
.
Dua buah koper dengan ukuran yang tak terlalu besar berdiri di halaman rumah Tn. Park. Beberapa saat setelahnya, keluarlah si Tuan rumah dan sudah rapi dengan pakaiannya yang terlihat akan bepergian jauh.
Setelah mengenakan kacamata hitamnya, ia menarik dua buah koper itu mendekat pada sebuah mobil Kia Rio yang sudah terparkir di luar pagar sana. Dari dalam mobil itu, keluar seorang pria yang menjadi sopir sekaligus bodyguard untuk Jimin. Pria itu mengambil alih koper dari Jimin dan membawanya masuk ke bagasi mobil.
"Tuan, apa anda yakin tentang ini?" Tanya sang bodyguard dan berpaling menghadap Jimin yang duduk di kursi belakang.
"Tentu, ayo berangkat." Jawabnya yakin dengan senyumnya yang berbinar dan terlihat begitu bersemangat.
Tak ingin menurut pada permintaan istrinya, ternyata Jimin benar-benar akan menyusul Laluna ke Indonesia. Meskipun ini baru tiga hari dari hari Laluna berangkat, ia sudah merasa rindu pada istrinya dan memutuskan untuk menyusul. Ia tak akan mengabari Laluna karena tak ingin diomeli sebelum sampai ke Indonesia. Pria itu benar - benar berniat, ya.
Beberapa saat ketika ia sudah di jalan menuju bandara, ponselnya berdering. Berpikir itu dari Laluna, dengan semangat ia langsung mengangkat telepon tersebut meminta si sopir untuk memelankan lajunya.
Namun, yang ia dapati hanya sebuah nama yang cukup di kenalnya. Itu sahabatnya, Kim Namjoon.
"Selamat pagi, Hyung." Sapa Jimin.
" . . . . . "
"Apa?! Tidak," Jimin mengisyaratkan pada bodyguardnya untuk menepi.
"aku tak pernah membuat kasus atas hal itu." Pria dengan marga Park itu keluar dari mobil dengan ekspresinya yang terkejut.
" . . . . . . "
"Ba-baiklah, Hyung. Aku kesana sekarang." Jimin memutuskan sambungannya dan kembali masuk ke mobil. Sejenak ia terdiam dengan tatapan tak percaya memgenai apa yang baru saja ia dengar, dan itu benar - benar membuatnya ingin menangis.
"Kau benar - benar membuatku tak bisa melangkah untuk mengikuti jejak mu." Gumam Jimin menatap layar ponselnya yang memperlihatkan foto Laluna yang sedang duduk di atas kasur seraya tersenyum riang dengan rambut dan pakaian yang berantakan.
"Yamura, putar balik sekarang juga." Tutur Jimin pada sopir yang berketurunan Jepang itu.
.
.
__ADS_1
.
Laluna Charol Rawless. Wanita itu terbaring di atas brankar pada salah satu ruang VVIP di salah satu rumah sakit di Indonesia yang sudah menangani kasus penyakitnya sejak dulu. Tak terhitung, begitu banyak alat-alat yang di pasangkan disana, di tubuh Laluna. Ruangan sunyi itu, tak bersuara selain alat-alat medis, hanya ada Laluna seorang diri.
Dari arah kanannya, pintu ruangan terbuka dan masuklah seorang pria dengan jas putih. Dia adalah dokter yang dimaksud Lalisa dan Jungkook, dokter yang berusia sama dengan Jungkook itu mulai memeriksa alat-alat medis yang terpasang pada tubuh Laluna.
Saat akan mencoba membangunkan Laluna yang hanya tertidur, ponselnya bergetar dan ia segera menjauh dari sana. Dari nama yang tertera, itu adalah Jeon Jungkook. Selama beberapa hari ini, keduanya memang kerap bertukar kabar mengenai Laluna yang sedang dalam pengawasan ketat.
Berbicara dengan bahasa inggris, Dokter muda dari indonesia itu memulai obrolan keduanya. Dokter Joe, begitu mereka menyapa Dokter tersebut.
"Bagaimana kabar Laluna?" Tanya Jungkook di seberang.
"Entahlah, Dokter. Sejauh ini, hasil pemeriksaannya tidak menunjukkan peningkatan energi bahwa dia siap di operasi. Tapi terkadang Laluna mengalami gangguan penglihatan dan dadanya terasa sesak. Apalagi waktu yang tersisa hanya... " Dokter Jeo tak sanggup melanturkan kalimat selanjutnya. Ia tak mampu.
"Dokter disini sangat menyayangkan keputusan Laluna yang ingin kembali ke Indonesia. Tapi, menghargai keinginannya, dia kami pulangkan. Dokter Joe, jika anda pun sudah tak mampu maka serahkan saja kasus ini pada Dokter tertinggi. Saya yakin, Dokter tertinggi akan memanggil dokter terbaik untuknya."
"Baik, akan saya bicarakan hal ini nanti."
Obrolan diantara keduanya di putuskan dan sang Dokter Joe kembali ke dalam ruangan Laluna untuk meminta keterangan mengenai yang ia rasakan. Sejak hari pertama Laluna kerumah sakit sampai hari ini, yang ia rasakan sama dan hanya itu. Yaitu, "dada ku sesak."
.
.
.
Korea Selatan.
Bagaikan meledaknya sebuah bom, seluruh pelosok Korea kini memberitakan hal yang sama sebagai topik utama mereka. Benar-benar mengejutkan seluruh kota, di setiap layar iklan yang terpasang di gedung-gedung kota saat itu, hanya ada berita yang sama.
Orang-orang pun membricarakan hal yang sama, artikel dengan topik trending nomor satu di seluruh aplikasi kala itu. Benar-benar menggemparkan Korea Selatan.
"Istri Dari Presdir Park Telah Kembali Ke Indonesia Dan Menjalankan Perawatan Intensif Di Negaranya. Dan Berhasil Menangkap Seorang Wanita Yang Telah Mengancam Tuan Park Atas Rumah Tangga Mereka. Bagaimana kah Kronologi Sebenarnya?"
"O. K, Inisial Wanita Yang Sudah Berani Mengusik Keluarga Park. Namun Berhasil Di Seret Oleh Ny. Park Ke Penjara."
__ADS_1
"HEBAT! INILAH ORANG YANG TELAH BERANI MENGUSIK PUTRI TN. RAWLESS, LALUNA CHAROL RAWLESS."
"Saat Ini Presdir Park Akan Menghadiri Persidangan di Kehakiman Negara."
Dan banyak... lagi artikel yang sama tersebar di seluruh korea saat itu.
.
.
Setelah putar balik dari perjalanannya yang ingin ke bandara, Jimin langsung menuju kantor polisi lantaran akan di mintai keterangan.
Meskipun senang Olivia akan segera mendapatkan hukumannya, namun tetap saja hatinya terasa perih. Ia tak menyangka, Laluna akan membuatnya tetap tinggal di Korea dengan cara ini. Cara yang tak pernah terpikirkan oleh kepalanya namun bisa menguntungkan semua pihak.
Yaitu dengan menyeret Olivia ke penjara atas kasus penganiay44n dan pencul1kan serta ancaman Pembunuh*n.
Dengan begitu, otomatis Jimin harus mengikuti seluruh persidangan dan memberikan kesaksian sehingga dalam waktu kurang lebih satu bulan ke depan dia tidak di perbolehkan meninggalkan kota atau pun negara itu. Dan dengan begitu, Jimin juga tidak bisa menyusul Laluna ke Indonesia.
Di dalam rasa senangnya, ada rasa sedih dan kesal disana. Dan diantara kedua rasa itu ada dua rasa yang begitu besar sehingga mengalahkan segala rasa yang mengganjal. Yaitu rasa sayang dan cintanya.
.
.
.
.
Haah.. udah mau ending aja ni cerita.
Ending yg kalian bayangin itu gimana?
Apakah Laluna yg men1nggal dan Jimin jadi sad boy? Klo end nya bgitu, kaya pasaran banget kan di crta yg alurnya sad giniπ
Tapi enggak kok, end nya gbkl begitu;)
__ADS_1
Kalian mau nggak? Jimin sama Luna tetap bersama forever and ever?^^
Tapi Cici juga ga janji end nya bakal happy end:v