Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 32


__ADS_3

.


Setelah lebih dari 4 jam diinterogasi, Jimin akhirnya di biarkan pulang meskipun dengan pengawasan ketat. Dari pada di perlakukan seperti korb4n, dia lebih terlihat seperti bur0nan. Kemana pun ia pergi, ia akan selalu di kawal oleh beberapa FBI dari kepolisian negara. Bukan semata-mata semua layanan itu ia dapatkan, tetapi karena Laluna.


Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa keluarga Rawless bukan sembarang orang. Keluarga Rawless bahkan sudah sangat berpengaruh untuk perekonomian negara sejak kabun jeruk mereka di dirikan. Maka dari itu, kepresidenan memberikan hadiah kepada mereka. Yaitu akan selalu dapat mengajukan permintaan penjagaan ketat kemana pun dan dimana pun mereka pergi. Namun, hanya untuk keluarga Rawless. Seharusnya Laluna juga memiliki seorang FBI yang siap menjaga dirinya kapan pun apanpun yang terjadi.


Namun, karena tak ingin terkesan mengumbar keistimewaan tersebut, ternyata banyak hal istimewa yang di sembunyikan Laluna. Dengan nama-nya, Laluna memanfaatkan pengajuan penjagaan miliknya ke pusat penjagaan negara di Korea selatan dengan dibantu beberapa anak buahnya. Setelah berhasil mendapatkan izin dari ketua, beberapa prajurit hebat dari FBI di kerahkan untuk menjaganya.


Tapi ternyata Laluna mengganti namanya dengan nama Jimin. Ia mengganti marga Jimin dengan marga dirinya dan kemudian meminta para FBI untuk menjaga Jimin. Tepatnya bukan menjaga, tapi mengawasi kemana pun perginya Jimin apalagi jika dia ingin keluar negeri maka para FBI akan menghalanginya.


Masih begitu banyak misteri yang belum terungkap di antara dua marga dari dua negara yang berbeda. Park dan Rawless.


.


.


Dua jam lebih lambat dari waktu Korea Selatan, Laluna bangun dari tidurnya dan meraih ponselnya. Niatnya saat ini akan mengirimi Jimin pesan dan mengatakan keadaannya. Tapi, belum sempat pesan itu terkirim, dokter Joe yang sudah mengambil alih atas kasusnya masuk ke ruangan dan langsung mengambil ponsel dari tangan Laluna kemudian ia taruh di atas nakas.


Laluna tahu, ia dilarang bermain gadget mau jenis apapun itu. Namun, ini sangat penting dan dia harus menghubungi Jimin.


"Laluna, ada kabar yang entah baik atau buruk untukmu. Aku rasa keduanya." Dokter itu mendekat dan berdiri di sebelah brankar Luna. Tak menjawabnya, Laluna hanya diam seraya menunggu kalimat selanjutnya dari dokter itu.


"Energi mu sudah membaik dan siap di operasi. Namun, kabar lainnya adalah dokter utama memanggil dua orang dokter ahli bedah dari luar negeri untuk mengoperasi dirimu."


Menanggapi hal itu, Laluna hanya mengangguk perlahan. "Kapan aku akan menjalani operasi? Aku rasa ada tidaknya energi hasilnya akan sama saja. Semua yang kalian lakukan sekarang tak akan mengubah kenyataannya nanti. Lakukan segera, lebih cepat maka lebih baik." Tanya Laluna seraya menatap keluar jendela yang langsung memperlihatkan kota.

__ADS_1


"Maafkan aku, Luna. Aku tak bisa menolong banyak untuk ini. Untuk operasinya, mereka menjadwalkan itu besok pagi. Saat ini pun kedua dokter ahli itu sedang dalam perjalanan."


"Hm. Anda tak perlu merasa bersalah begitu, Dokter. Jika aku diberikan sebuah keajaiban dan sembuh, sama saja rasanya aku seperti sudah mat1. Aku tak bisa lagi memberinya keturunan, Tuhan sudah mencabut kepercayaannya dari ku. Aku sudah gagal menjadi wanita yang baik."


.


.


Sore menjelang malam, matahari tenggelam mendatangkan kegelapan. Malam ke-tujuh tanpa adanya sang istri yang ia cintai. Sudah satu minggu Jimin di perlakukan seperti seekor hewan dalam kurungan, ia akan selalu di awasi dan waktu keluarnya terbatas. Belum lagi harus bolak balik ke kantor polisi untuk membuat kesaksian dan di periksa. Juga mengurus kantornya.


Dan hampir beberapa malam ini... Jimin menangis. Tangis akan rasa rindu terhadap istrinya, rasa rindu yang tak bisa diuraikan. Tangis akan rasa lelah terhadap batin dan raganya. Tangis yang mengatakan bahwa betapa dirinya sudah begitu lelah dengan semua ini. Ia tak ingin menjadi pria yang lemah, namun kenyataan dan keadaan yang sedang ia hadapi saat ini malah menuntunnya ke jalan yang semakin lama membuatnya semakin lumpuh tak lagi mampu melangkah.


Tangisnya yang meratapi kenyataan bahwa ia harus berpisah begitu cepat dengan sang istri. Disaat dia mulai mencintai dan mampu menerima wanita-nya, disaat itu justru Tuhan mengulur waktu dan menambah jarak diantara mereka. Disaat cinta akan kembali mempersatukan keduanya, justru derita tiba dan kembali memisahkan mereka. Disaat takdir mulai melunak, ternyata itulah akhir kisahnya.


Jimin tak pernah benar-benar memiliki sebuah cinta yang bisa ia nikmati cinta itu seumur hidupnya. Yang terjadi saat ini begitu tiba-tiba dan membuatnya merasa begitu hampa. Harapanya saat ini, Laluna akan menepati janjinya dengan kembali ke Korea dan mereka akan pindah ke rumah baru yang pernah di katakan Laluna. Meskipun hanya harapan tanpa adanya sebuah kepastian.


.


.


"Duduk dulu." Pria itu mengarahkan tangannya pada sebuah kursi pesawat di sebelahnya yang masih kosong dan dekat dengan jendela.


"Aku merasa agak aneh tentang panggilan ini." Pria itu berujar.


"Maksudmu?"

__ADS_1


"Iya, entah sebuah kebetulan yang besar atau memang sudah direncanakan Laluna untuk memanggil kita kesana." Jelas lelaki itu.


"Apa kita akan ke Indonesia?"


"Iya, Lisa. Ini bahkan sangat mendadak, aku hampir lupa mengemas barang-barangku." Si pria, Dokter Jeon Jungkook.


.


.


Korea Selatan dan Indonesia. Beberapa orang yang kita kenal dari kedua negara ini benar-benar sedang di sibukkan dengan aktifitas masing-masing yang tak dapat di tunda.


Di Korea, ada Jimin dan Namjoon yang sedang berada di satu ruangan yang sama dengan Olivia. Sejak jam delapan pagi tadi, mereka memulai persidangan atas wanita itu.


Di Indonesia, ada Jungkook dan Lalisa yang di sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit untuk mengoperasi salah satu pasien misterius yang begitu membuat keduanya terdesak.


Dan di sebuah rumah sakit yang bertempat di Ibukota Indonesia, ada Laluna yang sedang di perbincangkan antara harus operasi atau tidak. Lantaran nafasnya pun sudah tak lagi panjang, yang mereka risaukan dari itu adalah Laluna tak mampu bertahan dan melewati masa kritisnya.


Dua negara dengan beberapa rakyatnya yang sedang berperang melawan badai kehidupan.


.


Jam menunjukkan angka delapan di Indonesia yang berarti di Korea Selatan sudah jam sepuluh pagi. Setelah di suntikkan obat bius, Laluna segera dibawa ke ruang operasi. Dan Jimin, setelah sedikit perdebatan dan pembelaan diri, akhirnya hukuman OLivia di putuskan. Wanita itu mendapat dua pilihan, penjara seumur hidup atau hukuman mat1.


Sedangkan di jalanan yang penuh dengan sesak dan hiruk pikuk masyarakat Ibukota Jakarta pagi itu, kedua pasangan yang berprofesi sebagai Dokter berusaha membelah kemacetan dengan bantuan suara ambulan yang menjemput mereka pagi tadi ke hotel dimana mereka beristirahat.

__ADS_1


.


.


__ADS_2