
❤️SINOPSIS❤️
Malika diceraikan oleh suaminya yang telah ia nikahi selama lima tahun dan telah memberinya anak kembar karena dianggap sebagai wanita pembawa sial.
Hal itu turut didukung oleh keluarga besar sang suami agar mereka dapat menjodohkan suami Malika dengan janda kaya demi membangkitkan kembali perusahaan mereka yang tengah bangkrut.
🔸⚜️🔸
Taki Sahara, seorang penerus Bakery legendaris berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak menikah sejak dirinya divonis infertil setelah sebuah kecelakaan yang dialaminya.
Namun pertemuannya dengan seorang janda muda yang cantik beranak dua di tempatnya bekerja seketika mampu mengguncang keteguhan hati Taki dalam memegang janjinya itu.
"Aku mungkin tidak bisa memberikan seisi dunia ini, tapi aku bisa memberikan seluruh duniaku. Sebesar itulah perasaanku pada kalian!"
~TAKI SAHARA
"Jika kamu mampu menerima anak-anakku, dan mereka pun bisa menerimamu, maka aku akan berkata 'Iya'!"
~MALIKA SHARNAZ
.
.
.
.
.
"Thanks God, it's DONE....FINISH....RAMPUNG....KELAAARRRRR!!!! AKU BEBAASSS!!!!"
Malika berteriak menyerukan kelegaan dari hatinya di luar ruang sidang Pengadilan Agama yang baru saja memutuskan hubungan pernikahannya dengan sang mantan suami yang telah dijalaninya selama lima tahun dan telah memberinya dua orang anak kembar yang lucu.
"Hei wanita gila!!! Jangan berteriak-teriak dan mempermalukan nama keluarga Amiadi begitu!" maki seorang wanita tua kepada Malika dengan tongkat di tangannya.
Malika menoleh ke arah wanita itu lalu tersenyum dengan anggun. "Mohon maaf tapi anda siapa berani memaki saya? Saya dan keluarga anda sudah tidak punya hubungan apapun lagi sejak hari ini. Jadi tolong! Jangan pernah memerintah saya lagi. Permisi!"
Malika lalu meninggalkan wanita mantan ibu mertuanya itu dengan langkah yang penuh percaya diri. Dalam hatinya, Malika begitu bersyukur tak lagi harus menanggung penderitaan lahir dan batin dari keluarga mantan suaminya itu.
Sudah cukup penderitaan selama lima tahun terakhir ini. Sudah cukup ia mengalah dan terus disalah-salahkan atas apa yang bukan kesalahannya selama ini. Sudah cukup ia dimaki-maki sebagai pembawa sial atas kebangkrutan perusahaan keluarga Amiadi karena ketidak becusan mantan suaminya, anak kesayangan mereka sendiri.
Malika masuk ke dalam salah satu taksi yang mangkal di depan gedung Pengadilan Agama itu. Setelah duduk manis di dalamnya, ia pun menghembuskan nafasnya dengan lega.
"Mau kemana, Bu?" tanya sopir taksi kepada Malika.
"Ke jalan Merbabu, Pak! Daerah Bibis Baru!" jawab Malika mantap.
"Baik!" balas Pak Sopir taksi lalu mulai melajukan armadanya.
Wanita itu bernama Malika Sharnaz, usianya baru dua puluh empat tapi baru saja menjadi janda dengan dua anak kembar laki-lakinya yang lucu dan cerdas.
Ia menikah saat berumur sembilan belas tahun dengan pria pilihannya---Haris---karena cinta. Namun setelah menikah, ia mulai menyadari sifat suaminya yang egois dan labil.
Bagaimana tidak, setiap ada masalah di perusahaannya, Haris selalu saja melampiaskannya kepada Malika yang tidak tahu apa-apa dirumah.
__ADS_1
Malika tidak pernah diizinkan keluar rumah oleh mertuanya, jangankan untuk bergaul dengan teman-temannya, untuk bergaul dengan tetangga saja Malika tidak diperbolehkan.
Ia selalu terkurung dalam rumah keluarga suaminya. Dan di rumah besar yang ditinggalinya bersama sang suami serta keluarganya itu, tidak pernah ada asisten rumah tangga yang membantu. Semua pekerjaan rumah tangga Malika yang kerjakan sendiri.
Bahkan saat Malika akhirnya hamil di tahun kedua pernikahannya pun, Malika tetap mengerjakan semua tugas rumah seperti biasanya. Tanpa bantuan sedikit pun dari keluarga maupun sang suami itu sendiri.
Meski begitu, Haris dan mertuanya selalu saja tidak puas akan hasil kerja keras Malika dalam mengurus rumah. Ada saja yang dijadikan bahan celaan Haris ketika pulang ke rumah.
Entah itu rumah yang kurang bersih, makanan yang kurang enak, penampilan Malika yang seperti pembantu ketimbang seorang istri, dan masih banyak lagi. Dan jika sudah begitu, sang mertua selalu saja makin memperkeruh suasana.
Namun semua itu hanya diterima Malika dengan lapang hati. Ia menganggap apa yang dilakukannya itu adalah bentuk pengabdiannya terhadap sang suami serta keluarganya.
Dan walaupun Malika sudah bekerja keras demi menyenangkan hati suaminya, tak pernah sekalipun Haris ingat untuk berterima kasih atau pun memberikan penghargaan kepada Malika.
Bahkan dalam hal uang belanja, Malika selalu mendapat jatah yang hanya cukup untuk belanja bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Sedangkan untuk kebutuhan pribadinya sendiri Malika tidak mendapatkan jatah apapun dari suaminya. Ia sampai tidak pernah membeli baju ataupun make up selama empat tahun pernikahannya.
Beruntung ia diam-diam mempunyai uang tabungan yang dikirimkan sepupunya---Rima---setiap bulannya, sebagai biaya sewa rumah mendiang orang tua Malika yang ditinggali Rima dan suaminya saat rumah itu kosong.
Meski Malika tidak pernah meminta uang sewa kepada Rima, tapi Rima merasa berkewajiban membayar sewa atas rumah orang tua Malika yang ditinggalinya itu. Untungnya kini Malika justru bisa menggunakan uang itu sebagai modal hidupnya yang baru bersama kedua anak kembarnya.
"Rumahnya jalan merbabu nomor berapa ya, Bu!" tanya Pak Sopir kepada Malika.
"Oh, rumah nomor dua, Pak!" jawab Malika sedikit terkejut, pasalnya selama perjalanan tadi ia sibuk memikirkan bagaimana ia akan mencari uang untuk menghidupi kedua anaknya itu.
Tak lama, taksi yang ditumpangi Malika pun sampai di depan rumah berpagar biru muda itu. Malika pun turun setelah membayar ongkos taksi yang ditumpanginya tadi.
"Terima kasih, Pak!" ucapnya pada sopir taksi yang telah mengantarnya.
Sang sopir taksi hanya tersenyum dan mengangguk lalu kembali melajukan armadanya meninggalkan rumah Malika.
"Mamiiiii!" teriak dua orang anak kecil yang memiliki paras yang nyaris sama dengan berlari berhamburan dari dalam rumah.
Kedua anak kecil berparas tampan itu lalu sama-sama memeluk tubuh sang mami yang sudah berlutut di lantai sambil merentangkan kedua tangannya untuk menyambut pelukan dari kedua anak kembarnya itu.
"Uuugghh, anak-anak mami yang pinter. Rewel enggak tadi pas mami tinggal pergi?" tanyanya sambil memberikan kecupan ke kening kedua anak itu secara bergantian.
"Ya enggak dooongg! Leo sama Reo kan anak-anak yang pinter dan penurut!" sahut Rima yang baru keluar dari dalam rumah.
"Makasih ya, Rim. Lo udah bantuin gue jagain si kembar!" ucap Malika tulus pada sepupunya itu.
Rima memang sudah tidak lagi tinggal di rumah itu. Ia dan suaminya sudah punya rejeki untuk membeli rumah sendiri tepat saat rumah tangga Malika mulai goyah.
Maka saat Malika membutuhkan rumahnya kembali sebagai tempat tinggal setelah perceraiannya dengan Haris. Rima dan suaminya, Satria pun dengan senang hati mengembalikan rumah itu kepada Malika.
"Santai aja, Mbak Brow! Toh gue juga enggak ada kerjaan di rumah, lagian gue seneng kok jagain anak-anak lo yang lucu-lucu ini!" Rima mencubit pipi Leo dan Reo sekaligus dengan gemas.
Rima dan suaminya memang belum dikaruniai momongan hingga saat ini. Padahal, usia pernikahannya tak jauh berbeda dengan pernikahan Malika.
Tapi hal itu tak lantas menyurutkan keharmonisan pasangan itu. Keduanya malah nampak selalu mesra layaknya pengantin baru dalam jangka waktu yang lama.
"Gimana hasil keputusannya?" tanya Rima yang menjurus tentang keputusan perceraian Malika dengan Haris.
"Beres lah. Kelaaarrr!" jawab Malika dengan bangga.
"Ya syukur deh, berarti elo udah enggak ada urusan lagi ya sama keluarga itu?" tanya Rima memastikan.
__ADS_1
"Udah enggak sama sekali!" balas Malika dengan lugas.
"Selamet buat elo, Buk!!! Moga setelah ini hidup lo lebih damai, lebih bebas, dan lebih bahagia!" do'a Rima untuk sepupunya itu.
"Aamiin!!!" pekik Malika dengan lantang.
"Yaudah, gue balik dulu ya?! Udah mau jamnya Mas Satria pulang buat makan siang di rumah nih!" pamit Rima.
"Cie-cie yang penganten baruan terooss. Masih makan siang di rumah aja nih?!" goda Malika pada sepupunya.
"Ya iyalaahhh, mas' ya iya dong!" balas Rima cuek. "Entar kalo butuh apa-apa, whatsapp aja ya!" teriak Rima sambil ngeloyor pergi.
Rumah Rima masih di komplek yang sama dengan rumah warisan orang tua Malika. Hanya berbeda gang saja.
Kebetulan saat Rima masih ngontrak di rumah Malika dan sedang mencari rumah, ada tetangga beda gang yang menawarinya rumah second dengan harga miring karena yang punya rumah sedang butuh biaya untuk berobat.
Alhasil rumah itulah yang akhirnya di beli Rima dan suaminya dan yang mereka berdua tinggali sekarang ini. Kebetulan itu pun mereka anggap sebagai keberuntungan juga karena pada akhirnya mereka jadi bisa tinggal berdekatan satu sama lain.
Meski tak ada satupun yang berharap jika Malika dan anak-anaknya akan kembali ke rumah itu setelah dirudung cobaan perceraian.
"Naahhh, anak-anak, sekarang kalian mau makan apa siang ini?" tanya Malika pada kedua anaknya.
"Sosiiiissss!" jawab si kembar dengan kompak.
"Siaaapppp!" balas Malika dengan riang.
Hal utama yang ia syukuri dari perceraiannya adalah, ia bisa hidup dengan damai bersama kedua anaknya tanpa adanya tekanan lagi dari Haris maupun keluarganya.
'Tidak semua perpisahan harus di tangisi,
terkadang kita harus merayakan kepergian seseorang...terutama orang yang selama ini selalu mengecewakan dan menyakiti.'
Malam itu Malika membuka-buka buku resep aneka kue dan camilan yang selama ini rajin dikumpulkannya diam-diam. Kenapa harus diam-diam? Karena Haris pasti akan mengomelinya ketika Malika melakukan hal-hal di luar pekerjaan rumah.
Pernah suatu kali saat Malika tanpa sengaja ketahuan membaca sobekan majalah wanita bekas bungkus cabe. Haris langsung memaki-makinya dengan kasar.
"Dasar perempuan lelet! Udah lelet masih aja leha-leha, lo tuh kalo bukan gue yang ngasih makan, gak bakalan bisa makan. Bakal kelaperan lo tuh, tau gak?! Buruan masak sekarang! Gue udah laper! Gak ada guna banget sih baca-baca begituan."
Entah kenapa Malika masih saja ingat setiap makian dan cacian dari pria yang pernah dicintainya itu. Mungkinkah ia trauma atau semacamnya?!
Entahlah, tapi yang jelas sejak saat ini ia tidak ingin lagi memikirkan soal mencari pasangan hidup. Ia akan fokus merawat dan membesarkan kedua buah hatinya saja. Janji Malika pada diri sendiri.
Setelah sempat teralihkan dari kegiatannya saat itu, Malika kembali memfokuskan diri mencari resep kue dan camilan yang bisa ia buat.
Malika bertekad akan berjualan makanan secara online untuk mengisi waktu luang sambil menunggu salah satu lamaran kerja yang sudah ia kirimkan ke beberapa perusahaan ada yang diterima.
Malika sudah menyusun rencananya matang-matang. Ia akan menggunakan sosial media Instagram untuk mempromosikan dagangannya. Selain itu ia juga akan menitip-nitipkan snack-snack buatannya ke warung-warung terdekat.
.
.
.
To Be Continue...
__ADS_1