Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 35


__ADS_3

.


.


.


Setelah makan malam dan membersihkan tubuhnya, Jimin keluar kamar dan duduk balkon kamarnya. Bintang-bintang yang berhamburan dengan rembulan penuh dan terang, menemaninya malam itu.


Ia merasa begitu dekat dengan Laluna. Laluna bagaikan rembulan yang bersinar terang di tengah kegelapan malam. Ia merasa begitu merindukan istrinya, bahkan kerap kali ia merasa bahwa akan pergi saja menyusul Laluna. Namun, ia tak ingin membuat istrinya kecewa karena ia melanggar keinginan Laluna atas dirinya.


Seharusnya sejak tiga hari lalu, Luna sudah dirumah bersama dengannya, namun para Dokter belum mengizinkan Laluna untuk kembali ke Korea. Apalagi keadannya benar-benar tidak memungkinkan.


Meskipun di kabarkan sudah sadarkan diri dan tak membutuhkan bantuan pernapasan lagi, Laluna tetap tidak di perbolehkan untuk beranjak dari tempat tidurnya.


Jimin membuka ponselnya dan mengecek beberapa pesan masuk yang belum ia baca selama kurang lebih semenjak dua hari lalu, ketika pihak rumah sakit dari Indonesia mengabari bahwa Laluna sudah sadar.


Selama beberapa saat Jimin mengotak-atik ponselnya dan mencari-cari pesan penting saja untuk ia baca. Ada beberapa dari teman-temannya, siapa lagi jika bukan rakyat Ot7? Mereka menanyakan kabar Laluna.


Baru beberapa menit menatap layar bercahaya biru itu, matanya mulai terasa begitu berat dan lelah. Pria itu menguap mempertandakan bahwa tubuhnya butuh istirahat. Memutuskan kembali masuk ke kamar dan ingin tidur, Jimin meng-off kan semua aplikasi yang mungkin bisa menganggu tidurnya, termasuk pesan dan Emailnya.


Ia masuk ke kamar, menghidupkan AC, mematikan lampu dan kemudian tidur.


.


.


.


07:38 WIB


Jakarta, Indonesia.


Dari arah kanan lorong rumah sakit yang masih sepi dari pengunjung, terlihat Lalisa yang sudah rapi dengan seragamnya berlari terbirit-birit seolah-olah ada yang sedang mengejarnya. Dalam langkahnya tersebut, dapat terbaca dengan jelas bahwa dia begitu gemetar dan lemas. Bahkan wajahnya sampai pucat pasi. Entah itu karena ia tak sempat sarapan, atau memang perempuan itu sedang sakit.


"You're f*cking lies!!"


Sontak seluruh atensi orang-orang yang ada di ruangan itu teralih pada sebuah suara yang mengejutkan mereka dari arah pintu masuk ruangan bertuliskan ICU.


Beberapa suster yang sejak tadi berdiri di sebelah brankar putih abu-abu itu mulai mundur memberi jalan pada perempuan bernama Lalisa yang tak terbaca raut wajahnya.


"Tidak, tidak, tidak!"


Tubuhnya merosot di sebelah brankar itu, ia kembali menangis. Dan tangisnya kali ini, benar-benar tidak sama. Ia mengeluarkan seluruh isak tangisnya dan bahkan menangis dengan suara yang keras.


Laki-laki yang berdiri di hadapannya pun tak berani untuk membawa wanita itu kedalam pelukannya. Jungkook, ia terlalu takut dengan perasaan Lalisa saat ini. Tak mampu untuk menahan Lalisa, ia hanya bisa melihat bagaimana histerisnya Lalisa pagi ini.


"Jungkook.. jungkook... " Tiba-tiba Lalisa berdiri dan meraih kedua pergelangan pria itu seraya menatapnya dengan tatapan yang sama sekali tak bisa di baca.


"Jimin... dia... dia sudah tahu?"


Sebagai jawabannya yang kecil, Jungkook hanya menggeleng pelan.


"Hubungi dia!"

__ADS_1


"Dia tak bisa di hubungi, Lisa. Tenangkan dirimu... " Jungkook menarik kekasihnya itu ke dalam pelukannya berusaha membuat kedamaian yang sekarang emosi wanita itu tengah tak menentu.


"Jimin harus tahu, Jk. Bagaimana kita akan memberitahu padanya nanti?"


"Pihak rumah sakit sudah mencoba untuk menghubunginya jam tujuh tadi. Tapi nomornya tak bisa di hubungi, bahkan mereka juga sudah mencoba mengirim kabar via-Email kepada Hyung. Tapi hasilnya sama saja, jangankan terbalas terbaca pun tidak." Tutur Jungkook.


"Sepertinya kita harus kembali tanpa memberitahu Jimin Hyung. Aku rasa dia akan membaca Email-nya nanti ketika ponselnya kembali ia aktifkan." Timpal Jungkook lagi.


"Maksudmu? Kita akan membawa pulang dia yang seperti ini langsung ke hadapan Jimin? Apa dan bagaimana ekspresinya nanti, bisa bayangkan itu?" Lalisa.


"Anda benar, Dokter. Ada baiknya itu disegerakan." Usul Dokter Jeo.


.


.


.


"Aku tak bisa menunggu lebih lama lagi. Apa aku susul saja ke sana? Aku merasa begitu khawatir dan aku sangat ingin melihatnya saat ini."


Sejak bayangannya masuk ke ruangan kebanggaannya yang sudah ada sekretaris dan temannya di sana, pria itu hanya mondar-mandir dan menggumamkan hal yang sama sejak tadi. Apalagi mereka, dirinya sendiri saja tak bisa mengerti dengan perasaan apa yang sedang ia rasakan saat itu.


"Aku merasa aneh, sangat aneh." Keluhnya pelan, entah karena sudah lelah berputar-putar disana atau ada perasaan lainnya yang membuatnya lemas, pria itu akhirnya merosot ke lantai di sebelah dinding kaca ruangannya yang memperlihatkan langsung pemandangan kota.


Kedua sahabatnya yang melihat itu, mereka segera menarik pria menyedihkan yang terlihat tak berdaya di sudut sana.


"Apa yang kau rasakan, Jimin?" Namjoon, Kim Namjoon. Ia membaringkan sahabatnya yang terlihat aneh di atas sofa panjang di tengah ruangan yang berpangkat CEO itu.


Selagi Sekretaris Lee menyiapkan minuman hangat untuk Sang Presdir, Namjoon mencoba membuat Jimin merasa sedikit tenang. Dari pada terlihat seperti orang yang kepanikan, Jimin justru lebih terlihat seperti seseorang yang kebingungan dan kehilangan arah. Semuanya berawal dua jam yang lalu, ketika jarum jam menunjukkan angka delapan pagi tadi.


Bruahk!!


Pintu ruangan yang bertempat di lantai paling atas terbuka lebar dan menimbulkan suara yang keras, membuat kedua orang yang ada di dalam ruangan itu terperanjat kaget. Yang terlihat sedang duduk di sofa seraya mengotak-atik laptopnya adalah Sekretaris Lee dan seseorang yang ia minta untuk datang menemuinya, Kim Namjoon.


"Jimin, meskipun kau pemilik ruangan ini, setidaknya jika tidak mengetuk maka bukalah pintu pelan-pelan. Kau tidak hanya membuat kami terkejut, tapi juga beberapa karyawan yang ada disana. Kau menimbulkan suara yang keras." Tutur Namjoon meletakkan sebuah majalah yang telah ia baca. Ia sudah tak lagi berselera untuk melanjutkan bacaannya.


Jimin, dengan nafas yang memburu dan tubuh yang gemetar. Ia masih berdiri di sana dan masih memegang knop pintu yang terbuka lebar. Sehingga mengekspos apa saja yang ada di dalam ruangan itu keluar, dan sejak tadi sudah di perhatikan para karyawan yang kebetulan lewat dan yang memang tempat mereka berhadapan dengan ruangan sang Presdir.


Kedua orang di dalam sana baru menyadarinya, bahwa ada yang mengganjal dengan Presdir Park. Mereka baru menyadari bahwa pria itu seperti orang yang ketakutan, namun wajahnya seakan mengatakan bahwa dia tengah kebingungan.


Keduanya saling tatap selama beberapa saat, sampai kemudian akhirnya mereka berjalan menghampiri Jimin dan menuntun pria itu untuk duduk di sofa.


"Apa yang terjadi? Kenapa kau terlihat seperti orang yang ketakutan?" Sekretaris Lee bertanya, sebagai teman, bukan rekan kerja.


Jimin berdiri dari duduknya seraya melonggarkan dasi dan membuka kancing jasnya. "Aku tak tahu, aku bermimpi aneh tadi. Aku merasa... seperti khawatir dan takut secara bersamaan. Tiba-tiba aku ingin menemuinya, aku merasa bahwa aku harus bertemu dengan Laluna. Sekarang!"


Off:


"Ini, perasan lemon akan sedikit menenangkan mungkin." Sekretaris Lee menyerahkan gelas yang berisi irisan buah lemon kepada Jimin, dan langsung di teguk habis oleh Pria itu.


"Kenapa rumah sakit tidak menghubungiku pagi ini?" Jimin memijat pelipisnya pelan seraya memejamkan kedua matanya.


"Jungkook dan Lalisa masih disana, kan? Kenapa tidak coba hubungi mereka?" Namjoon menyarankan.

__ADS_1


"Sudah, tapi nomor mereka tak bisa di hubungi. Aku juga sudah mencoba menelepon dokter Jeo, dia adalah dokter yang awalnya mengambil alih atas kasus Laluna. Dokter Joe juga tak menjawab panggilan ku." Ujar Jimin terlihat putus asa.


"Sudah kau coba hubungi rumah sakit langsung?"


"Itu bukan rumah sakit umum, Hyung. Jadi mereka hanya akan menerima panggilan di jam-jam tertentu. Bahkan panggilan darurat pun tak akan mempan membujuk suster disana untuk bicara." Jelasnya seraya mengusap wajahnya frustasi.


"Apa yang membuatmu begitu khawatir? Biasanya 'kan mereka akan menghubungi di jadwal siang nanti jika tidak pagi. Apa ada hal yang mengganjal?" Tanya Sekretaris Lee.


"Masalahnya, Aku juga tidak tahu ada apa denganku!" Jawab pria itu dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.


Sekretaris Lee terlihat berpikir sejenak seakan berusaha mengingat sesuatu, ia langsung beranjak ke meja Jimin dan membuka komputer di sana, kemudian mengarahkan pada aplikasi Gmail yang sering Jimin pakai untuk berhubungan dengan rumah sakit melalui pesan.


Gmail di komputernya juga sudah tersambung ke ponsel sang Presdir, jadi jika ada pesan masuk otomatis pesan itu juga dapat di lihat Jimin dari ponselnya.


"Ada apa?" Namjoon menghampiri lantaran melihat Sekretaris Lee begitu bersemangat.


"Presdir biasanya memakai Email ini untuk menghubungi pihak rumah sakit, dan Email ini sudah tercadangkan semua kedalam ponselnya. Aku hanya ingin memeriksa, apa ada pesan yang telah di arsipkan." Ujarnya dan mulai melakukan pencarian kecil.


Jimin masih terlihat putus asa dan khawatir dengan wajah dan badannya yang terlihat layu tak bersemangat. Melihat Namjoon dan Sekretaris Lee bermain-main di komputernya, ia pun menegur mereka, "Hei! Apa yang kau lakukan di komputerku?"


"Presdir, apa anda menon-aktifkan semua aplikasi yang memungkinkan akan mengganggu waktu anda?" Tanya Sekretaris Lee.


Mendengar itu, sontak Jimin berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri kedua orang itu disana. "Benar juga!"


Ia membuka semua Email yang ter-arsipkan dan pesan yang masih belum terbaca, dengan harapan ada salah satu Email dari rumah sakit yang masuk.


"Ada!!" Sorak Namjoon dan Sekretaris Lee kompak.


Tatapan ketiganya terfokus pada komputer di hadapan mereka. Saking fokusnya membaca pesan itu disana, sampai-sampai rasanya mereka hanya memandang satu huruf dan terfokus pada satu huruf itu.


Sangat fokus sampai-sampai mereka hampir tak lagi mendengar suara-suara yang timbul di sekitar mereka. Sangat fokus sampai-sampai benda yang ada disekeliling mereka pun rasanya memburam dan ikut menghilang bersamaan dengan suara-suara itu.


Beberapa detik berjalan dengan ketidaksadaran ketiganya. Entah pesan macam apa yang membuat mereka bertiga begitu fokus. Kini menit yang berjalan, namun durasi itu harus terhenti ketika ketiga-tiganya jatuh kebelakang dan terduduk dengan tatapan kosong memandang lurus ke depan.


Semakin larut dalam pikiran masing-masing, nafas mereka semakin memburu dan tubuh pun ikut gemetar sebagai efek dari yang di rasakan saat itu.


Yang pertama tersadar dari lamunannya, Namjoon. Meski tatapan dan nafasnya yang masih belum normal, pria itu menepuk bahu Sekretaris Lee dan Jimin secara pelan dengan tangannya yang gemetar hebat.


Secara bersamaan keduanya ikut tersadar dan saling melempar tatapan yang membuat mereka kini lebih terlihat seperti orang kebingungan. Apa mereka beralih profesi menjadi Triobingung?


Setelah sekretaris Lee dan Namjoon saling pandang, tiba-tiba keduanya membuat pergerakan yang cepat yang mampu mengejutkan.


Tangan mereka hendak meraih Jimin dan menahan pria itu untuk tidak pergi, namun sebelum mereka bertindak Jimin sudah berhasil kabur dan berlari keluar dari ruangannya.


"Kejar!!" Keduanya pun ikut menyusul.


Meski mereka bertiga memiliki prinsip yang sama yaitu, "tidak ingin mencolok dan jadi pusat perhatian." Namun, hari ini mereka justru menjadi hal yang tidak mereka sukai itu.


Rasanya tak ada yang tak melihat Jimin menangis dan berlari saat itu, rasanya tak ada seorang pun yang melewatkan pemandangan yang langka itu. Perset*n dengan pandangan mereka padanya, yang Jimin inginkan saat ini adalah menuju bandara secepat mungkin.


Sedangkan kedua temannya yang ikut mengejarnya dari belakang, mereka membuat diri mereka seakan buta terhadap sekitar lantaran berusaha meminimalisir rasa malu yang sudah hampir menguasai diri masing-masing dan meminta mereka untuk berhenti mengejar Jimin.


.

__ADS_1


.


__ADS_2