
.
Jam besar di sudut ruangan utama di lantai satu berbunyi dan bergema ke seluruh sudut rumah. Pertanda sudah masuk waktu malam sekaligus waktunya makan malam. Sudah jam tujuh tepat, dapur kediaman keluarga Park terlihat masih rapi, bersih, tak tersentuh sedikit pun. Biasanya, Laluna sudah menyiapkan makan malam di jam 7 tujuh malam.
Dari dalam kesunyian di lantai dasar, terdengar gelak tawa seakan mereka sedang bercengkrama hangat. Suara itu terdengar berasal dari lantai dua di sebuah kamar. Sebuah kamar yang menyimpan banyak kenangan, kamar yang kini sedang di tempati sepasang suami-istri. Jimin dan Laluna.
Seperti yang tadinya di setujui Laluna, mereka akan berangkat ke sebuah undangan acara besar-besaran dari sebuah perusahaan besar yang menjalin bisnis dengan Jimin. Dari arah kanan, terlihat Jimin yang sudah siap dengan penampilannya yang mewah namun terkesan santai. Sedangkan di samping pria itu, ada Laluna yang juga sudah siap dengan penampilan dan dandanannya yang mewah dan elegant.
Karena pesta ini juga di adakan sebagai acara untuk mempublish dirinya secara resmi, oleh sebab itu ia memilih dress yang lebih menunjukkan aura mewah dan elegant. Dress yang dipakainya malam ini berwarna hitam dengan sabuk kuning dan high-heels yang senada. Meskipun berwarna gelap, namun menambah kesan konglomerat di paduan warna gold dan hitam tersebut.
"Aku bersumpah demi semesta! Kau begitu cantik, istri-ku." Jimin meraih tangan istrinya dan di bawa menghadap dirinya.
"Aku tak mengerti anugerah apa yang Tuhan berikan pada mu sampai kau tetap terlihat seperti ini meskipun seharusnya, tidak. Aku bersyukur Tuhan begitu baik padamu." Ujarnya.
Pria itu mengecup sekilas bibir istrinya sebelum kemudian mereka pergi ke tempat dimana acara mewahnya diadakan.
.
.
"Aku harus kembali ke agensi dan menyelesaikan project lagu-ku. Jadi, jangan buat aku membuang-buang waktu." Sebuah suara yang dingin dan tegas.
Ternyata, inilah maksud Laluna menyerahkan Olivia pada salah satu Ot7. Ternyata dia mencari orang yang tepat yang bisa membuat Olivia bicara lebih banyak dari pada dengan anak buahnya. Dan ini adalah pilihan tepat, Laluna memilih Min Yoongi--si pria dingin yang tak suka basa basi--untuk membantu dirinya.
"Jika kau mengatakan siapa yang menyuruh mu, maka hukuman mu akan diringankan." Seorang lelaki dengan setelan kantor dan sebuah tas hitam di tangannya masuk ke ruangan interogasi.
"Jangan melihat ku seperti itu, gadis sombong. Kau pikir dengan IQ tinggi seperti ku maka aku hanya akan menjadi seorang profesor saja? Kalau begitu perkenalkan, aku Kim Namjoon, pengacara dari Seoul dan yang akan mengurus kasus mengenai kek3rasan yang kau lakukan." Namjoon mengulurkan tangannya sekilas dan kembali ia tarik sebelum tangan Olivia menyentuh ujung jemarinya.
"Kalian berbuat sejauh ini hanya untuk perempuan lemah itu?" Olivia mengangkat kepalanya dan menatap kedua pria yang ada di hadapannya saat itu.
"Perempuan lemah? Kau yakin dengan yang kau katakan?" Tutur Namjoon. Sedangkan Suga hanya tersenyum sinis dan memandang gadis itu dengan mata elangnya.
"Setelah semua yang dia alami, dan dia berhasil menjebak mu seperti ini. Apa kau masih menyebutnya wanita lemah? Jika kau berada di posisinya, aku yakin kau bahkan tak akan bisa mengubah kepribadian Jimin. Tapi kau lihat dia? Dia berhasil membuang jauh kebiasaan buruk dari seorang Park Jimin. Dia berhasil membuat pria itu menjadi seorang lelaki yang berbelas kasih dan lembut. Apa kau bisa?" Tanya Namjoon di akhir kalimatnya dengan nada meremehkan.
"Meskipun begitu, dimata ku dia tetap wanita yang tid--"
PLAK!
__ADS_1
"Diam." Suga berjalan melewati Olivia dan kemudian berdiri tepat di belakang kursi gadis itu.
Barusan. Baru saja Suga menamp4r wajah wanita itu dengan tangannya langsung. Bahkan, Namjoon pun sampai terkejut melihatnya. Ia tak menyangka, kalau Suga berani melukai seorang wanita sekalipun jika sudah mengganggu dirinya.
"Sebenarnya aku tak ingin bermain fisik. Tapi aku sudah memperingatkan mu untuk tidak membuang-buang waktu ku meski sedetik saja. Namun, dengan omong kosong mu itu kau sudah membuang 15 menit waktu ku yang berharga." Tutur Suga dan memegang kedua bahu Olivia dari belakang seraya mencengkeramnya dengan kuat, membuat perempuan itu meringis.
"Sekarang katakan, siapa yang sebenarnya ada di balik rencana gil4 itu?" Suga membungkuk dan berbisik pada telinga wanita itu. Membuat Olivia merinding dan ketakutan.
Masih saja memilih diam, Olivia hanya menggeleng dengan melempar tatapan tajamnya pada kedua pria disana. Wanita itu benar-benar ingin melindungi Bosnya. Melihat pendirian wanita itu yang begitu teguh, refleks Suga menarik kursi yang di duduki Olivia dan memutarnya untuk menghadap dirinya.
Olivia yang terkejut dengan sikap refleks pria itu, ia hanya bisa menelan ludah dan menunduk menghindari pandangan langsung dengan Suga. Masih memegang sandaran kursi itu, Suga menunduk mendekatkan wajahnya pada Olivia yang jelas-jelas sudah gemetar bukan main saat itu.
"Masih menolak untuk mengatakannya?" Bisik pria itu.
Dengan gemetar, Olivia terlihat berbisik pelan pada Suga.
Merasa tugasnya sudah selesai, Suga beranjak. Sebelum keluar dari ruangan yang dindingnya dilapis besi baja yang tebal, Suga berhenti seraya sedikit melirik Kim Namjoon.
"Tinggalkan dia. Tugas kita sampai di sini, ternyata perempuan itu dalangnya. Selanjutnya serahkan dia pada ahlinya."
Namjoon hanya menatap Olivia selama beberapa saat sebelum kemudian ikut menyusul pria bermarga Min yang mengerikan cara kerjanya, namun berhasil mendapat jawaban dari Olivia. Namjoon masih tak menyangka dengan Hyugnya itu, ini pertama kali baginya melihat Suga benar-benar bermain tangan dengan seseorang.
"Apa kau meragukan putri Tuan Rawless?" Bukannya menjawab, namun memberikan teka-teki untuk pria cerdas itu.
"Benarkah? Bukan meragukan, maksud ku itu karena aku tak pernah bisa mengerti bagaimana dia." Tutur Namjoon pertanda mengerti dengan jawaban Suga.
"Aku juga. Namun dari caranya bertindak dan menyelesaikan masalah yang sudah bertele-tele selama hampir empat bulan hanya dalam beberapa hari, aku yakin dia seorang maniac."
Keduanya masuk ke mobil yang sama dan kembali melanjutkan obrolan mereka.
.
.
Malam yang mewah dan glamor, malam ini begitu berkesan untuk seorang Laluna Charol Rawless dan Park Jimin. Ternyata pesta ini di adakan dengan tujuan untuk mempublish Laluna secara resmi oleh salah satu stasiun televisi yang sudah lama menantikan bahwa merekalah yang akan menyiarkan pertama kali wajah dari istri Presdir kaya, Park Jimin.
Setelah sekitar dua jam melakukan wawancara bersama dengan para wartawan, akhirnya mereka benar-benar berpesta di sana. Bukan pesta yang berakhir dengan m*buk-m*bukan, tetapi pesta yang memang berkesan mewah.
__ADS_1
Dapat di lihat Laluna, orang-orang yang menghadiri pesta tersebut bukan orang-orang biasa. Mereka orang yang hanya bisa di lihat melalui majalah, koran atau televisi. Hanya beberapa orang beruntung yang bisa melihat mereka secara langsung. Dan sekarang, orang-orang hebat itu sedang duduk mengelilingi dirinya dengan berbagai macam pujian mereka lemparkan padanya.
Namun, dari sekian banyaknya pengusaha pria wanita yang hadir, ada seorang CEO wanita yang tidak turut hadir di pesta itu. Padahal jelas sekali namanya terpanggil untuk mengumpulkan undangan. Yaitu Park Chaeryong dan sekretarisnya Kang Joon-Hae.
"Apa ada yang melihat Mr. Chaeryong di pesta ini?" Tanya Laluna pada seorang wanita yang sejak tadi duduk di dekatnya. Entah kenapa mereka semua menolak untuk pergi, padahal Laluna hanya ingin tetap dekat dengen Jimin. Karena mereka mengelilinginya seperti itu, Jimin memutuskan untuk ikut berunding sesaat bersama rekan-rekannya.
"Tidak, sepertinya dia menolak undangannya." Jawab salah satu dari mereka.
Di luar aula yang masih penuh oleh para tamu, terlihat Jimin berdiri di sebelah kolam berenang di antara teman-temannya seraya mengobrol kecil. Tak jarang pria itu menunjukkan senyumannya yang manis. Tanpa sadar, Laluna memperhatikan suami-nya dalam durasi yang cukup lama sampai-sampai dia tidak mendengar apa yang baru saja mereka katakan padanya.
"Kau akan segera bebas, sayangku." Laluna membatin dan menghembuskan napasnya terlihat sedikit lega.
"Ekhm... " Satu deheman dan sedikit senggolan di sikunya membuat ia tersadar dan langsung berpaling.
"Eh, maafkan aku. Apa ada yang kalian tanyakan?" Wanita itu terlihat canggung.
"Kau sangat mencintainya, ya?" Seorang perempuan yang terlihat sebaya dengannya bertanya. Tak mampu menjawab, Laluna hanya tersenyum miring dan menggoyangkan gelas wine yang ada di tangannya.
"Kau tak perlu menjawabnya. Itu terlihat dari kesabaran mu dan usaha mu yang berhasil meluluhkan hati kerasnya yang kami sendiri tak bisa." Seorang wanita lainnya bersuara.
Mendengar itu, Laluna cukup di buat terkejut. "Maksud mu? Kalian?" Tanya Laluna.
"Iya." Jawabnya lagi dan tertawa kecil bersamaan dengan yang lainnya.
"Kau tahu? Ada beberapa dari kami yang sudah mengejarnya semenjak di Universitas. Namun tak ada yang berhasil kecuali Haru-san." Kalimatnya ia jeda.
"Aku pernah mendengar cerita itu dari Jimin.
Haru-san, dia sahabat sekaligus cinta pertamanya." Tutur Laluna.
"Gadis jepang ya... " Gumam Laluna seraya tersenyum kecil.
"Maaf?"
"Ah, tidak."
"Tapi dia sudah mat1." Laluna membatin.
__ADS_1
"Benar. Hanya Haru-san yang berhasil, tapi kau tahu kan bagaimana ceritanya malam itu? Nah, semenjak saat itu Jimin tak pernah lagi bergaul dengan wanita."
BERSAMBUNG