
▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ
.
"Olivia?!"
Jimin yang terkejut ia pun berdiri dari duduknya. Itu kekasih rahasianya. Bagaimana gadis itu tahu kalau mereka ada disana? Padahal, sejak kejadian beberapa minggu lalu, Jimin sudah tak lagi menghubunginya.
"Aku dimana?"
Sebuah suara yang membuat mereka semua berpaling. Suara Laluana. Itu Laluna yang sudah sadar dari pingsannya. Matanya berputar menyoroti seluruh sudut ruangan, wajahnya terlihat kebingungan. Namun ia terlihat lebih kebingungan ketika mendapati seorang wanita yang tak ia kenal, menatapnya dengan tatapan kasihan.
"Suasana apa ini?" Jungkook bersuara seraya mengusap wajahnya perlahan. Ia menghampiri Olivia yang masih berdiri di kaki brankar Laluna dengan tangan yang menyilang dada. Wanita itu, terlihat aneh raut wajahnya.
"Bagaimana kau tahu Jimin-ie Hyung ada di sini?" Jungkook bertanya pada wanita yang seumuran dengannya itu.
"Aku melihatnya saat melewati rumah sakit."
"Baiklah, silahkan." Jungkook mempersilahkan gadis itu untuk duduk disofa dan tanpa melenceng dari tebakan, wanita itu memilih duduk di sebelah Jimin yang justru terlihat risih dan kesal.
"Jaga sikapmu, Olivia." Jimin memperingati di saat tangan gadis itu naik menyentuh pundaknya. "Ternyata dia wanita yang lemah... " bisik Olivia.
Laluna yang melihat itu pun, ia langsung memalingkan wajahnya dan menatap kesembarang arah guna mengalihkan perhatiannya dari Olivia.
"Ini." Jungkook menjatuhkan sebuah berkas yang berisi catatan kesehatan Laluna di atas meja sofa tepat dihadapan Jimin. Melihat itu, OT7 justru dibuat semakin penasaran dengan hubungan mereka. Namun, melihat wajah Jimin saat itu mereka lebih merasa enggan jika harus bertanya.
Jimin mengambil berkas itu dan mengikuti Jungkook yang sudah berdiri di sebelah brankar Laluna berbaring saat itu. Laluna yang bingung, ia pun mengisyaratkan dengan alisnya mempertanyakan ada apa dengannya pada Jungkook. Selaku dokter yang sudah banyak terlibat mengenai kesehatannya.
Bukannya menjawab dan memberi penjelasan, Jungkook berbalik menatap Jimin dengan senyuman terukir di wajahnya. Kebingungan benar-benar mengelilingi mereka malam ini.
"Hyung," Panggilnya dan ia langsung memeluk Jimin yang ada di hadapannya itu selama beberapa saat.
"Laluna... she's pregnant. And this your baby." Ucap Jungkook hendak kembali meraih tubuh Hyugnya untuk di dekapnya. Namun, belum sempat tangannya sampai, Jimin sudah lebih dulu merosot ke lantai dengan kedua lututnya yang menahan keseimbangan tubuhnya saat itu.
Dapat dilihat dengan jelas bahwa ia gemetar, bahkan berkas yang di pegangnya saja sampai bergetar tak seirama. Jimin shock. Sangat-sangat terkejut. Detak jantungnya berpacu dua kali lebih cepat. Namun, bukan hanya dia yang terkejut saat itu. Kelima pria yang awalnya masih duduk tenang di sofa, kini mereka sudah berdiri dan menghampiri keduanya (Jimin dan Jungkook).
__ADS_1
Jimin masih belum sanggup untuk berdiri, ia masih lemas dan gemetar. Sungguh, malam ini benar-benar malam yang mengejutkan untuknya. Ia tak habis pikir, demi apapun apa itu anaknya? Apa Laluna benar-benar mengandung anaknya?
"Dosa apa ini ya Tuhan... " Pria itu bergumam kecil memegangi kedua pelipisnya yang terasa nyeri.
Semua orang disana terkejut. Jimin terduduk, Olivia melongo, OT7 saling tatap.
Sedangkan Laluna, mendengar pernyataan itu refleks ia langsung terduduk dari tidurnya dengan posisi memeluk kedua lututnya dengan wajah melongo. Apa arti dari gerakannya itu? Pasangan suami istri itu masih larut dalam pikiran masing-masing, masih tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Namun, jika Laluna memang hamil mereka tak bisa menyangkalnya. Apalagi Jimin pernah... Ya, kalian tahu itu.
"Tap--tapi... " Jimin berdiri dengan berpegangangan pada brankar. Ia menatap Jungkook.
Pria berotot itu memijat pangkal hidungnya pelan seraya menghembuskan napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tak habis pikir dengan Hyungnya ini. Sudah terbukti istrinya hamil, masih saja ingin menyangkal.
Ia menatap keduanya dengan tangan bersilang dada. "Apa?" Jungkook bertanya, pada Jimin dan Laluna. "Setelah Laluna terbukti hamil, jangan beraninya kau menyangkal bahwa kau tak menyentuhnya." Kali ini pada Jimin.
Dan disini, ada yang lebih membutuhkan penjelasan sebagai sahabat sekaligus keluarganya. Para pria itu disana, tak lagi menunjukkan wajah kebingungan mereka. Tetapi sudah berkacak pinggang dengan wajah tanpa senyuman. Mereka kecewa, mungkin. Karena Jimin menyentuh pembantunya sendiri? Haha.. lelucon macam apa itu?
Tiba-tiba, Jimin mengalihkan pandangannya pada gadis itu, Olivia. Ia terlihat gemetar, terkejut, dan merasa bersalah. Dengan tatapan khasnya, ia (Jimin) tak melepas tatapannya sedetik pun dari gadis itu.
"Maafkan aku! Aku tak bernia--" Jimin mengangkat telapak tangannya dihadapan wajah Olivia dan membuang pandangannya dari gadis itu. Pertanda ia tak ingin mendengar hal yang di anggapnya ocehan belaka. Untuk saat ini, mungkin dia akan membenci Olivia. Mungkin, ya.
"Ba-bagaimana... " Laluna terlihat sudah larut dalam pemikirannya. Tatapannya seperti mencari-cari entah apa yang ia cari. Bicaranya saja sudah tak beraturan. Jimin mendekat dan mendekap pipi wanita itu dengan telapak tangannya.
"Laluna!" Panggilnya. Laluna berhenti, ia menatap Jimin. Matanya menggambarkan kebingungan dan ketakutan disana. Apa dia baik-baik saja mendengar dirinya akan segera menjadi seorang ibu?
"Ti--tidak! Kita melakukannya? Kita... Hiks! " Laluna mulai menangis. Apa yang ia tangisi? Hanya dirinya yang tahu bagaimana perasaanya saat itu.
"Bisa beri kami penjelasan?"
Seokjin mulai bersuara lantaran sudah cukup membuatnya menunggu. Sejak tadi ia sudah cukup bersabar dan menahan rasa keingintahuannya. Namun sekarang ia merasa, semakin ia diam saja dan hanya menunggu, semakin mereka akan berbelit-belit.
Jimin tak mengubris perkataan mereka dan masih berusaha menenangkan Laluna. Bukannya ia khawatir dengan keadaan wanita itu, hanya saja jika ia abaikan maka dia akan terlihat sangat jahat dihadapan para Hyung dan adiknya.
"Tanya saja, katanya dia tak pernah menyentuh Laluna." Jungkook berucap dan terkekeh kecil.
Setelah Laluna menjadi tenang, pria itu berbalik menatap teman-temannya.
__ADS_1
"Maafkan aku karena sudah berbohong pada kalian. Laluna, dia... My wife." Jimin menunduk, ia tak ingin melihat ekpresi teman-temannya yang pasti kecewa padanya.
"Aahh.. ya.. ya. I understand now." Namjoon tersenyum kecil dengan tatapannya yang tajam ia perlihatkan pada Park Jimin.
"Apa? Tidak ada. Aku tidak!--" Jimin gelapagapan.
"Jangan bilang Laluna melakukannya dengan Jin sampai dia hamil." Namjoon membuat lelucon yang ternyata...
"Hey! Kenapa bawa-bawa nama ku?!" Yang ternyata membuat seseorang merasa tersebut. Maksud Namjoon adalah Jin tak kasat mata itu.
Jimin salah. Ekspresi yang dibayangkan olehnya itu salah. "Astaga!! Adikku sudah menikah?! Bagaimana malam itu?" Itu Seokjin dan Namjoon yang memeluk sekaligus menggodanya.
"Dasar, Jimin. Kau tak pernah berubah." Itu Yoongi yang berbisik dan memeluknya sekilas. Ngomong-ngomong, apa maksudnya tak pernah berubah?
"Padahal, tadinya kupikir aku yang akan menikah duluan dari kalian. Ternyata, ada yang secara diam-diam ya." Itu Taehyung.
"Haha! Istrimu sudah hamil, ya?" Dan itu Hobi yang melirik Laluna sekilas dengan tatapan nakalnya pada Jimin.
"Stop your dirty mine!" Jimin mendengus dan berbalik. Tak ingin di tertawakan mereka. Padahal, itu bukanlah hal yang akan membuatnya malu.
"Kalian bisa pulang, lagi pula ini sudah begitu larut. Aku juga akan pulang." Pria itu terlihat lesu setelahnya.
.
.
Double Up->
.
.
Kejutan kecil yang Cici sebut di part sebelumnya ya itu, kehamilan Laluna^^
Hshshs
__ADS_1