
.
.
"Tiidaak!"
Seperti dugaan Jungkook, Lalisa tak akan mampu untuk melihat keadaan Laluna. Bahkan baru beberapa langkah masuk ke ruangan di mana Laluna akan di rawat untuk sementara, ia sudah gemetar dan menangis.
"Kau dokter bedah, sayang! Apa kau memiliki phobia terhadap darah? Itu tak mungkin." Tutur Jungkook memegang kedua bahu Lalisa seraya menatapnya dengan serius.
"Kau tahu? Semenjak saat itu, aku punya phobia terhadap Laluna." Ujarnya dengan lesu bahkan hampir tak terdengar. Bukankah itu phobia yang paling konyol?
"Apa maksud mu? Kau harus menolongnya sekarang, dia sangat membutuhkan bantuan mu!" Jungkook berusaha membuat wanita itu yakin untuk melakukan tugasnya sebagai seorang Dokter bedah.
"Aku phobia terhadap Laluna jika tampilannya seperti itu... " Timpalnya dan memeluk Jungkook secara perlahan. Berpaling dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Matanya tak sanggup untuk melihat pemandangan yang begitu menyakitkan itu. Ia tak mampu melihat Laluna dengan di penuhi D4rah seperti itu.
"Aku yakin, kau pasti bisa!"
.
.
Setelah Laluna di pindahkan dari ruang operasi ke ruang ICU, Jimin tak pernah pergi selangkah pun dari ruangan itu. Ia benar-benar tak ingin meninggalkan Laluna, ia tak ingin lagi mengacuhkan istri-nya tersayang. Bahkan, sejak kemarin sore saat Laluna di bawa ke rumah sakit, pria itu tak henti-hentinya menangis sampai hari ini.
"Tuhan, ampuni aku. Ini rasa bersalah terbesar yang pernah aku rasakan." Ujarnya seraya menunduk dan menutupi wajah dengan kedua tangan dengan sikunya yang bertumpu pada lutut. Dari celah jemarinya dapat dilihat dengan jelas ada cairan bening yang terus mengalir membasahi tangannya. Itu... air mata penyesalan.
__ADS_1
Ruangan bernuansa putih, sejuk, tenang, dan hanya alat-alat yang di pasangkan pada tubuh Laluna yang terdengar. Saat pria itu masih larut dalam tangisannya, pintu ruangan itu terbuka. Terdengar beberapa langkah yang tak seirama berjalan mendekat ke arahnya. Masih enggan mengangkat kepalanya, tiba-tiba sebuah tangan yang menepuk bahu dan merangkul secara bersamaan dapat ia rasakan kedua hal itu yang tak mungkin di lakukan oleh satu orang.
Perlahan, ia bisa melihat ada bepasang-pasang kaki laki-laki sedang mengelilinya. Ia mengangkat pandangannya dan tak jauh melesat dari tebakan, mereka sahabat-sahabatnya.
Sesaat Jimin bersikap seperti patung, tak berkutik sama sekali dengan mata yang terbuka lebar seakan raut wajah itu mengatakan bahwa ia terkejut. Dari arah belakang mereka, seorang lelaki dengan jas putih kebanggaannya datang menghampiri mereka dan Jimin. Itu Jungkook dengan beberapa catatan di tangannya.
"Jimin-ie Hyung, kita perlu bicara." Tutur Jungkook dan menarik pergelangan Jimin begitu saja. Dan Jimin pun hanya mengikuti pergerakan pria itu tanpa melakukan penolakan. Namun, keanehan yang Jimin rasakan saat ini adalah para Hyung-nya yang lain masih tetap tersenyum penuh padanya bahkan mereka berpaling untuk memberinya senyuman ketika ia sudah di seret Jungkook.
Tak seberapa jauh dari ruangan laluna di rawat, mereka sampai di ruangan sanga Dokter dan kini duduk berhadapan.
"Hari ini pun, aku masih belum bisa memberikan kabar baik mengenai Laluna, Hyung. Aku minta maaf." Tutur Jungkook menunduk seraya menyembunyikan air matanya. Ia hanya merasa seperti merasakan penderitaan yang mereka rasakan. Jungkook mengerti, disini yang menderita bukan hanya Laluna, tetapi Jimin juga. Namun, banyak penderitaan yang telah pria itu sembunyikan dari Laluna dan teman-temannya.
"Aku akan menerima kabar apa pun, Jungkook."
"Aku minta maaf, Hyung. Maaf karena harus mengatakan ini. Jadi, karena benturan yang terjadi begitu keras, kami harus mengangkat j4nin dan r4himnya. Dan itu artinya, Laluna sudah tak bisa hamil lagi." Jelas Jungkook.
"Aku membunuh anak ku, Jung?"
"Tidak, Hyung... tidak. Disaat seperti ini, kau lah yang harus kuat, Hyung. Jika kau juga terpuruk seperti ini, bisa bayangkan bagaimana perasaan Laluna nanti?"
"Baru saja Lalisa menelepon dan mengatakan bahwa keluarga mu dan keluarga Rawless sudah di rumah sakit. Dan mungkin sekarang mereka sudah ada di ruangan Laluna di rawat."
.
Ceklek...
__ADS_1
Pintu ruangan itu terbuka dan masuklah dia, Jimin. Setelah mendengar apa yang di usulkan Jungkook, Jimin langsung kembali ke ruangan Laluna. Tanpa menatap keluarga Laluna dan kedua orang tuanya, Jimin berjalan cepat melewati mereka dan berdiri di sisi ranjang Laluna berbaring.
Ot7 pun masih duduk di sofa dengan tenang dan hanya menyimak sedikit demi sedikit argument yang mulai tercipta di antara ayah dan anak disana. Semakin mereka peduli, rasanya mereka semakin ingin mengeroyok Tuan Park dan mer0bek mulutnya yang tak tahu malu dan aturan, dasar si tua itu.
Setelah Jimin merelakan seluruh hidupnya pada tangan mereka, pria tua itu masih tak tahu batasan. Ia masih saja menghina dan menghakimi Jimin dengan berbagai pertanyaan bod0h. Di sela-sela ke-diam-an mereka, ada Suga yang sudah panas kepalanya dan dingin tubuhnya. Di kala argument itu masih berlanjut dan menjadi semakin panas, secara tiba-tiba ia berdiri dari duduknya dan menggebrak meja dengan pergerakan perlahan namun menimbulkan suara yang keras.
"Katakan apa yang ingin kau katakan, Jimin-ah." Tutur Suga dan berjalan mendekat pada pria yang sudah bermata sembab dengan hidung dan pipi memerah lantaran sudah banyak menangis.
"Ingin aku yang mewakili perasaanmu?" Tanya Suga, lagi.
Dengan cepat Jimin menggeleng dan mengambil posisi di hadapan Suga supaya pria itu tak berani main tinju. Karena ia tahu akan sifat dari seorang Min Yoongi jika sudah panas seperti saat ini. Apapun yang ada di hadapannya bisa saja ia hancurkan tanpa beban. Ya, meskipun mereka tak jauh berbeda.
"Kenapa baru sekarang?" Jimin membuka suara dan menatap mereka semua bergantian. "Kenapa baru sekarang kalian datang untuk melihat keadaanya? Disaat dia sudah cukup menderita, baru sekarang kalian hadir dan unjuk diri sebagai keluarga? Kemana perginya rasa malu kalian itu. Yaak!! kemana saja kalian selama ini?!" Jimin akhirnya membuka suara setelah cukup menerima hinaan dan cacian dari mereka.
"Kau juga!" Pria itu berjalan cepat dan mendorong Alexander.
"Apa janji mu pagi itu, Alexand?! Kenapa kau mengingkari janji mu, heh!!"
"Apa kalian tahu? Karena kebohongan kalian yang mengatakan bahwa Laluna sudah sembuh total, aku sudah lebih dulu mensia-siakan dirinya! Apa kalian tahu kalau saat itu dia sedang berjuang bersama bayinya?!"
.
.
.
__ADS_1
.