Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
Misteri Hilangnya Tn. Park Secara Misterius


__ADS_3

eps 19


karena atas penuh gk bisa tambah lg jdi deh atas eps nya


▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ


.


Malam yang sepi seperti malam-malam lain yang telah lalu. Angin malam berhembus kenjang langit pun tak terlihat bintang. Gemerisik daun yang di terpa angin terdengar begitu jelas di halaman belakang rumah.


Laluna bisa mendengar berbagai jenis suara aneh di kala malam yang sunyi ini tiba.


Sebelum suami-nya pulang, kesunyianlah yang akan menjadi temannya. Kadang, Jimin akan pulang lebih cepat untuk menemaninya. Bahkan pernah sekali sebelum kemudian di larang Luna, Jimin pulang di saat masih jam kerja di kantor. Laluna yang tak ingin pekerjaan sang suami terganggu dengan keadaannya, ia kemudian melarang keras pria itu untuk kabur dari kantor seperti yang sudah ia lakukan saat itu.


Ketika pikirannya bermain-main entah kemana seraya menatap keluar, tirai penutup pintu menuju balkon yang terbuat dari kaca di kamarnya di terpa angin sehingga tirai itu benar-benar terbuka dengan lebar dan memperlihatkan sebuah cahaya berwarna putih yang meninggalkan bekas di mata siapa saja yang sempat melihatnya.


"AKH!"


Ia menutup diri dengan selimut. Dalam posisi yang tengah memeluk dirinya sendiri itu, ia gemetar dan merasakan ketakutan yang hebat. Keringat dingin jatuh membasahi syal dan bantal yang ia tiduri saat itu. Perlahan, ia menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya secara perlahan. Meskipun membutuhkan waktu yang sedikit lama, ia berhasil menenangkan dirinya sendiri. Wanita yang mandiri. Padahal, saat itu ia tengah menghadapi ketakutan terbesarnya.


Langit benar-benar menangis dan meluapkan kemarahannya. Guntur, kilatan yang menyambar dan terlihat begitu jelas akarnya, dan angin kenjang yang sedikit tak terkendali. Ketiga itu bercampur menjadi satu membentuk sebuah ketakutan. Ketakutan yang sama dengan yang sedang di alaminya saat itu.


Setelah merasa sedikit tenang, ia menurunkan sedikit selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Tak ada lagi kilat yang menyambar. Dengan cepat, ia menghempaskan selimutnya sembarangan dan bangun dari tidurnya untuk menutupi pintu kaca yang telah terbuka tirainya itu.


Namun, baru beberapa langkah berjalan tertatih-tatih, guntur dari sang penjaga langit di turunkan.


Seakan kembali pada masa dimana ia mengalami ketakutan itu, Laluna langsung mundur dengan cepat dan berjongkok diantara dinding dan meja nakasnya. Dengan memeluk kedua lutut dan menyembunyikan wajahnya, ia berusaha menahan tangis ketakutannya.


Angin yang masih bertiup kenjang, kilat yang terus memberikan cahayanya yang sekilas pada bumi, dan guntur yang semakin lama semakin keras suaranya. Laluna gemetar hebat, rasa takutnya bahkan melebihi yang pertama kali di alaminya tadi. Bahkan, ia mulai menangis. Kini dirinya bahkan sudah terlalu takut untuk beranjak ke tempat tidur yang padahal hanya berjarak tiga meter dari tempatnya bersembunyi.


Disaat ketakutan seperti yang ia rasakan sekarang, saat itulah otaknya mulai bermain dan memutar seluruh rekaman yang menjadi traumanya beberapa tahun lalu. Ya, dia memiliki trauma masa lalu.


KILAS BALIK:

__ADS_1


LALUNA POV:


Aku sangat membenci petir. Aku benar-benar benci raungan langit yang menyayat hatiku. Aku benci hal itu. Kecuali hujan.


Awalnya, aku hanya mengangumi saja, bukan mencintai. Aku hanya mengagumi bagaimana jatuhnya air hujan dari langit. Jangan tanya, aku pun tak tahu mengapa aku menyukai cara hujan mendarat di bumi.


Menurut ku, ketika setitik air hujan jatuh dengan cepat dari langit dan pecah membentuk sebuah gelombang air kolam, itu terlihat seperti seorang dewi dari langit yang sedang mengunjungi bumi.


Aku mencintai hujan. Sangat mencintainya seperti aku mencintai bulan. Menurutku, bulan dan hujan adalah dua hal yang menyatu dalam diriku. Tetapi, tanpa dia aku tak pernah tahu rasanya mencintai hujan.


Dia, orang yang banyak mengajari ku mengenai apa artinya kehidupan. Orang yang selalu mengatakan bahwa aku akan kembali sehat seperti dulu. Orang yang selalu menyemangati ku saat aku bahkan merasa semangat. Orang yang selalu mendukung ku meskipun itu hal kecil. Dia orang yang aku sayang, orang yang aku cintai, orang yang akan selalu ada dalam jiwa dan raga ku. Namun tidak untuk sekarang.


Semenjak dia pergi dan meninggalkan ku di dalam derasnya hujan dan petir yang menggema di langit malam kala itu, perasaan ku untuknya berubah. Dia adalah sebab terjadinya sebuah kejadian yang meninggalkan bekas luka terdalam yang pernah ku miliki. Luka yang tak akan pernah sembuh.


Meskipun suara ku sudah serak lantaran memanggil namaya di dalam ketakutan, ia bahkan tak berpaling. Ia membuka payung hitamnya kemudian melangkahkan high-heels hitam yang ia kenakan memijak derasnya aliran hujan malam itu. Dengan angkuhnya ia pergi begitu saja setelah mencampakkan ku di tengah hujan, petir dan guntur yang bersahutan.


Dalam ketakutan yang sangat, aku menangis. Tubuh ku menggigil kedinginan dan aku terus memanggil dirinya meskipun ia sudah tak terlihat lagi bayangannya di sana. "Oemma... " Bahkan sampai tingkat kesadaran terkahir ku, aku masih menyebut dirinya. Ibu ku.


Ralat--maksudku wanita asing yang beraninya mangusik hidupku dan kemudian pergi tanpa sebab. Apa pantas ia di sebut sebagai Ibu? Setelah memperlakukan putrinya dengan begitu kej4m, setelah membu4ng putrinya yang selalu ia curahkan kasih sayang pada anak itu. Bahkan, bin4tang pun tak pantas di perlakukan sedemikian kejamnya.


Karenanya aku takut akan peristiwa alam itu.


Artinya, keluarga Rawless yang saat ini melatari kehidupan ku, mereka bukan keluarga kandungku. Mereka orang yang telah menyelamatkan ku malam itu. Mereka telah banyak berbuat baik untukku, oleh karena itu aku tak bisa menolak apapun permintaan mereka. Aku merasa berhutang nyawa pada keluarga angkat ku.


.


.


AUTHOR POV:


SRIITT!


Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti mendadak tanpa adanya aba-aba untuk pengendara lain di belakangnya. Namun, untunglah saat itu hanya ada satu dua motor yang lewat dan masih sempat mengelak mobil itu.

__ADS_1


Di tengah derasnya hujan dan jalanan yang licin, perlahan mobil itu menepi. Mencari tempat yang aman untuk memarkir. Terlihat sebuah pohon besar di seberang dan teduh dari hujan, mobil itu pun melaju ke sana. Apa orang itu ingin berlindung dari hujan? Tapi bukankah dirinya saat ini pergi dengan mobil.


Dari luar mobil itu, sayup-sayup terdengar suara musik yang di putar dengan keras. Terlihat dari kejauhan wajah orang itu, lantaran tersorot pencahayaan dari lampu di sebuah tiang penerang jalanan.


Dan itu Presdir Park, alias Park Jimin.


Punya trauma masa lalu dan membuatnya takut akan hujan, pria itu memutuskan untuk menepi supaya tak sampai terjadi kejadian yang tak di inginkan. Bukankah ia pernah menceritakan mengenai bagaimana ia kehilangan sahabat sekaligus wanita yang ia cintai pada suatu malam dikala hujan melanda?


Ia mengeraskan volume pada musik supaya ia tak mendengar derasnya rintik hujan yang berjatuhan. Jika terus begini, ia tak akan bisa menyetir untuk pulang. Dengan gemetar, Jimin merogoh saku jasnya dan mengeluarkan ponselnya. Tampaknya, ia akan menghubungi seseorang yang bisa ia minta tolong.


Baru akan menekan tombolnya, sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Dan itu adalah si gadis cantik namun licik. Olivia.


"Apa lagi?!" Melihat nama itu, ia mendesah kesal.


"Halo."


" . . . . "


"Apa? Apa yang kau lakukan, bod0h?!" Bentak Jimin.


". . . . "


"Baiklah! Aku akan kesana sekarang. Jangan berani-beraninya kau menyentuh bahkan itu rambutnya sekalipun."


Sekarang, yang ia rasakan adalah kekhawatiran yang lebih besar dari pada rasa takutnya akan hujan. Ia harus membuat keputusan besar di saat seperti ini, segera. Melawan trauma nya atau membiarkan orang yang ia cintai pergi lagi dari hidupnya.


.


.


.


bersambung

__ADS_1


AI^^


Maaf deh, buat apa aja yg berksan ga nyaman untuk kalian^^


__ADS_2