
.
.
2 MINGGU KEMUDIAN...
"Apa pertemuan kami sudah di persiapkan?" Seorang wanita dengan Long dress berwarna Broken white dan high-heels putih, wanita itu duduk dengan anggun di sebuah kursi yang sudah di persiapkan khusus untuknya.
"Seharusnya Presdir sudah di kantor sekarang. Sekretaris Lee mengatakan bahwa mereka akan berangkat lima menit sebelum acara meeting dimulai." Pria yang berdiri di sebelah wanita itu berujar seraya menyerahkan dokumen-dokumen yang sudah di siapkan.
"Dasar, Jimin!" Wanita cantik itu mendengus dan memijat bagian pelipisnya pelan.
"Ada apa dengannya? Beberapa minggu ini saat membuat jadwal pertemuan, pasti dia akan terlambat. Bahkan, dia beberapa kali meninggalkan ruang rapat begitu saja tanpa alasan yang jelas. Apa kau merasa bahwa Presdir berubah belakangan ini? Sekretaris Kang." Ia melirik pria yang sejak tadi masih berdiri di hadapannya. Dari caranya memanggil orang itu, bisa di pastikan dia adalah sekretarisnya.
"Menurut saya perubahannya adalah waktu. Sejak dulu kita tahu kalau jadwal Presdir Park sangat padat, dan dia tak pernah membatalkan jadwal apapun. Namun, selama beberapa bulan ini presdir hampir sering membatalkan rapat dan meeting dengan klien. Saya pikir, pasti ada satu hal yang menganggu waktu kerja Presdir saat ini." Pria yang berpangkat sekretaris itu berujar.
"Aku juga merasa begitu. Aku penasaran!" Tiba-tiba wanita itu berdiri dari duduknya dan menggebrak meja membuat sebuah papan nama bertuliskan CEO Park Chaeryong terjatuh. Melihat benda kesayangan Bos nya terjatuh, Sekretaris Kang bergegas mengambil benda itu dan menaruhnya ke tempat semula.
"Apa yang akan anda lakukan sekarang, Ny. Park?" Sekretaris Kang berjalan mengikuti Bosnya yang terlihat begitu buru-buru keluar dari ruangan.
"Aku baru ingat. Apa kau sudah pernah melihat istrinya Presdir Park?" CEO bernama Chaeryong itu berhenti dan menghadap Sekretarisnya. Orang yang di tanya hanya menggeleng perlahan sebagai jawaban "tidak".
"Tapi itu masih menjadi topik trending nomor satu di media. Katanya, Presdir Park tak pernah menjawab saat ditanya kenapa istrinya di sembunyikan. Bahkan saat salah satu mata-mata media mengawasi kediaman keluarga Park, tak pernah terlihat seorang wanita yang keluar dari dalam rumah. Dan, apa anda sudah tahu mengenai wawancara Presdir dengan awak media beberapa bulan lalu?"
"Tidak, bukankah aku masih di luar negeri saat itu?" Timpal Chaeryong.
"Benar juga. Saat wawancara, ada seorang wartawan yang bertanya dengan lantang pada Presdir. Katanya--
FLASHBACK:
"Apa jadwal hari ini padat? Ada hal penting yang harus aku urus di rumah." CEO itu bertanya pada seorang pria yang berdiri di sebelah kanan mejanya.
"Tidak, Presdir. Jam 08:-- anda hanya perlu menghadiri wawancara dengan wartawan. Ini beberapa pertanyaan yang akan di lontarkan nanti." Sekretaris itu memberikan beberapa lembara kertas yang sudah di klip bersamaan.
"Baiklah. Tinggal beberapa menit lagi, ayo berangkat sekarang." Jimin mengambil jasnya dan keluar dari ruangan berniat untuk menuju studio dimana dia akan di wawancarai.
"Kenapa mereka masih mempertanyakan istriku? Bukankah sudah cukup klarifikasi bulan lalu? Memangnya apa yang mereka harapkan dari Laluna." Tutur Jimin begitu masuk kedalam mobil.
"Mereka bersikeras ingin melihat wujud nyata dari Ny. Park. Mengapa tak anda publish saja Ny. Park? Maaf lantaran sudah lancang, tapi saya rasa ini salah satu jalan terbaik supaya tak ada lagi fitnah yang tersebar." Usul Pria bernama Lee Han-bin seraya menyetir.
"Tak apa, aku memang butuh saran sekarang, Han-bin. Tapi melihat keadaan istriku sekarang bagaimana, rasanya aku tak bisa. Bukannya karena malu dengan penampilannya saat ini, tetapi aku kasihan padanya. Bukan hanya aku yang menentang dirinya untuk di publik, Laluna juga ingin dirinya tak terlihat awak media." Timpal Jimin.
"Tetapi menurutku, kalau mereka ingin mencari tahu bagaimana rupa istriku, mereka akan menemukannya dengan mudah." Lanjut Jimin.
__ADS_1
"Maksud anda, Presdir?"
"Kau kenal dengan pengusaha kebun jeruk terbesar dari Indonesia? Tn. Rawles, namanya."
"Ah, iya. Saya kenal. Bukankah beliau yang menyuntikkan dana untuk Yayasan anak-anak yang terkena kanker di Busan setiap lima bulan? Dan... mertua anda?" Sekretaris Lee.
"Benar sekali. Karena beliau juga sangat terkenal, jelas saja media pernah mengekspose tentang keluarga Rawles di media dan website. Mereka bisa saja menemukannya disana, bukan?"
"Jika tidak, mereka bisa langsung mewawancari Tn. Rawles sendiri dan meminta untuk diperlihatkan foto-foto Laluna. Sangat mudah, menurutku. Hanya saja, mereka ingin bermain dengan cara menjatuhkan lawan utama, kemudian hancurkan kelemahannya. Lalu, rebut hak miliknya. Bukankah itu yang di incar stasiun MGTV selama ini?" Jimin menjelaskan.
Mendengar itu, Sekretaris Lee ikut terkejut. "Benar juga! Mereka bisa langsung mendapat informasi bahkan lebih banyak dari hanya sekedar informasi mengenai Laluna. Apa MGTV masih mengincar lahan itu?" Lanjutnya.
"Masih. Mereka tak akan pernah menyerah meskipun sudah pernah di tolak." Timpal Jimin.
MGTV yang mereka maksud adalah sebuah perusahaan stasiun tv yang cukup terkenal dan mendunia. Stasiun tersebut mengincar salah satu lahan yang sudah menjadi milik perusahaan JM Group sejak beberapa tahun yang lalu.
JM Group sendiri adalah perusahaan yang di tangani oleh Park Jimin. CEO dari MGTV yang menyukai lahan yang strategis tersebut untuk membuat proyek barunya disana, mereka berusaha menghancurkan dan menjatuhkan JM Group.
Namun sejauh ini, mereka masih kalah dan masih menggunakan cara yang terkesan menyenangkan untuk dimainkan bagi seorang Park Jimin. Tapi itu bukanlah termasuk hal yang akan menonjol di kehidupan Jimin saat ini. Di bandingkan dengan masalah pem-privat-an istrinya, itu bukan apa-apa.
Mengenai Lahan dengan luas 20 hektar itu, di peroleh Jimin sebagai hadiah utama dengan memenangkan prediksi mengenai kenaikan saham di setiap perusahaan beberapa tahun lalu.
Singkat cerita...
Acaranya sudah di mulai, Jimin akan kembali di wawancarai secara Live hari ini. Meskipun merasa kualahan lantaran selalu menjawab pertayaan yang sama setia saat, Pria itu tak mau menyerah untuk tetap mempertahankan privasi yang sekarang di inginkan istrinya.
"Mari kita masuk ke sesi tanya jawab. Setiap wartawan di izinkan melontarkan pertanyaan mereka di mulai dari... Sekarang!"
Ibarat bermain sebuah permainan tanya jawab. Jika kau terlihat gugup atau terbata-bata saat akan menjawab pertanyaan itu, maka mereka akan mengira kau berbohong dan bukannya mengatakan apa yang sebenarnya dan seharusnya. Namun, yang sekarang mereka ajak bermain adalah seorang Park Jimin.
Pria itu terlihat begitu tenang dan nyaman saat menjawab setiap pertanyaan dari para wartawan. Dan mereka yang bertanya pun masih menghargai privasi pria itu, juga tidak melontarkan pertanyaan yang akan menyebabkan tersebarnya fitnah.
Namun, saat sesi tanya jawab hampir berakhir, seorang wartawan wanita berdiri dari duduknya dan mengangkat tangannya tinggi-tinggi bahkan sampai melambai mencoba mendapat seluruh perhatian di ruangan itu. Berpikir wanita itu ingin meminta izin untuk bertanya, Jimin menganggukinya dan menunggu pertanyaan wartawan tersebut.
"Kenapa anda masih belum siap memperkenalkan istri anda pada media dan orang-orang yang menggemari anda? Apa karena anda melakukan KDRT sampai tak berani menunjukkan wajah istri anda? Atau karena istri anda tak seperti yang anda inginkan dan anda takut akan di tertawakan? Tolong jawablah dengan jujur pertanyaan saya ini, Presdir Park." Tutur wartawan itu tanpa sopan dan santun.
"Benar! Apalagi pernikahan anda di selenggarakan di luar negeri dan bersifat private. Apa itu ada sangkut pautnya dengan orangtua anda, Presdir? Kami bahkan tak di izinkan mewawancarai Tuan dan Nyonya Park, orangtua anda. Apa ada alasan di balik semua keanehan itu? Mohon di jawab dengan jujur. Akan kami maklumi jika seorang laki-laki bersifat keras terhadap istrinya jika pernikahan itu tak di inginkan." Sambung wartawan lainnya yang ikut berdiri beberapa saat selama melontarkan pertanyaannya.
Mendengar pertanyaan yang sedikit menjebak dan akan menjadi fitnah jika dia membuat sebuah alasan yang tentunya akan sulit membuat mereka percaya, Jimin diam. Ia diam selama beberapa saat sampai kemudian pria itu mengangkat pandangannya menatap dengan lekat wartawan yang sudah berani melontarkan pertanyaan kurang ajar itu padanya.
"Berapa bayaran yang anda terima untuk menyebarkan fitnah kosong itu? Tidak kah anda malu lantaran terlalu jauh melangkah ke dalam rumah tangga orang lain? Jika istri saya memutuskan tak ingin di perkenalkan dulu, haruskah saya menyeretnya keluar rumah dan kemudian membawanya secara paksa kemari untuk di perkenalkan? Bukankah itu lebih buruk dari fitnah anda? Atau... haruskah saya mengundang anda untuk jamuan makan malam di rumah saya dan memperkenalkan istri saya pada anda secara langsung?"
"Jika anda berkenan, saya meminta anda untuk datang makan malam bersama keluarga saya besok malam. Saya berjanji, saya akan membayar anda dua kali lipat jika anda mengatakan siapa yang menyogok anda untuk fitnah itu. Jika anda tidak senang dengan setiap jawaban saya tadi, silahkan tinggalkan ruangan ini dan biarkan kami berbicara dengan tenang. Terima kasih atas pertanyaan k*rang aj4r itu."
__ADS_1
FLASHBACK OFF-
"Wow!! π₯π’π¦π£π’π¬!!" Chaeryong bertepuk tangan untuk dua tiga kali sebagai gambaran keterkejutannya. Ia terkejut atas jawaban yang di lontarkan Jimin dalam menghadapi situasi yang terkesan panas dan menjebak itu.
"Kalau begitu, sekarang biarkan aku berkunjung kerumah mereka dan menjewer telinga presdir itu karena sudah bolos hari ini. Dia pikir pertemuan ini main-main? Tunggu aku. Tunggu saja kau, PARK JEMEEEN!!" Pekiknya di akhir kalimat. Ia terus menggerutu sepanjang langkahnya menuju parkiran.
.
.
.
"Laluna, aku... aku akan bersedih kalau--"
"Shh... " Laluna meletakkan jemari lentiknya di bibir perempuan cantik di hadapannya itu dengan lembut dan pelan. "Jangan bicara begitu, aku akan baik-baik saja. Lagi pula, aku bahagia akhirnya pria yang ku cintai bisa menerima ku di hidupnya meski hanya sebatas rasa kasihan." Lanjutnya.
Wanita lemah yang masih berbaring itu, tangannya berusaha meraih bahu Lalisa yang ingin di bawanya ke dalam sebuah pelukan dingin miliknya. Meskipun pelukan itu tak ada apa-apanya untuk tubuh perempuan cantik itu, tetapi Laluna berharap dengan pelukan beberapa saat itu Lalisa bisa menerima takdir itu. Takdir untuk hidupnya.
"Bisakah tidak perlu berbohong? Akan aku katakan pada mereka yang sebenarnya." Lalisa berdiri hendak beranjak dari sana, namun tangannya langsung di cegat Laluna dan di genggamnya dengan erat.
"Aku mohon. Pertahankan rahasia ini, Lalisa. Aku mohon." Matanya mulai berkaca-kaca.
"Apa yang akan kau dapatkan dari kebohongan mu ini, heh? Kau hanya akan membuat mereka merasa bersalah nantinya. Jangan lakukan ini, Laluna. Mereka akan menderita begitu mengetahui kebenarannya." Lisa kembali pada posisi duduknya di sisi ranjang dengan Laluna yang masih terbaring lemas di atasnya.
"Jangan rusak usaha ku, Lalisa. Aku mohon. Kau lihat? Aku menghabiskan banyak waktu istirahat ku hanya untuk rambut ini dan make up-make up itu." Menatap meja riasnya yang di penuhi alat rias yang bahkan Jimin tak tahu istinya bisa merias diri. Tapi, untuk saat ini, tepatnya bukan merias melainkan menyamarkan.
"Aku menghabiskan hampir setiap delapan jam perhari hanya untuk berdandan. Membuat rambut tetap berada pada posisinya dan terawat sebagaimana rambut aslinya bukanlah hal yang mudah. Jangan hancurkan perjuangan ku, Lalisa. Aku mohon padamu." Ia (Laluna) memegang ujung rambutnya dan menarik beberapa helai rambut itu, kemudian dia bawanya ke dalam genggaman Lalisa.
"Aku tak tega... hiks," Ia (Lalisa) kembali menangis dan terisak. "Aku tak tega pada kalian berdua. Aku tak akan bisa melihat anak itu tumbuh tanpa perhatian seorang ibu, Laluna. Namun, aku juga tak sampai hati jika harus melihat mu kesakitan."
"Jangan bicara begitu, aku juga akan sedih kalau kau membahas itu. Mengenai soerang ibu, akan kuserahkan semua keputusan itu pada Jimin. Dia berhak bahagia dengan wanita yang tulus di cintai olehya."
Lalisa semakin menangis. Perempuan itu menangis dan memeluk Laluna selama beberapa saat. "Istirahatlah, dan bangun lagi saat aku memanggil nama mu nanti." Lalisa semakin mempererat pelukan keduanya dan ia semakin terisak saja. Laluna pun ikut membalas pelukan itu, meskipun singkat karena ia harus kembali berbaring.
"Kapan pun kau menyebut nama ku, aku pasti akan tetap bangun, Lalisa." Ia merengangkan pelukan mereka dan kembali merebahkan tubuhnya di atas kasur.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
.