Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 17 ( msih sama bab nya )


__ADS_3

▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ


.


.


Di sisi lain kisah, seorang wanita dengan pakaian kantor dan terlihat cantik. Dengan buru-buru wanita itu turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke sebuah pekarangan rumah yang ternyata gerbangnya tak di sandi.


"Lihat saja, kau! Sudah habis masa pengantin mu, bodoh. Tapi kenapa masih malas-malasan?" Gerutu wanita itu dan berjalan cepat menuju rumah besar nan megah itu.


"Ms. Park!"


Wanita itu berhenti menaiki dua anak tangga untuk mencapai pintu depan yang megah di hadapannya itu. Ia berhenti dan kembali berbalik untuk memastikan siapa yang baru saja berani menghentikan langkahnya.


"Ms. Park, apa yang akan anda lakukan?" Itu sekretaris Kang. Ia menghampiri Bosnya dan menarik tangan perempuan itu perlahan untuk menjauh dari sana. Jangan terkejut, sentuhan seperti itu sudah lumrah untuk keduanya. Mereka memang berstatus sekretaris dan bos. Namun, nyatanya mereka--


Lebih baik fokus pada kejadiannya saja saat ini dari pada status mereka. Benar, kan?


"Apa!" Chaeryong menghentakkan tangannya dengan keras dari genggaman pria itu.


"Ketuk dulu pintunya, jangan langsung masuk begitu saja. Bagaimana kalau Ny. Park sedang di bawah dan wajahnya terlihat oleh kita? Bukankah itu tidak sopan? Mari bertemu dan dengan sikap yang profesional." Sekretaris Kang kembali meraih tangan CEO-nya, Chaeryong.


"Tidak! Aku ingin mendobrak pintu itu! Lagi pula, apa kau lupa? Jimin selalu mengatakan kalau istrinya sedang tidak ada." Tutur Chaeryong terlihat geram dengan sikap Jimin yang sudah tidak setelaten dulu.


"Tapi, Ms. Park, ini akan mengganggu privasi orang lain. Apa lagi ada mobil-mobil di sana, kita tak tahu siapa dan apa yang ada di dalam saat ini. Bukankah lebih baik mengetuk dahulu untuk memberi aba-aba? Lagi pula sudah di sediakan bel disana." Sekretaris Kang kembali mencegat langkah wanita itu.


"Tidak, tidak! Aku tetap akan mendobraknya!" Ujarnya menggebu-gebu dan melepas genggaman Sekretaris Kang. Park Chaeryong lolos dari genggaman itu dan ia kembali mempercepat langkahnya menuju teras rumah Jimin yang terlihat sepi.


Dengan perasaan tak sabar ingin mendengar alasan apa yang akan di buat Jimin nantinya, Chaeryong meraih knop pintu dan baru akan melepas kekuatannya untuk membuka pintu besar itu, tiba-tiba sebuah tangan kekar meraih tangan dan pinggangnya secara bersamaan. Membuat dirinya tersentak dan tak sempat melawan.


Sekretaris Kang, lagi. Dengan entengnya pria itu mengangkat tubuh Chaeryong hanya dengan melingkarkan sebelah tangannya pada pinggang ramping wanita itu. kemudian ia membawanya keluar dari area pekarangan rumah Jimin.


Tertutupi tanaman dan pohon-pohon di area taman, barulah pria itu menghentikan aksinya. Chaeryong yang sejak tadi melawan, rambutnya terlihat sedikit berantakan, begitu juga dengan jas yang ia kenakan saat itu.


Begitu di turunkan, Chaeryong menarik nafas dalam-dalam hendak membentak pria itu lantaran sudah mengejutkan dirinya. Untunglah tak ada yang melihat kejadian itu. Sebelum sepenggal kata yang sudah di tenggorokannya meluncur keluar, ia sudah duluan tersentak lagi dengan Sekretarisnya itu.


"Rosé!!"


Suara itu sedikit menggema di taman yang sedang sepi. Chaeryong yang terkejut, hanya menatap pria di hadapannya itu dengan tatapan yang... entahlah. Sulit mengatakannya, tetapi Chaeryong terkejut.


Sekretaris Kang menelisik pipi wanita itu perlahan dengan tangan kekarnya. Chaeryong masih tak bergerak, tanpa membuang pandangannya tentu. Menyadari kesalahannya, Sekretaris Kang menarik Chaeryong untuk mendekat padanya dan ia peluk selama beberapa saat.


"Jangan panggil seperti itu, bagaimana kalau ada yang akan mendengar?" Chaeryong berujar. Rosè adalah panggilan informal untuk dirinya. Mereka yang sudah begitu dekat seperti sahabat, keluarga, atau pun pacar, akan memanggilnya dengan panggilan Rosè.

__ADS_1


"Biarkan saja. Dengarkan aku, kita datang sebagai tamu dan bersikaplah sewajarnya. Lagi pula untuk apa kau mengurusi urusan pribadi Presdir sejauh ini? Aku tak suka. Di luar, aku pacarmu, bukan sekretaris." Ujar Sekretaris Kang.


"Maaf, Aku hanya tak suka dengan cara dia membuang-buang waktu pertemuan ku dan selalu menunda-nunda. Maafkan aku, karena kita sudah di sini maukah kau masuk sebagai tamu? Aku dan istri Presdir Park adalah teman. Aku rasa tak apa-apa jika kita berkunjung bersama, bukan?" Chaeryong menarik tangan kekar itu setelah menerima aggukan dari sang empunya.


.


"Hyung, kami harus pamit. Paksa dia untuk menerima beberapa asupan makanan dan minum obat yang teratur, aku harap kita bisa memperjuangkan hidupnya di detik terakhir nanti." Ucap Jungkook memeluk Jimin sekilas.


Jimin hanya mengangguk dan mengantarkan mereka menuju pintu depan. Sebagai Tuan rumah, pria itu berjalan lebih dulu dan membukakan mereka pintu sebagai rasa hormat. Namun, lihat apa yang di dapati orang-orang itu?


"Chaeryong? ada apa?" Jimin tidak terkejut.


Bukannya menjawab pertanyaan Presdir itu, Chaeryong malah langsung menyapa Lalisa dan memeluk wanita itu sekilas. "Aku sangat merindukan mu!!" Tuturnya dan kembali memeluk sang Dokter dan di balasnya juga.


"Aku juga! Tapi, kenapa kalian kesini?"


Begitu pertanyaan tersebut di lontarkan, mata gesit Park Chaeryong langsung teralih pada Jimin dengan tatapan tajam seakan men*suk. Menyadari itu, Jimin membuang muka dan mengantar Jungkook sampai ke mobil di ikuti oleh Lalisa di belakang mereka.


"Apa kalian harus pulang sekarang? Aku tak yakin dengan Chaeryong, dia sangat ingin tahu dimana Laluna. Beberapa kali dia berkunjung setelah beberapa bulan lalu, dia hanya mencari Laluna. Aku tak tahu dia tahu istri ku dari mana." Jimin menunduk dan menatap kedua sejoli yang sudah di dalam mobil dan sudah siap untuk pergi.


"Iya, Hyung. Kami harus segera kembali ke rumah sakit. Lalisa juga sudah punya janji temu dengan beberapa pasien hari ini. Sampai nanti, Hyung." Tutur Jungkook dan Jimin pun mundur memberi mereka jalan.


Setelah kepergian kedua Dokter muda itu, Jimin kembali ke area rumah dimana Chaeryong dan Sekretaris Kang masih berdiam diri disana.


"Katakan, sekarang apa alasan mu selalu menunda-nunda pertemuan? Kau tahu ini penting, jika kita kehilangan Client satu ini, kita akan kehilangan kesempatan kita, Jimin." Chaeryong membuka suara.


"Aku tak tahu alasan apa yang bisa ku berikan. Tapi, mengenai Client itu aku sudah menemuinya lebih cepat satu hari darimu. Karena aku pikir hari ini aku tak bisa keluar, maka dari itu aku membuat janji temu dengannya kemarin. Maaf tak mengabari mu, tapi ini laporan yang sudah dia siapkan. Kau tak perlu menemuinya lagi." Jelas Jimin.


Mendengar itu, Chaeryong semakin di buat penasaran kenapa pria itu bisa keluar hanya di hari-hari tertentu. Di tambah lagi dengan hilangnya Laluna seolah lenyap tertelan bumi.


"Apa maksud mu kau tak bisa keluar hari ini?"


"Aku tak bisa mengatakannya, tapi sebentar lagi kau akan tahu dengan sendirinya." Timpal Jimin.


Mendengar jawaban yang memang memicu adrenaline, Chaeryong meraih minuman kaleng yang ada di atas meja dan langsung ia teguk dengan kasar. Panas sekali rasanya ketika mendengar jawaban Jimin. Seolah memang sengaja membuat teka-teki dengannya, dan itu membuatnya membutuhkan pendingin.


"Dan... sejak kapan kalian sudah berhubungan?"


Bruhk!!


Uhuk! Uhuk, huk...


Sekretaris Kang menatap Chaeryong karena menyemburkan air ke atas wajahnya. Ingin kesal, namun pertanyaan Presdir Park barusan lebih membuat keduanya terkejut. Seakan darah mereka tersirap dan badan mereka memanas selama beberapa saat. Bahkan mereka merasa saat ini wajah keduanya pasti memerah.

__ADS_1


"AHAHA!" Tawa Chaeryong canggung seraya mberikan sapu tangannya pada sekretaris Kang. Berusaha mengalihkan pembicaraan, "Hubungan ku dengan Sekretaris ku? Sudah lama ya, kau bekerja dengan ku?" Chaeryong berujar.


"Bukan, sejak kapan kalian pacaran?"


"Yaak!! Diamlah!" Itu Chaeryong. Dia mengalihkan pandangannya ke segela arah supaya tak bertemu dengan mata menyebalkan dari seorang Park Jimin.


"Jadi aku benar?" Jimin meneguk Cola kaleng di tangannya dan kembali menatap kedua orang itu. "Kang Joon-Hae?" Itu nama Sekretaris Chaeryong, sekaligus pacarnya.


"Y-ya?" Pria itu menoleh canggung dan menatap Jimin.


"Ah, sudahlah. Apa masih ada yang ingin kau katakan?" Jimin yang masih harus mengurus makan siang Laluna, ia harus segera mengambil kesimpulan atas kedatangan Chaeryong hari ini.


"Tidak. Ayo pergi." Ms. Park cantik itu berdiri dari duduknya dan menarik pergelangan Joon-Hae untuk segera pergi.


.


.


"Sayang, sepertinya... kita salah mengambil keputusan."


Jungkook yang sedang menyetir mengalihkan pandangannya sekilas pada perempuan yang ada di sampingnya itu. "Apa yang salah, Lalisa?" Tanya Jungkook.


"Begini, saat ini kandungan Laluna sudah menginjak bulan ketiga. Itu artinya dia masih harus bertahan selama enam bulan lagi untuk bisa melahirkan anaknya. Sedangkan menurut keterangannya saja, usianya... " Ucapannya terjeda. Ia tak ingin mengatakan itu, ia tak ingin menentukan batas umur seseorang layaknya Tuhan. Ia tak ingin.


Meskipun baru beberapa bulan mengenal perempuan kuat dan rapuh di saat yang bersamaan itu, Lalisa merasa begitu nyaman dan bahagia saat bersama Laluna. Dan itu membuatnya ingin, sangat ingin, memperjuangkan kehidupan wanita itu.


"Aku tahu, Lisa. Tapi kita harus merahasiakan ini sesuai keinginan Laluna. Jika dia memang sudah tak sanggup nanti, kita coba persalinannya dengan operasi." Ucap Jungkook dan membelai pucuk kepala Lalisa perlahan.


"Huuf... " Ia menghembuskan nafas panjangnya. "Sekalinya jatuh cinta, cinta itu membuatnya jatuh berkali-kali lipat. Sampai-sampai ia tak sanggup bangun lagi saat itu, benar kan?" Ucap Lalisa dan di angguki Jungkook seraya tersenyum kecil ke arahnya.


"Setelah berhasil bangun kembali, tiba-tiba ia di minta untuk mencintai lagi. Meskipun itu tidak mungkin, tapi dia sudah mencintai wanitanya sekarang. Namun, sekalinya mencoba lagi ia langsung gagal. Cintanya akan seperti cerita semula, dimana ia jatuh, dan dibuat jatuh berkali-kali lipat. Kasihan pria itu." Lanjut Lalisa.


Pria dan alur cinta yang ia maksud adalah, Jimin.


.


.


Bersambung...


.


Hari ini Cici ga ada kerjaan, jadi suka aja nulis^^

__ADS_1


__ADS_2