Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 3 ( Indonesia atau Korea )


__ADS_3

▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ


.


INDONESIA ATAU KOREA?!


"Kalau saja benar pelangi datangnya setelah hujan, dimana kah pelangi ku? Kenapa yang datang justru petir? Bukankah hujan ku sudah reda? Mengapa hati ku masih tak rela?"


(Jimin Quotes)


.


"Begitu cepat? Apa-apaan itu, Oemma! Aku yang akan menikah kenapa kalian yang tidak bisa sabar?" Jimin tak habis pikir dengan kedua orangtuanya. Bisa-bisanya mereka ingin menikahkan dirinya dengan gadis yang menurutnya asing, secepat ini. Bahkan, dengan keadaan wanita itu yang masih tidak sehat lantaran kejadian tempo hari.


"Harus! Kau harus Jimin-shi. Kita tak akan kembali ke Korea sebelum kau melangsungkan pernikahanmu."


"Maksud oemma?"


"Apa kau melupakan janjimu? Jika untuk kami, janji itu kalau kau langgar maka tak akan ada apanya. Karena sudah terlalu sering kau berjanji dan kemudian kau sendiri yang melanggarnya. Tetapi, jika untuk awak media disana, tentu mereka akan hanya berpikir kalau kau memang lelaki pemain perempuan."


"Tapi kalian lihat, kan? Bagaimana keadaan wanita itu sekarang! Tidak mungkin dia akan menikah dan duduk di atas kursi roda. Itu memalukan!"


"Tetap saja! Langsungkan pernikahan itu pada tanggal yang sudah di tetapkan!" Tuan Park bersuara.


"ARGH!! Itu tidak adil!" Jimin pergi. Ia meraih kunci mobilnya dan mulai melaju mengikuti arah si hitam menuntun. Tak ada tujuan dan keinginan dirinya untuk menikah di indonesia, dengan wanita indonesia juga. Keinginannya mengunjungi negera ini hanyalah satu, yaitu liburan. Bukankah di Indonesia ada tempat bernama Bali? Kesanalah tujuannya.


Dan mengenai awak media Korea Selatan, itu bukanlah janji tapi hanya prediksi. Ya, prediksi dirinya dan mereka. Sebelum terbang ke Jakarta, Jimin sempat berbicara dengan beberapa wartawan di Korsel dan mereka memprediksi sekaligus mengharapkan bahwa Jimin akan kembali dengan seorang istri. Mereka bahkan berani bertaruh atas itu.


Terkadang Jimin terpikir, kenapa mereka begitu mengikut campur tangan ke dalam kehidupannya. Padahal dia bukan seorang idol atau apapun itu yang di kenal seluruh pelosok dunia. Terkadang ia juga merasa kualahan dengan kehidupannya yang aturannya di buat oleh orang lain.


Pria tampan itu menghentikan laju mobilnya dan menepi. Entah dimana itu, dia pun tak tahu. Yang sekarang dia ingin hanya menjauh dari mereka yang mencoba menambah aturan di dalam hidupnya. Menjauh dari mereka yang berpikir buruk tentang dirinya dan hidupnya. Menjauh dari mereka yang mencoba menghancurkan segala mimpinya.


Perlahan, air matanya jatuh dan meninggalkan bekas pada kain celananya lantaran dirinya yang tengah menunduk dengan setir sebagai alas kepalanya. Mungkin kalian akan berpikir bahwa Park Jimin adalah seorang pria yang cengeng juga kenakak-kanakan. Namun tidak ketika kalian mengetahui bagaimana perasaan lelaki itu sebenarnya.


"ARGH!!" Teriaknya lagi seraya memukul setir dengan kekesalannya yang ia luapkan disana. Meskipun tak sepenuhnya terurai, tetapi ia akan merasa lebih baik jika sudah menangis juga berusaha sedikit berdamai dengan takdirnya. Menangis bukan berarti lemah, tetapi setiap orang memiliki titik terlemahnya masing-masing.


.


"Tapi kalian tidak berhak atas semua keputusan yang harus di ambil Park Jimin, Ma, Pa. Aku tahu apa yang dia inginkan Jimin sekarang, dan kalian tidak perlu berdrama dihadapan keluarga Park supaya mereka menerimaku. Karena pada dasarnya aku juga tak ingin menikah dengan CEO arogan seperti dia." Laluna mencoba membujuk kedua orang tuanya dan kedua orang tua Jimin bersamaan, kebetulan sekali saat ini mereka tengah mengunjungi dirinya.


"Apa yang kau katakan, anak ku?" Ibunda Jimin meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat, "Ini bukan drama, nak. Ini adalah masa depan kalian berdua, anak-anak kami. Tidak mungkin kami akan asal berperan dan tentu kami telah berpikir panjang untuk rencana ini. Kami tahu, ini sangat tiba-tiba untukmu. Tetapi terimalah permohonan kami, jadilah menantu tunggal di keluarga kami, dan jadilah ibu dari penerus bisnis besar yang sekarang harus di tanggung Jimin sendirian." Ibunda Jimin bertutur panjang dengan mata yang terlihat berkaca-kaca.


Tak tahu harus menanggapinya bagaimana, Laluna hanya bisa menunduk dan membuang mukanya dari mereka. Karena posisinya saat ini sedang tak bisa bergerak, dia hanya bisa tetap disini dan mendengar semua bujukan mereka.


"Baiklah aku ak--" Ucapannya terjeda di kala ponselnya bergetar di atas nakas. Jimin, adalah nama yang tertulis di lockscreen ponselnya. Sekarang yang harus di lakukannya hanyalah mengangkat dan mungkin akan mendengar suara pria arogan itu dengan nada yang tinggi. Mereka semua diam dan membiarkan Laluna berbicara, meskipun saat itu mereka tidak tahu bahwa yang menelepon Laluna adalah Jimin.


"Hal--" Tak selesai sapaannya terucap. Benar saja seperti dugaannya bahwa dia pasti akan mendapat bualan pria itu. Tapi... sepertinya ada yang salah saat ini, tapi apa?


"Kenapa harus aku yang menjadi permintaan terakhir mu?" Tutur Jimin di seberang terdengar begitu lembut dan pelan, membuat Laluna menyerngit tak mengerti mendengar pertanyaan itu.

__ADS_1


"Apa? Permintaan... Apa tadi?" Tanya ia yang tak mengerti.


"Jika terus begini aku bisa saja tak punya hati nurani nantinya. Apa kau ingin suami mu orang jahat? Jika di sangkut pautkan dari hati ke hati, aku tak akan tega harus mengatakan ini. Tapi ini ku sangkut pautkan dengan perasaan ke perasaan. Maaf, tapi... Jika ingin mati kenapa harus menyusahkan orang lain?"


Wanita itu terdiam. Tatapannya berubah sendu, bibirnya sempat bergerak untuk membalas ujaran yang sudah menyakiti perasaannya itu. Namun, yang di katakan Jimin ada benarnya juga jika di pikir-pikir. Hidupnya sangat merepotkan banyak orang selama ini. Kenapa tidak mati saja?


"Iya. Asal kau tahu saja, dulu saat aku masih menjadi gadis biasa yang sehat-sehat saja dan masih mampu untuk menapaki dari satu negera ke negara lainnya, cita-cita ku adalah menjadi seorang pilot. Dengan begitu, aku bisa membeli satu pesawat pribadi dan kuterbangkan sendiri sampai aku mendarat di bulan meskipun itu hanya angan. Tapi..." Ucapannya terjeda. Tanpa ijin darinya, air bening dari kedua pelupuk matanya mengaliri pipi pucatnya dan mulai menderas.


Orang-orang yang ada disana pun mulai kebingungan sekaligus khawatir takutnya Laluna mendengar hal yang tidak-tidak atau ada yang sedang berusaha mengecoh dirinya.


Saat Ny. Rawles akan menghampiri dirinya, ia justru menghentikan langkah beliau hanya dengan mengangkat sebelah tangannya.


Kembali menarik napas panjang, Laluna mulai melanjutkan ceritanya, "Tapi, ternyata aku harus berperang di ruangan serba putih di Amerika, dan bukannya menjadi pilot disana. Sejak saat itu, cita-cita ku berubah."


"Seperti yang kau katakan tadi, kembali padanya tanpa harus membuat orang-orang di sekitar ku khawatir dan terbebani oleh keberadaanku, itu cita-cita terbesar dan teramat aku inginkan selama ini. Kau pikir, aku senang berada di posisi dimana mereka harus selalu memperhatikan setiap gerak, langkah, apapun yang kulakukan? Apa menurutmu menjadi diriku satu hal yang menyenangkan?"


Air matanya terus mengalir, saat ini dia perlu bicara dengan Jimin si CEO yang akan menjadi suaminya itu.


Matanya bergerak menceri posisi kedua orangtuanya dan orangtua Jimin. Dengan matanya, wanita itu mengisyaratkan pada mereka untuk meninggalkannya dirinya selama beberapa saat.


Karena ingin memberi Privasi pada Laluna, mereka pun bersedia keluar dari ruangannya di rawat. Meskipun mereka tak bisa menyangkal rasa ingin tahu mereka ada apa dan dengan siapa Laluna saat ini berbicara.


"Dimana kau selalu membutuhkan, bukannya di butuhkan. Aku tahu, tak ada yang menginginkan keberadaanku saat ini. Tanpa pengecualian, termasuk kedua orangtua ku. Aku tahu keberadaanku nantinya akan membebani dirimu dan hidupmu."


"Jangan kau pikir bahwa aku tak pernah memikirkan bagaimana perasaanmu saat ini, Jimin. Aku tahu, kau tak akan pernah menerima keputusan mereka atas dirimu. Aku tahu, aturan di hidupmu bukanlah dirimu sendiri yang membuatnya. Aku tahu kau ingin kebebasan dari dunia dan pandangan seluruh media saat ini. Aku juga menginginkan hal yang sama. Tetapi aku ingin terbebas bukan dari dunia maya atau pun dunia yang selalu mengikat dirimu itu."


"TIDAK! kau tak tahu apapun tentang hidupku. Aku kasihan padamu, tapi aku tak akan meminta maaf atas apa yang sudah ku ucapkan tadi. Karena itu adalah cita-cita mu, maka anggap saja perkataan ku itu adalah sebuah doa untukmu. Semoga kau cepat--"


"Mati." Lanjut Laluna dengan cepat setelah tadinya memotong kalimat pria itu.


"Terima kasih, doa mu, Jimin-shi. Dan mengenai perjodohan itu, aku sudah berusaha menolaknya dengan berbagai alasan. Tetapi aku kalah, maaf karena aku akan masuk dalam kehidupan mu. Ini bukan cita-cita ku."


"Tapi... aku bersumpah atas nama semesta! Jjika nanti aku menjadi beban untuk hidupmu, aku akan rela kematianku datangnya dari mu." Bukan main sumpahnya wanita itu. Bahkan atas nama semesta dan mempermainkan nyawa.


"Kalau begitu aku bersedia menjadi malaikat pencabut nyawa untukmu. Jika tidak keberatan, akan kuberikan kematian yang tak akan pernah kau lupakan rasa sakitnya sampai kau bertemu dengan Tuhan."


"Dengan senang hati. Aku tak akan keberatan."


"Safe. You will be in the arms of the angel of death."


(Selamat. Kamu akan berada di pelukan malaikat pencabut nyawa.)


Sambungan diantara keduanya di putuskan oleh Jimin secara sepihak.


.


Setelah mengakhiri panggilan, Jimin kembali melajukan mobilnya dengan santai. Tanpa tujuan, ia hanya berkeliling di sekitar ibukota untuk menenangkan rasa hatinya.


JIMIN POV:

__ADS_1


Sudah 25 tahun..


25 tahun sudah aku hidup di dunia ini. Dan sudah ada begitu banyak ujian yang menghampiri. Namun, aku tak pernah menyadari satu kesalahan yang telah ku buat.


Sejak dulu, bahkan sejak kecil, aku selalu menurut. Aku selalu mengiyakan apa pun yang mereka putuskan atas ku. Bahkan, saat mereka meminta pendapat dari ku, aku hanya menjawab, "terserah pada kalian saja. Aku akan mengikuti apa pun keputusannya."


Namun, aku tak sadar. Ternyata, dengan kebaikan ku itu aku telah membuka gerbang untuk mereka. Gerbang yang tak mampu kututupi lagi. Sehingga mereka leluasa keluar dan masuk ke dalam hidupku.


Awalnya, hanya meminta pendapat. Kemudian, membuat pendapat. Lalu, membuat ku mengikuti semuanya. Tanpa pengecualian. Sekalipun aku menolak, itu tak akan berguna.


Aku terbiasa di atur oleh orang lain. Mengatur seluruh hidupku tanpa peduli perasaan dan pendapat ku lagi. Mencapai cita-cita dan keinginan mereka dengan membuat ku menjadi alatnya.


Hari ini, aku kembali menjadi boneka. Boneka yang terikat, dan kembali di mainkan setelah sekian lama tersimpan. Meskipun tak sanggup, tak ada yang peduli.


Aku juga mempertanyakan, apa pernah aku jatuh cinta?


Sampai beberapa tahun lalu, aku menemukan jawabannya. Ya, aku pernah. Jatuh cinta pada seorang wanita yang selalu ada di sisi ku. Tak pernah mengatur diri ku, dan selalu mendukung apapun keputusan ku. Dan dia... sahabat ku sendiri.


Namun, sayang sekali. Saat aku jatuh cinta, cinta itu justru membuat ku semakin jatuh berkali-kali lipat sampai cinta itu menjadi menyakitkan dan aku tak mampu untuk bengkit lagi.


Dia, wanita pertama yang ku cintai. Pergi selamanya. Berawal di mana aku mengungkapkan perasaan ku padanya di rooftop apartemen malam itu.


Tanpa memberi jawaban apapun, dia berlari meninggalkan ku sendiri di sana. Aku tak mengejarnya, dan aku menunggunya sampai dia keluar dari apartement. Dan aku mengawasinya dari atas.


Aku tak berani membayangkan, malam itu begitu dramatis. Langit tiba-tiba menghitam dan menutupi bintang, gerimis turun secara perlahan. Aku masih di sana, dan mengawasinya yang sedang berlari seraya menangis. Aku tak mengerti apa yang ia rasakan saat itu.


Sekilas aku berpaling, sebuah cahaya di tengah gerimis sedang malam itu membuat wanita ku terlihat bersinar. Dari arah kananya, cahaya itu mendekat dengan cepat dan...


Ia terhempas beberapa meter dari sana. Truk, itu cahaya lampu dari sebuah truk yang sudah menghempaskan dirinya.


Aku terjatuh, lemas dan tak bisa berpaling lagi darinya. Dari kejauhan aku bisa melihat aliran cairan merah pekat mengalir membasahi dress biru yang ia kenakan.


Hujan menyentuh bumi. Sayangku terkapar di bawah derasnya hujan dengan memberi warna merah pada air itu. Aku terlalu lemas untuk berlari dan menghampirinya.


Aku terlalu tak sanggup.


Guntur di langit malam kala itu menggem di langit ibu kota seoul, Korsel. Begitulah malam ku berlalu saat itu. Dan itu...


Itulah jawaban untuk ku darinya. Aku menyimpulkan bahwa dia mengatakan, "cinta kita tak bisa menyatu. Kau dan aku terpisah dengan alam yang berbeda."


Aku takut jatuh cinta lagi.


Aku sangat takut.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2