Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 10 ( SIAPA PRIORITASMU? AKU, PRIA-KU. )


__ADS_3

▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ


"Sembunyikan saja aku, jika memang bagi mu aku hanyalah Aib."


(Laluna said)


"Apa kalian tak mengerti juga?! Bagaimana lagi aku bisa menjelaskan suasana saat ini, heh? Apa ini belum cukup untuk membuat kalian percaya bagaimana tersiksanya Jimin saat ini?--


Deg!


Pria itu tersentak di kala mendengar seseorang yang sedang berdiri di balkon kamar, di bawah hujan, seraya menangis dan sesekali ia terlihat berteriak di ponselnya itu, ia meneriaki nama dirinya dengan lirih dan pedih. Sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Laluna?


Apa ini saat yang tepat dia masuk ke kamar? Di saat wanita itu sedang mencurahkan semua keluh kesahnya pada seseorang di seberang sana yang masih tersambung panggilan di antara keduanya.


"Ini kamarku, jadi terserah aku ingin masuk kapan saja." Jimin membatin dan mulai melangkah lebih dalam dan duduk di bibir kasur. Ia tak berniat menguping, tapi ini juga kamarnya. Dia ingin beristirahat dan bersantai di saat hujan deras dan angin di luar sudah benar-benar membuat hawa menjadi lebih dingin.


"Jimin!"


Pria itu menoleh dan langsung meletakkan cangkir yang baru saja ia seruput isinya dengan sedikit keras lantaran terkejut namanya di sebut kembali. Sebenarnya, dia mulai penasaran apa yang ingin di ucapkan wanita itu selanjutnya. Sekaligus penasaran dengan perasaan Laluna yang sekarang menangis di bawah hujan meskipun tubuhnya sudah meringkuk kedinginan di bawah hujan. Wanita itu terlihat tidak peduli.


"Aku tak tahu. Tapi aku tak ingin membuat hidupnya terus-menerus terganggu dengan kehadiranku. Aku juga yakin, Jimin punya seseorang yang benar-benar di cintai olehnya yang mungkin belum bisa ia ungkap keberadaan orang itu. Aku sangat yakin itu. Meski tahu apa yang akan terjadi nanti, aku tetap ingin melihat wanita itu. Aku sangat ingin melihat wanita yang di cintai oleh suamiku."


". . . . . . "


"Apa?! Diam! Berhenti menyalahkan pria itu. Seharusnya kalian sadar kesalahan kalian!"


". . . . . ."


"Tidak tahu? Apa harus aku perjelas? Baiklah. Kesalahan kalian adalah, MEREBUT KEBAHAGIAN KAMI!!"


Jimin menjatuhkan buku yang di bacanya. Ia terkejut dengan penuturan dan nada bicara wanita itu yang belum pernah ia dengar sebelumnya. Apa itu adalah Laluna yang sebenarnya?


"AKU BILANG BERHENTI! JIKA KALIAN INGIN BISNIS KALIAN ITU BANGKIT, KENAPA TIDAK KALIAN SAJA YANG MENIKAH DENGAN DIREKTUR PERUSAHAAN LAIN YANG LEBIH HEBAT?!"


Kali ini, Jimin bahkan memegang dadanya. Benar-benar menggema suara wanita itu di sana. Mungkin ini kemarahan pertama Laluna yang di lihatnya.


"Apa dia sedang berbicara dengan kedua orang tuanya?"


"Oh. Aku lupa. Aku lupa kalau tak ada perusahaan yang lebih baik dibandingkan JM Group. HAHAHA! Aku lupa kalau kalian memang mengincar saham perusahaan itu. HAHAHA! Bagaimana bisa aku hampir melupakan itu? Aku ceroboh sekali, bukan?"


Jimin tak terkejut. Dia memang tahu itu. Hanya saja, orangtuanya tak pernah mau mendengarkan penjelasaanya. "Tawa nya berubah..."


"TERSERAH!! Akan aku pastikan kalau kalian tak akan pernah mendapatkan keturunan dari kami! Jangan harap aku akan membiarkan anakku menjadi umpan untuk bisnis busuk kalian itu!! Jangan pikir aku suka jika pria itu terluka lagi setelah ini!"


Hujan semakin menderas. Langit terlihat gelap. Kilatan petir terlihat dengan jelas di saat-saat tertentu. Langit semakin bergemuruh hebat di kala teriakan penderitaan wanita itu. Seakan senasib dengan bumi, ia dan langit mengaung bersama dan menumpahkan air mata bersama.


". . . . . . "


"GIL4!! KAMI TAK PERNAH!--" Kalimatnya terhenti. Pandangannya turun dan menatap ke sembarang arah mencoba membuat dirinya untuk tetap tegar.


"Kami tak pernah... b-berhubungan!!" Ucapnya dan ia langsung memutuskan sambungan di ponselnya itu.


Jimin tersentak. Tiba-tiba ia merasa bersalah pada Laluna dan pada apa yang telah ia lakukan. Ia menyibakkan selimut yang tadinya menutupi kakinya. Ia menaruh buku itu kembali, kemudian berjalan pelan ke dinding kaca yang membatasi dirinya dan balkon tempat dimana Laluna yang masih duduk di samping kursi dan menangis seraya meringkuh. Ia menyembunyikan kepala di kedua lututnya. Namun, dapat di lihat punggunggnya yang bergetar pertanda ia sedang menangis.


"Ayo masuk, kesehatan mu bisa terganggu."


LALUNA POV:


Aku merasa baru saja mendengar suara pria itu. Suaranya yang lembut, namun mematikan. Apa itu benar-benar dia? Aku masih enggan mengangkat kepala ku meskipun aku merasa sedikit pusing. Namun, tiba-tiba aku merasa hujan tak lagi membasahi tubuhku. Aku menebak, apakah hujan mereda? Tak mungkin, suara rintik hujan yang lebat masih terdengar.


Akhirnya, aku mendongakkan kepalaku perlahan. Hal pertama yang aku lihat adalah sepasang kaki dengan kulit putih tanpa ada alas. Jimin.


Itu Jimin yang melindungiku dari semburan air hujan dengan payung yang ada di pegangannya. Aku terkejut dan rikuh. Was-was apakah pria itu mendengar pembicaraanku dengan kedua orang tua ku tadi?


Tanpa mengulurkan tangannya untuk kusambut, Jimin malah langsung meraih tanganku dan menarik ku untuk berdiri. Aku pun menurut. Aku berdiri di depannya dengan berusaha menutupi dada dan pinggangku dengan kedua tangan yang aku miliki. Sial sekali, bukan? Baju ini begitu tipis sehingga membuat pakaian dalam ku terekspos. Tapi, sepertinya Jimin tak peduli.


Ia menarik ku untuk mengikutinya yang membawaku masuk ke dalam kamar mandi. Tunggu, apa yang ingin dilakukannya? Jimin menyimpan payung, dan kemudian atensinya kembali teralih padaku. Tak ada yang bisa kulakukan selain hanya berdiri dan menunggu apa yang akan dia lakukan nantinya.


Perlahan, ia mendekat, mengikis jarak diantara kami. Semakin dekat, sampai punggungku bertemu dinding. Aku masih menatapnya, menatap raut wajahnya yang datar dan dingin. Tak tergambar eskpresi apapun disana. Oh, ya ampun! Aku terkunci di posisiku saat ini. Apa yang sebenarnya ingin di lakukan pria itu?


AUTHOR POV:


"Kenapa malu mengakui kita pernah melakukan itu?"


Tak menyentuhnya sedikit pun, Jimin hanya berdiri di depan Laluna dengan jarak yang dekat. Ia sama sekali tak peduli dengan pakaian yang di kenakan Laluna saat ini, ia hanya ingin tahu apa yang sebenarnya Laluna rasakan untuknya.

__ADS_1


"Apa kau mendengar semuanya?" Laluna balik bertanya.


"Heh... " Pria itu tersenyum miring seraya mengalihkan pandangannya ke segala arah. "Apa pertanyaanku kau jawab dengan pertanyaan?" Ia pun kembali bertanya. "Tapi jika kau ingin tahu, jawabannya adalah tidak. Aku mendengar setengah sampai kau selesai berbicara."


Laluna terdiam. Nyalinya naik turun antara harus menyahuti lagi atau tidak. Ia tak berani main-main dengan suaminya.


"Baiklah, kau tak perlu menjawabnya. Sekarang, perlihatkan padaku kemarahan yang tadinya kau tunjukkan pada mereka. Apa nyali mereka ciut setelah mendengar bentakanmu? Perlihatkan padaku." Tutur Jimin yang kini memegang kedua bahu Laluna.


Takut, Laluna hanya bisa menunduk dan mengalihkan pandangannya dari tatapan malaikatnya itu. Ia tak berani untuk sekedar menjawab apalagi jika di minta untuk membentak Jimin.


"Tunjukkan padaku, Laluna!" Tekan Jimin. Membuat Laluna semakin ketakutan.


"Kau tak ingin menuruti keinginan suamimu? Apa kau ingin aku menjadi malaikat pencabut nyawa sekarang?"


Wanita itu langsung menatap suaminya dengan tatapan tak percaya, takut, dan terkejut yang sudah bercampur-aduk disana. "Aku tak bisa... " Lirihnya dengan suara yang hampir tak terdengar dan masih menatap Jimin.


"Kenapa? Kenapa kau tak bisa? Apa kau takut? Aku tak peduli. Aku ingin melihat kemarahan mu itu!" Jimin benar-benar mendesak istrinya.


"Perlihatkan padaku! Ayo!"


Laluna yang sudah gemetar karena takut akibat terus di desak, ia langsung mendorong tubuh suaminya sampai pria itu membentur wastafel. Sebelum Jimin menghentikan dirinya, ia langsung keluar dari kamar mandi dan menuju ruang ganti untuk mengganti pakaiannya yang telah basah.


Di sepanjang jejaknya, ia terus membatin memohon maaf dan memohon supaya Jimin tak mengikuti dirinya. Ia juga bingung, kenapa suaminya itu benar-benar sangat berinisiatif untuk melihat kemarahannya? Padahal itu bukan di sengajakan, melainkan refleks akiban tekanan tertentu. Aneh.


.


Pasangan itu sudah berada di kamar mereka. Namun, seolah tak terjadi apapun siang tadi, keduanya biasa saja dan sibuk dengan urusan masing-masing. Jimin yang melakukan Video call entah dengan siapa. Dan Laluna yang membaca-baca buku seputar kesehatan tubuh. Bagus juga Jimin membiarkan wanita itu tidur satu kamar dengannya dan ikut bersantai bersama seperti yang mereka lakukan saat ini. Jika di film-film atau mungkin memang ada di dunia nyata, istri yang tak di cintai akan di siksa habis-habisan sampai mati perlahan. Mengerikan!


Sepertinya Laluna mulai merasa bosan. Ia duduk dari tidurnya, menatap Jimin sekilas yang masih tidur sambil mengobrol dengan orang-orang yang tak di kenal Laluna, kemudian ia bangkit dan masuk ke kamar mandi.


Jimin pun ikut melihat sebentar kemana wanita itu akan pergi. Hanya untuk memastikan, apa dia akan duduk di balkon saat hujan masih deras begini. Ya, hujan semakin menderas saja. Padahal sudah enam jam ia membasahi bumi, namun tak puas juga. Pria itu melirik Jam di dinding yang sudah menunjukkan angka tujuh. Rasanya semakin membosankan. Mungkin itu yang di batinkan Jimin. Mendapat ide untuk menonton tv saja di bawah, Jimin mengakhiri perbincangan mereka (orang-orang di Vidcall).


Saat akan bangun dari tidurnya, ia berhenti. Laluna tiba-tiba ada di depannya dengan rambut yang terurai, bukan terkesan cantik. Tapi hampir akan membuat jantungnya melompat keluar.


"Aku akan menyiapkan makan malam. Apa kau ingin kubuatkan sesuatu?" Tanya wanita itu dan berjalan kembali kasur untuk merapikannya.


"Terserah saja. Ramyoen pun tak apa." Jawab Jimin dan kemudian mulai melangkah melewati Laluna yang masih berdiri di tepi kasur. Ramyeon? Bukankah terlalu sederhana untuk tugas seorang istri? Apa dia pikir Laluna tak bisa membaut sesuatu yang lebih enak bahkan makanan dengan cita rasa restoran hebat.


Setelah pria itu keluar, kemudian di susul Laluna yang juga ingin ke dapur. Tapi setelah turun dari tangga, Jimin berjalan lurus entah kemana. Sedangkan Laluna, ia berbelok ke kiri dan kemudian belok ke kanan, dan lalu lurus. Itulah dapur.


.


"Shh!" Jimin menyuruh wanita itu untuk diam. Kemudian ia mengarahkan telunjuknya pada ponsel yang sekarang menempel pada telinga pria itu.


Laluna yang mengerti, ia kemudian duduk di sofa untuk menunggu pria itu selesai berbicara. Bukannya langsung ke dapur, ia memutuskan untuk menunggu. Apa yang dia lakukan?


Mungkin mereka tak saling mencintai dan terkadang saling membenci. Tapi, bukankah terkadang sifat dan perilaku mereka terlihat sangat damai dan seakan tak terjadi apapun? Terkadang mereka terlihat saling mencintai. Namun, hanya terlihat, ya!


"Ada apa?" Tanya Jimin berbalik badan dengan mata yang terfokus pada ponsel di tangannya.


"Makan malam sudah siap." Laluna menyimpan kembali bantal sofa yang tadinya ia peluk dan lalu melangkah lebih dulu. Melihat wanita itu sudah pergi, Jimin pun menyimpan ponselnya dan ikut menyusul. Dia memang sudah sangat lapar sejak tadi. Bahkan, waktu makan malamnya hampir lewat jika bukan karena Laluna yang langsung memasak tadi.


Kini mereka sudah di meja makan. Laluna menyiapkan gimchi dan beberapa sayuran lainnya yang menyeimbangkan kalori makanan pria itu. Setelah ia sajikan di dalam piring untuk suaminya yang sudah menunggu, ia berpindah ke wastafel dimana beberapa panci yang sudah menunggu untuk segera dibersihkan. Ia memakai sarung tangannya dan mulai mencuci peralatan dapur yang kotor.


Jimin hanya diam. Namun terkadang ia membatin, mempertanyakan kenapa Laluna tak makan juga? Apa karena dia takut dengan dirinya? Apa Laluna tidak lapar? Apa Laluna tak berani satu meja makan dengannya? Namun, pertanyaannya itu terjawab sudah.


Setelah membersihkan peralatan di dapur, wanita itu mencuci tangannya dan kemudian membuka lemari kecil yang ada di sebelahnya, itu bubur. Bubur berisikan ayam dan banyak sayuran hijau-hijaun juga biji-bijian. Jika sudah tercampur semua jenis sayuran, kelihatannya sudah tidak enak.


Ia mulai memasukkan bubur itu ke mulutnya satu demi satu suapan. Meski terlihat menikmati makananya, namun tergambar dengan jelas di wajahnya kalau dia tak menyukai makanan buatan dirinya itu. Bagaimana rasanya bubur aneh itu?


"Kenapa tidak makan?" Tanya Jimin seraya menyuap potongan ayam ke dalam mulutnya.


Laluna terkesiap. Jarang-jarang Jimin bertanya. Ia menghentikan suapannya, menatap Jimin dan tersenyum manis sampai matanya menghilang seraya berkata, "tak apa."


"Kenapa hanya 'tak apa'? Aku tak akan membunuhmu jika hanya memakan makanan yang sudah ada di rumahku. Apa kau suka m4ti kelaparan? Itu bukan kem4tian yang bagus menurutku." Jimin kembali menyahuti.


Laluna kembali tersenyum dan membatin, "Pedas juga, ya." Yang ia maksud pedas adalah mulut suaminya. Apa tak bisa jika ingin memperlihatkan perhatiannya ia tunjukkan secara manis?


"Tidak, bukan itu." Jawabnya sedikit. Hanya sedikit dan kembali memakan buburnya.


"Lalu? Karena sekarang kau terikat denganku, jadi tak ada yang boleh kau sembunyikan dari ku. Katakan, kenapa kau tak memakan hal yang sama dengan ku? Apa kau merasa ini tak enak? Menurut ku buatan mu enak." Ucap Jimin.


Semburat merah terwarna jelas di pipi wanita yang sedang duduk di hadapannya itu. Wajahnya merah padam seperti kepiting yang sekarang tersaji di dalam piring di atas meja. Ia malu. Malu dan bahagia karena mendapat pujian dari suaminya. Istri mana yang tak akan senang bila masakannya di puji enak?


"Aku... aku tak bisa makan makanan berminyak dan banyak lagi yang pastinya akan sulit kalau di jelaskan. Terima kasih pujian mu." Ucap Laluna.

__ADS_1


Ia mengambil mangkuk dan gelasnya dan kemudia ia basuh karena sudah selesai."Kalau kau sudah selesai, biarkan saja piring kotor itu disana. Nanti aku akan kembali untuk mencucinya." Setelahnya, Laluna mulai melangkah melewati Jimin yang masih memakan makanannya dengan lahap.


Tujuannya saat ini adalah kamar. Saat akan berbelok keluar dari area dapur, Jimin memanggilnya membuat dirinya harus kembali dan menghadap pria itu. "Ya?"


"Setelah ini aku ingin bicara, tunggu saja di kamar." Kata Jimin dan di angguki Laluna. Tak ada yang ingin ia tanyakan, Laluna melanjutkan langkahnya untuk kembali ke kamar.


Lihat. Bukankah mereka terlihat baik-baik saja? Bahkan Jimin terlihat biasa saja dengan Laluna. Maksudnya, tidak cinta juga tidak benci. Tapi mengapa setiap kali membahas perihal pernikahan dan Laluna pada orang lain, dia akan memposisikan dirinya menjadi orang yang paling membenci istrinya itu?


Entahlah. Mungkin Jimin masih menahan diri untuk tak menyik*a wanita itu secara terang-terangan? Atau jangan-jangan dia memang tak bisa jika melihat Laluna menderita karenanya? Kita lihat saja bagaimana kedepannya.


.


.


Kini mereka sudah di kamar, di atas kasur dan duduk bersebelahan tanpa saling pandang. Kaki keduanya sudah terbalut selimut, sehingga hanya setengah tubuh mereka yang terlihat. Jimin berpaling sekilas, kemudian ia membenarkan posisi duduknya. Laluna yang merasa Jimin akan berbicara, ia pun ikut bangun.


"Begini, besok malam sahabatku akan berkunjung dan mereka akan minum bersama di bar. Mungkin suasananya akan sedikit berisik dan menganggu, aku sudah berusaha menolak permintaan Jungkook yang satu ini. Tapi ternyata dia punya alasan lain yang tak bisa ku tolak. Apa kau tak apa?" Jimin bertanya.


Apa... baru saja dia meminta persetujuan dari Laluna?


"Aku tak berhak memberi pendapat. Katakan saja, apa yang bisa ku bantu untuk itu?" Laluna menyahutinya dengan bijak.


"Aku ingin kau tak sampai di lihat oleh teman-temanku nanti. Kalau mereka sampai melihatmu sudah di rumahku, bisa kemana-mana nanti ceritanya. Aku tak ingin kau terekspos dulu." Kata Jimin dan melirik Laluna yang duduk di sebelahnya sekilas.


Wanita itu tersenyum, pedih, kemudian mengangkat bicara, "aku mengerti." Setelahnya, ia kembali merebahkan tubuhnya dan berbalik membelakangi Jimin yang mungkin masih memandangi dirinya karena reaksinya yang terkesan biasa saja, namun nyatanya ia merasa sakit dengan ucapan suaminya itu.


Saat akan mengatup kedua matanya, ia terkejut dan kembali terjaga. Tiba-tiba, sebuah tangan yang lembut menyentuh kulit bahunya yang kebetulan saat itu ia memakai piyama yang agak terbuka lengannya.


"Apa kau tak suka dengan perkataan ku itu, s a y a n g... " Bisiknya di akhir kalimat. Bulu kuduk wanita itu meremang, ia tak mengerti apa yang terjadi dengan pria itu.


Laluna langsung berbalik, sehingga hidung keduanya bertemu saling bersentuhan karena jarak yang tersisa diantara keduanya hanya beberapa senti. Wanita itu terdiam, matanya masih menatap pria yang ia cintai dengan dalam. Perlahan tangannya naik dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh beserta wajahnya. Namun, tangan Jimin lebih dulu bergerak menghentikan tangan Laluna.


"Jawab pertanyaan ku. Aku ingin pertanyaan ku yang ini memiliki sebuah jawaban yang jelas. Sejak tadi, pertanyaan ku kau timpali dengan pertanyaan juga. Aku tak suka itu, asal kau tahu, sayang ku." Ujar Jimin.


"Berhenti." Laluna duduk dari tidurnya. Ia berpaling menatap Jimin yang masih sama posisinya ketika tadi ia mengejutkan Laluna. "berhenti memanggil ku begitu. Aku tak suka." Laluna berucap.


"Apa? Bukankah para istri memang menyukai panggilan 'sayang' dari pasangan mereka? Apa yang terjadi denganmu?" Jimin ikut duduk.


"Tapi aku tak suka." Jawab Laluna atas pertanyaan suaminya yang sebenarnya hanya ejekan.


"Kenapa tak suka? Apa yang salah? Katakan." Jimin mulai mendesak Laluna lagi atas pertanyaannya. Mendesak wanita itu untuk selalu menjawabnya dan berkata dengan jujur.


"Aku tak suka. Panggilan itu tulus di dalam hubungan." Laluna berpindah. Ia berbalik dan menurunkan kedua kakinya dari kasur.


"Apa? Maksudmu aku akan menodai cinta? Apa hanya orang yang saling berperasaan yang bisa memakai panggilan itu? Jawab aku, 'sayang'." Jimin benar-benar berniat membuat wanita itu emosi.


"Hentikan, Jimin! Panggilan itu hanya untuk orang yang kau cintai. Tak mungkin, kan, kau akan memanggil orang-orang yang kau temui begitu saja dengan panggilan 'sayang'? Kau juga pasti memanggil kekasih mu dengan panggilan 'sayang' karena kau benar-benar menyayanginya, mencintainya, tanpa syarat. Maka dari itu, aku tak ingin kau memanggilku begitu. Cukup memakai nama saja." Laluna berujar panjang lebar tanpa merubah posisinya.


"Apa salahnya? Bukankah sekarang kau pun kekasihku?" Pria itu tak mau mengalah.


"Tapi tidak dengan perasaanmu." Laluna menimpali.


"Bagaimana kalau ku katakan, sekarang aku mencintaimu?"


Dugh!


Apa-apaan itu? Itu benar-benar keterlaluan, kan? Tanpa sengaja Jimin memberikan harapan palsu pada wanita rapuh itu. Tapi tidak, Laluna tak mudah di buat luluh dan percaya. Lagi pula apa ada yang bisa percaya pada ungkapan yang tiba-tiba itu? Bahkan, orang gila pun lari!


"Hentikan aku bilang! Apa kau tahu? Dengan begitu justru kau telah membohongi perasaan dirimu sendiri dan aku!" Tutur Laluna dengan lantang tanpa berpaling. Tak lagi ia dengar sahutan dari Jimin yang seharusnya kembali menyahut.


Pria itu kalah telak.


Perkataan Laluna membuatnya terdiam, langsung.


"Lain kali, aku ingin melihat kemarahan mu yang lebih besar lagi." Ujar pria itu dengan berbisik pada Laluna. Hampir saja ia akan men*mpar wajah tampan itu. Ingat! Hampir, ya. Bukan sudah.


.


.


Bersambung...


Oh iya, ending yang masih (secret for now)/di rahasiakan. Akan terungkap di salah satu chapter ke depan ya syg² ku:V


Chapter itu nantinya yng bklan ngejawab semuanya^^ apakah sad end? Or happy end?

__ADS_1


Makasi buat klian yang udah mampir. Bsok lusa mampir lagi yah:V hhe..


__ADS_2