Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 7 ( PERKARA GADIS YUNA )


__ADS_3

▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ


"Hari ini, pelangiku lebih berwarna. Akankah itu karena mu?"


(JM Quotes)


.


"Sialan! Ini sakit sekali." Umpatnya seraya berjalan pelan dan memegangi pinggangnya yang terasa sedikit nyeri. Setelah berpakaian juga mengeringkan rambutnya, ia berdiri di depan cermin. Di cermin ia bisa melihat pantulan dirinya.


Tak terasa dan tak bisa di percaya, ia telah melewati sebuah fase kedewasaan. Kini ia tahu bagaimana rasanya itu, nikmat sekaligus sakit di waktu yang bersamaan. Ia tak menyangka, benar-benar tak menyangka akan melakukan hal itu dengan... Jimin.


Ia mulai mengutip pakaian mereka yang semalam terhempas kesana-kemari. Sekarang Laluna beralih pada suaminya yang masih tak bergerak di balik selimut. Karena tak ingin mengganggu, Luna hanya membuka tirai yang menutupi dinding kaca. Setelahnya ia berencana ke dapur untuk membuatkan mereka sarapan.


.


"Sial4n!" Jimin duduk di sisi kasur dengan selimut yang masih menutupi setengah tubuhnya, sehingga memperlihatkan betapa erotisnya bentuk kotak-kotak yang ada di perutnya itu.


Ia mengumpati dirinya sendiri karena benar-benar telah menyentuh Laluna, wanita yang tak di cintainya sama sekali. Dia memang menyukai pinggang ramping dan badan ideal wanita itu, tapi tidak sampai benar-benar membuat dirinya berhubungan lebih dalam.


"Apa yang Olivia taruh dalam minuman itu sampai aku terangs4ng? Gadis gila! Apa dia sudah bosan dengan uang ku?" Jimin tak tahu kenapa dia masih mempertahankan hubungannya dengan gadis itu. Meskipun begitu, bukan berarti ia tidak tahu kalau Olivia hanya memanfaatkan uangnya. Dan itu pula sebab Olivia mempertahankan hubungannya dengan CEO ini, karena harta Jimin yang berlimpah ruah.


"Apa yang membuatnya memancing ku? Apa dia benar-benar ingin aku mainkan sebagai j4lang?!" Jimin benar-benar kesal mengingat gadis yang di cintainya hampir saja membuat dirinya terluka jika tidak karena... Laluna.


"Dan kenapa istri ku itu merelakan mahkotanya terenggut oleh ku tanpa dasar cinta? Apa karena dia istriku, jadi dia mematuhi semua yang harus di lakukan seorang istri? Laluna... Laluna... begitu polos seperti namanya. Seperti bulan, meskipun sadar dirinya terkadang tak di hiraukan, tetap saja berusaha memberikan pencahayaan. Sesekali, jadilah matahari, Laluna."


Jimin bertutur dan terkadang tertawa renyah mengingat kedua perempuan itu--Laluna dan Olivia. Mereka sangat berbeda. Yang satunya ingin di mainkan, yang satunya lagi tak ingin bermain tanpa cinta. Tetapi harus memainkan perannya demi cinta.


Manusia memang naif, ya.


.


"Apa yang kau lakukan di dapurku?"


Itu suara Jimin. Sinis sekali cara ia bertanya. Ia berjalan melewati wanita itu dan mengambil gelas untuk menuangkan air.


"Tak ada. Hanya ingin memanggang roti." Jawab Luna seraya mengoleskan selai coklat di roti yang ada di tangannya.


Sebenarnya wanita itu sedikit tidak nyaman ketika Jimin berada di dekatnya, mengingat apa yang mereka lakukan semalam. Memang sangatlah nikmat, namun sangat menyebalkan juga. Takut juga Jimin akan memperhatikan caranya berjalan dan pria itu akan curiga ada apa dengannya. Karena Laluna pikir, pria itu akan melupakan apa yang mereka lakukan semalam lantaran Jimin sedang di luar kondisi dan kesadarannya. Pikir Laluna.


"Makanlah rotinya sebelum berangkat ke kantor." Tutur Laluna seraya meletakkan sebuah piring berisi dua roti yang sudah di lapisi selai dan telur setengah matang di atas meja di hadapan suaminya. Sedangkan ia segera pergi setelah mengambil rotinya.


Diam-diam, Jimin memperhatikan istrinya yang terlihat masih sangat sulit untuk berjalan. Bahkan Laluna berpura-pura telah menabrak meja kecil dan berjalan dengan tertatih-tatih.

__ADS_1


Melihat drama itu, Jimin tersenyum kecil dan kemudian bangkit dari duduknya untuk menghampiri wanita yang masih menyimpan rasa malunya itu untuk meminta tolong.


Jika di kaitkan dengan cinta, pria itu memang belum bisa mencintai istrinya. Tetapi jika di kaitkan dengan budi, Jimin masih punya hati. Tentu dia akan merasa bersalah ketika melihat Laluna yang kesusahan seperti itu. Apalagi itu karena dirinya. Seingatnya dia tak bermain kasar. Tapi kenapa wanita kesakitan? Mungkin karena wanita itu yang masih sehat dan terjaga mahkotanya.


Dari arah Laluna berjalan dapat dilihat bahwa dia akan keluar menuju halaman depan. "Untuk apa dia kedepan disaat masih banyak remaja-remaja yang akan berangkat ke sekolah dan melewati pekarangan rumah? Kupikir dia pemalu." Jimin berpikir sebentar dan mulai memperbesar langkahnya.


"Aakh!!"


Itu Laluna yang berteriak. Bagaimana dia tidak terkejut? Tiba-tiba Jimin muncul di belakangnya dan langsung menggendong nya.


"Tak perlu takut untuk meminta pertolongan." Ujar Jimin tak terlukis senyuman sedikit pun disana. Hanya ada wajah garang dan sangar, membuat Laluna tak berani menatapnya lama-lama. Ia membawa Laluna keluar dari rumah ke halaman paling depan seakan ia bisa membaca pikiran wanita itu.


"Astagaa!! Lihat! Itu Pak CEO dengan istrinya dari Indonesia!" Seorang gadis berujar dengan antusias pada teman-temannya sehingga sekarang Jimin dan Laluna menjadi tontonan mereka.


"Presdir! Dia sangat cantik!!" Seorang pemuda laki-laki berteriak dari seberang pagar dan melempar sebuah bunga mawar merah ke hadapan Laluna yang masih ada di dalam gendongan suaminya.


Menanggapi para remaja itu, Jimin hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan. Mereka adalah anak tetangga-tetangganya yang saat mereka kecil sering bermain dengannya. Mungkin karena itu hanya mereka yang berani pada Jimin disana.


"Oppa!"


Perkenalkan. Dia harus kalian kenali. Lihatlah tatapan Jimin yang tajam pada anak gadis itu. Bagaimana tidak? Selain nakal dan sering mengganggunya, anak itu juga menyukainya. Bahkan anak itu pantas memanggilnya "Ahjussi" dari pada "Oppa."


"Yuna!" Jimin menegur.


Yuna salah satu anak seorang pengusaha yang juga tinggal di kawasan elit itu. Tak menghiraukan tatapan dan teguran Jimin, Yuna memanjat pagar dan bergelantungan disana. Bahkan sampai membuat anak-anak lain yang lewat terkejut melihat tingkahnya. Entah kenapa dia bersikap seperti itu. Apa karena dia kesepian dan membutuhkan perhatian lebih?


"Mereka menyukai sikap arogannya...." Laluna berujar pelan seraya menatap Jimin yang sedang meminta Yuna untuk turun dari pagar rumahnya. Jika bukan karena semuanya elit, maka bisa roboh pagar rumahnya itu.


Melihat Yuna yang tetap dengan pendiriannya ingin duduk di atas pagar, dan Jimin yang tak bisa membujuk anak itu, Laluna mulai melangkah pelan dan menghampiri mereka; Jimin dan Yuna yang sedang berdebat.


"Hai..." Sapa Laluna pada gadis itu. Dari pada anak sekolah, Yuna itu lebih terlihat seperti anak gangster.


"Hai!" Balas gadis itu antusias.


"Bisakah kita bicara berdua sebentar?" Laluna mendongak mencoba menatap langsung gadis itu. Posisinya yang saat ini berada di atas pagar yang tinggi itu bisa saja membahayakan dirinya.


Yuna hanya mengangguk dan kemudian turun perlahan-lahan dan menginjakkan kakinya di tanah. Baru saja turun, ia sudah langsung di ceramahi pak CEO, "Apa kau sangat mencintai pagar ku ini, heh? Bisa-bisa pagarku roboh karena ulahmu seperti ini setiap pagi. Sekarang pergilah berangkat ke sekolah."


Biasanya, setela di ceramahi Jimin gadis itu akan berlari dan pergi. Tapi entah ingin memanfaatkan kesempatan, ia justru berlari dan bersembunyi di balik Laluna. Laluna hanya tersenyum dan kemudian mengajaknya mengobrol sebelum jam masuk sekolah tiba.


Dan Jimin yang sudah terlalu malas meladeni keduanya saat itu, ia pun kembali ke dalam rumah.


"Siapa nama mu?" Tanya Laluna.

__ADS_1


"Aku Choi Yuna." Jawabnya memperlihatkan jajaran gigi putihnya.


"Aku Laluna. Kau bisa memanggilku sesuka mu." Laluna turut memperkenalkan dirinya.


"Kalau boleh tahu, apa benar yang di katakan Jimin kau memanjat pagar rumahnya setiap pagi?" Tanya Laluna seraya tertawa kecil untuk mencairkan suasana.


"Benar, Oemma."


DUG!


Jantung Laluna berdetak tiga kali lebih cepat dikala mendengar panggilan anak itu. Apa maksudnya? Apa jangan-jangan dia adalah anak Jimin? Tidak. Itu tidak mungkin.


"O-Oemma? Apa maksudmu, Yuna?" Tanya Laluna.


"Iya. Itu doa, Oennie. Semoga kau segera mempunyai bayi dan aku akan lebih sering memanjat pagar rumah kalian. Hahaha...." Tawanya keras. Dan jawaban yang membuat Laluna lega.


"Kalau boleh tahu kenapa kau memanjat pagarnya?"


"Aku, oh tidak, bukan hanya aku. Tapi mereka juga," tunjuknya pada anak-anak remaja yang keluar dari gerbang rumah mereka dan melambai-lambai di luar sana. Melambaikan tangannya pada Laluna dan Yuna.


"Mereka, aku... kami semua sangat menyukai sikap arogan Pak CEO. Astaga! kalau saja kami ini sejenis es krim, maka akan meleleh dengan sikapnya yang hangat. Dan kemudian kembali dibuat membeku dengan sikap arogan dan dinginnya."


"Benarkah?" Laluna bertanya tak percaya. Entah apa yang di pikirkan anak-anak sekarang, arogan itu keren? Mereka hanya tidak tahu saja bagaimana rasanya mempunyai pasangan yang arogan.


"Tapi, doa ku semoga kau dan mereka semua mendapat suami yang baik dan perhatian... juga mencintai kalian." Tutur Laluna dan menepuk kepala gadis itu beberapa kali.


"Terima kasih, Oennie! Kau juga. Semoga cinta Oppa padamu lebih besar lagi." Ujarnya dan kemudian ia pamit untuk berangkat ke sekolah.


Hah? Apa katanya tadi? Cinta Jimin?


Andai saja anak itu tahu, mungkin dia akan mengganti kalimatnya dengan, "Semoga kau bisa membuatnya mencintaimu."


.


.


BERSAMBUNG...


.


.


Sebenrnya kan, ini msih pnjang salinan crtanya. Biar enak dan berjeda, jadi cici jadiin dua chapter.

__ADS_1


Klian keberatan ga? Klo mislnya Cici sring double up?


Oh, iya. Btw, buat klian yang udah mnggil Cici, gausah pnggil Oennie lgi ya sayang. Krna, Cici itu artnya kakak juga^^


__ADS_2