
▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ
Jimin yang baru masuk ke dalam kamar, ia langsung menghampiri Laluna yang masih berbaring di atas kasur. Pria itu mendekat dan ikut naik ke kasur, setelah berada di posisi yang pas ia menarik Laluna untuk tidur di dalam dekapannya.
"CEO Park. Ia berkunjung hanya untuk urusan bisnis." Jawab Jimin.
"Apakah dia Park Chaeryong?" Laluna bertanya.
Mendengar Laluna menyebutkan nama wanita itu dengan lengkap, Jimin terkejut. Bagaimana dia bisa tahu nama Chaeryong? Apa mereka saling kenal?
"Bagaimana kau bisa tahu nama lengkapnya? Apa kalian sudah saling kenal?" Tanya Jimin, ia sedikit menurunkan wajahnya untuk menatap wajah cantik istrinya yang sedang tengah tidur atas dada bidangnya.
"Um. Apa kau lupa? Dia yang mengantar mu pulang saat kau di jebak di acara beberapa bulan lalu." Jawab Laluna.
"Benarkah? Aku pikir Chaeryong langsung pergi setelah membawa ku masuk." Menanggapi hal itu, Laluna hanya tersenyum manis dan kembali mengatup kedua matanya.
Beginilah sekarang mereka. Beginilah sekarang keadaan pasangan itu. Jimin yang semakin menyayangi Laluna juga menyesali perbuatan buruknya selama ini. Dan Laluna yang semakin bergantinya hari, keadaannya semakin memburuk. Perutnya mulai terlihat sedikit membuncit, j4ninnya tumbuh dan berkembang dengan baik.
Mereka begitu menjaga pertumbuhan anak mereka, Jimin juga selalu memenuhi kebetuhan ibu hamil untuk Laluna. Dan Laluna yang selalu mengikuti perintah dari Dokter Lisa supaya kandungannya tetap aman dan tak sampai terjangkit kanker yang ada padanya saat itu.
Masih dalam posisi yang sama, tangan kiri Jimin terlihat mengelus-elus perut istrinya yang sudah sedikit berisi. Niatnya yang ingin tidur, malah tak jadi. Matanya menolak dengan keras untuk di tutup.
Baiklah, sekarang dia tak akan berusaha lagi untuk tidur. Lagi pula, dia ke kamar bukan hanya untuk tidur saja, tetapi untuk menghabiskan waktunya dengan Laluna. Meskipun hanya berbaring di sebelah wanita itu.
.
.
BRAAHK!!
"Si4lan kau Park Jimin!!"
Sebuah suara yang menggelegar di dalam ruangan yang minim cahaya dan luas. Ruangan itu kosong, hanya ada sebuah meja dan beberapa kursi saja yang di taruh di tengah-tengah ruangan gelap itu. Pencahayaannya pun hanya di area meja tersebut.
Di dalam kegelapa itu, terdengar jejak langkah kaki yang begitu berat. Seolah mengisyaratkan bahwa dia sedang kesal saat itu. Dari kegelapan itu lah keluar seorang gadis berambut hitam lurus, dengan setelan serba hitamnya yang membuatnya semakin tak terlihat di area gelap itu.
"Seharusnya sejak awal kau tak perlu percaya pada laki-laki brengs3k seperti dia." Seorang wanita dengan setelan glamor dan perhiasan yang menghiasi tubuhnya datang dari sebelah kiri gadis itu dan duduk di salah satu kursi yang ada di tengah ruangan.
__ADS_1
"Aku tak benar-benar mencintainya." Jawab gadis itu dan ikut duduk di hadapan perempuan berpakaian mewah disana. Dia, kekasih rasahasia Presdir Park, Olivia Kim.
"Kalau kau menyangkal, kenapa kau begitu marah ketika mendengar dia mulai mencintai istrinya? Bukankah kau masih bertahan dengan pria itu karena harta, bukan cinta?"
"Entahlah. Aku hanya merasa begitu marah ketika mendengar itu. Bahkan, sekarang perempuan kurang ajar itu sedang mengandung anaknya. Seharusnya, aku yang menjadi istrinya!!" Tersulut emosi, ia kembali menggebrak meja dengan sekuat tenaganya. Bahkan, rasa sakit pun tak lagi ia rasakan di kepalan tangannya.
"Beginilah kau menghabiskan hari-hari mu, dengan amarah dan kebencian. Sedangkan di sana, Presdir itu berduaan dengan istri tercintanya. Kenapa tak kau tentukan saja apa yang ingin kau lakukan? Bukankah kau masih punya anak buah mu?" Wanita itu berujar. Entah itu saran, atau hasutan.
Mendengar itu, Olivia terdiam. Pikirnya, ada benarnya juga kalau dia segera mengambil tindakan. Dia tak ingin orang yang di cintainya harus di bagi. Ia tak ingin harta Presdir kesayangannya itu di miliki wanita lain selain dirinya.
Selama ini dia sudah cukup lembut menyikapi sikap kedua orang itu. Namun, sekarang ia akan mengambil langkah tegas dan akan menyelesaikan masalah ini secara langsung.
Tanpa menjawab perkataan orang di depannya, Olivia merogoh saku jaket denims-nya dan mengambil ponsel. Beberapa saat kemudian, ia terlihat menghubungi seseorang di seberang sana. "Segera ke tempat perkumpulan kita, ada perintah untuk kalian." Setelah berucap demikian, ia langsung mengakhiri sambungannya.
Hening. Itulah suasana yang sekarang menyelimuti ruangan itu. Tak ada lagi gebrakan meja dari Olivia, juga umpatan dan teriakan amarahnya untuk Presdir Park. Sekarang suasanya terlihat terbalik 180 derajat. Ia duduk, tenang, dan diam. Hanya senyuman anehnya yang terlihat. Senyuman yang berisikan sesuatu yang jahat di dalamnya.
.
.
.
"Hari ini aku akan lembur karena kemarin aku menunda beberapa pekerjaan ku di kantor. Tak apa ku tinggal, sayang?" Ia duduk di sisi ranjang di sebelah Laluna yang masih berbaring. Jimin terlihat sudah rapi dan siap berangkat ke kantor untuk memulai profesinya sebagai presdir.
Melihat Jimin begitu bekerja keras untuk dirinya, Laluna menatap pria di hadapannya itu selama beberapa saat. Hatinya merasa tersayat ketika pandangannya menelisik ke seluruh sudut wajah sempurna pria itu. Terkadang, ia merasa telah memberi beban pada pria yang berhak untuk bahagia itu.
Tanpa babibu, Laluna langsung menarik tubuh Jimim untuk dipeluknya. Memeluk pria itu dengan erat, sangat erat. Seraya berlinang air mata wanita itu berujar, "maafkan aku... " Lirihnya.
Mendengar itu, Jimin menarik dirinya dan ia langsung menangkup pipi istrinya dengan kedua tangan. "Apa maksudmu, sayang? Ini sudah kewajiban ku sebagai suami mu. Kau tak perlu merasa bersalah untuk itu, aku juga ingin menebus semua kesalahan ku padamu." Tutur Jimin dan mencium pucuk kepala Laluna sekilas.
"Ini bubur yang aku buatkan untuk sarapan mu, juga susunya. Jangan berpikir yang tidak-tidak, dan istirahat saja di sini. Nanti akan ada suster yang datang untuk merawat mu." Imbuh Jimin.
Setelah berpamitan dengan sang istri, Jimin mengambil tas kantornya dan kemudian keluar dari kamar untuk segera berangkat ke kantor. Saat langkahnya berjalan menuruni tangga, teleponnya bergetar pertanda sebuah panggilan masuk. Ia merogoh saku jasnya dan mengecek siapa yang menghubunginya.
"Alexander R."
Nama yang ada di layar ponselnya saat itu. Dari namanya, tentu sangat familier orang itu, bukan? Itu karena dia adalah anak bungsu dari keluarga Rawless, dengan kata lain dia adalah adiknya Laluna.
__ADS_1
"Selamat pagi." Jimin menyapa. Seraya mengangkat telepon, ia mulai menyetir mobilnya keluar dari garasi dan meluncur mengikuti arah si hitam bergegas menuju ke tempat tujuannya.
"Pagi, Hyungnim." Sahut di seberang sana.
"Ada apa, Alexand? Aku sedang menyetir sekarang." Tanya Jimin terus terang.
"Ah? Kalau begitu aku ke intinya saja. Begini, aku sudah mendapat kabar mengenai kesehatan kakak ku. Jadi, aku ingin menjemputnya besok dan aku akan membawanya ke AS. Karena kesehatannya itu, tentu dia membutuhkan perawatan yang lebih intensif."
Refleks Jimin menghentikan mobilnya secara mendadak. Untunglah saat itu ia mengambil jalan pintas yang masih sepi, jika tidak maka pasti sudah celaka pria itu.
"Maaf, sepertinya tidak bisa. Aku bisa merawatnya, Alexand. Dia istriku dan sudah menjadi tanggung jawab bagi ku untuk terus bersama dengannya." Timpal Jimin menolak permintaan adik iparnya dengan lembut.
"Suami? Sejak kapan Hyungnim menganggap kakakku sebagai istri Hyung? Begini, yang pertama aku tak ingin mendengar bualan mu, Hyung. Yang kedua, aku ingin menyelamatkan kakak ku yang jelas-jelas menjadi umpan sekarang. Dan yang ketiga, aku tahu kau tak mencintainya. Jadi, biarkan aku membawanya pergi demi kesembuhannya juga."
"Dan sekarang dengarkan aku. Pertama, aku tak membual. Kedua, aku mencintainya. Ketiga, kalau kau berani membawanya secara paksa, aku tak akan segan-segan memenjarakanmu dengan kasus penculikan. Kalau kau merindukannya datanglah dan jenguk dia. Entah orang tua mu tak tahu mengenai keadaannya dan kehamilannya, atau mereka memang sudah tak peduli?" Tutur Jimin.
"Tunggu, ap-apa itu tadi? Ha--hamil?! benarkah yang aku dengar itu hyungnim?!" Laki-laki itu sangat bersemangat.
"Hm. Aku harus ke kantor sekarang, sampai nanti."
"Baik! Aku akan terbang ke sana nanti malam. Aku tak sabar!!" Alexand benar-benar antusias mendengar kehamilan Laluna. Namun, dia belum mendengar bagaimana keadaan Laluna saat ini. Setelah mengakhiri panggilannya, Jimin kembali menyetir dan mempercepat lajunya.
.
.
.
𝗔𝗧𝗧𝗘𝗡𝗧𝗜𝗢𝗡!
⟶ 𝖡𝗎𝖺𝗍 𝗄𝖺𝗅𝗂𝖺𝗇 𝗒𝖺𝗇𝗀 𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗉𝖺 𝗄𝖺𝗅𝗂 𝗎𝖽𝖺𝗁 𝖩𝗂𝗆𝗂𝗇 𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁 𝖼𝗂𝗇𝗍𝖺, 𝗃𝖺𝗐𝖺𝖻𝖺𝗇𝗇𝗒𝖺 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝖽𝖺 𝖽𝗂 eps 2 𝗒𝖺 𝗌𝖺𝗒𝗇𝗀^^
𝖺𝖽𝖺 𝖽𝗂 𝖻𝖺𝗀𝗂𝖺𝗇: 𝖯𝖮𝖵 𝖩𝖨𝖬𝖨𝖭 𝖽𝗂 𝗉𝖺𝗋𝖺𝗀𝗋𝖺𝖿 𝗉𝖺𝗅𝗂𝗇𝗀 𝖻𝖺𝗐𝖺𝗁. 𝖣𝗂𝗌𝖺𝗇𝖺 𝗄𝖺𝗅𝗂𝖺𝗇 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗍𝖺𝗁𝗎 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗉𝖺 𝗄𝖺𝗅𝗂 𝖩𝗂𝗆𝗂𝗇 𝗃𝖺𝗍𝗎𝗁 𝖼𝗂𝗇𝗍𝖺 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗍𝗋𝖺𝗎𝗆𝖺 𝖺𝗉𝖺 𝗒𝖺𝗇𝗀 𝖽𝗂 𝗆𝗂𝗅𝗂𝗄𝗂 𝖩𝗂𝗆𝗂𝗇.
𝗔𝗕𝗢𝗨𝗧 𝗠𝗘:)
bersambung
__ADS_1