
❤️SINOPSIS❤️
Lyra tanpa sengaja memergoki perselingkuhan Melody—model cantik yang akan dinikahi sahabatnya—Max, dengan Dylan yang notabene adalah rekan bisnis Max.
Di tengah kegalauan untuk mengadukan perselingkuhan Melody kepada Max. Kecelakaan itu lebih dulu terjadi. Kecelakaan yang menghilangkan memori Max tentang kekasihnya—Melody, tanpa menghilangkan ingatan Max bahwa dirinya mempunyai kekasih.
Entah apa yang merasuki Lyra hingga nekat mengaku-ngaku sebagai kekasih yang telah dilupakan Max.
Akankah Lyra dapat menggantikan posisi Melody sebagai kekasih Max yang sesungguhnya?
Apakah ingatan Max tentang Melody akan kembali? Atau malah hilang untuk selamanya?
.
.
.
.
.
.
Firasat buruk Lyra terbukti sudah kala dirinya tanpa sengaja berhadapan dengan Melody Lynn, seorang model dalam negeri berusia dua puluh tujuh tahun yang berambisi go internasional, yang sedang menjalin hubungan asmara serius dengan sahabatnya sejak masa kuliah—Max Fherem.
"Oh, Hallo Miss Lyra Rampal. Sudah lama ya kita tidak bertemu?" Melody berbasa basi dengan intonasi sesinis mungkin. Tapi Lyra yakin bahwa gadis itu tidak peduli jika Lyra menyadari kesinisannya.
Aahh, seharusnya dirinya ingat bahwa Max sudah pasti diundang oleh pemilik hotel yang sedang mengadakan pesta anniversary pernikahannya ini karena mereka berdua berkawan.
Max menjalin hubungan pertemanan dengan Dylan Lennox—si pemilik hotel, sejak beberapa kali mereka berkolaborasi membuka bisnis bersama di bidang akomodasi. Dan seharusnya Lyra pun tahu jika Max sudah pasti akan datang bersama kekasih tiga bulannya—Melody Lynn.
Ya, Max memang baru bertemu dengan Melody tiga bulan lalu. Dylan yang memperkenalkan mereka berdua karena Melody adalah Brand Ambassador dari hotelnya. Namun secara tiba-tiba Max memberi tahu Lyra bahwa Max berencana akan menikahi Melody akhir tahun ini.
Lyra masih ingat, beberapa saat lalu ketika Max mengiriminya makan malam hasil eksperimen terbarunya. Di dalam apartemen Lyra, pria itu dengan santai memberitahu tentang niatnya menikahi si model.
***
"Kau tahu, Ly? Sepertinya Melody adalah wanita yang cocok untuk menjadi partner hidupku. Jadi aku berpikir untuk menikahinya secepatnya." Max menyeruput kopi yang baru diseduh Lyra sambil mengumbar niatnya pada gadis itu.
"Hah! Are you serious?" Lyra mendelik.
Lyra tak menyangka, Max Fherem si Koki Bujangan yang sangat bertalenta, hingga memiliki beberapa bistro yang semuanya laris manis, akhirnya memutuskan untuk segera menanggalkan status bujangnya beberapa bulan lagi. Apa kata dunia?
"Probably," jawab Max singkat dengan mengedikkan bahu. "Umurku tiga puluh tahun di awal tahun depan, dan orang tuaku mewanti-wanti agar aku menikah sebelum itu, jadi, yaahh— kau tahu, mungkin inilah saatnya bagiku."
Max bicara seolah-olah dirinya hanya sedang membuat rencana liburan akhir tahun dan bukannya tentang sebuah rencana pernikahan sakral yang seharusnya berlangsung untuk seumur hidup.
"Apa kau sudah melamarnya?" tanya Lyra menatap lurus pada Max yang sedang duduk di kursi dapurnya.
"Belum. Aku masih mencari cara yang tepat untuk melamarnya seromantis mungkin agar dia tidak punya alasan untuk menolakku," jelas Max.
Hati Lyra tercabik mendengar kata-kata 'seromantis mungkin' terlontar dari bibir Max yang ditujukan untuk gadis lain. Seandainya kata-kata dan segala rencana romantis pria itu ditujukan untuk dirinya, untuk seorang Lyra Rampal yang diam-diam—entah sejak kapan— mulai menaruh perasaan mendalam pada sahabatnya sendiri.
__ADS_1
"Apa kau mencintai Melody?" tanya Lyra hati-hati sambil mencoba menahan perih di hatinya.
"Aku menyukainya," jawab Max datar. "Dia wanita yang paling lumayan yang pernah dekat denganku," Max mengangkat kedua alisnya tinggi-tinggi.
"Kenapa kau berhenti pada wanita yang menurutmu 'hanya' lumayan?" tanya Lyra sambil mengangkat kedua tangannya dengan dua jari membentuk tanda kutip. "Kenapa kau tidak menikahi wanita yang menurutmu sempurna?" tambah Lyra menyandarkan punggungnya pada kitchen set didapur kecilnya.
"Karena aku tidak berani," gumam Max lirih sambil menunduk menatap ke dalam cangkir kopi yang dipegangnya.
"Apa katamu?" Lyra merasa mendengar Max bergumam sesuatu tetapi tidak terlalu yakin.
"Karena aku tidak punya waktu." Max menjawab sekenanya.
"Apa maksudmu tidak punya waktu?" Lyra heran.
"Sudah kubilang, orang tuaku ingin aku menikah sebelum umurku tiga puluh, dan itu kurang dari enam bulan lagi, jadi kenapa tidak aku memilih Melody yang menurutku paling lumayan," jelas Max sambil meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong lalu beranjak berdiri dan mengusap-usap kepala Lyra untuk berpamitan sebelum akhirnya pria itu menghilang dari balik pintu.
"Tapi Melody tidak menyukaiku dan aku tidak yakin apakah hubungan kita akan tetap sama seperti ini setelah kau menikahinya nanti." Lyra berbisik pada dirinya sendiri setelah Max pergi dari hadapannya.
***
Dan kini, Lyra harus menerima kenyataan sedang berhadapan dengan gadis cantik yang sejak awal sudah menganggap Lyra sebagai penghalang antara hubungannya dengan Max.
"Kau datang dengan siapa, Nona Sahabat?" Melody jelas-jelas menyindirnya kali ini. "Apa Max turut mengundangmu ke pesta ini? Atau kau sengaja mengekorinya?" pertanyaan Melody semakin menusuk telinga Lyra.
Lyra menyesal, benar-benar menyesal telah mengabaikan perasaan tidak enak yang sudah menyergapnya sejak siang tadi.
Saat Big Bos di perusahaannya memintanya untuk datang ke pesta anniversary pernikahan Dylan Lennox di hotelnya sebagai perwakilan dari Travel Agent tempatnya bekerja. Saat itu tiba-tiba perasaan tidak enak merayap di perutnya. Namun Lyra berusaha mengabaikannya.
Seharusnya saat mendengar nama Dylan Lennox dirinya langsung ingat pada Max dan Melody. Seharusnya tadi siang dirinya langsung menolak perintah Big Bosnya itu.
Lyra menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab pertanyaan si Nona Model yang bermulut pedas.
"Don't you dare!" mata Melody menatap tajam pada Lyra. Tapi Lyra sama sekali tidak takut.
Entah apa yang membuat Lyra mempunyai firasat bahwa gadis cantik di hadapannya ini sangat tidak pantas untuk Max. Lyra merasa Melody hanya akan membuat Max terluka.
Namun Lyra tidak berani mencari tahu alasan dari firasatnya itu. Dia takut bahwa firasat itu hanya muncul didorong oleh rasa cemburunya saja.
"Lyra! Kau datang?" seru Max saat melihat Lyra bersama dengan Melody.
Lyra dan Melody kompak menoleh ke arah Max yang berjalan mendekat bersama Dylan Lennox di sampingnya. Melody cepat-cepat menarik tangannya yang mencengkeram lengan Lyra sebelum Max menyadari apa yang dilakukannya terhadap sahabat kekasihnya itu.
Sebelum menyapa Max, Lyra memutuskan untuk menyapa Dylan terlebih dulu mengingat pria itulah tuan rumah dari pesta malam ini.
"Selamat atas anniversary pernikahan anda, Tn. Lennox," ucap Lyra sopan sambil menjabat tangan Dylan.
"Terima kasih atas kedatanganmu, Miss Lyra. Bolehkah aku memanggilmu begitu alih-alih memanggilmu secara formal? Mengingat kau bersahabat dengan Max, bukankah artinya kau dan aku juga bisa berteman?" Dylan tersenyum ramah.
"Sebuah kehormatan bagiku bisa berteman dengan anda, Tn. Lennox." Lyra mengangguk singkat.
"Dylan saja kalau begitu. Aku tidak menyangka kau akan datang menggantikan bosmu." Dylan menatap Lyra dengan tatapan yang intens sembari menyeringai.
"Bosku menitipkan salam untuk anda dan istri anda, Tn.Dylan. Sayang sekali beliau berhalangan hadir karena sedang berpelesir bersama istrinya ke Bali," jelas Lyra merasa tidak nyaman atas tatapan Dylan kepadanya.
"Tidak apa-apa, Miss Lyra. Aku malah senang karena kehadiranmu menambah jumlah wanita cantik di pesta ini. Oh, apakah kau lajang? Aku bisa mengenalkanmu pada beberapa bujang berkualitas kenalanku." Dylan mulai berlagak layaknya Mak Comblang.
__ADS_1
"Hentikan kebiasaan burukmu itu!" Max menyikut rusuk Dylan. "Lyra tidak butuh dicomblangi, biarkan dia menemukan jodohnya secara alami," ujar Max kesal dengan tingkah Dylan.
Melihat sikap Max yang seolah protektif terhadap Lyra membuat Melody dongkol sendiri. Sementara Lyra mengira bahwa Max merasa dirinya tidak memerlukan bantuan dalam hal mencari jodoh, tapi entah kenapa hal itu malah menyinggung perasaan Lyra.
"Baiklah, baiklah— maafkan kelancanganku, Miss Lyra. Aku harap ucapanku tadi tidak membuatmu ingin segera kabur dari pesta ini," ucap Dylan meminta maaf.
"Oh, Tidak, tentu tidak, Tn.Dylan. Aku malah berharap bisa menemukan jodohku secara alami di pesta ini seperti yang Tn.Max katakan tadi," balas Lyra sambil tersenyum penuh percaya diri.
Dylan tertawa, "Aku suka karaktermu, Miss Lyra. Kudoakan semoga kau menemukan jodohmu malam ini, silahkan menikmati pestanya," ujar Dylan sebelum mohon diri untuk menyapa tamu-tamu lainnya, meninggalkan Lyra di tengah-tengah Max dan Melody.
Seolah tak ingin kehilangan kesempatannya, Melody segera menggeser tubuh rampingnya ke samping Max lalu bergelayut manja di lengan pria keturunan Arab-Perancis itu untuk dengan sengaja memamerkan kemesraan mereka di depan Lyra.
"Max sayang, bagaimana kalau kita ke balkon?" ajak Melody pada Max. "Lebih baik kita tinggalkan Miss Lyra agar dia bisa didekati seseorang disini yang mungkin bisa menjadi jodohnya," tambahnya lagi yang justru malah membuat air muka Max mengeras.
"Melody, bisa kau tolong ambilkan aku minuman! Sepertinya aku mulai haus," pinta Max pada Melody namun dengan menatap tajam pada Lyra.
"Mmm, baiklah," jawab Melody yang awalnya ragu tetapi akhirnya terpaksa menurut demi pria yang menjadi kekasihnya itu.
Setelah Melody beranjak pergi, Lyra pun berusaha menarik diri dari hadapan pria jangkung nan tampan yang sejak tadi seolah sedang menahan amarahnya itu.
"Selamat malam, Tn.Max. Maaf jika aku baru menyapamu. Tapi lebih baik aku segera pergi, aku juga butuh minuman, mungkin sampanye cocok untukku malam ini," ujar Lyra sinis sambil melangkahkan kakinya.
"Tidak secepat itu!" kini giliran Max yang mencengkeram lengannya.
"Apa-apaan sih kalian ini?" Lyra segera mengibaskan lengannya demi melepaskan diri dari cengekeraman Max. "Tadi Melody, sekarang kau yang mencengkeram lenganku. Sepertinya kalian memang jodoh karena sikap kalian berdua sama. Sama-sama menyebalkan." Entah kenapa Lyra jadi uring-uringan.
Max yang mendengar ucapan Lyra tentang Melody yang mencengkeram tangan Lyra pun jadi penasaran, "Mengapa Melody mencengkeram tanganmu?" tanya Max.
"Tidak tahu! Tanyakan saja sendiri padanya!" jawab Lyra ketus.
"Baiklah, terserah! Tapi jangan minum alkohol! Kau tahu kalau toleransi alkoholmu sangat rendah, bagaimana caramu pulang nanti jika kau mabuk?" tanya Max, kali ini nada suaranya berubah menjadi khawatir.
"Bukan urusanmu! Aku bisa pulang dengan siapapun yang menjadi jodohku di pesta ini!" jawab Lyra masa bodoh sambil berlalu pergi. Membuat Max mengerang kesal seorang diri.
"Dylan, Sialan!" umpat Max kesal.
Jika saja Dylan tidak bersikap provokatif dengan berusaha menjodoh-jodohkan Lyra dengan siapapun pria di pesta ini, pasti situasi antara dirinya dan gadis itu tidak akan jadi seburuk ini. Max mendengus.
Max melihat Lyra dari kejauhan. Lyra yang malam ini tampil mempesona dengan gaun beludru berwarna hitam elegan yang membalut tubuh semampai wanita itu hingga ke mata kaki. Dengan potongan leher model sabrina berpayet benang emas.
Rambutnya yang digelung ke atas semakin menampakkan leher Lyra yang pas dengan ukuran pundaknya. Membuat pria manapun pasti ingin meninggalkan sebuah tanda cinta disana. Max menikmati sosok wanita yang diam-diam dicintainya setelah sekian lama.
Setelah mengambil segelas sampanye, Lyra nampak sedang memilih beberapa kudapan saat seorang pria menghampirinya untuk berkenalan.
Tak lama muncul seorang pria lain dan satu pria lainnya lagi hingga beberapa pria asing nampak mengerumuni wanita itu bagai kumpulan lebah yang sedang mengerumuni setangkai bunga.
Melihat Lyra yang tampil cantik sedang di kerumuni pria-pria tampan nang berkelas, hati Max pun memanas.
Merasa khawatir Lyra akan semakin kesal terhadapnya jika ia nekat menginterupsi wanita itu dengan teman-teman pria barunya, Max akhirnya memilih mencari Melody yang tak kunjung kembali membawakan minuman yang dimintanya.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue...