
.
Ketika mendengar sedikit flashback kisah diantara Jimin dan Haru-san si gadis jepang yang tidak beruntung, Menurutnya. Laluna tidak terkejut karena memang dirinya sudah tahu sejak awal.
Namun, mendengar hal itu ingatannya justru teralih pada wajah menyebalkan dari Olivia-Kim. Itu karena ia terpikir mengenai ucapan mereka yang mengatakan bahwa Jimin tak pernah lagi bergaul dengan wanita, itu sangat salah. Buktinya, Jimin tetap pernah berpacaran dengan Olivia. Namun, bagaimana dengan Olivia? Mereka hanya tak tahu saja itu.
Tanpa sadar ia mendecak pelan seraya mencuri-curi pandang namun dengan pandangan yang sedikit kesal pada suami-nya yang terlihat masih asik mengobrol. Mulai merasa sedikit pusing dan pengap dengan keadaannya--
"Aku permisi ke toilet sebentar." Mereka menganggukinya dan ia pun mulai melangkah keluar dari perkumpulan para wanita elite itu. Dengan langkah yang cepat ia berjalan masuk ke area toilet wanita dan menatap pantulan wajahnya yang menawan di cermin. Matanya seakan menginterogasi dirinya sendiri, pandangannya benar-benar tajam dan elang.
"Tak ada lagi Haru-san! Atau pun Olivia! Sekarang adalah masanya Laluna." Ia menghantam cermin yang memperlihatkan refleksi dirinya dengan tas di tangannya.
Nafasnya memburu sehingga memperlihatkan pergerakan dadanya yang tak beraturan. Saat ini, ia tak mengerti sebenarnya apa yang membuatnya benar-benar merasa begitu marah dan kesal juga sedih bercampur aduk menjadi satu. Entah itu karena mendiang gadis jepang yang benama Haru-san, atau gambaran wajah Olivia yang menyebalkan tiba-tiba terlintas di kepalanya.
Setelah berhasil membuat dirinya merasa lebih rilex, ia keluar dari sana dan berniat untuk menghampiri para wanita-wanita yang masih setia duduk disana menunggu dirinya. Baru saja akan duduk di kursinya, tiba-tiba ia terjatuh begitu saja tanpa aba-aba. Orang-orang yang ada di sekitar itu pun mulai menghampiri Laluna dan menawarkan bantuan dengan mengulurkan tangan mereka. Ada juga yang ikut berjongkok menanyakan keadaan Laluna.
Namun, apapun yang mereka lakukan sekarang, Laluna tak bisa melihatnya melainkan merasakan. Ia hanya bisa merasakan beberapa sentuhan lembut dari orang-orang itu yang berniat membantunya untuk berdiri. Tapi, sekeras apa pun usaha mereka membantunya, ia tetap sudah tak sanggup untuk berdiri. Bahkan penglihatannya tak berfungsi lagi saat itu.
Dari arah kanan yang memperlihatkan langsung pemandangan kolam renang, Jimin berlari dengan terburu-buru membelah kerumunan dan menghampiri Laluna yang sudah begitu lemas saat itu. Tanpa berucap sepatah kata pun, ia langsung menggendong istri-nya dan membawanya keluar dari aula.
Beginilah ujungnya pesta itu. Terkadang Laluna terpikir, apa setiap hari, setiap saat, setiap hal yang ia lakukan akhirnya adalah kesakitan? Apa bisa meskipun untuk satu hari ia merasakan kebahagiaan tanpa di akhiri penderitaan?
.
.
.
Pagi seperti biasanya, dimana Laluna tetap memaksakan diri untuk mempersiapkan Jimin sarapan di tengah kesehatannya yang sudah tak pantas lagi untuk beranjak dari tempat tidur. Setelah mengantar suaminya sampai gerbang rumah, wanita itu bergegas kembali ke dalam rumah dan keluar dengan penampilan yang berbeda. Lebih modis dan trendi.
Ia masuk ke garasi mobil dan memilih Maserati Ghibli dan kemudian meluncur ke tempat yang menjadi tujuannya. Pagi ini ia mendapat sebuah pesan dari Min Yoongi, dalam pesan teks tersebut pria itu mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki cukup informasi dan Namjoon akan membawa Olivia ke penjara untuk membuat kasus atas wanita itu.
Namun, sebelum Namjoon benar-benar membawa Olivia, Laluna sudah dulu mengirimi pesan teks kepada pria itu untuk tidak membawa Olivia sebelum dirinya sampai ke tempat dimana mereka menginterogasi gadis itu.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Laluna sampai di gedung yang tak terlalu besar namun mewah. Itu adalah apartemen rahasia milik keluarga Rawless yang sudah jarang di kunjungi keluarga mereka. Apartment itu di bangun untuk berjaga-jaga ketika ada musuh yang ingin menyerang maka mereka akan kabur ke sana, mengingat Tuan Rawless cukup berpengaruh bagi perekonomian negara masa itu.
Dengan buru-buru, ia berlari masuk ke apartemen dan langsung menuju ruang bawah tanah dimana ruangan Olivia di kurung. Ruangan berlapis besi baja anti api dan peluru, sekaligus ruangan yang kedap suara. Benar-benar tempat yang sesuai untuk bersembunyi. Juga... meny1ksa.
Begitu melangkahkan kakinya ke dalam ruangan itu, Laluna sudah di sambut oleh anak buahnya yang sedang bertugas menjaga Olivia. Juga Namjoon yang masih ada di sana untuk meminta keterangan pada wanita itu. Namun, sejak kemarin berusaha tak ada penjelasan apapun yang ia dapatkan dari Olivia. Wanita itu benar-benar menolak bicara kecuali di hadapan Min Yoongi seperti yang sudah terjadi kemarin.
"Selamat pagi," Sapa Laluna dan duduk di sebelah Namjoon yang terlihat memijat pelan pangkal hidungnya.
"Pagi. Bagaimana keadaanmu? Apa Jimin mengijinkan mu pergi?"
"Um. Kemarin aku meminum beberapa obat penenang peradangan, jadi penglihatan ku kembali selama beberapa jam kedepan. Jimin juga tidak tahu." Jelasnya. Setelah merasa cukup dengan basi-basi pagi hari yang sedikit singkat, Laluna berdiri dari duduknya dan kemudian menyeret sebuah kursi dan ia posisikan di hadapan Olivia.
"Tolong tinggalkan aku dengan perempuan ini. Ada yang ingin aku ajarkan padanya." Tutur Laluna tanpa melirik mereka dan kemudian duduk di hadapan Olivia yang terlihat sudah menutup rapat kedua matanya.
.
.
Lalisa dan Jungkook sejak semalam ketika Jimin membawa Laluna ke rumah sakit, keduanya terus beradu pendapat.
Menurut Lalisa, Laluna harus di pulangkan ke Indonesia karena dokter disana pernah berhasil mengoperasinya dan mereka juga sudah banyak tahu mengenai keadaan Laluna. Namun, Jungkook menolak usulan Dokter cantik itu. Ia menolak untuk mengirim Laluna kembali ke Indonesia.
Jungkook tetap menolak, entah kenapa dengan pria itu. Tapi tak ada yang perlu di khawatirkan mengenai hubungan keduanya, mereka bukan lagi remaja yang pacaran kemudian putus karena berselisih pendapat. Keduanya sudah cukup dewasa untuk membuat sebuah keputusan.
"Tapi, jika itu yang terbaik untuk Luna maka aku juga akan setuju." Akhirnya ia mengiyakan.
Begitu mendapat izin dari Jungkook, Lalisa dan para pengurus rumah sakit mulai mempersiapkan hal-hal yang akan di butuhkan Laluna nanti. Bahkan, mereka langsung Check-in tiket pesawat di hari itu juga.
.
.
"Namjoon Oppa, tolong bawa dia." Laluna tersenyum tanpa beban. Bahkan senyumannya masih cerah, riang dan damai. Ia begitu aneh, sangat aneh menurut Namjoon saat itu. Ia tak pernah melihat sisi ini dari Laluna, sekali pun tidak. Yang ia tahu mengusir kucing liar yang ada di halaman rumahnya saja Laluna tak akan tega, tetapi bagaimana dengan penampakan yang saat ini langsung di hadapannya?
__ADS_1
Namjoon diam-diam bergidik ngeri dan menyusul Laluna yang masih berdiri di sebelah Olivia yang sudah penuh wajahnya dengan cairan merah segar yang pekat.
"Sampai kau mendapatkan hukuman yang setimpal, baru aku bisa pergi dengan tenang, Olivia." Bisiknya pelan dan keluar terlebih dahulu. Namjoon dengan geram melepas ikatan tangan dan kaki pada Olivia, sebenarnya ia juga ingin menghant4m rah4ng perempuan kurang 4jar itu sekali saja lantaran sudah berani menyakiti Jimin. Baginya, Jimin adalah seorang adik dan sahabat yang berperan penting untuk hidupnya. Untuk hidup Ot7.
Namun mengingat ada yang lebih seru menurutnya, ia mengurungkan niatnya. Ia akan mengh4ntam mental, kesehatan, juga kebebasan Olivia nanti di pengadilan. Akan ia buat wanita itu bertekuk lutut memohon pada Jimin untuk di maafkan. Menurutnya, menghant*m dengan logika lebih seru dan menyakitkan dari pada secara fisik.
Namun ia akui sesuatu disini, bahwa permainan fisik Laluna yang secara tidak langsung namun korban bisa tersentuh, itu lebih menyeramkan dari kerja seorang psikop@t. Secara tidak langsung pria itu mulai merasa ingin tahu lebih banyak mengenai latar belakang kehidupan Laluna.
Ia berharap dengan menjadi pengacara atas kasus yang di atas namakan keluarga Park, maka ia bisa mengungkap lebih banyak fakta mengenai Laluna, perempuan yang berhasil membuat seorang Min Yoongi pun mengakui cara kerjanya.
"Kasus mu sudah tercatat. Selanjutnya, kau akan memohon di hadapan hakim ketika mendengar hukuman mu di umumkan. Dan karena kau memilih diam saat bicara denganku, tak ada hukuman yang ringan untuk mu. Dan tak ada persidangan kedua ketiga untuk membela kejatahan mu. Di persidangan pertama, kau akan langsung menerima hukuman mu." Tutur Namjoon di sepanjang jalan menuju parkiran dan membawa wanita itu masuk ke mobil.
"Serahkan dia pada sersan, aku akan menyusul dua jam lagi." Suruh Namjoon kemudian menghampiri Laluna yang masih berdiri seraya bersandar di mobilnya.
"Mungkin waktunya tidak tepat. Tapi, aku ingin berterima kasih yang teramat sangat pada mu, pada mereka, pada kalian semua, Oppa. Terima kasih telah membantu banyak dalam urusan ini. Dan, aku juga ingin mengucapkan perpisahan." Laluna menatap Namjoon.
"Perpisahan?"
"Iya. Ternyata, aku harus kembali ke Indonesia dan akan menjalani operasi di sana. Tenang saja, aku akan kembali begitu operasi ku selesai." Tutur Laluna seolah meyakinkan Namjoon bahwa dia masih akan berumur panjang.
Karena yang Ot7 tahu bahwa Laluna hanya akan menjalani operasi mengenai pendarahannya, mereka tak terlalu khawatir akan itu. Tetapi, yang Namjoon ketahui sekarang benar-benar membuatnya bergetar. Sebenarnya awalnya ia pun tak tahu, tetapi tanpa sengaja dia mendengar perbincangan Jungkook dan Jimin saat mereka bicara di rumah sakit di hari Laluna dinyatakan keguguran.
Mendengar itu, Namjoon justru langsung menarik Laluna kedalam dekapannya selama beberapa saat. Dan ia juga menangis.
"Berhenti bicara, Luna. Aku tahu, secara tidak langsung kau ingin mengatakan padaku bahwa kau masih bisa menghirup udara setelah ini. Itu menyeramkan, Luna. Dari pada terdengar seperti kata-kata penyemangat, bagiku justru terdengar seperti kau mengatakan bahwa kami tak akan pernah melihat mu lagi."
"Hahaha! Itu tidak benar. Intinya, aku akan kembali ke Korea. Aku di Indonesia nanti mungkin hanya tinggal satu atau dua minggu. Setelah di operasi aku akan langsung pulang, pulang ke rumah ku. Ke rumah baru ku. Dan tinggal bersama suami-ku, selamanya." Ujarnya seraya tersenyum begitu cerah. Namun, entah sadar atau tidak Laluna menangis saat mengatakan itu.
.
.
. BERSAMBUNG
__ADS_1