di dalam gudang itu, aku melihat sebuah meja dan empat kursi dengan sebuah lampu yang redup tergantung di atas meja untuk penerangan yang benar-benar minim akan cahaya. Namun, bukan mengoreksi kemiskinan mereka saat ini tujuan ku untuk datang, tetapi untuk menemukan istri-ku yang sudah berani mereka cul1k dariku. Lihat saja, akan kuberi pelajaran wanita kurang 4jar itu.


Baru beberapa langkah aku mendekat ke meja itu dan memanggil-manggil orang di sana, tiba-tiba aku merasakan kesakitan yang teramat sangat yang menyerang tengkuk leher ku. Seketika penglihatan ku tak jelas dan memburam, namun samar-samar aku bisa melihat sebuah balok kayu berukuran sedang terlempar jatuh di sebelah ku yang kini juga sudah terbaring di atas lantai kotor itu.


KILAS BALIK END:


"Aku tak menyangka dia akan begitu gil4 terhadap mu, Jimin. Tapi aku juga merasa marah dan kesal lantaran ini kau sembunyikan dari ku." Laluna berujar seraya menangis. Ia begitu tersiksa ketika melihat betapa banyaknya bekas luka say4takan dan goresan pada bagian tubuh yang tersembunyi pada suaminya. Ada beberapa di punggung, perut, betis, dan paha Jimin.


"Maafkan aku, Luna. Tetapi itu aku rahasiakan karena Olivia mengancamku dengan menyakiti mu jika aku sampai memberitahu siapapun termasuk dirimu. Bahkan, beberapa hari lalu dia masih memasang sebuah alat di dalam jaringan kulit ku yang ia rob3k yang aku sendiri pun tak tahu dimana letaknya benda itu." Tutur Jimin membuat Laluna semakin terisak. Ia sadar, betapa tersiksanya Jimin hanya untuk membuat dirinya tetap aman.


"Apa lagi yang di lakukan wanita si4lan itu!" Laluna tiba-tiba berubah emosi dan nada bicara juga wajahnya memperlihatkan eskpresi yang berbeda. Jimin sadar, sebaik apapun seorang wanita, jika miliknya sudah di usik dia tak akan tinggal diam.

__ADS_1


"Tak ada gunanya emosi, Luna. Semuanya telah terjadi, namun sekarang aku sudah meminta bantuan kepada Jungkook untuk mendeteksi jaringan kulit ku dan menemukan alat itu. Saat kau di operasi, aku mengambil kesempatan itu dengan ikut mengoperasi diriku untuk mencabut benda kecil itu. Ternyata, itu sebuah alat penyadap suara sekaligus pelacak."


"Tapi... untuk apa dia menanam alat itu pada tubuh mu?"


"Jika aku berbicara dengan mu sepatah kata pun, aku akan kembali di bawa ke sana dan-- kau tahu? Aku tak ingin mengingat hal itu. Bukan lemah dengan wanita itu, hanya saja aku tak ingin kau terluka, Luna."


"Jadi rencanya adalah membuatmu menjauh dari ku? Itu?! Gil44! Aku tak akan pernah membiarkan perempuan itu menang!"


"AAKKH!" Pekik Laluna seraya menunduk menyembunyikan wajahnya di kaki Pria yang dalam posisi duduk bersila. Pekikan Laluna yang berisi amarah dan tangis.


Jimin mengangkat bahu Laluna dan kemudian ia dekap tubuh istri-nya itu. Luna benar-benar termakan emosi dan amarah. Ia benar-benar tak habis pikir dengan Olivia yang berani sekali perempuan itu menyentuh suaminya.


"Dengarkan aku, Jimin." Pria itu melepas pelukannya dan menatap sang istri yang sedang bersedih dan marah dalam waktu yang bersamaan.


"Biarkan aku membahagiakan diriku sendiri untuk menikmati saat-saat terakhir dalam hidupku. Biarkan aku melakukan satu hal untukmu. Biarkan aku melakukan apapun yang akan membuatku bahagia. Jangan pernah katakan "Tidak" untuk apapun yang akan kulakukan nanti. Kumohon, anggap saja ini permintaan terakhir ku." Laluna menyatukan kedua tangannya seraya menatap sang suami dengan penuh harap.


"Huff... " Pria itu menghembuskan napas panjang sebelum akhirnya mengangguki permintaan Laluna.


"Tak ada yang berakhir, Sayang." Tutur Jimin dan mencium bibir Laluna sekilas.


Di balkon, Laluna duduk di atas kursi dengan menumpukan sebelah sikunya di atas meja dan terlihat mengotak-atik ponselnya. Tak berapa lama setelah itu, sebuah panggilan masuk ke ponselnya dan segera ia terima panggilan tersebut.


"Ya. Lakukan perjalanan ke Korea melalui jalur bandara Seokarno Hatta besok pagi. Dan kabari aku jika kalian sudah sampai, di sini kalian punya tugas yang harus kalian selesaikan dalam kurun waktu satu bulan."


". . . . . "


"Waktu ku hanya tersisa 5 minggu lagi. Sebelum kalian berduka, ayo berbahagia bersama di sini. Ada tugas yang akan membuat kalian meneguk anggur merah bersama ku nanti. Bukan kah sudah lama kalian tunggu - tunggu untuk berpestas bersama?"


". . . . . . . "


"Tidak, tidak sampai kesana. Kalian hanya perlu menarik perhatiannya. Detailnya akan kujelaskan ketika kau dan anak buah mu sampai disini. Namun usahakan kepergian kalian tak ada yang tahu."


". . . . . . . ."


"Tn. Rawless tak perlu tahu."

__ADS_1


Laluna menutup panggilannya lantaran merasa Jimin sudah kembali ke dalam kamar. Ia kembali masuk dan duduk di sebelah pria itu, menemani suami-nya melakukan beberapa pekerjaan. Meskipun malam adalah waktunya untuk istirahat, tetapi Jimin tak bisa beristirahat dengan tenang sebelum ia menyelesaikan semua pekerjaannya yang sempat tertunda karena ulah Olivia.


"Siapa yang menghubungi mu?"


"Itu... Alexand. Dia hanya menanyakan kabar." Sudah jelas ia berbohong.


Tak berselang beberapa menit setelahnya, Jimin mendapat pesan masuk dari salah satu nomor yang umum di pakai di salah satu perusahaan yang bekerja sama dengannya. Menyadari itu rekan kerjanya, pria itu pun membuka pesan tersebut.


Isi pesan itu begitu membuatnya melongo, itu sebuah undangan pemotretan untuk produk keluaran terbaru dan terbaik dari perusahaan itu. Dan menurut nama yang tertera di undangan itu, itu untuk Laluna.


Jimin terkejut, baru satu minggu istri-nya terpublish dan dia sudah banjir undangan dari sana sini. Bahkan termasuk Brand ambassadors dari berbagai negara bagian.


Dan, ya. Ini bukan undangan pertama yang ia dapatkan via pesan atau telepon langsung dari CEO perusahaannya. Ini salah satunya dari sekian banyaknya undangan yang masuk untuk istrinya.


Padahal Laluna tidak terpublish secara resmi. Ia terpublish lantaran keluarga Park membuat wawancara dengan media dan menyatakan keadaan Laluna pada seluruh media hingga akhirnya menjadi topik utama selama beberapa hari saat itu. Mereka juga ikut hadir ketika sesi penguburan Putra Presdir Park kemarin.


Seperti yang di lakukan Jimin sebelumnya, ia akan menolak. Namun, sebelum ia mengirimkan pesan pernyataan penolakan darinya, Laluna sudah lebih dulu mengambil ponsel Jimin dan menghapus pesan itu dan membaca ulang undangan-undangan yang ada di sana. Dan tanpa persetujuan Jimin, wanita itu menerima salah satunya. Tidak semua, hanya salah satu dari itu semua.


"Apa yang kau lakukan, Luna? Kau tak akan bisa, Sayang." Tutur Jimin dan merebut kembali ponselnya dan hendak ia hapus pesan yang menyatakan Laluna setuju.


"Tidak, Jimin-ah. Aku bisa, aku akan menjadi seperti istri yang kau inginkan." Jawab Laluna dan mematikan layar ponsel pria itu.


"Maksudmu?"


"Sejak pertama menikah, aku tahu kau tak masalah dengan rupa ku. Yang kau permasalahkan hanyalah ketidak mampuan ku. Aku tahu kau menginginkan seorang istri yang bisa kau ajak berbisnis bersama, bukan seorang istri yang hanya bisa kau ajak untuk pulang pergi rumah sakit setiap minggunya."


"Apa yang kau katakan, Laluna?"


"Untuk sebulan ini biarkan aku menjadi istri impian mu. Dan ini bagian dari keinginan ku dan termasuk ke dalam hal yang akan membuat ku bahagia jika kau mengijinkan ku."


"Tapi, lihat keadaan mu saat ini?" Jimin mengusap pelan pipi istri-nya.


"Aku tak akan kalah dari penyakit, Jimin. Kecuali kematian."


.

__ADS_1


.


__ADS_2