Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 30


__ADS_3

"Kisahku... tak akan panjang, sayang. Hanya bersisa beberapa bait lagi. Sampai endingnya nanti, ayo terus bersama. Genggam tangan ku, kita melangkah bersama. Melewati senja setelah hujan turun yang di indahkan pelangi. Tetaplah melangkah bersama meskipun itu dalam kegelapan malam."


(Laluna said)


.


"Apa?! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang, heh!" Jimin mendorong sebuah kursi yang ada di sebelahnya. Dahinya berkerut dan matanya memerah.


"Maafkan aku, Hyung. Ini begitu mendadak dan aku bahkan hampir tak sempat menghubungi mu kemarin." Jungkook ikut berdiri dan mengusap pelan punggung Jimin berusaha menenangkan pria itu.


"Apa keluarga Rawless sudah tahu dia akan pulang?"


.


.


Berbeda dari pagi biasanya, Laluna bangun lebih cepat dan sudah siap dengan blazer piyamanya. Terlihat buru-buru dan mengikat rambutnya asal, ia berlari kembali ke arah kasur dan menarik pergelangan Jimin yang terlihat masih setengah sadar. Dengan susah payah pria itu membuka kedua matanya dan kemudian beranjak ke kamar mandi, karena adanya dorongan yang kuat dari sang istri tentunya.


Seraya menunggu Jimin bersiap, Laluna melilitkan syal di leher seraya bercermin dengan senyuman yang tak memudar sedari tadi. Dengan penuh semangat, ia menggepalkan tangan dan berpose "Yes!" beberapa kali.


Beberapa menit setelahnya, Jimin keluar dan sudah selesai. Lantaran kedunyanya sama-sama masih dengan piyama mereka, Jimin pun memilih memakai syal dari pada mengganti pakaian begitu pagi. Ini masih gelap, langit pun masih memperlihatkan satu dua bintang. Pria itu tak mengerti, permintaan ini begitu aneh menurutnya. Meskipun banyak orang yang melakukan hal itu, namun mereka melakukannya di saat-saat tertentu atau hari-hari tertentu.


Seraya menunggu Jimin menghampirinya, Laluna keluar dari kamar dan berdiri di salah satu jendela besar yang berada diantara jalan menuju tangga untuk turun dan tangga menuju rooftop.


"Pagi ini, sebelum aku pergi aku ingin menikmati matahari terbit bersama mu. Ini adalah kebiasaan ku dengan teman ku saat kami jalan-jalan pagi bersama. Aku selalu mengatakan padanya bahwa suatu saat nanti ketika aku memiliki pasangan, aku akan terus melanjutkan kebiasaan ini sampai di hari tua ku nanti."


"Namun, dia hanya diam. Tidak mengatakan "tidak", atau pun mengatakan "iya". Tapi aku tetap menjelaskan padanya kenapa aku ingin melakukan itu. Aku berkata padanya bahwa, jika suatu saat nanti aku tak mampu lagi untuk menemani suamiku, aku ingin dia menyapa mentari setiap pagi."


"Maksudku, jika aku pergi suatu saat nanti aku ingin dia tahu bahwa aku akan selalu bersamanya setiap hari, setiap saat, selamanya. Aku melakukan ini, pagi ini, dengannya... karena aku ingin dia tahu. Bahwa,--"


"Sudah siap?" Sebuah tangan kekar meraih pinggang Laluna dan menuntunnya menaiki anak tangga menuju atap.


"Haah... sejuk sekali pagi ini." Jimin berjalan mendekat pada pembatas rooftop dan duduk di lantai seraya menopang tubuh dengan kedua tangannya yang menjadi penumpu.


"Akhirnya... " Laluna bergumam.


Keduanya berdampingan dan berjalan lebih dekat pada pembatas rooftop. Cahaya kuning ke-emasan perlahan memperlihatkan wujudnya dari ufuk timur. Secara perlahan matahari keluar dari peraduannya dan memulai tugasnya yang mulia. Dari ketinggian itu, Laluna bisa melihat halaman-halaman tetangganya mulai terpapar sinar matahari secara perlahan. Sampai kemudian melewati rumah-rumah, gedung-gedung, dan...

__ADS_1


"Hiks... "


Dikala sinar mentari melewati tubuhnya, ia merentangkan kedua tangannya dan mendongak menikmati cahaya sang surya. Dan ia mulai menangis.


"Akhirnya tetap saja begini." Jimin berujar pelan dan mendekat pada istrinya. Ia semakin mendekat dan merangkul bahu Laluna.


"Akhirnya aku mengetahui akhir kisah ini. Kisah yang di ciptakan Tuhan dengan kedua orangtua kita menjadi perantaranya. Akhirnya, aku tahu kalau kisah kita akan berakhir seperti yang kau perkirakan. Aku tak tahu kenapa, tetapi aku hanya merasa bahwa... kisah ini akan berakhir dengan perpisahan."


"Aku... aku hanya merasa bahwa aku akan terbawa pada mu apapun dan bagaimana pun caranya nanti. Aku merasa bahwa aku tak bisa tanpa mu. Aku... aku juga tak mengerti kenapa aku begitu meyakini bahwa aku akan mengikuti jejak mu kemana pun arah kau pergi. Jika memang aku harus m4ti karena dirimu Luna, aku akan rela."


"Dan dengan begitu akhirnya aku bisa mengenalmu lebih dari seorang pasangan. Kau bukan hanya berperan sebagai seorang istri bagi ku, tetapi kau juga sahabat hidupku. Disaat orang-orang memilih singgah hanya untuk memanfaatkan, kau justru memilih untuk tetap tinggal dan menjadi rumah untuk ku."


"Kini kau adalah tempat ku mengadu, berbagi kisah, mengeluhkan tentang hari yang membuat ku lelah. Sekarang dan seterusnya kau lah duniaku. Aku akan berusaha menjadi bulan yang baik untukmu. Aku akan berusaha memberikan cahaya yang terang untuk menyinari langkah mu yang terbawa kegelapan. Aku akan menjadi bulan untuk mu, Dewi Selena."


Laluna terkesiap begitu mendengar Jimin menyebutkan nama itu. Dia memang sangat menyukai bulan sampai teman-teman dan keluarganya terkadang mengenal dirinya dengan nama Selena selain Laluna yang juga berarti bulan. Namun, untuk Selena berarti Dewi bulan.


"Dan aku hanya ingin kau tahu bahwa, meskipun nanti aku tak bisa kembali lagi ke Korea ini, aku ingin kau tahu bahwa aku akan kembali dalam bentuk cahaya mentari pagi. Sapalah aku, Jimin-shi. Aku akan ada di sana dan menunggu mu untuk menyambut kedatangan ku." Ujarnya seraya menunjuk pada matahari yang sedang terbit.


"Aku bersumpah untuk menyusul mu jika kau tidak kembali." Jimin langsung menarik Laluna dalam pelukannya secara tiba-tiba, membuat Laluna sedikit terkejut akan hal itu.


"Haha! Kau lucu sekali, Jimin-shi. Tentu aku akan kembali, bukankah aku ini rumah mu sekarang? Apa mungkin aku akan membuat suamiku gelandangan? Heh! Haha."


.


.


.


"Ternyata kau benar-benar akan pergi, ya?"


Keheningan yang sedang menemani mereka kala itu seketika lenyap bersamaan dengan sebuah pertanyaan yang tak mampu di jawab Laluna. Sejak tadi, ia sudah berusaha supaya tidak sampai menangis di hadapan Jimin dan kedua dokternya--Lalisa dan Jungkook--nanti.


"Tenang saja, aku akan selalu mengabari mu, sayang." Tutur Laluna mengusap pelan bahu dan pergelangan pria yang sedang menyetir itu.


Saat ini, perjalanan yang sedang di tempuh keduanya menuju bandara Internasional Incheon. Seperti yang di putuskan beberapa waktu lalu, Laluna akan kembali ke Indonesia dan menjalani operasi disana. Selain karena dokter disana pernah berhasil dalam operasinya, entah apa lagi alasan Laluna meminta untuk menjalani perawatan di Indonesia.


Padahal jelas-jelas di Korea sana perawatan dan segala alat yang di butuhkan lebih lengkap di bandingkan di sana. Setiap negara punya kekurangannya masing-masing.

__ADS_1


Setelah memarkirkan mobil, keduanya turun untuk mengambil barang-barang di bagasi dan di urus di dalam bandara. Karena penerbangannya masih 2 jam lagi, Laluna memutuskan untuk menunggu sahabat-sahabat Jimin yang sedang dalam perjalanan. Juga anak buahnya yang akan pulang bersamanya karena tugas mereka disana sudah selesai.


Namun, yang Jimin ketahui saat itu mereka bukanlah anak buah suruhan Laluna melainkan Tn. Rawless dari Indonesia yang meminta mereka untuk menjemput Laluna. Karena yang mereka--termasuk Jimin--ketahui saat ini adalah, keluarga Laluna tahu mengenai kepulangannya yang nyatanya padahal Wanita itu memilih untuk merahasiakan itu.


Setelah berpamitan dengan Ot7, dan Lalisa, Jimin tiba-tiba mengajak Laluna untuk mengikutinya yang ternyata mengarah ke toilet. Karena toilet yang terpisah antara wanita dan pria, Jimin meminta izin pada security untuk menemani Laluna masuk ke toilet karena dia sedang tidak sehat dan harus di awasi.


Setelah mendapat izin, tanpa menunggu lagi Pria itu langsung menarik istrinya masuk ke salah satu toilet dan mengunci pintunya. Sampai di sana, Laluna sudah bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia sudah cukup dewasa untuk mengerti situasi apa yang saat ini sedang terjadi. Terlebih lagi tatapan Jimin berubah begitu dalam dan menginterupsi.


Tanpa segan Laluna mendekat, mengatup pipi Pria itu dengan kedua tangannya, dan tatapan keduanya yang tak lepas sedikit pun. Tak seperti di sebuah drama dan adegan itu akan sangat perlahan. Melainkan, Laluna langsung menarik Jimin dan memulai hal yang sudah lama tidak mereka lakukan.


Tidak bermain terlalu dalam, hanya sebuah cium4n yang berlangsung selama beberapa menit dan cukup memuaskan. Saat keduanya masih berbincang penuh keromantisan, sebuah pengumuman berhasil membuat keduanya tersadar bahwa mereka akan terlambat jika masih berdiam di sana.


Jimin langsung menarik pergelangan sang istri dan di tuntunnya kembali menuju lokasi mereka tadi. Terlihat beberapa penumpang sudah berjalan menuju pintu masuk pesawat, sebagai tanda perpisahan mereka yang Jimin yakini hanya berlangsung selama satu atau dua minggu, ia kembali memeluk istrinya dengan erat. Sangat erat sampai - sampai tubuh Laluna sedikit terangkat.


Pengumuman terakhir, kali ini wanita itu harus bergegas.


"Jaga pola makan mu, dan jangan tidur di atas jam 10. Dan... selalu tersenyum, jangan pernah menangis jika itu karena aku!" Tuturnya seraya berlari pelan dan melambai-lambaikan tangannya dengan pergerakan yang perlahan.


Pintu pesawat di tutup, dan mereka lepas landas.


Rasanya baru kemarin mereka turun dari pesawat yang sama saat tiba di Korea pertama kali. Rasanya... baru kemarin mereka melalui semua penderitaan itu bersama. Disaat mereka akan memulai hidup baru, kenapa Tuhan justru memisahkan keduanya? Apa mereka hanya di persatukan oleh penderitaan, bukan cinta?


"Aku merindukan mu." Gumam Jimin seraya tersenyum meskipun hatinya bersedih. Seperti permintaan istrinya, jika itu menyangkut dirinya maka Jimin harus selalu tersenyum untuk itu.


Sebenarnya ia sangat ingin ikut menemani Laluna menjalankan operasinya dan juga menemani istrinya saat di rawat di rumah sakit. Bahkan sebelum keberangkatan Laluna, Jimin sempat beberapa kali merayu dan memohon pada sang istri supaya di perbolehkan untuk ikut.


Tetapi akhirnya Jimin harus mengalah dengan alasan, "ada satu hal yang lebih penting dari diriku yang harus kau urus."


Menurut Jimin, saat itu sampai saat ini yang paling penting dalam hidupnya adalah istrinya, Laluna. Tak ada yang lebih penting selain Laluna bahkan hidupnya sekalipun akan ia korbankan jika itu untuk wanita itu. Ia benar-benar sudah sepenuhnya mencintai istrinya, sangat-sangat mencintai.


Dan ia tak mengerti sesuatu hal sepenting apa yang Laluna anggap hal itu lebih penting dari dirinya?


.


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG...


__ADS_2