
▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ
H O R N Y
(T 3 R A N G S 4 N G )
"Kini, bayanganku dan bayangan mu telah menyatu di bawah langit biru dengan pelangi ungu. Pikir ku, setelah ini kita bisa bersatu?"
(Laluna CR. Quotes)
.
Tepat jam enam sore tadi Jimin berangkat seorang diri ke pesta yang beberapa waktu lalu di perdebatkan dirinya dan Laluna. Meskipun bertuliskan nama wanita itu di undangan, Jimin ternyata benar-benar meninggalkan istrinya.
"Hallo, sayang... " Suara yang begitu lembut dan menenangkan. Suara yang hanya dapat di dengar untuk orang-orang terkhusus, mungkin. Jimin menyapa lawan bicaranya dengan suara yang benar-benar mengandung Deep voice.
"Kita akan bertemu disana sebentar lagi. Sampai nanti." Pria itu mengakhiri percakapannya dan menambah laju mobilnya untuk bisa segera sampai di pesta.
Kalian pasti berpikir siapa yang baru saja di hubungi oleh Jimin.
Orang itu bernama Olivia, ya, hanya Olivia. Seorang gadis yang jauh lebih muda dari Laluna, apalagi dengan usia Jimin sendiri. Olivia masih menempuh pendidikan di salah satu Universitas di Seoul. Gadis itu berkebangsaan Inggris, dan tinggal di Korea. Entah bagaimana kronologinya mereka bisa bertemu dan akhirnya memutuskan menjalin hubungan, dan tentunya rahasia.
Hubungan itu sudah terjalin sekitar satu tahun lebih dan belum ada yang mengetahuinya. Keputusan Jimin dan Olivia untuk merahasiakan hubungan keduanya karena Olivia yang masih pelajar dan Jimin seorang CEO.
Tetapi, jika hubungan itu terpublish sebelum Jimin di konfirmasi telah menikah tentu akan sangat menarik perhatian media. Kisah percintaan keduanya pasti termasuk ke dalam impian beberapa gadis untuk menikah muda dengan CEO kaya dan tampan seperti Jimin. Dan beruntungnya Olivia bisa berkesempatan mendapatkan posisi itu. Tapi tetap saja, dia berada di dalam bayangan seorang Laluna Charoll Rawless. Yang kini menyandang status sebagai istri Presdir Park.
Meskipun tahu Jimin sudah menikah, Olivia tetap dengan pendiriannya. Padahal jika suatu saat hubungan mereka terbongkar maka, yang tersorot menjadi perebut adalah Olivia sendiri meskipun hubungannya dan Jimin lebih tua dibandingkan hubungan Laluna dengan Jimin meskipun suaminya. Karena yang terlebih dahulu terpublish, itulah hubungan sebenarnya.
Setelah mencari area yang tepat untuk parkir, Jimin bergegas mengambil undangannya dan kemudian masuk ke dalam aula di mana acara pesta pertunangan itu akan segera dimulai. Sebenarnya, tujuan ia mendatangi pesta ini bukan hanya untuk mempererat hubungan bisnisnya dengan YG Group, tetapi untuk menemui Olivia sang kekasih yang akan menjadi MC disana.
.
"Jimin-shi!!" Seorang wanita dengan long dress yang pas melekat di tubuhnya, sehingga lekuk indah tubuh itu tergambar dengan jelas. Wanita itu langsung di sambut Jimin dengan pelukan kecil dan kemudian mereka duduk di meja yang sama yang telah di sediakan di ruangan tersebut.
"Hai! Apa kabar mu sekarang?" Jimin membalas sapaan itu.
"Seperti yang kau lihat. Aku dengar, kau sudah menikah di Indonesia?"
Seakan tata surya sudah tak lagi beraturan, malam begini pun terasa begitu panas. Andai saja mereka tahu Jimin membenci, sangat membenci jika harus membahas perihal Laluna dan... pernikahan. Saking panasnya, Jimin sampai melonggarkan lilitan dasi serta membuka kancing jas-nya. Kalau saja dia bukan seorang wanita, maka izinkanlah Jimin mengh4ntam rahangnya sekali saja.
"Seperti yang kau dengar, Chaeryong." Jawabnya cetus.
"Apa? Ada apa denganmu? Apa kau tak menyukai pernikahan itu?" Imbuhnya lagi. Wanita itu merasa ada yang aneh dengan jawaban yang diberikan Jimin. Seakan itu hal sepele dan tidak penting.
"Itu pernikahan ku, apa maksudmu aku tak menyukai pernikahan ku sendiri?" Jimin balik bertanya.
Saat akan kembali menyahuti rekan bisnisnya itu, Mc naik ke panggung dan mulai membacakan bait demi bait kata sambutan, dan kemudian acara pun dimulai. Chaeryong yang masih sangat penasaran dengan pernikahan mendadak rekannya itu, ia terus mencari cara untuk bisa berbaur lebih dalam dengan Jimin. Namun, yang Jimin fokuskan sekarang adalah Olivia--si Mc di atas panggung.
"Aku dengar undangan mu di ubah, Kenapa kau tak mengajaknya juga? Padahal ini saat yang tepat untuk memperkenalkan istrimu pada publik." Chaeryong tak menyerah.
"Fokus saja pada acaranya, Chaeryong." Jawab pria itu tak suka.
.
.
"Sudah jam 11, kenapa Jimin belum pulang juga? Apa dia masih di pesta itu? Tapi apa mungkin sampai selarut ini?"
Sejak tadi Laluna hanya mondar-mandir dari pintu depan ke gerbang. Entah sudah berapa kali dia melewati halaman luas rumahnya ketika beberapa mobil memelan disana, hanya untuk memastikan bahwa suaminya yang pulang atau bukan.
"Apa aku hubungi saja dia? Tapi bagaimana jika itu bisa mengganggunya nanti?" Laluna mengangkat-turun ponselnya ragu-ragu untuk menghubungi Jimin.
Akhirnya, dengan pasrah wanita itu melangkah kembali masuk ke dalam dan kembali menunggu. Namun, baru akan membuka pintu rumahnya, sebuah klakson mobil yang sangat keras di depan sana membuatnya terlonjak kaget.
Wanita itu segera berbalik dan mendapati itu adalah mobil suaminya. Dengan tergopoh-gopoh ia berlari untuk membukakan pintu gerbang dan mobil itu pun masuk ke halaman. Ketika mobilnya sudah berhenti, Laluna berencana untuk segera masuk supaya tidak mengganggu Jimin dengan kehadirannya. Namun...
"Ny. Park!!"
Seseorang meneriaki namanya dengan keras, seseorang itu adalah seorang wanita.
"Siapa wanita itu?" Batinnya.
Tak ingin berpikir yang tidak dulu, Laluna menyalipkan rambutnya ke belakang, memperbaiki cara jalan dan postur tubuhnya sebagaimana kehidupan seorang wanita bangsawan. Perubahan pada diri seorang Laluna seratus depalan puluh derajat, bahkan orang itu di buat melongo akan perubahannya yang begitu cepat dan instan. Laluna yang sekarang dengan yang sepuluh menit lalu sungguh berbeda. Laluna tadi terlihat berantakan dan berjalan tegropoh-gopoh tak beraturan. Dan sekarang?
"Ya, saya. Siapa anda? Dan... kenapa bisa bersama suami saya?" Laluna bertanya dengan sopan dan to the point.
"Supaya tidak terjadi kesalahpahaman, perkenalkan," Wanita itu mengulurkan tangannya hendak menjabati Laluna. Tanpa ragu Laluna pun membalasnya.
"Saya Park Chaeryong, rekan bisnis dengan Park Jimin. Tadi saat di pesta Jimin mabuk dan akhirnya jatuh pingsan. Karena berbahaya untuk menyetir, jadi saya mengantarnya pulang." Lanjut Chaeryong.
"Benarkah? Terima kasih banyak, Ny. Chaeryong. Terima kasih." Laluna meraih kembali tangan kanan Chaeryong dan menggenggamnya dengan kedua tangannya seraya berterima kasih yang teramat sangat.
"Sama-sama, Ny. Pa--" Ucapannya langsung di sela Laluna.
__ADS_1
"Panggil aku Laluna, tidak perlu Ny. Park..." Ujarnya seraya tersenyum, "Namaku Laluna Charoll Rawless. Aku blasteran Korea-Indonesia." Laluna memperkenalkan dirinya.
"Apa... Rawles nama belakangmu?" Chaeryong.
"Benar."
"Aah... ya, ya. Aku kenal dengan orang tuamu. Mereka pernah menjalin hubungan bisnis dengan perusahaanku. Kau tahu? Orang tuamu sangat baik ya."
Mereka senang dengan obrolan saat itu. Tapi, kedua wanita itu melupakan sesuatu di dalam mobil. Obrolan yang menyenangkan itu berlanjut beberapa saat sampai kemudian...
"Hei... apa ada orang di luar?" Itu Jimin yang bersuara, khas orang mabuk.
"JIMIN!" Keduanya terkejut dan segera membantu pria itu keluar dari mobil dan membawanya masuk. Sampai di sofa, mereka langsung membanting pria berat itu disana. Bukannya mudah mengangkat lelaki dengan bobot yang berat seperti Jimin.
"Disini saja, Chaeryong. Terima kasih sudah membantu banyak." Laluna kembali berterima kasih.
"Sudah cukup ucapan terima kasih mu, Laluna. Kau tak jauh beda dengan ibumu ya. Karena sudah hampir tengah malam, aku pun harus pulang. Sepertinya supir ku sudah menunggu di depan." Wanita itu pamit dan diantar Laluna sampai ke depan gerbang utama rumahnya.
Mengingat keadaan Jimin yangg mabuk berat, ia segera kembali untuk membawa pria itu ke kamar. Sampai di hadapan Jimin, Luna terlihat terengah-engah karena begitu banyak berlari sejak tadi. Tapi, tunggu, Jimin sudah pulih?
"Apa... kau benar-benar mabuk, Jimin." Laluna berlutut dengan kedua tangannya pada lutut pria itu, karena posisi Jimin yang sedang duduk di atas sofa dengan kepala yang ia tekurkan.
"Tidak." Jawab Jimin sedikit. Dan tentunya tidak langsung bisa di percaya.
"Aku tidak terlalu kuat, bagaimana aku bisa membawamu ke kamar?" Laluna bergumam. Jika menopang tubuh Jimin yang masih belum seimbang, bisa-bisanya mereka mati jatuh dari tangga. Meminta bantuan tetangga pun tidak mungkin, oh, ayolah... ini kawasan elit, dimana orang-orang sibuk dengan pekerjaan dan urusan pribadi mereka. Terlebih ini sudah larut malam.
Ia melirik ke jam di dinding. Jarum pendek itu sudah menginjak angka 12. Pada siapa dia bisa meminta pertolongan saat ini selain pada dirinya sendiri? Andai ada security atau pun anak buah Jimin disini.
Laluna berdiri dan berencana akan membawa Jimin ke kamar utama saja yang tak terlalu jauh dari posisi mereka saat ini. Saat akan meraih pergelangan tangan suaminya, tiba-tiba Jimin merebahkan dirinya kembali di sofa dengan Laluna yang tertarik pula dan terjatuh di atas prianya itu. Sehingga posisinya sekarang menindih Jimin.
Ada yang aneh...
Hanya untuk memastikan kalau Jimin benar-benar mabuk atau mungkin hanya kebanyakan makan dan jadinya susah bergerak dan menjadi alasan saja, Laluna sedikit mendekatkan indra penciumannya pada baju di bagian dada pria itu, juga di mulutnya.
"Apa kau ingin aku cium?" Tiba-tiba Jimin bersuara membuat wanita itu tersentak dan segera melompat dari posisinya tadi.
"Kau tidak mabuk?!" Laluna balik bertanya dengan tangan berkacak pinggang. Ia sebenarnya takut untuk memperlihatkan ekspresi marahnya secara langsung pada CEO arogan itu. Tetapi sudahlah, ia sudah sangat kesal dan tak lagi mempunyai kekuatan untuk menetralisir kemarahannya.
Bagaimana tidak? sejak tadi dia sudah di buat khawatir dengan menunggu kepulangan Jimin yang tak kunjung tiba. Dan saat sudah kembali, Jimin bersama seorang wanita dalam keadaan mabuk.
Dan kemudian dengan susah payah dia berusaha percaya dengan hubungan kedua orang itu, juga percaya bahwa Jimin mabuk padahal tak ada bau alkohol sedikit pun disana. Dan kemudian, dirinya dimanfaatkan dalam situasi seperti ini. Padahal dia sudah bersusah payah membawa pria itu masuk tadi.
"Tidak." Jawab Jimin dan bangkit dari tidurnya mulai melangkah pergi. Tak sampai tiga langkah berjalan, ia sudah menabrak pot bunga. Melihat itu adalah bunga krisan kesukaannya, Laluna terbelalak dan segera berlari untuk...
Untungnya dia berhasil menangkap pot bunga itu. Tapi, tidak dengan Jimin yang sekarang sudah rebahan di lantai.
"Huff..." Ia membuang napas panjang seraya menggeleng-gelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Baiklah, sekarang aku percaya kalau kau mabuk, SUAMIKU!" Dengan menekankan nada di kalimat terakhirnya, ia berujar seraya menarik tubuh berat suaminya itu dan kembali di topangnya untuk menuju kamar utama.
Dengan cepat, direbahkan tubuh Jimin yang terlihat setengah sadar setengah tidak. Kemudian ia kembali keluar dan naik ke kamar yang mereka tempati di lantai dua untuk mengambil sebuah piyama.
Saat turun ia mampir ke dapur dan kemudian di ambilnya sebuah wajan dan di bawanya menuju wastafel air panas. Setelah merasa cukup, ia mencampurnya dengan air biasa supaya tidak terlalu panas.
Ia berjalan dengan kedua tangan mengangkat wajan berukuran sedang, sepasang piyama dan sebuah handuk kecil yang di taruh di bahunya. Dengan perlahan ia sedikit menurunkan sikunya untuk membuka knop pintu lantaran sudah tak mungkin jika membukanya emakai tangan.
Jimin masih dengan posisi tidurnya, tidak bergerak sama sekali. Bahkan, melepas sepatu saja terlihat begitu malas untuk di lakukannya.
Oh, ya ampun... apa yang dia harapkan pada istrinya yang pesakitan itu?
"Maaf... " Ucap Laluna pelan dan mulai membuka kancing jas Jimin.
Sebenarnya wanita itu merasa malu harus melakukan ini. Tapi tidak mungkin juga ia abaikan Jimin begitu saja. Jika mabuk berat seperti ini, bisa saja efeknya berlanjut sampai dua hari.
Sebelumnya ia tak tahu kalau pria itu senang mabukan, pikir Laluna seorang CEO sibuk sepertinya tidak akan sempat melakukan hal konyol dan membuang-buang waktu seperti itu. Ternyata dugaannya salah.
"Aku heran, kau mabuk berat tapi kemana perginya bau alkohol itu?" Dapat di dengar Jimin gumaman istrinya yang sekarang tengah membuka kancing kemeja putihnya satu persatu.
Ingatan pria itu melayang kembali pada jam sembilan tadi, dimana ia diminta untuk meminum segelas air biasa oleh Olivia. Tetapi kemudian gadis itu membawanya menuju ruangan yang dirinya sendiri pun tak tahu ruangan apa itu. Di atas meja di ruangan yang agak sempit dan hanya berisikan barang-barang bawaan Olivia saja, ada beberapa gelas air putih disana. Bahkan lebih dari satu gelas air yang tadi diminumnya. Entah air apa itu.
Ketika hendak bertanya air apa itu sebenarnya, ia oleng dan merasa seperti dunia berputar. Ia mencoba meraih tangan Olivia, tetapi gadis itu menolak dan membawanya sampai ia terpojok diantara dinding dan sudut pintu. Dengan rasa pusing yang begitu hebat, bahkan tak pernah dirasakan seumur hidupnya selama ini, tak ada yang bisa di lakukannya. Untuk bersuara dan meminta pertolongan orang diluar pun sudah tak mampu.
Kekuatannya seakan terkuras habis oleh minuman si4lan itu. Saat Olivia mulai membuka kancing baju Jimin, seorang wanita membuka pintu dengan keras dan langsung menampar gadis itu, Olivia.
Jimin ingin menghentikan orang yang menampar kekasihnya itu, tetapi rasanya sudah sangat tidak sanggup untuk memaksakan dirinya supaya terus terjaga dan tidak pingsan.
Sayup-sayup sebelum kesadarannya terkuras habis ia bisa mendengar wanita yang menampar Olivia lagi dan berkata dengan nada yang seakan menggambarkan keterkejutan pada wajahnya.
"Astaga! Bagaimana bisa kau menemukan minuman ini? Dasar Jal4ng!!"
Jimin yakin wanita itu tahu apa yang ada di dalam minuman itu, sampai-sampai dia menampar Olivia dengan keras bahkan sampai gadia itu tersungkur. Setelahnya ia tak bisa mengingat apapun. Dan saat sampai dirumah ketika Laluna dan Chaeryong sedang mengobrol saat itulah ia sadarkan diri.
Tapi ada yang aneh. Semakin lama tubuhnya terasa semakin panas, bahkan seprai dimana ia tidur perlahan mulai basah akan keringatnya. Laluna yang melihat Jimin mulai kenapasan, tentu ia heran dan langsung menambah dingin AC di kamar itu.
__ADS_1
Ia mencoba mengangkat tubuh Jimin supaya bisa ia pakaikan piyama dan tidak bertelanjang dada seperti saat ini. Meski bagaimana pun, Laluna tetaplah manusia biasa yang tentunya memiliki tingkat pertahanan nafsu masing-masing.
Ia berpindah posisi dari sisi ranjang kini sepenuhnya naik ke atas ranjang. Dengan sekuat tenaga ia membawa tubuh Jimin dan ia sandarkan pada tubuhnya, jika tidak maka akan sulit memakaikan jimin baju.
Setelah memasukkan kedua pergelangan lelaki itu dan tinggal mengancingkan bajunya, Laluna hendak merebahkan kembali tubuh Jimin yang benar-benar basah akan keringat. Namun, tiba-tiba pria itu ikut menariknya sampai ia hampir membuat kepalanya membentur kepala Jimin.
Laluna tahu suaminya itu hanya ingin memanfaatkan dirinya dan keadaan untuk kepuasan pribadi saja. Maka dia akan menolak. Laluna menghempas tangan kekar pria itu dan merangkak turun dari kasur.
Saat ingin mengambil wajan di sisi ranjang, ponsel Jimin yang di taruh di dalam jas berdering. Perempuan itu bergegas dan meraba-raba jas itu dengan mempertanyakan di sebelah mana Jimin menaruh ponselnya.
Tak butuh waktu lama untuk menemukan benda pipih bercahaya itu. Dan saat ia temukan, tertulis nama seorang wanita yang baru saja ia kenali beberapa jam yang lalu. Itu Chaeryong yang menelepon. Laluna mengangkat telepon itu, tetapi tetap diam sampai Chaeryong yang kemudian menyapa.
"Halo, apa kau disana Laluna? Jimin?"
"Iya, ini aku." Sahutnya. "Ada apa, Chaeryong?"
"Begini, sebenarnya suami mu tidak mabuk karena alkohol. Tadi, saat aku berbicara dengan Jimin, tiba-tiba ia pamit dan katanya ingin pulang. Saat itu aku penasaran denganmu dan ingin mengikuti Jimin sampai kerumah. Siapa tahu aku bisa melihat mu saat kau menyambut kepulangannya. Tapi saat akan keluar dari aula, gadis yang menjadi Mc di acara itu menariknya dan membawanya keruangan persiapan gadis itu."
"Apa yang mereka lakukan?" Tanya Laluna santai karena sudah menduga bahwa Jimin pasti memiliki seorang kekasih.
"Gadis itu memberinya segelas air putih dan kemudian mengajak Jimin masuk keruangannya. Saat itu aku masih mengintip melalui celah pintu yang tidak tertutup rapat, dan disana ada beberapa botol minuman P***8**y. Kau tahu kan, itu minuman paling rahasia pengedarannya untuk membuat seseorang terangs4ng."
"Bahkan dengan satu tegukan saja bisa membuat orang itu panas. Apalagi dengan Jimin, ia meminumnya sampai gelas dengan ukuran sedang itu kosong. Untunglah aku sempat mencegah gadis itu menjajakan tubuhnya pada suamimu, Laluna. Jika tidak, maka pasti wanita itu akan membuat Jimin menanam benih di rahimnya. Sebenarnya Jimin pun tidak tahu apa yang sedang di minumnya saat itu."
Dengan seksama ia mendengar penjelasan temannya itu, dan tak percaya apa yang sedang terjadi dengan Jimin, suaminya. Merasa kebingungan dan khawatir disaat yang bersamaan membuatnya hampir oleng dan kepalanya kembali berdenyut. Tapi dia harus kuat, untuk membuat Jimin kembali pada jati dirinya.
"Aku bingung, Chaeryong. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apa ada cara untuk meminimalisir efek dari minuman sial4n itu?" Kesal dan takut, Laluna hampir saja menangis.
"Apa Jimin sudah benar-benar terangs4ng saat ini?"
Luna menoleh, mendapati Jimin yang terkadang mengipasi tubuhnya sendiri dengan tangan, menggeliat ke sisi kiri dan kanan kasur sampai-sampai seprainya pun sudah tak terbentuk.
"Sepertinya iya. Pasti akan sulit membuatnya sadar. Dia sudah benar-benar kepanasan sekarang." Jawab Laluna gemetaran karena terlalu khawatir. Bagaimana tidak? Jimin bisa saja melukai dirinya sendiri jika terus berlanjut efek itu.
"Lakukan saja tugasmu, Laluna. Hanya itu yang bisa membuat suamimu berhenti. Aku yakin kau bisa meskipun keadaannya akan mempersulit dirimu nantinya."
Wanita itu mematung. Jujur saja dia tak pernah melakukan hubungan semacam itu seumur hidupnya selama ini. Apalagi jika sekarang dia yang harus memulainya. "Tidaak!!" Pekiknya membayangkan apa hal utama yang harus di lakukannya nanti.
"Apa? Kau harus Laluna! Jimin menderita sekarang. Kau tak ingin membantu suami mu? Dia sedang membutuhkan dirimu. Lakukan Laluna! kau harus melakukannya!"
Desakan dari Cheryong membuatnya semakin khawatir, bukannya bersemangat. Jika membahas hal itu saat ini, ia jamin tak ada yang bisa membujuknya. Tetapi...
"Rasanya jantungku akan melompat keluar, kau tahu? Apa tak ada cara lain? Apa ku panggilkan jal4ng saja?" Usulan gila dari Laluna yang kehabisan akal.
"Sekarang yang sakit kau atau Jimin, sih? Kurasa kalian berdua sama-sama sakit. Cepat, Laluna. Kenapa kau ragu? Apa kalian belum pernah melakukan itu?"
"Tidak... " Jawabnya polos.
Dan ternyata dugaan Chaeryong benar. Pernikahan itu bukan atas dasar keinginan Jimin sendiri. Ini pasti melibatkan kedua orang tua mereka, dan kelancaran bisnis. Sempat terdiam beberapa saat, Chaeryong kembali berbicara.
"Kalau begitu lakukan sekarang. Kenapa kau hanya diam? Apa kau ingin aku yang menolong suami mu? Kalau begitu buka kan gerbang rumah mu sekarang. Aku akan segera kesan--"
"Heh!! Apa kau gila? Maaf, tak perlu. Aku matikan dulu, terima kasih penjelasanmu."
Laluna mengkhiri sambungannya secara sepihak. Ia berbalik, menatap suaminya dari jarak beberapa meter. Jimin semakin tak tergambarkan keadaannya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ia sudah pernah berjanji pada dirinya sendiri, ia tak akan melakukan hubungan *3** jika bukan didasari cinta.
Tapi sekarang, sekarang dia harus merelakan mahkotanya terenggut dengan kasar meskipun itu suaminya sendiri? Benar yang di katakan Chaeryong, tak ada yang bisa menolong suaminya saat ini selain dirinya sendiri.
Perlahan ia berjalan mendekat pada pria bermarga Park yang terkadang mendesah tak jelas dengan beberapa erangan yang erotis dan memang menggairahkan. Laluna mendekat dan berdiri di sisi ranjang, tepat di sebelah Jimin yang sudah tak karuan rupanya disana.
Pria itu berhenti dari tingkah anehnya dan terbaring dengan nafas yang terengah-engah tepat di sebelah Laluna berdiri. Perlahan, ia membuka matanya setengah, sayu dan terlihat ketidak mampuan disana. Laluna merasa tak tega jika harus membiarkan Jimin begitu saja, apalagi jika dia sampai melukai dirinya sendiri.
Masih saling tatap di antara keduanya, tangan wanita itu bergerak meraih sakelar lampu dan kemudian di matikannya. Hanya ada sedikit penerangan yang bersumber dari lampu di kamar mandi yang pintunya terbuka.
Jimin tak bergerak dan tidak bertingkah aneh lagi, mungkin dia sudah dalam tahap berhalusinasi. Dimana ia akan melukai dirinya sendiri untuk merasakan sakit jika tak segera di beri kepuasan.
Mata yang belum sepenuhnya terbuka, tetapi dia bisa melihat pergerakan istrinya, yang sekarang di lakukan Laluna adalah melepas satu persatu kain yang menutupi tubuhnya. Hingga, pinggang ramping, salah satu yang di sukai Jimin pada diri Laluna dapat dilihat pria itu. Secara langsung, di depan matanya.
"Aku melakukan ini untuk menolongmu karena aku... mencintaimu. Mari kita lakukan dengan dasar cinta sebelah pihak." Ia berujar dengan sedih dan berbaring di sebelah suaminya yang memang membutuhkan dirinya saat ini.
Jimin memulai aksinya seperti tempo hari yang terhenti dengan alasan cinta. Dan kini ia lah penguasa sepenuhnya di atas Laluna. Malam ini ialah pemilik tubuh indah itu.
Sedikit demi sedikit, Laluna mulai merasakan setiap ciuman dan pergerakan Jimin yang menjadi semakin dalam dan memanas untuk dirinya.
Jadilah malam itu sebagai malam yang tak akan pernah terlupakan. Hal terkejam yang di hadiahkan cinta untuknya (Laluna).
Cinta menciptakan sebuah hubungan yang di inginkan setiap insan, tapi tidak dengan Laluna. Seakan ia hanyalah alat yang di kirimkan cinta untuk membuat orang lain bahagia. Tapi tidak untuk kebahagiaannya.
Malam ini akan menjadi malam yang panas untuk mereka berdua.
.
.
__ADS_1