
▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ
\_YES OR NO\_
Hari ini, pagi-pagi sekali sudah terlihat begitu ramai di kediaman keluarga Rawless. Kedua Tuan rumah pun sudah siap dengan pakaian terbaik mereka, tak hanya kedua orang tua Laluna. Tetapi seluruh keluarganya sudah siap dan rapi dengan segala persiapan pun sudah selesai. Kecuali, Laluna. Ya, kecuali dia.
Alarm di sebuah kamar bernuansa putih dan cream terdengar berdering nyaring membuat telinga terganggu. Sedikit menurunkan selimut yang menutupi wajahnya, wanita itu meraih Alarm di atas nakasnya dan mematikan bunyi nyaring itu.
Namun, bukannya bangun dan beranjak dari kasur untuk ikut bersiap seperti anggota keluarganya yang lain. Laluna justru kembali melanjutkan tidurnya dan melupakan rencananya untuk hari ini. Ralat--tepatnya rencana kedua orangtua nya.
.
"Pa, Ma, kalian sudah siap?" Seorang pemuda bertubuh tinggi dengan badan yang tegap dan wajah yang... tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata ketampanannya. Pemuda itu berjalan menghampiri seorang pria dan wanita yang duduk di sofa di ruang tamu rumah mereka yang mewah.
"Sudah." Jawab keduanya kompak dan menoleh serta mengajak pemuda itu untuk ikut duduk di sebelah mereka. "Tapi... dimana Laluna?" Tanya wanita yang di panggilnya dengan sebutan; Mama.
"Loh? Aku pikir kakak bersama kalian." Jawabnya, sedikit terkejut.
"Hah? Justru Mama dan Papa pikir kalian bersama sejak tadi." Wanita itu berujar, kemudian ia berdiri dari duduknya dan meninggalkan kedua laki-laki itu di sana. Niatnya hendak menyusul putrinya yang pasti masih tertidur.
_
Fisik yang sempurna, keluarga yang lengkap dan harmonis, serta masa depan yang akan segera terjamin. Apa ada lagi yang tak di dapatkan wanita itu? Kesehatan. Ya, kecuali kesehatan. Mungkin itu lah artinya bahwa tidak ada manusia yang sempurna. Dan setiap makhluk hidup pasti ada kurangnya di dalam kesempurnaannya.
Mengingat hari ini keluarganya akan menyambut tamu penting untuk membicarakan mengenai penyuntikan dana ke salah satu yayasan anak yang terkena kanker di Korea Selatan milik rekannya, Laluna bergegas.
Akhirnya tinggal satu sentuhan akhir.
"Laluna!"
Seorang wanita dengan dress hitam polos dengan panjang selutut dan ramput yang di pintal indah, terlihat elegan bukan? Namun beliau sedikit emosi. Terlihat dari cara ia membuka pintu dan dadanya yang kembang kempis. Setelah beberapa detik berdiri di ambang pintu sana, wajah yang awalnya terlihat kurang bersahabat kini sudah lebih sehat di pandang.
"Ma--Mama..." Laluna, orang yang sedang di cari. Ia pun tak bisa menyembunyikan keterkejutannya ketika sang ibunda membuka pintu kamarnya dengan penuh emosi. Hampir saja lipstiknya di luar kendali.
Setelah selesai sedikit merias wajahnya supaya tak terlihat pucat, Laluna menghampiri sang ibunda yang masih setia berdiri di ambang pintu dan bisa di tebak kalau beliau tengah menunggu kesiapan dirinya.
"Selalu harus di cari." Tutur mama dan hanya bisa di tanggapi Laluna dengan cengengesan.
Mereka kembali ke lantai utama bersama hendak menyusul Papa dan Alexander Rawles--Anak lelaki bungsu keluarga Rawles.
"Sudah siap? mereka akan tiba sebentar lagi." Sang kepala rumah tangga yang terkesan bijaksana, tegas dan baik hati itu bertanya pada sang istri yang sudah di sebelahnya. Tak banyak berujar, Mama hanya mengangguk dan kemudian kembali duduk di sebelah Papa.
"Bagaimana dengan mu, Laluna?" Kini pertanyaan untuk putrinya yang sudah ikut bergabung bersama mereka. Namun, sepertinya orang yang di ajukan pertanyaan tidak bisa mencerna dengan baik apa maksud dari pertanyaan dan di adakannya acara yang formal ini.
"Apa? Aku? Aku siap, Pa." Jawabnya, enteng sekali.
Tak berapa lama kemudian, bell rumah mereka berbunyi, menandakan tamu yang mereka tunggu-tunggu sudah ada di sana sekarang. Segera Ny. dan Tn. Rawles bangkit dari duduk mereka dan sama-sama berjalan menuju pintu depan untuk menyambut kedatangan tamu yang menurut di dengar Laluna, mereka adalah tamu penting keluarganya. Tapi, baginya mereka tak ada lebihnya. Entah karena belum mengenal tamu itu.
"Selamat datang," mereka saling menjabat tangan satu sama lain, "Pasti perjalanan kalian sangat melelahkan, ya?" Mama berujar pada seorang wanita cantik bermata sipit dan sedikit lebih tinggi dari rata-rata perempuan di indonesia. Ya... begitulah gambarannya karena tinggi bukan main jika untuk seorang ibu rumah tangga sepertinya. Tubuhnya saja, ah.. seperti seorang model.
Meskipun sebenarnya Ny. Rawles juga memiliki pinggang yang ramping dan perut yang masih tak berlemak sama sekali. Namun, untuk tingginya, keduanya benar-benar berbeda. Untunglah wanita asing itu melepas sepatu high-heels-nya. Jika tidak, untuk seorang ibunda Rawles, beliau pasti terlihat sedang memandang langit jika sedang berbicara. Haha!
"Kami sudah istirahat semalam di hotel di dekat sini. Dan bagaimana keadaan kalian sekarang? Semakin lebih baik tentunya, kan?" Lelaki yang terlihat sebaya dengan Tn. Rawles itu berujar. Mereka duduk di ruang tamu yang awalnya di ada Laluna di sana, dan kini yang tersisa hanya si tampan; Alexander.
"Bukankah ini si bungsu kesayangan kita?" Wanita tinggi itu berujar seraya melirik Alex yang terlihat sedang berbincang ringan bersama sejenisnya. Kedua wanita itu pun asik mengobrol seraya menyeruput minuman yang sudah sejak tadi di persiapkan di kala mulut keduanya telah kering karena terlalu banyak berbincang.
Yang menjadi pertanyaannya sekarang, dimana Laluna Charoll Rawless?
__ADS_1
Beberapa menit yang lalu, tepatnya ketika bell rumah berbunyi, wanita itu langsung di tarik oleh pembantunya menuju ruangan di samping. Ia tak mengerti kenapa hanya dirinya saja yang tak di perbolehkan bergabung bersama orang-orang itu. Padahal, obrolan mereka terlihat asik dan sesuai dengannya.
Sedangkan Alex yang lebih muda darinya saja di perbolehkan untuk duduk disana dan mendengar bahkan mengusulkan sesuatu yang tak jarang di setujui kedua CEO berumur senja itu. Rekan Tn. Rawles terlihat menyukai Alex, mungkin dari cara pemuda tampan itu berpikir. Sedangkan Tn. Rawles sendiri, beliau memandang putranya dengan penuh kebanggaan. Membuat Laluna merasa seolah-olah sekarang dirinya sedang di sembunyikan.
Ia ingin sekali menghampiri mereka dan ikut serta, namun pembantu itu berkata kalau dirinya harus tetap di sana sampai di panggil namanya baru dia akan di perbolehkan keluar. Ahk! Apa-apaan itu.
Tak berselang lama setelah obrolan ringan para lelaki itu berubah menjadi obrolan bisnis, masuklah seorang lelaki bermata sipit, bibir tebal dan berwarna merah muda alami, berbadan tegap dengan sentuhan akhir di proses penciptaannya, yaitu kulitnya yang putih seputih salju.
Laki-laki itu menyapa mereka disana dan kemudian entah sengaja atau tidak, wajah orang-orang disana terlihat begitu bahagia dengan mata mereka yang berbinar. Siapa Lelaki itu? Tunggu. Dia...
Park Jimin.
Laluna yang sejak tadi mengintip di balik tembok, ia langsung menarik kepalanya dikala sang ibunda memergoki dirinya. Karena sudah ketahuan mengintip, Laluna berniat untuk ke dapur saja, alih-alih menunggu mereka memanggilnya. Itu pasti tak akan terjadi. Di saat seperti ini, terpikir olehnya...
Apa mereka malu memperkenalkan aku sebagai anak mereka karena aku berpenyakit?
Apa kemampuan Alexan dalam mengurus bisnis Papa lebih baik dari pada aku?
Apa ini adalah arti ucapan Mama yang setiap pagi selalu mengeluh lelah harus mencariku?
Atau jangan-jangan... aku ini bukan an--
"Laluna!"
Sebuah panggilan yang membuatnya tersentak dan otaknya pun berhenti berpikir yang membuat dirinya akan merasa canggung nantinya ketika berhadapan dengan Mama dan Papa nya.
Ternyata Mama baru saja memanggilnya, apa itu artinya ia harus menghampiri mereka ke ruang tamu? Ia keluar dari persembunyiaannya dengan kepala yang ditekur sehingga menutupi seluruh wajahnya.
"Astaga, apa dia Laluna?" Wanita itu berujar dan langsung menarik Laluna dalam dekapannya. Bisa di perjelas, mungkin disini hanya mereka yang antusias ketika melihatnya.
"Pertama, mari kita saling mengenal lebih dalam. Perkenalkan, nama bibi Min Soo-jin,"
"Dan Paman, Park Soemin. Dan dia... " Ucapannya terjeda dan sedikit menyenggol pergelangan pria di sebelahnya seolah tengah memberi sebuah kode supaya pria itu memperkenalkan dirinya. Sebenarnya, Laluna sudah tahu tanpa harus di beri tahu.
"Saya Park Jimin, CEO JM group." Tuturnya tanpa mengalihkan pandangan untuk melirik lawan bicaranya sedikit pun.
"Saya Laluna Charoll Rawless." Ia turut memperkenalkan dirinya meskipun orang-orang yang ada di sana sudah mengenal dirinya. Yang dibingungkan Laluna sekarang adalah, Mereka orang korea, tapi mampu berbahasa indonesia bahkan terlihat sangat fasih? Haduh...
"Supaya tidak semakin membingungkan, mari kita mulai saja acara ini." Tn. Rawles membuka obrolan.
"Mereka adalah sahabat sekaligus rekan kerja Papa, dan CEO muda ini, Park jimin. Dia adalah anak tunggal dari keluarga Park. Untuk lebih menhhemat waktu, langsung saya sampaikan ke intinya saja. Jadi, Luna, Papa dan Mama sangat menyukai sikap tanggung jawab dan bisa diandalkan dari Park Jimin." Ketika mendengar Tn. Rawless mengatakan beliau menyukainya, Jimin langsung mengangkat pandangannya menatap pria itu.
"Pemikirannya yang dewasa dan caranya dalam menjaga, membuat kami yakin kalau... " Ucapannya terjeda. Beliau sempat ragu dalam berucap, sampai kemudian Ny. Rawless mengusap pelan pergelangan suaminya. "Kalau kau dan Jimin adalah pasangan yang serasi." Lanjut Tn. Rawless.
Bagaikan di minta untuk menelan sebuah batu. Seakan oksigen di bumi pun tak cukup untuk keduanya saat ini. Seperti ada satu hal yang sekarang sedang mengikat keduanya. Kedua orang itu terpaku pada posisi masing-masing, hanya berkedip beberapa kali dan saling menatap. Bagai di sambar petir di siang hari. Sampai kemudian mereka tersadar apa yang baru saja mereka dengar, refleks mereka saling membuang muka.
"Perjodohan maksud kalian?" Disaat Jimin yang memilih diam, Laluna justru yang akan bersuara paling keras. Untuk berusaha menolak tentunya.
Memangnya apa ada yang ingin menjadi pasangan si arogan itu? Ingat tidak apa yang pernah di pikirkan Laluna saat pulang dari cafe sore itu? "Bagaimana, ya? Nasib istri dan anaknya jika mempunyai kepala rumah tangga seperti dia".
Sungguh, demi apapun dia tak ingin termakan omongan sendiri!
"Iya, nak. Selama ini kami tak pernah meminta apapun padamu, kami yakini bahwa ini adalah permintaan besar kami yang terakhir." Ny. Park berujar dan kemudian menarik pergelangan putranya dan terlihat memelas serta memohon.
"Tidak, terima kasih." Jawab Jimin spontan.
"Apa ada alasan yang lebih masuk akal? Apa tak ada pilihan lain untukku? Apa semengganggunya aku bagi kalian? Kenapa harus mengusir ku jauh ke negeri orang?" Laluna mulai melepas unek-uneknya. Ia tahu ini adalah saat yang tepat untuk mempertanyakan kenapa mereka begitu cepat ingin dirinya menikah.
__ADS_1
Bahkan, setelah operasi saja dia pernah di tawari untuk tetap tinggal saja di luar negeri sana. Padahal, posisinya kala itu tengah membutuhkan bimbingan dan perawatan. Jika ia mengiyakan, tentu dia hanya akan tinggal seorang diri tanpa ada yang merawat.
"Apa? Kenapa kau sampai berpikir seperti itu, sayang? Tentu tidak seperti yang kau pikirkan itu... " Mama langsung mendekap Laluna--puterinya--selama beberapa saat.
Sedangkan Alexan, dia langsung menundukkan pandangannya kala mendengar pertanyaan kakaknya yang membuat hatinya tersayat. Ternyata, ia juga menyadari hal itu. Hal yang sekarang bermain di kepala Laluna.
"Kenapa, Pa? Apa kerja Alexan lebih bagus dari pada aku? Beri aku kesempatan kedua, Pa. Aku yakin akhir bulan ini aku bisa mengekspor hasil panen kita keluar negeri. Jangan usir Luna seperti ini, Pa." Laluna melonggarkan pelukan dari sang ibunda dan menghadap Tn. Rawless.
"Kerja keras mu sudah cukup, Laluna. Papa sangat menghargai usaha mu, sayang. Tapi mengenai perjodohan ini, tak ada satu pun alasan yang sama dengan yang kau pertanyakan tadi. Papa hanya ingin hubungan keluarga kita dengan keluarga Park semakin erat." Tn. Rawles bertutur.
"Kalian yang ingin mempererat hubungan, kan? Kenapa harus mengambil kebahagian dan kebebasan ku yang hanya bisa ku nikmati beberapa saat lagi. Kenapa kalian begitu jahat?! Aku menentang ini!" Laluna berdiri dari duduknya dan berujar dengan tegas. Bahkan Jimin pun sempat terkejut dengan emosi wanita itu.
"Laluna, kenapa tiba-tiba? Bukankah tadi kau mengatakan kalau kau sudah siap?" Ny. Rawless menatap putrinya dengan tajam.
Mengingat apa yang di iyakan dirinya tadi, Laluna terdiam.
"Bagaimana menurut mu, Jimin?" Tanya Tn. Park pada putranya.
"Tidak." Jawab singkat, namun dapat di perjelas melalui tatapannya.
"Kau terima perjodohan ini, atau papa kirim kamu ke AS dan tinggal dengan Ananda!" Tn. Rawless mempertegas.
Saat akan kembali membantah, tiba-tiba Laluna merasa kepalanya pusing, pandangannya tidak jelas dan penglihatannya memudar. Refleks dengan rasa sakit yang di timbulkan secara tiba-tiba, Laluna langsung memegangi kepalanya dan berusaha mempertahankan posisinya supaya tidak sampai roboh di hadapan mereka. Ia harus memperlihatkan pada keluarganya kalau dirinya sudah sembuh.
Total!
Dengan begitu, dia tak perlu ke AS lagi dan harus tinggal dengan pria mesum bernama Ananda yang menjadi penjaga apartmennya dan kepercayaan orangtuanya. Untunglah pria itu tak berani macam-macam dengan dirinya.
Sayup-sayup terdengar suara mereka yang berusaha mendapat jawaban dari dirinya mengenai perjodohan itu. Tetapi tak bisa didengarnya dengan jelas. Laluna tak bergerak pada posisi berdirinya. Ia berusaha membuat kepalanya tenang dan mempertahankan kesadarannya.
Setelah beberapa saat, wanita itu merasa mendingan meskipun rasa sakit yang nyut-nyutan masih menyerang area paling sensitif di bagian kepalanya. Ia berdiri pelan-pelan dan berjalan meninggalkan mereka semua yang terhanyut dalam kekhawatiran seraya berkata, "Baiklah, terserah kalian saja...." Lirihnya pelan dan mulai menapaki anak tangga.
Kembali di dengar olehnya suara Jimin dengan lantang menolak dan beberapa kalimat yang tak lagi dimengerti oleh keluarganya. Lantaran Jimin memakai bahasa negaranya. Kedua laki-laki itu, Jimin dan Tn. Park, mereka sempat cek-cok memperdebatkan antara mengiyakan dan tidak.
Tn. Park juga terlihat sangat yakin dan tak ingin menyerah. Begitu pula dengan Jimin, dia akan menolak dengan sepenuh hati dan tetap akan mempertahankan pendapatnya.
Laluna yang sudah terlalu pusing, langkahnya terhenti di antara beberapa anak tangga mencapai lantai atas. Kali ini bukan main-main, kepalanya terasa mendapat tekanan yang begitu berat. Sampai pundaknya pun terasa begitu nyeri. Nafasnya pun tiba-tiba memburu.
"Ma!!"
Mendengar panggilan dengan nada yang tidak biasa, sontak Ny. Rawles berdiri dari duduknya dan langsung berlari menuju tangga. Dengan di ikuti Ny. Park di belakangnya.
"Luna!!"
Mereka pun tak kalah terkejutnya dengan apa yang mereka lihat saat itu. Sangat menyeramkan juga mengkhawatirkan. Laluna, hidung dan telinganya berdarah. Tubuhnya terlihat begitu gemetar, dengan tangannya yang masih berusaha berpegang kuat pada sisi tangga supaya tidak merosot jatuh ke bawah.
"Papa! Tolong!" Ny. Rawles berteriak memanggil sang suami, dan untunglah beliau bergerak cepat saat itu.
Di gendongnya Laluna menuju mobil untuk di bawa ke rumah sakit dan diperiksa. Hancur sudah acara hari ini. Melihat keadaan wanita itu, Jimin yang masih punya hati ia pun tak tega menolak permintaan terakhirnya.
Tapi, di sisi mengukur dari hati ke hati, Jimin juga punya kehidupannya sendiri. Jika di sangkut pautkan dengan keinginan, ia juga punya keinginan untuk hidup dengan tidak membebani dan terbebani oleh siapapun. Artinya, tidak sepenuhnya dia akan menerima kehadiran Laluna di dalam hidupnya.
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1