Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 36 kecelakaan


__ADS_3

.


.


.


Akhirnya, setelah melewati berbagai halangan dan tes dari pihak bandara, pukul tujuh pagi tadi mereka berhasil lepas landas. Seperti yang sudah di katakan Dokter Joe dan Jungkook, pagi ini juga mereka membawa Laluna kembali ke Korea. Meskipun mereka yakin bahwa Jimin belum membaca Email yang mereka kirimkan, namun pengembalian Laluna tetap akan di proses pihak rumah sakit.


Karena pesawat khusus telah disediakan oleh rumah sakit, hanya ada Lisa dan Jungkook di kursi penumpang. Sedangkan Laluna ditempatkan dimana tempat yang seharusnya.


Karena pesawat khusus, di ekor pesawat sudah disediakan sebuah ruangan yang dingin bahkan terkesan seperti kulkas. Ternyata, bukan Laluna seorang yang ada di ruangan dingin yang bahkan para pramugara pun harus memakai masker khusus oksigen untuk masuk ke ruangan aneh itu.


Didalam ruangan itu ternyata masih ada begitu banyak peti yang terbuat dari berbagai macam materi dan bahan yang berfariasi. Ada yang terlihat begitu indah dan mewah, dan ada yang biasa saja sampai ada yang terkesan terlalu biasa.


Begitu pula dengan milik Laluna Charol Rawless.


Karena penerbangannya yang buru-buru, mereka tak sempat memilih peti yang mewah dan mahal sebagai tempat terakhirnya beristirahat dengan tenang. Pihak rumah sakit hanya memakai apa yang masih tersisa dan langsung memproses jenazahnya untuk dipulangkan.


Begitu tiba-tiba, seakan sekejap mata. Dalam satu kedipan ia langsung lenyap bagaikan tertelan bumi. Rasanya baru kemarin, baru kemarin ia menginjak tanah Korea.


Ya...


Setidaknya, tidak ada lagi rasa sakit. Tak ada lagi dendam. Tak ada lagi derita. Tak ada lagi rahasia. Perempuan itu lenyap bersama dengan rahasia yang selama ini belum terkuak.


Hidupnya seakan-akan hanya untuk membuat orang lain bahagia. Hidupnya seperti sayat4n samurai, hanya sekilas namun meninggalkan bekas.


.


Di bagian kursi penumpang yang bertempat di tengah badan pesawat, ada Lalisa dan Jungkook yang masih tak henti-hentinya bersedih dan menangisi kepergian teman mereka yang terkesan tiba-tiba, meskipun mereka sudah menyangkanya sejak awal. Namun tetap saja ini belum bisa diterima dengan ikhlas oleh keduanya.


"Aku tak menyangka ini akan terjadi hari ini. Aku tahu ini akan terjadi, tapi aku bahkan tak pernah membayangkan bahwa ini benar-benar terjadi hari ini." Lalisa merebahkan dirinya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Jungkook.


Kursi penumpang pesawat tersebut berbeda dengan pesawat umumnya, namun tentu saja harganya pun lebih mahal.


"Ini semua sudah takdir. Tak ada yang bisa menyangkal takdir, kita hanya bisa berdoa dan berserah pada Tuhan." Sahut Jungkook mengusap pelan bahu kekasihnya supaya tidak terisak lagi.


"Bagaimana, ya? Ekspresi macam apa yang akan kita lihat dari wajah Jimin nanti?"


"Semoga dia sudah membaca Email yang kita kirimkan, dan semoga disana juga ada seseorang yang akan menghalanginya untuk mengebut di jalan." Tutur Jungkook.


Disela-sela kediaman mereka yang berjeda sekitar beberapa menit setelah mereka membicarakan Jimin dan istrinya, Jungkook kembali mendengar sebuah isakan keluar dari kekasihnya.


Lalisa kembali menangis dan sekarang sudah menyembunyikan wajahnya di antara dada dan pergelangan kekasihnya.

__ADS_1


"Apa Tuhan itu ada?" Tanya Lalisa yang hampir tak bisa didengar Jungkook.


Sayup-sayup terdengar pertanyaan demikian, Jungkook duduk dari tidurnya dan mengangkat bahu Lalisa untuk menatap dirinya. Mata sembab, hidung merah, Lalisa kelihatan berantakan.


Tak tega melihat keterpurukan Lalisa yang benar-benar merasa kehilangan, ia langsung mendekap tubuh kekasihnya dengan erat selama beberapa saat.


Sebenarnya saat itu Jungkook juga menangis, namun ia putuskan untuk menyembunyikan tangisan itu sampai dia sampai ke rumah nanti. Ia benar-benar tak ingin memperburuk perasaan Lalisa dengan ditambah tangisan darinya dan menggerutu akan takdir yang tak berjalan mulus untuk Hyung-nya, Jimin.


Akan ia menyimpan tangisan itu untuk ia keluarkan nanti ketika dia sendiri.


.


.


.


"JIMIN!!"


Sebuah suara yang keras yang bisa ia dengar dari sebuah mobil yang sejak tadi mengejarnya. Begitu nekat sampai-sampai seorang pria berbadan tegap mengeluarkan setengah tubuhnya dari mobil dan berusaha meraih pintu mobilnya.


Bukankah itu terlalu berbahaya untuk jalanan yang sedang ramai seperti saat ini?


Tak hilang akal, Jimin memutari beberapa kali gedung yang sama dan barulah kemudian ia menancap gas keluar dari area itu.


Sejak tadi, ponselnya tak henti-henti mendapat panggilan masuk dari sekretarisnya dan Namjoon. Namun ia acuhkan semuanya dan mempercepat lajunya berharap segera sampai ke bandara.


Raungan yang bercampur dengan tangisan dan kekesalan, pria itu terlihat begitu menyedihkan. Tangisnya semakin menjadi-jadi di kala sebuah notifikasi asal masuk ke ponselnya dan menetap di Lockscreen ponselnya yang memperlihatkan latar belakang dari ponselnya adalah foto sang istri.


"Ini tidak lucu, Luna. Kau tak boleh bercanda dengan membawa-bawa kematian." Gerutu Jimin di sepanjang jalan menuju bandara.


Tak bisa di jelaskan dengan hanya sekedar kata-kata, keadaan dan apa yang dirasakannya benar-benar sulit terjelaskan. Selama hampir setahun ini, ia hanya bisa merasakan kebersamaan bersama dengan istrinya selama beberapa bulan sebelum kemudian Olivia hadir dengan rencana busuknya.


Ditambah lagi kehilangan putra pertamanya, mendiang Park Yoo-Jon. Kemudian kabar Laluna tak bisa lagi memberinya keturunan, dan lalu keputusan sebelah pihak yang mengatakan bahwa Laluna harus di pulangkan ke Indonesia.


Dan yang terakhir, kabar yang paling menyakitkan dari semua rasa sakit yang pernah ia rasakan. Kabar yang membuatnya seketika ingin menentang takdir yang sudah di tuliskan untuknya.


"Jika Email itu terkirim ketika mereka akan berangkat, itu berarti mereka berangkat jam setengah delapan. Dan katanya mereka menggunakan pesawat privasi dari rumah sakit. Itu berarti, seharusnya mereka sudah di Korea sekarang!." Gumam Jimin seraya menghapus jejak air matanya meskipun itu percuma.


"Aku tak ingin menggerutu dan membenci takdir ku sendiri, tapi Tuhan... percayalah padaku, percayalah terhadap sumpah ku. Aku serius dengan perkataan ku, Tuhan. Aku akan mengikutinya kemanapun ia pergi. Aku ingin selalu bersama dengannya, dia rumah ku, jangan pisahkan kami. Kumohon, Tuhan."


Terlalu fokus memanjatkan doa, Jimin menambrak sebuah burung yang terbang terlalu rendah dan melintas di hadapannya secara tiba-tiba. Untung ia masih bisa menghindari burung itu, namun ternyata tidak bernasib baik untuk sebuah taxi di depannya.


Setelah menabrak tong sampah karena juga berusaha menghindari tabrakan dengan burung tadi, taxi itu kembali ke jalanan secara tiba-tiba.

__ADS_1


Jimin yang gugup antara menghindari tabrakan dengan taxi atau akan menyenggol pengendara motor besar yang juga ada di sebelahnya, ia pun tak memilih salah satu diantara kedua opsi yang ia punya.


Dengan pasrah, dibiarkan olehnya kemana arah gravitasi akan menarik atau menghempaskan dirinya.


Pikirnya, mungkin hanya akan menimbulkan gesekan kecil dikedua bagian mobilnya. Namun jauh dari sangkaan pria itu. Sangat jauh sampai-sampai ia pun kini hanya bisa menutup kedua mata dengan air mata yang masih belum kering kini kembali mengalir membasahi pipi.


Para pejalan kaki mulai berlarian menghindar dari sana. Dan ban mobil Kio rio yang dikendarai pria itu pun naik ke bagian bagasi mobil taxi yang berhenti secara tiba-tiba tadi.


Akibat dari kecelakaan yang awalnya terkesan kecil itu, mobil hitam milik sang presdir terhempas setinggi setengah tiang dengan Jimin didalamnya yang masih menahan berbagai keadaan yang sedang menimpa dirinya.


Mobil itu terhempas jauh beberapa meter dan bergesekan dengan aspal sampai kaca-kacanya pecah. Setengah sadar, Park Jimin, ia masih bisa merasakan serpihan dari kaca mobil yang mengenai seluruh bagian kulitnya yang terbuka. Pasrah pada Tuhan, ia menutup kedua matanya dan...


"La... lu... na... "


Hanya nama itu yang tersebut di akhir kesadarannya. Nama seorang wanita yang kini juga hanya bersisa sebuah nama yang bisa dikenang. Nama yang amat berarti di hidupnya.


Karena gesekan yang terjadi begitu keras dan cepat, di beberapa bagian bahkan menimbulkan percikan api yang bersifat sementara. Orang-orang yang ada disana tak ada yang berani mendekat, untuk melihat saja mereka enggan.


Namun, karena jaraknya sudah dekat dengan rumah sakit Samsung Medical Center dan Bandara Internasional inchoen, polisi yang sedang berpatroli langsung menghubungi pihak rumah sakit.


Dapat dilihat dengan jelas ke dalam mobil yang sudah terbalik itu, terlihat dengan jelas bagaimana keadaan pria itu di dalam mobil. Suasana masih sedang ramai-ramainya di sekitar lokasi kejadian kecelakaan yang hebat itu.


Saat yang lain tidak berani untuk mendekat, seorang wanita dengan seragam kuning yang bertugas membersihkan pinggiran jalan justru berjalan menghampiri mobil yang sudah remuk bagaikan kerupuk, tak berwujud.


Tanpa ragu, ia berjongkok dan berusaha meraih tangan korban seraya menariknya keluar. Namun, belum juga tubuh itu berhasil ia gapai, perempuan itu sudah terduduk dengan wajah yang mengatakan bahwa ia amat terkejut.


"Di-dia... INI PRESDIR PARK!!" Pekik wanita itu dan berdiri seraya mundur beberapa langkah kebelakang.


Siapa yang tidak mengenal Park Jimin di Korea


selatan ini?


Mendengar nama CEO itu tersebut, sontak membuat orang-orang yang ada disana ikut terkejut dan menghampiri lokasi kecelakaan. Namun untunglah mereka masih bisa menjaga privasi, tak ada yang berani mengambil gambar atau merekam moment naa's tersebut.


Begitu mengetahui bahwa itu adalah sang Presdir, bermacam-macam ekspresi tergambar dari wajah mereka. Ada yang mulai menangis, ada yang masih terkejut, ada yang memilih menjauh lantaran tak sanggup melihat wajah tampan disana yang sudah dipenuhi cairan merah kental.


Ketika suasana menghening, suara ambulance dari arah kiri membuyarkan lamunan mereka.


.


(VIDIO DI BAWAH ILUSTRASI KECELAKAAN HEBAT PRESDIR PARK)


.

__ADS_1


Jangan buru-buru menebak...


Jimin masih belum di konfirmasi hidup atau matinya^^


__ADS_2