
.
.
Hari ke hari dan minggu ke minggu berlalu. Kediaman keluarga Park masih dingin sedingin es di kutub. Begitu lama, semenjak dua minggu lalu terakhir kali mereka saling bertukar argumen. Sampai saat ini, tak ada yang akan membuka pembicaraan terlebih dahulu.
Dan semenjak dua minggu lalu pula, Laluna seakan mandi air mata. Ia tak henti-hentinya menangis semenjak sore itu. Dimana Jimin pulang dengan wajah yang pucat, tangan yang terluka, dan kaki yang terlihat pincang meskipun ia sembunyikan. Semenjak sore itu, ia tak mampu menahan tangisnya di setiap kali ia memandang suaminya atau berpas-pasan dengan Jimin di lantai satu.
Dan mereka juga sudah tidur terpisah semenjak Laluna menginterogasi Jimin dan akhirnya tertinggal di lantai satu. Sampai saat ini, ia masih bertahan di lantai satu. Juga obatnya yang di bawakan Dokter Lisa setiap satu minggu sekali, kini bukan lagi Jimin yang membawakan obat itu padanya. Tetapi dirinya langsung yang keluar untuk mengambilnya.
Namun, semenjak janinnya di klaim berbeda oleh kedua Dokter spesialis itu, Jungkook dan Lalisa juga sudah berhenti mengunjunginya dan memeriksa perkembangan kandungannya.
Semenjak saat itu, wanita itu seakan hidup seorang diri dan memikul beban sendiri. Meski di klaim bahwa kandungannya sehat-sehat saja bahkan membawa kesembuhan untuk dirinya, tak jarang ia merasa mulas dan bahkan sampai sakit kepala berlebih.
.
Setelah meminum obatnya, Laluna memutuskan untuk menonton di ruang keluarga lantaran ia mulai merasa bosan. Hari-harinya tak ada yang berkesan.
Chaeryong yang biasa mengiriminya pesan, kini sudah tidak lagi. Alexand si adik kesayangannya yang biasa meminta waktu pada Laluna supaya ia bersedia mengobrol lama dengannya, kini pun sudah tidak lagi. Lalisa yang berkunjung meskipun sekedar untuk menanyakan kabarnya, kini juga sudah tidak.
Orang tuanya?
Sudah lama semenjak mendapat kabar bahwa Laluna kembali jatuh sakit, mereka menghilang bagai di telan bumi. Begitu juga dengan kedua mertuanya yang tak pernah lagi berkunjung semenjak terakhir kali mendapat kabar bahwa dirinya hamil.
Baru akan merebahkan dirinya di atas sofa panjang di sana, sebuah alarm rumah berbunyi pertanda seseorang di luar sana meminta persetujuan dari tuan rumah untuk masuk. Dengan susah payah seraya memegangi pinggangnya yang terasa nyeri, Laluna kembali beranjak dari sofa dan berjalan keluar rumah untuk melihat siapa yang datang.
"Jimin?" Laluna menggumam dan kemudian berjalan perlahan melewati teras rumah, halaman, kolam, dan kemudian membuka sandi pagarnya. Sebenarnya, jika ia membukanya secara otomatis dari dalam rumah tanpa harus keluar, bisa saja. Tapi dia hanya ingin memastikan kalau itu suaminya atau bukan.
"AKH!!" Pekik Laluna dengan wajah terkejut dan mundur beberapa langkah. Air matanya kembali mengalir deras seperti biasanya dan ia pun terjongkok secara perlahan.
__ADS_1
Dari dalam mobil, pria itu keluar dengan bibir yang terluka. Tas kantornya terlihat sobek di beberapa bagian. Pakaiannya kotor dan berdebu, dan yang lebih parah dan mungkin sebab Laluna terkejut adalah dari pucuk kepala pria itu, cairan merah pekat mengalir dan terus menetes membasahi kemeja putihnya.
Dengan langkah pelan dan tenang, Jimin berjalan menghampiri Laluna yang masih terjongkok seraya menangisi suaminya. Perlahan, ia mengulurkan tangan pada istri-nya dengan sebuah senyuman kecil. Melihat itu, Laluna justru langsung berhambur ke dalam pelukan Jimin.
.
"Apa yang kau sembunyikan?!" Sebuah suara yang tegas dan lantang menggema di sebuah ruangan yang menjadi pusat utama rumah itu.
"Jangan paksa aku, Luna!" Pria itu mengalihkan pandangannya dan pergi begitu saja. Namun, belum berapa langkah ia menjauh dari sana Laluna meraih pergelangan Jimin dan menariknya. Sehingga membuat Jimin berbalik dan terhayun.
"Setelah melihat semua yang kau alami selama ini, apa aku hanya akan diam saja sampai kau pulang dengan pis4u di perutmu?! Apa yang membuat mu menyembunyikan hal itu dari ku? Dari kami semua, dari teman-teman mu!"
"Menyingkir!" Jimin sedikit mendorong bahu Laluna dan kembali melanjutkan langkahnya. Namun, seperti yang sudah ia putuskan, Laluna tak akan diam lagi.
Masanya untuk diam cukup sudah!
"Tidak!" Ia kembali menghalangi jalan Jimin. "Apa ini semua karena ku? Katakan, Jimin! Katakan sesuatu! Apa semua luka ini karena ku? Jika memang ini sebabnya aku, jawab iya dan aku akan pergi dari hidupmu. Jawab, Jimin! JAWAB!!" Pekik Laluna yang frustasi.
Takdir bukan manusia yang menentukan. Manusia hanya menjalani garis kehidupan yang sudah di tentukan. Mungkin, inilah maksud dari apa yang di katakan wanita itu dulu. Bahwa, dia akan mengorbankan apapun hanya untuk sebuah jawaban dari suaminya.
Mungkin, inilah akhir dari rasa penasarannya. Inilah hal yang akan ia korbankan demi sebuah jawaban.
Terlanjur terpeleset, Laluna tak mampu menahan dorongan gravitasi atasnya. Yang terjadi, maka terjadilah.
Brugh! Dhuk!
"TIDAK!!"
D4rah segar mengalir secara perlahan, semakin lama semakin deras sampai membasahi bawahan yang di pakainya. Selangk*ngannya memerah, pertanda dari sana asalnya d*rah itu.
__ADS_1
Inilah ujuang dari pertikaian mereka. Ujung yang mengerikan dan tak pernah terbayangkan akan begini jadinya. Inilah ujung dari ke-diam-an-nya seorang Park Jimin.
"Tidak, tidak, tidak! Luna! Maafkan aku, sayang!!" Jimin memposisikan tangannya untuk menggendong istri-nya yang sudah memucat.
"Aku mohon! Bertahanlah!" Tuturnya sepanjang perjalanannya membawa menuju rumah sakit.
Saat di perjalanan, Laluna masih sadar dan masih menyadari akan apa yang baru saja terjadi. Namun, yang sekarang terpikir olehnya adalah, "Hancur sudah impian ku untuk melihatnya. Demi mempertahankan keadilan pada suami-ku, aku telah meng0rbankan anak-ku. Hancur sudah... "
Rasa sakit yang ia rasakan saat itu seakan tak mempan untuk membuatnya berteriak dan menangis. Seakan kebal terhadap semua kesakitan, ia masih mampu tersenyum seraya mengelus perutnya yang sebentar lagi akan kosong.
Di sepanjang perlajanan menuju rumah sakit, wanita itu tak mengeluarkan sepatah kata pun. Tak terdengar satu isakan tangis pun dari mulutnya, ia sangat kuat. Seraya menahan tangis, ia berpaling menatap suami-nya yang saat itu terlihat sangat-sangat khawatir bahkan sudah menangis.
Perlahan, ia meraih tangan kiri Jimin dan kemudian di genggamnya dengan erat. Jimin yang merasakan akan sentuhan yang lembut itu, ia pun ikut berpaling dan membalas genggaman istri-nya seraya memohon maaf sebesar-besarnya. Tangisnya semakin menjadi di kala melihat Laluna menanggapi permohonan maafnya dengan senyuman yang begitu alami tanpa paksaan.
Ia hanya merasa bahwa, sebenarnya Laluna lah yang kuat di sana. Di saat-saat seperti ini, ia masih mampu melebarkan senyumannya yang manis. Ia bisa memaafkannya begitu saja, bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, anggukannya begitu meyakinkan. Laluna seorang wanita yang tulus. Tulus dan ikhlas atas semuanya.
Jimin sadar. Ternyata, meskipun sudah mencintai wanita itu sepenuh hati, ia tetap tak bisa mengerti. Ia tetap tidak mampu untuk mengerti Laluna. Dan ternyata dia juga belum sepenuhnya mengenal wanita itu selama ini. Apa--sebuta itu kah hatinya terhadap seorang wanita?
.
.
.Bersambung...
.
maaf baru upload soalnya gw lg pulang kampung jdi gk waktu buat next lg
insya Allah kita upload lg
__ADS_1
Seperti janji Cici pagi tadi^^
Alhamdulillah semua tuh kerjaan menybalkn udh siap dan bisa nyantai;)