Secret Wife Of Presdir Park

Secret Wife Of Presdir Park
eps 9 ( OT7 ) (Ot seven)


__ADS_3

▪︎ʜᴀᴘᴘʏ ʀᴇᴀᴅɪɴɢ


"Rindu salah satu penyakit yang sulit di sembuhkan jika bukan oleh penyebab kerinduan. Ini? Bukan tentang ku, tapi dirinya."


(Laluna said)


.


"Astaga!" Jimin terkejut membatin dengan raut wajah terkejutnya yang ia sembunyikan. Pria itu berlutut dan tangannya terulur untuk mengangkat tubuh yang sudah terkapar di lantai yang dingin itu.


Ia menemukan Laluna di gudang penyimpanan aksesoris rumah. Entah kenapa gadis itu bisa sampai ke gudang yang terletak di bagian paling belakang rumah. Menghentikan segala pertanyaan di benaknya, Jimin segera membawa Laluna ke kamar utama dan langsung memanggil dokter.


Supaya tak ada yang curiga kalau wanita itu sakit parah, ia meminta dokter pribadinya yang ia tugaskan di kantor untuk ke rumah dan memeriksa Laluna disana. Jujur saja, Jimin juga merasa belum siap memperkenalkan wanita itu pada dunia kalau dia istrinya.


.


"Siang, Hyung. iya aku akan segera kesana." Seorang lelaki berbadan bongsor dengan jas putih, ia mempercepat langkahnya melewati koridor dan segera menuju parkiran. Benar-benar terlihat seperti orang yang sedang di kejar hantu pria itu. Dia seperti lupa caranya berjalan, larinya begitu cepat dengan gerakannya yang gesit. Ia masuk ke mobil dan menancap gas begitu saja keluar dari area parkir.


Dengan lihai pria itu menyalip setiap kendaraan di depannya. Apa mungkin dia seorang pembalap? Tapi kenapa jasnya menunjukkan identitasnya yang bahwa dia adalah seorang dokter? Siapa dia?


Tak berapa lama dan tak terlalu jauh dari kantor, ia memasuki sebuah kawasan yang hanya di masuki oleh orang-orang kaya dan ternama seperti dirinya. Namun, sepertinya dia tidak tinggal di kawasan elit itu. Setelah memarkirkan mobilnya, dengan tergesa-gesa ia mengambil kebutuhannya dan langsung keluar dari mobil dengan berlari memasuki sebuah pekarangan rumah yang besar nan mewah di kawasan itu.


"Hyung!!"


Pria itu memekik memanggil seseorang yang sepertinya sudah sangat dekat dengannya. Tanpa permisi langsung dibukanya pintu besar yang menjadi pintu utama rumah itu. Sepi, tak ada yang datang menyambutnya.


Perset4n, lah. Dia terlihat khawatir dan kembali mempercepat langkahnya menuju kamar utama dimana seorang pria tiba-tiba keluar dari kamar itu dengan raut wajah yang...


Biasa saja.


"Apa yang kau rasa kan? Apa ada yang sakit? Dimana?" Pria berbadan bongsor dengan jas putih itu sedikit meraba-raba tangan, wajah dan kepala orang yang sedang berdiri dihadapannya saat ini. Dan itu... Jimin. Mungkinkah tamu ini adalah Dokter yang di panggil Jimin?


"Hentikan, Jungkook-ie." Jimin meraih tangan pria yang bernama Jungkook itu supaya ia berhenti memastikan suhu tubuhnya.


"Bukan aku yang sakit, tapi dia." Jimin menunjuk sekilas ke dalam kamar utama yang sedikit terbuka pintunya. Namun tak terlihat Laluna.


"Astaga! Bisa tidak, kalau bicara terus terang saja sejak awal. Aku hampir menabrak mobil orang tadi, kau tahu?! Aku pikir itu kau, hyung. Tapi syukurlah jika itu bukan kau." Jungkook mengusap dadanya pelan dan sedikit memeluk Jimin yang di panggilnya dengan sebutan Hyung. Apa Jungkook adik Jimin?


Jungkook mulai melangkah melewati Jimin dan membuka pintu dengan lebar. Ia mulai melangkah masuk. Awalnya tak ia dapati siapapun disana, sampai kemudian...


"Dari mana kau mendapatkan bidadari ini, hyung?"


Pria itu terkesima dengan kecantikan Laluna yang tak memudar meskipun kesehatannya sedang tak mendukung. Jimin yang mendengar penuturan Jungkook, ia pun ikut duduk di tepi kasur dan membuat Laluna berada di tengah-tengah mereka. Pria bergigi kelinci itu masih belum mengalihkan padangannya dari istri hyung-nya itu.


Ia memperhatikan dengan seksama setiap kecantikan yang tercipta di Indonesia itu. Di mulai dari rambut hitamnya yang terlihat begitu lembut, mengkilap dan tebal. Matanya yang tak tersentuh bahan kimia apapun, namun terlihat begitu seksi dan berwarna. Bibirnya. Bibirnya...


"Bagaimana rasa bibirnya itu?" Tiba-tiba Jungkook bersuara demikian, membuat Jimin sedikit malu dan kesal dengan pertanyaan si pria bontot. Jungkook melirik Jimin sekilas, ia bisa melihat tatapan sangar dari seorang Park Jimin sedang menyoroti dirinya. Bukannya takut, Jungkook malah geli dengan tatapan Jimin.


"Lihatlah ciptaan yang sempurna itu. Bibirnya... bibir itu begitu cherry warnanya dan mungil. Bibirnya sangat kissable dan terlihat manis. Hyung, apa kau pernah merasakannya? Apa itu manis? Atau... jangan-jangan kau bahkan sudah..." Jungkook menghentikan kalimatnya di kala ia menyadari kalau Jimin sudah di sebelahnya dengan sebelah sandal di tangannya yang di angkat tinggi-tinggi dan terlihat akan,


PUG!

__ADS_1


Jimin mengh4ntam bokong Jungkook sampai-sampai pria itu meringis. "Periksa saja dia, Jk!" Jk? Singkatan namanya, mungkin.


"Aku kan hanya memuji istrimu dan menanyakan permainan mu. Apa kau tak senang aku mengatakan istrimu cantik?" Ia semakin menggoda Jimin yang sekarang berlalu melewati kasur yang di tempati Laluna.


"Tidak." Itu serius. Jawaban Jimin serius. Dia tak suka jika ada yang memuji kecantikan Laluna.


"Apa? Terima saja dia, hyung. Aku rasa Laluna bisa menjadi istri yang baik untukmu." Jungkook ternyata tahu semuanya. Apa hubungannya dengan Jimin sebenarnya?


"Kau kenal aku, Jung. Aku tak bisa memulai sesuatu atau menyukai sesuatu jika hal itu didasari dengan keterpaksaan. Terlebih lagi hal itu merenggut kebebasan ku, kebahagiaanku, dan mencampuri urusan di hidupku. Bahkan, menjadi beban hidupku. Sejauh ini, wanita itu memang sudah banyak membantu. Bahkan, ada satu bantuan yang benar-benar tak akan ku lupakan. Tapi aku tetap tak bisa mencintainya. Bahkan sebaliknya. Mungkin aku sudah ku*ang ajar dengan hidup anak orang yang tak jelas masa depannya. Tetapi itu juga keinginan dirinya dan orang tuanya. Mereka juga sudah ku*ang ajar dengan hidupku." Jimin menimpali dan pergi begitu saja dari ruangan itu.


Jungkook mematung. Tak percaya dengan pemikiran lelaki itu. Ia memang tahu Jimin, pria itu tak bisa dipaksakan, atau jika tidak dia akan seenaknya. "Nuna... Maafkan Jimin Hyung." Tutur Jungkook dan mulai memeriksan keadaan Laluna yang terlihat belum membuka matanya sampai saat ini.


.


"Bagaimana keadaanya?" Tanya Jimin pada Jungkook yang baru saja mengahampirinya ke dapur.


"Aku terkejut. Ternyata dia memang tidak baik-baik saja. Tapi mengenai dia pingsan, itu karena phobia. Karena dia sudah sadar, aku menanyakan apa yang terjadi sampai dia bisa pingsan. Katanya, dia takut kegelapan dan itu membuatnya tak bisa bernafas dengan benar. Karena itu dia pingsan." Jungkook menjelaskan keadaan Laluna. Dan, siapa tahu? Laluna ternyata memiliki phobia pada kegelapan.


Menaggapi penjelasan Jk, Jimin hanya mengangguk dengan tangan yang masih terfokus pada dua buah cangkir berisikan teh hangat. Kini mereka duduk berhadapan di meja bar dan menyeruput teh yang masih hangat itu.


"Hyung, sekarang kan aku sedang tidak sibuk-sibuk amat. Bagaimana, kalau nanti malam kita minum bersama mereka?" Jungkook mengusulkan seraya melirik jajaran botol bir dan whisky dengan berbagai macam minuman lainnya dengan merk-merk yang hebat di lemari di belakang Jimin.


"Mereka? Mereka siapa?" Jimin yang tidak loading kembali bertanya.


"Ya ampun... ot7 (ot seven) Hyung?!"


"Ooh. Tidak."


"Hentikan itu, aku jijik melihatnya." Tuturnya dengan tatapan sinis.


"HYUNG!! Kenapa tidak?! Kita sudah dua tahun tak berkumpul. Apa kau melupakan sahabat-sahabatmu?" Jungkook bukan lagi menekuk wajahnya sekarang. Tapi melipat. Sangat cemberut dengan mata yang menatap Jimin begitu dalam.


"Bukan begitu. Aku tak akan menerima tamu lagi mulai sekarang." Alasan Jimin dengan atensinya yang terfokus pada teh yang sedang di aduknya.


Jungkook mulai mengerti arti dari kalimat Jimin. "Apa itu karena Nuna?" Ia bertanya.


Jimin mengangkat wajahnya menatap Jungkook dengan ekspresi aneh sekaligus terkejut. Panggilan apa yang baru saja dia ucapkan? Nuna?


"Nu-Nuna? Dia tak pernah menjadi kakakmu, Jungkook." Jimin membantah panggilan itu. Ia tak suka.


"Katakan saja pada Laluna untuk tidak turun ketika mereka datang. Ayolah... aku mohon!!" Jungkook benar-benar memaksa, membuat Jimin bingung harus membuat keputusan.


"Jangan paksa aku, Jk." Pria itu bangkit dari duduknya dan meninggalkan Jungkook. Tak harus menghitung berapa langkah ia berjalan seorang diri dan terbebas dari Jungkook yang sedang mode manja itu, Jungkook sudah langsung memeluk pergelangannya dan mengekorinya.


"Jungkook! Kembali ke rumah sakit sekarang." Suruh Jimin namun di abaikan Jk.


"Tidak sebelum kau mengabulkan keinginan ku."


Jimin berhenti melangkah. Ia memijit pelipisnya pelan. Tak habis pikir dengan kelakuan anak ini. "Hais!" Desah Jimin dan berusaha menarik pergelangannya yang di peluk Jungkook.


"Kau pikir aku jin yang bisa mengabulkan semuanya? Pergi sana!" Tutur Jimin yang belum berhasil membebaskan pergelangannya yang ternodai itu.

__ADS_1


"Jin Hyung saja bisa, masa kau tidak!" Jin. Tidak, sepertinya bukan jin yang tak kasat mata itu. Tapi seseorang yang terlibat banyak di kehidupan keduanya.


"Kalau begitu minta saja pada Hyung-mu yang ajaib itu. Aku tak bisa mengabulkannya untuk mu." Ujar Jimin enteng dan menarik Jungkook sampai ke mobil pria itu yang terparkir di halaman depan.


"Jahat sekali. Dasar, CEO jelek!!" Jungkook membebaskan tangan Jimin dan berjalan melewati pria itu dengan tatapan kesalnya.


"Mau mabuk atau tidak, aku tak akan masuk kerja sampai kau mengabulkan keinginanku!" Jungkook berdiri di sebelah mobilnya, menunggu jawaban dan tanggapan Jimin yang juga berdiri di teras rumah dengan tatapannya masih pada si bontot.


"Kenapa harus Bar ku, heh?!" Jimin mulai kesal.


"Pergi saja ke club, bukankah lebih menyenangkan ada banyak hal yang bisa kalian lakukan?! Menghabiskan uang saja kau ini." Jimin menghampiri Jungkook yang masih mematung dan membawa pria itu untuk masuk ke dalam mobil secara paksa.


Saat akan menutup pintu mobil, tiba-tiba Jimin menyadari adanya perubahan baru lagi pada Jungkook. Bahkan, Jimin mendapati sesuatu di kursi penumpang di sebelahnya.


"Album? Apa itu album kita dulu?" Batinnya.


"Karena aku ingin kita berkumpul lagi, Hyung. Sudah sangat lama kita tak lagi mempunyai waktu bersama. Aku ingin merasakan itu lagi. Sangat ingin. Kau pun sudah jarang tersenyum dan tertawa seperti dulu. Aku ingin Suga Hyung membawa kembali senyuman mu itu. Aku juga ingin bertemu Tae Hyung. Aku merindukannya, Hyung."


"Aku ingin bermain kejar-kejaran dengan Tae Hyung. Aku juga ingin meminta banyak hal pada Seokjin Hyung. Beberapa waktu ini, setiap kali merasakan lapar aku selalu ingin makan dengan di suapi Hobi Hyung. Aku juga ingin mendengar kata-kata savage suga Hyung yang menyeramkan. Aku juga ingin merasakan kembali bagaimana Suga Hyung memanjakanku. Aku juga ingin melihat Namjoon Hyung memecahkan botol bir mu saat dia sudah mabuk. Aku ingin mencium dahinya seperti beberapa tahun lalu itu. Aku ingin semuanya dari mereka kembali padaku. Aku juga ingin mendengar kau meneriaki memanggil namaku."


Jimin terpaku. Seolah tertancap pada tanah, ia tak lagi mampu bergerak. Hatinya tersentuh mendengar perkataan Jungkook. Apa dia serindu itu pada mereka? Apa dia kesepian semenjak mereka berpisah?


Jimin menunduk sedikit untuk menyamakan posisinya dengan Jungkook yang sudah duduk di mobil. "Maafkan aku, Jungkook-ie. Aku akan berbicara dengan mereka dan mengajak mereka untuk minum bersama besok malam." Seketika itu juga wajah jungkook kegirangan dan berbinar.


"Huuf..." ia menghembuskan napas panjang dan kembali berdiri dengan tegak.


"Itulah alasannya kenapa aku tak ingin Seokjin hyung terlalu memanjakan mu. Sebenarnya aku tak ingin..."


"Tapi mau bagaimana lagi? Aku juga sudah sangat merindukan mereka semua. Maaf, tadinya aku pikir kau hanya ingin iseng untuk bersenang-senang saja. Sekarang kembali kerumah sakit. Jangan pernah berhenti meminta sesuatu padaku." Ujar Jimin. Ia tersenyum dan menepuk pelan bahu Jungkook.


"Terima kasih, Hyung."


Jimin mengangguki pria itu dan hendak melangkah untuk kembali kedalam. Namun, panggilan Jungkook kembali menghentikan langkahnya dan ia pun berbalik.


"Jangan biarkan Laluna melakukan pekerjaan di luar kemampuannya. Dan juga bila perlu sediakan lampu cadangan di rumah kalian supaya saat tiba-tiba lampu mati dia tak sampai benar-benar ada didalam kegelapan. Aku tak memberinya obat apapun.Apabila besok atau nanti dia merasa tak nyaman dengan dada atau kepalanya, datanglah ke rumah sakit. Aku akan memeriksanya lebih detail."


"Kau boleh membencinya, Hyung. Tapi jangan abaikan wanita itu ketika dia membutuhkan bantuanmu. Kalau begitu, aku berangkat dulu. Ingat yang aku pesankan, Hyung." Jungkook memutar balik mobilnya dan melaju dengan cepat ke jalan.


Jimin masih terdiam setelah mendengar penuturan sahabat sekaligus yang sudah ia anggap sebagai adiknya itu. Ia masih tak habis pikir, sebegini terpengaruhnya kehadiran Laluna di hidupnya. Dia benar-benar di tuntut untuk menjaga wanita itu sebagaimana seorang ibu menjaga bayinya. Demi apapun, Jimin memb*nci itu.


Tak ingin semakin terlarut dalam kebe*cian itu, ia memilih untuk masuk dan menghubungi teman-temannya yang lain sebagaimana permintaan si bontot yang pandai menceramahi dirinya itu. Terlebih lagi rintik-rintik hujan mulai membasahi bumi siang itu, pasti akan menyenangkan bila menghangati diri dibawah selimut di kamar.


.


Bersambung...


.


.


Semakin kesini, cast tambahannya semakin terlihat ya^^

__ADS_1


Ot7 juga berpengaruh loh, di beberapa part kedepan;)


__ADS_2