Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 14 ( WHAT HAVE I DO?! )


__ADS_3

PRING!!


Sebuah guci antik berukuran sedang terhempas jauh ke arah tangga dan terbentur lantai yang kokoh membuat guci cantik itu tak berbentuk lagi. Untunglah pecahan guci itu tak sampai mengenai kaki Laluna yang saat itu posisinya masih berdiri di anak tangga terakhir.


"KAU SENGAJA INGIN MEMPERM4LUKAN AKU?!"


Sebuah suara di ruang tengah terdengar menggema ke seluruh sudut rumah. Padahal ini masih pagi, tetapi sudah ada saja keributan. Wanita itu langsung turun dari tangga dan berjalan dengan hati-hati supaya tak sampai menginjak beling.


"Memperm4lukan bagaimana?! Jelas-jelas aku sudah menyembunyikan siapa aku disini! Bukankah aku mengatakan bahwa aku adalah pembantu mu? Dimana lagi aku memperm4lukan mu? Jika memiliki ku sebagai pembantu saja kau malu, apa kau ingin aku mengatakan aku adalah 'Jal4ng'?!"


Dengan tubuhnya yang sudah gemetar, ia memberanikan membalasa teriakan suaminya meskipun itu tak seberapa dengan suara Jimin.


"Beraninya kau membentakku!!"


PLAK!


Pipi kanannya memerah, wajahnya berpaling dan tubuhnya terdorong beberapa langkah kebelakang. Suasana menghening.


Sepersekian detik setelah t*mparan keras yang mengejutkan itu, setetes, dua tetes, tiga tetes, dan begitu seterusnya sampai d4rah segar yang merah pekat itu membasahi hidung, bibir dan bagian mulut Laluna.


"Si4l, aku mimisan?" Batinnya meng*mpat atas kerapuhan dirinya sendiri.


Ia tak ingin Jimin melihatnya serapuh itu, untunglah rambut panjangnya menutupi wajahnya yang sampai terpaling saat itu. Perlahan, ia berbalik dan berjalan hendak menuju toilet. Meskipun ia berusaha keras untuk kuat, dia tetap rapuh dan air mata sudah menjadi jati diri seorang wanita lemah sepertinya.


Jimin yang masih terpaku di tempatnya berdiri, setelah melihat beberapa tetes cairan berwarna merah di atas lantai putih bermotif abu-abu itu, ia sadar apa yang sudah di lakukannya baru saja. Belum pernah sekalipun ia bermain tangan dengan perempuan, tetapi kali ini?


"Akh!! Si4l!" Umpat Jimin. Ia berjalan cepat dan meraih pergelangan perempuan yang masih ada di hadapannya itu. Laluna tersentak dan tanpa sengaja darah mimisannya mengenai kaos putih Jimin.


Melihat pria itu sudah tau dirinya mimisan, ia langsung menutup hidung dan mulutnya dengan kedua tangannya. Meskipun itu sia-sia karena dar4hnya bahkan sudah mengenai piyamanya.


"Aku benci kerapuhan mu." Bisik Jimin dan mendorong Laluna menjauh darinya.

__ADS_1


"Aku juga. Aku juga benci itu, tapi mau bagaimana lagi? Itu juga bukan kemauanku." Wanita itu menyahut. Tangannya berusaha menghentikan aliran cairan berwarna merah yang sudah memenuhi dadanya saat itu.


"Aku tahu kau tak akan hamil jika malam itu tak sampai terjadi. Sebelumnya terima kasih telah menolongku, tapi tidak bisakah kau berusaha dengan meminum obat apapun itu yang bisa menunda kehamilan mu itu? Jika begini, kau harus hidup lebih lama dengan ku." Tutur Jimin dengan wajahnya yang menunduk dan tangan yang ia masukkan dalam kedua saku celananya.


Mendengar hal itu, Laluna yang tadinya ingin menyingkir dari sana, kini berbalik. "Aku sudah berusaha. Bahkan aku melakukan pekerjaan berat beberapa hari ini, tapi itu tak bekerja. Maafkan aku!"


"Aku tak mau tahu, kau harus mengg*gurkan bayi itu!"


"Aku tak bisa, Jimin! Berapa kali harus kukatakan? Aku tak bisa melakukan itu!!" Ia berteriak dengan suaranya yang sudah parau.


"Aku tak mau tahu! Aku akan menunggu kabar kem4tian anak itu. Jika kau tak ingin menggug*rkannya, aku sendiri yang akan membuat bayi itu hilang dari rah*m mu."


"Bayi? Laluna hamil?"


Deg!


"Aku harus bersihkan d4rah ini." Ia membatin dan segera menuju toilet.


"Apa yang kau katakan tadi? Laluna harus menggugurkan bayi yang di kandungnya?" Ny. Park.


Park Jimin terdiam. Sekalipun ia mengelak, mereka pasti tak akan percaya. Orang tuanya telah mendengar semuanya. Dan semuanya menjadi semakin rumit.


"Dimana Laluna? Dimana dia?" Tanya Tn. Park berjalan melewati putra dan istrinya. "Tadi aku melihatnya sekilas masuk ke toilet, apa dia disana?"


"I-iya." Jawab Jimin pelan.


"Jawab pertanyaan Oemma, Jimin-shi! Apa Laluna benar-benar tengah mengandung? Dia hamil, kan? Benar, kan?" Wanita itu benar-benar menuntut jawaban atas pertanyaannya. Sampai-sampai Jimin pun hampir naik pitam untuk yang kedua kalinya.


"Kenapa kalian sangat berharap?"


"Iya."

__ADS_1


Itu Laluna. Setelah membersihkan baju dan wajahnya, ia menghampiri mereka yang sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai dirinya pada Jimin. Dengan berani wanita itu 'mengiyakan' pertanyaan ibu mertuanya. Itu karena dia tahu, tak ada gunanya berbohong saat ini. Mereka sudah mendengarnya sendiri tadi.


"Itu bukan disengaja." Tutur Jimin. Apa kehamilan istrinya adalah sebuah aib? Sejak kemarin dia terus saja menyembunyikan kebenaran mengenai dirinya dan Laluna. Mau sampai kapan dia menyembunyikan semua itu?


"Apa kau benar-benar hamil, nak?" Wanita itu menghampiri Laluna dan memeluknya selama beberapa saat.


"Hm.." Sebagai jawaban ia hanya berdehem.


"Aku ingin anak itu di gug*rkan!" Tutur Jimin menatap Laluna dengan tajam. Mata elangnya bahkan terlihat mengkilap dari segala arah. Se-seram itukah seorang Park Jimin jika sudah emosi?


"Aku tak bisa, anak ini tak bersalah!" Wanita itu kembali membantah. Mana mungkin ia sanggup melukai anaknya sendiri? Apa ada seorang ibu yang ingin membun*h anaknya sendiri?


"Apa kau gil4, Jimin? Sejak kapan kau menjadi begitu k3jam?! Kami tak pernah mendidik mu untuk menjadi pria jahat seperti ini!" Tn. Park bersuara dengan lantang.


"Sejak kalian mencampuri urusan pribadi ku! Sejak kalian mencoba membawanya masuk ke rumah ku!! Sejak itu, aku bersumpah menjadi pria kejam untuknya!" Jimin berdiri dan pergi meninggalkan kedua orangtuanya dan Laluna.


"Bagaimana ini? Aku... aku bingung." Laluna mulai menangis. Jika kalian tanya apa yang membuatnya menangis.


Pertama, wanita itu kebingungan harus memihak siapa. Kedua, untuk saat ini dia memang aman karena adanya orang tua Jimin yang akan menjaganya.


Tapi, hanya saat ini. Bagaimana nanti ketika mereka kembali? Bagaimana nasibnya? Jimin tak pernah terlihat semarah itu sebelumnya. Bisa saja, dia akan menyiksa dirinya hanya supaya dia menuruti perintahnya untuk mengg*gurkan bayi itu.


"Tenang saja, anak ku. Tenangkan dirimu... " Ny. Park menarik Laluna kedalam pelukannya seraya mengusap pelan pucuk kepala menantunya untuk membuatnya merasa lebih tenang.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2