
Pembatalan Pertunangan
.
.
.
California, United States.
"Haruskah kita menghadiri acara ini?" tanya Alex pada sahabat sejak masa kuliahnya—Jake Cipher.
Pria tampan putra mahkota dari Levine Enterprises itu mengancingkan lengan kemejanya dengan malas. Suara Alex terdengar sedikit tegang.
Padahal ia tidak pernah menolak pesta sejak setahun terakhir ini—paling tidak sejak ia bertunangan dengan Luna Gross, seorang produser yang sedang naik daun di Hollywood yang selalu mencari koneksi yang menguntungkan untuk pekerjaannya.
Luna Gross sangat menyukai pesta. Acara-acara yang meriah itu biasanya dipenuhi oleh para sponsor, orang terkenal, atau orang penting lainnya yang bisa ia ajak kerjasama, atau ia tawari proposal project terbaru dari perusahaan entertaimentnya, tentu saja semua usahanya itu demi meroketkan jenjang karirnya sebagai produser.
Dan Alex, sebagai tunangannya, mau tidak mau akhirnya mengikuti gaya hidup Luna yang seperti itu. Meski karir Alex di dunia showbiz terkadang juga mengharuskannya untuk menghadiri pesta-pesta mewah semacam itu, tapi Alex sendiri lebih suka menikmati me time-nya dengan berdiam diri di dalam apartemennya yang nyaman, dan tenggelam dalam film-film favoritnya atau melakukan hobinya yaitu bersih-bersih.
"Ya, haruslah! Ini kan salah satu acara amal terbesar di California, dan kita berdua adalah bagian dari pihak yang mensponsori acara ini. Kau ingat?" jawab Jake Cipher sembari memilih jas yang akan dikenakannya malam ini.
"Well, kurasa kau benar," balas Alex dengan lesu. Pria itu nampak menghempaskan diri di atas sofa tunggal di dalam ruangan baju milik Jake, lalu mendesah panjang sambil menunduk.
"Ooh, ayolah... ada apa denganmu, Dude?" tanya Jake dengan heran.
Pria berambut gondrong bergelombang, berwarna pirang cerah dengan mata light grey itu merasa sangat aneh dengan sikap Alex malam ini.
Alex merubah posisi duduknya. Kini ia bersandar malas dengan kepala menatap langit-langit ruangan dan kedua tangan yang direntangkan ke atas sandaran sofa.
"Entahlah, Jake! Aku hanya merasa— entahlah, firasatku buruk soal malam ini," jawabnya ambigu.
Sejujurnya Alex sendiri tak mengerti dengan apa yang dirasakannya. Ia hanya benar-benar sedang tidak ingin pergi. Alex mendengus untuk yang kesekian kali. Namun, perasaan aneh yang ada di benaknya tetap tidak mau hilang.
Jake melemparkan sebuah dasi kupu-kupu ke arah Alex dengan bersungut-sungut, "Segera selesaikan penampilanmu atau kita akan terlambat, Lex!"
"Aarrgghh....!" Alex mengerang. Dia sangat tidak menyukai apa yang sedang dirasakannya kini. Hanya saja ia sama sekali tak punya pilihan untuk menolak pergi karena yang dikatakan Jake tadi itu memang benar.
Mereka adalah ambassadornya, mereka bagian dari sponsor dan karena itulah mereka harus hadir di acara itu. Alex dan Jake adalah model papan atas di Amerika Serikat. Apalagi di kawasan negara bagian California dan Hollywood.
Mereka berdua sangat terkenal dan sangat laris di sana. Jake Cipher dan Alex Levine sering dipasangkan untuk menjadi model pada event-event tertentu seperti saat ini. Mereka adalah kombo yang tak ada bandingannya di dunia permodelan.
"Sudah kuduga kita terlambat," rutuk Jake saat mereka baru tiba di lokasi pesta. Pria pirang itu langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Tempat itu telah penuh orang kaya dan orang-orang penting lainnya yang biasa berkumpul di tempat seperti itu. Suara-suara yang terdengar sangat bising di telinga.
"Dengar, Lex! Aku sungguh tidak ingin meninggalkanmu sendirian saat kau sedang kacau begini..."
Jake menggantungkan kalimatnya ketika meraih dua gelas minuman, yang terlihat seperti sampanye ringan, yang dibawa keliling oleh seorang pelayan. Dan pria itu langsung menyodorkan salah satu gelas kehadapan sahabatnya.
Alex meraih gelas sampanye itu tanpa beban, dan langsung menyesapnya pelan-pelan. Berharap bulir-bulir minuman beralkohol kadar rendah itu dapat menghilangkan perasaan aneh dalam dirinya.
Jake menyesap sampanye-nya dengan elegan lalu meneruskan kalimatnya, "Tapi kau ingat kan kalau kita ambassador acara ini? Jadi ayo berpencar dan mulai menyapa semua orang-orang penting itu!"
Alex mengangkat bahunya dengan pasrah lalu mengangguk.
__ADS_1
"Kita berkumpul di titik ini sekitar tiga puluh menit lagi, Oke! Lalu akan kukabarkan ke Direktur bahwa kau tidak enak badan jadi kita bisa pulang lebih awal, bagaimana ideku?"
Jake melontarkan gagasannya sembari celingukan di sekitar ruang pesta itu, memindai kelompok mana yang akan ia datangi lebih dulu untuk menyapa mereka.
Alex lagi-lagi hanya mengangguk pelan lalu meneguk habis sisa sampanye yang ada di gelasnya. Meletakkan begitu saja pada tray kosong yang dibawa pelayan berkeliling untuk mengumpulkan gelas-gelas bekas pakai.
Kedua mata Alex nampak menerawang sambil memandangi Jake yang sudah mulai mengayunkan kedua kakinya ke arah kerumunan orang di depan mereka.
Sial!!! Maki Alex dalam hati. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya? Firasat macam apa ini? Alex mengomel pada diri sendiri.
Dengan langkah berat Alex menuju sebuah kerumunan di salah satu sudut ruangan, namun baru beberapa langkah yang dibuatnya, ia lantas melihat sosok Luna Gross—tunangannya, berdiri di tengah-tengah para pria perlente yang nampak sangat mengagumi wanita itu.
Luna? Batin Alex. Bukankah dia sedang ada kerjaan di San Fransisco sampai hari minggu besok? Lalu kenapa sekarang dia ada di California? Alex bertanya-tanya.
Tapi entah kenapa malam ini Alex tidak nampak antusias bertemu dengan wanita yang dicintainya itu. Padahal mereka sudah tidak bertemu hampir sepekan lamanya, dan biasanya Alex tidak akan betah berlama-lama berpisah dengan Luna hingga mengorbankan waktunya untuk menyusul kemanapun wanita itu berada.
Tapi kini, perasaan Alex terasa fana. Mungkinkah firasat buruknya ini ada hubungannya dengan tunangannya itu? Batin Alex. Tanpa pikir panjang lagi, ia segera mendekati kerumunan di mana tunangannya itu berada.
Sambil berjalan mendekati Luna, tatapan Alex tak lepas dari sosok wanita cantik yang rencananya akan ia nikahi akhir tahun ini.
"Luna," panggil Alex dengan suara beratnya.
Tidak hanya Luna Gross yang menoleh ke arahnya tapi juga hampir seluruh pria yang mengerumuni wanita itu.
"Alex!" pekik Luna dengan ekspresi kaget. "Aku tak menyangka bisa bertemu denganmu di sini," imbuhnya sembari mengerjap-ngerjapkan matanya dengan keheranan.
"Bagaimana mungkin anda tidak menemuinya di sini, Miss Gross, Mr. Levine kan salah satu model ambassador di acara ini? Apakah kau tidak tahu itu?" tanya seorang pria perlente yang Alex kenal sebagai Mr. Malcolm—seorang fotographer potrait yang baru saja menggelar pameran tunggalnya di California.
Luna tertawa anggun sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan, "Oh, maafkan aku gentlements! Aku sama sekali tidak tahu itu karena aku hanya memenuhi undangan seseorang untuk hadir di pesta ini?" jawabnya dengan senyum khasnya.
"Undangan dari siapa?" tanya Alex dengan mengernyitkan kening.
Alex merasa semakin tidak tenang. Ia tidak suka dengan kemunculan tiba-tiba Luna di pesta ini di mana wanita itu justru pamit padanya bahwa ia sedang keluar kota beberapa hari.
Dan Alex lebih tidak menyukai cara Luna berbincang dengan para pria perlente itu, seolah wanita itu melupakan statusnya sebagai tunangan seseorang. Sebagai tunangan Alex Levine.
"Miss Luna Gross, bisa kita bicara?" tanya Alex lirih namun tegas.
"Silahkan saja, Lex. Pesta ini memang tempatnya orang-orang untuk berbincang, bukan begitu gentlements?" balas Luna berusaha menanggapi permintaan Alex dengan santai.
"Aku ingin kita bicara berdua saja, Luna," Alex menambah kalimat ajakannya dengan raut wajah datar dan intonasi setajam mungkin. Hingga Luna terpaksa menyadari ketegangan yang dirasakan Alex.
"Oh, ayolah... kenapa harus tegang begitu? Kita kan sudah berteman lama, baiklah-baiklah... kita bisa bicara berdua. Permisi gentlements, sepertinya Mr. Levine tidak sabar untuk segera memonopoliku," pamit Luna kepada para perlente di hadapannya, dan berlalu menuju sebuah lorong dengan elegan.
Alex mengikuti langkah kaki Luna yang ringan dengan sebelah alis yang ia naikkan kala mendengar tunangannya itu menyebut ungkapan 'berteman lama' dan bukannya 'bertunangan'.
Dan ketika mereka sudah benar-benar berdua saja di sebuah lorong yang entah terhubung kemana, Alex dengan tidak sabar segera menghujani Luna dengan pertanyaan-pertanyaannya.
"Aku ingat kau bilang padaku seminggu yang lalu jika kau akan ada di San Fransisco sampai hari minggu besok. Lalu kenapa tiba-tiba kita bisa bertemu di sini? Dan siapa seseorang yang mengundangmu ke acara amal ini? Kau bilang aku tidak kenal? Hah, yang benar saja! Aku kenal semua orang yang diundang di pesta ini, Luna, karena aku ambassadornya," cecar Alex menggebu-gebu.
"Woooww, wow... tenanglah, Lex! Chill out!
Jangan tunjukkan rasa cemburumu di tempat umum begini," balas Luna dengan santai sambil menempelkan kedua telapak tangannya di atas dada bidang pria itu, yang masih terbalut setelan pesta Armani keluaran terbaru.
"Cemburu? Aku? Pada siapa? Ucapanmu itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan-pertanyaanku tadi, Luna," Alex memojokkan Luna ke dinding lorong dan mengunci gerakan wanita itu dengan kedua lengan yang bertumpu di dinding.
__ADS_1
Meski sudah tersudut tapi Luna tetap tenang. Sebelah tangannya malah merayap naik ke pipi Alex yang hangat dan lembut, berbanding terbalik dengan rahang pria itu yang mengeras karena amarah.
"Baiklah jika kau tidak cemburu. Aku senang, karena mungkin perasaanmu terhadapku tidak sedalam yang kukira," ucap Luna Gross dengan senyum tipis.
"Aku tidak sedang cemburu, Luna. Tapi aku sedang marah. Aku tidak senang kau berbohong padaku. Kau berbohong tentang jadwalmu dan kau berbohong tentang hubungan kita di depan semua orang. Apa maksudmu kita berteman lama? Kita ini bertunangan, apa kau lupa?" suara Alex meninggi seiring emosinya yang terus naik.
"Sebenarnya setelah pesta ini aku bermaksud menemuimu di apartemen dan membicarakan ini, tapi kurasa mumpung kita sedang bertemu, mungkin lebih baik aku katakan saja sekarang," balas Luna dengan melepaskan tangannya dari tubuh Alex lalu bersedekap dengan gestur yang dingin.
"Katakan! Apa maumu?" tantang Alex.
"Aku ingin membatalkan pertunangan kita," seru Luna Gross dengan ekspresi sinis.
"Apa?" gigi-gigi Alex gemeretak.
"Aku tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan kita akhir tahun ini, Lex," imbuh Luna sambil mendengus pelan.
"Kenapa? Aku harap kau bisa memberiku alasan yang sangat masuk akal, Luna Gross," nada suara Alex begitu mengancam.
"Aku hamil, Lexi," jawab Luna singkat. Dan mengakhiri jawabannya dengan seringai penuh kemenangan. "Apa kau puas dengan jawabanku?" Luna balas bertanya.
Jawaban Luna barusan bagai suara petir di telinga Alex. Hatinya pun tersengat, bergemuruh seakan badai sedang berkumpul di sana. "Apa? Kau hamil?" Alex berusaha memastikan.
Luna tertawa kecil melihat reaksi Alex yang tampak menyenangkan baginya, "Jangan takut, Sayang! Aku tidak akan meminta pertanggung jawabanmu kok! Kau kan tidak pernah menyentuhku, jadi mana mungkin kau bertanggung jawab atas bayiku," ujung bibir Luna terangkat sedikit.
Alex memang tidak pernah bercinta dengan Luna sejak mereka resmi pacaran bahkan bertunangan. Alex ingin malam pertamanya terasa sempurna hingga ia selalu menahan diri untuk tidak menyentuh Luna sebelum malam pernikahan mereka.
Sayangnya tidak demikian dengan Luna Gross. Wanita yang sudah sering bercinta itu kebingungan dengan pola pikir sang kekasih. Awalnya ia menerima pernyataan cinta Alex Levine dengan dugaan bahwa pria itu pasti sangat berpengalaman di tempat tidur.
Membayangkan tubuh maskulin seorang Alex Levine membuat Luna Gross menerima cinta lelaki itu tanpa ragu. Namun nyatanya ia salah duga, sebab Alex yang menjunjung tinggi kehormatan wanita selalu membuatnya kecewa saat dengan sopan pria itu menolak rayuannya untuk bercinta.
Kesal dengan penolakan Alex yang tiada henti, membuat Luna berusaha memenuhi kebutuhan biologisnya dengan mencari pria lain. Dan kini hasilnya, ia pun hamil dengan salah seorang pria yang ditemuinya saat sedang mencari kehangatan.
Alex begitu shock sekaligus geram mendengarnya. Firasat buruknya terjawab sudah. Dan ternyata semua itu karena Luna Gross. Wanita yang begitu dicintainya, wanita yang begitu dipujanya selama ini.
"Siapa pria itu?" tanya Alex dengan geram. "Siapa pria yang telah menghamilimu?" tambahnya.
"Dia seorang Direktur perusahaan perfilman terkemuka di California. Aku tidak akan menyebut namanya. Aku takut kau tidak bisa menghentikan rasa dendammu lalu membuat perhitungan dengannya."
Alex melepaskan kungkungannya terhadap Luna. Ia kini berkacak pinggang dan menatap wanita di hadapannya itu dengan angkuh. "Kau pikir aku serendah itu? Aku malah ingin berterima kasih padanya karena telah melepaskanku dari wanita sepertimu," balas Alex tak kalah sinis.
Ekspresi Luna berubah marah, "Apa maksudmu dengan wanita sepertiku? Hanya karena kau model papan atas, bukan berarti kau bisa merendahkanku! Aku adalah calon istri seorang Direktur perusahaan besar! Lagipula apa yang bisa kau berikan padaku selain cinta, cintamu tak bisa memberiku status dan kemewahan yang kuinginkan, Tuan Levine," ejek Luna.
Luna memang tak tahu bahwa Alex adalah putra mahkota Levine Enterprises, sebab Alex tak pernah mengungkapkannya. Ia tak ingin didekati wanita hanya karena statusnya sebagai anak konglomerat. Hanya Jake Cipher yang tahu siapa Alex sebenarnya.
Alex tersenyum sinis mendengar ejekan Luna padanya, "Benarkah?" balasnya. "Dan kau merasa pria yang menghamilimu itu mampu memberikan segala yang kau inginkan, begitu?"
"Tentu saja!" jawab Luna dengan penuh percaya diri. "Tidak hanya kehangatan di tempat tidurku, tapi pria itu pun bisa memberiku segalanya. Se-ga-la-nya, kau dengar?" mata Luna menyala-nyala menatap Alex yang tak kalah berangnya.
"Well... kita lihat saja bagaimana endingnya nanti, Miss Gross," balas Alex sambil berlalu pergi meninggalkan lorong itu. Meninggalkan Luna Gross yang masih berdiri dengan penuh emosi di sudut sana.
Alex murka, tidak hanya merasa dikhianati, tapi ia juga merasa di tipu. Karena wanita yang dicintainya, diam-diam telah berselingkuh dan tidur dengan laki-laki asing diluar sana. Alex yang sangat marah akhirnya pergi meninggalkan pesta itu sendirian. Tanpa Jake Cipher sahabatnya.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue...