
Kabar Gembira untuk Roxanne
.
.
.
Setelah pertengkarannya dengan Luna Gross di pesta semalam, yang berimbas pada putusnya hubungan pertunangan di antara mereka, Alex terjaga semalaman di kamar apartemennya. Entah sudah berapa kaleng bir yang ia habiskan malam itu.
Segala telepon yang masuk dari Jake tak digubrisnya sama sekali. Bahkan pesan-pesan singkat yang dikirimkan Jake padanya semalaman pun hanya dibiarkannya masuk memenuhi memori ponselnya tanpa bermaksud membalasnya. Sebagian ia baca dan sebagian lagi tidak.
📩JAKE CIPHER
Alex! Di mana kau? Aku sudah menunggu di titik janjian kita!
📩JAKE CIPHER
Hei, Dude! Apa kau tanpa sengaja mabuk di suatu tempat? Beri tahu aku lokasimu, akan kususul!
📩JAKE CIPHER
Alex!!! Seseorang melihatmu pergi dari pesta. Kau meninggalkanku sendirian? Teganya...
📩JAKE CIPHER
Tolong jangan membuatku khawatir, Buddy! Kau baik-baik saja kan?
📩JAKE CIPHER
Apa kau pulang ke apartemenmu? SIAL! Semoga kau tidak kecelakaan di jalan!
Hingga pagi menjelang, Alex tak kunjung dapat memejamkan matanya. Wajahnya sepucat kertas, membuat lingkaran hitam di sekitar matanya menjadi sangat jelas kentara.
Alex menatap kosong ke langit-langit kamarnya, ingatannya melayang kembali ke saat-saat ketika ia meminta Luna Gross untuk menjadi kekasihnya, dan sekitar enam bulan setelahnya ia kembali berlutut di hadapan wanita itu untuk melamarnya.
YA, seorang Alex Levine berlutut di depan Luna Gross di sebuah restoran mewah di California. Alex tertawa miris. Menertawakan kebodohannya dalam mencintai seorang wanita. Lalu sebuah dering telepon mengganggu lamunannya.
Alex menyambar ponselnya dari tengah-tengah kasurnya yang sangat lebar. Ia melihat ke arah layar di mana tertera kontak nama sang ibu berkedip-kedip di sana. Alex melirik pada jam digital di sudut layar ponselnya.
Oh, sudah sepagi ini rupanya. Gumam hati Alex begitu melihat angka sembilan lebih sepuluh menit terpampang di sana.
Alex berdehem beberapa kali untuk menjernihkan suaranya lebih dulu sebelum akhirnya segera menerima sambungan telepon yang dilakukan Roxanne Levine—ibunya.
📱ALEX LEVINE
Selamat pagi, Bu.
📱ROXANNE LEVINE
Pagi, Lex. Bagaimana kabarmu, Nak?
Apa kau sudah bangun dari tadi?
📱ALEX LEVINE
Hmm, ya. Begitulah... aku sudah bangun dari tadi, Bu, dan kabarku baik seperti biasanya. Bagaimana dengan ibu?
Alex berbohong tentang keadaannya agar sang ibu tidak khawatir. Sayangnya, telinga Roxanne terlalu sensitif untuk tidak menangkap sinyal 'tidak baik-baik saja' dari suara Alex. Tapi wanita itu memilih diam untuk melihat sejauh mana keadaan 'tidak baik-baik saja' yang dialami putranya itu lewat kebohongan yang dibuat Alex.
📱ROXANNE LEVINE
__ADS_1
Kabarku juga biasa-biasa saja, Nak. Apa kau ada pekerjaan hari ini?
📱ALEX LEVINE
Tidak. Tidak, Bu. Hari ini aku off jadi aku mau bersih-bersih apartemenku saja.
Aha, jawaban Alex barusan cukup meyakinkan Roxanne bahwa putranya memang tidak sedang dalam keadaan baik.
Nyatanya di akhir pekan seperti ini, pekerjaan Alex biasanya malah menumpuk, tapi barusan, putranya itu mengatakan jika ia off. Jadi Roxy menebak-nebak, apakah Alex terpaksa diharuskan off karena sesuatu hal atau lebih memilih off untuk menghindari sesuatu.
📱ROXANNE LEVINE
Oh, begitu...
Otak Roxy bekerja dengan cepat dan tiba-tiba saja sebuah ide hadir di kepala wanita paruh baya itu.
📱ROXANNE LEVINE
Lalu kapan kau akan pulang, Nak?
Kening Alex mengernyit sesaat sebelum menjawab pertanyaan ibunya.
📱ALEX LEVINE
Kenapa, Bu? Apa ada masalah?
📱ROXANNE LEVINE
Mm, aku hanya... aku hanya merasa ingin pensiun saja, Lex, dan aku mungkin akan menjual perusahaan ke beberapa Grup yang berminat ingin mengakuisisi Levine Enterprises jika kau tidak berencana untuk menjadi penerusku memimpin perusahaan kita.
DEG! Alex terkesiap mendengar pengakuan itu. Ia tak percaya, ibunya yang masih begitu gesit dalam bekerja tiba-tiba memutuskan untuk pensiun. Dan apa? Menjual perusahaan ke pihak lain? Perusahaan mereka? Alex tak dapat mempercayainya.
📱ALEX LEVINE
Tapi akhirnya hanya satu kata itu yang mampu terlontar dari mulutnya.
Bagus, Lex! Kau benar-benar pecundang! Tak hanya dicampakkan oleh seorang wanita tak berperasaan, kini kau juga tak bisa menolong ibumu sendiri? Kau luar biasa, Lex! Alex merutuki dirinya sendiri dalam hati.
📱ROXANNE LEVINE
Tapi tentu saja aku tidak akan melakukannya begitu saja. Aku akan menunggu persetujuanmu karena kau pemilik separuh dari saham Levine Enterprises.
📱ALEX LEVINE
Iya aku tahu itu, Bu.
📱ROXANNE LEVINE
Baiklah, Nak. Ann sudah menungguku. Ibumu ini harus kembali bekerja bahkan di akhir pekan seperti ini. Jaga dirimu, okey!
Roxanne melempar umpan terbaiknya di saat yang tepat. Kini ia hanya bisa berharap bahwa putra semata wayangnya yang berharga bisa segera terjerat umpan itu.
📱ALEX LEVINE
Tunggu, Bu! Mm...
Alex tepekur. Ia bimbang sesaat. Ia merasa akan sangat menyesal jika ibunya harus kehilangan perusahaan mereka, mengingat bagaimana ayah dan ibunya membangun bisnis keluarga mereka hingga sebesar sekarang ini.
Ingatan Alex juga kembali pada segala pengorbanan kedua orang tuanya demi menjaga Levine Enterprises tetap berdiri sampai saat ini. Alex merasa malu pada dirinya sendiri. Ia malu sebagai seorang anak. Di saat ibunya berjuang sendirian membangun perusahaan, ia malah terpuruk di kamar apartemennya hanya karena seorang wanita jallang.
Alex memejamkan matanya, mencoba mensugesti dirinya sendiri bahwa tidak ada waktu untuk terpuruk, apalagi hanya karena wanita tidak tahu malu seperti Luna Gross. Ia harus bangkit dan membuktikan pada mantan tunangannya itu bahwa Alex Levine bukan pria biasa. Ia adalah ahli waris satu-satunya dari Levine Enterprises.
__ADS_1
📱ROXANNE LEVINE
Ada apa, Lex? Apa yang ingin kau katakan?
Roxanne seketika bingung saat Alex tak langsung melanjutkan ucapannya.
📱ALEX LEVINE
Mungkin aku akan pulang, Bu. Aku ingin mencoba posisi yang kau tawarkan itu. Tapi bisakah aku mendapatkan sesi trial-nya dulu?
Ini dia! pekik Roxanne dalam hati dengan berdebar-debar.
📱ROXANNE LEVINE
Apa kau yakin?
📱ALEX LEVINE
Ya, Bu. Aku sangat yakin!
📱ROXANNE LEVINE
Baiklah, Lex. Kita akan bicarakan lebih rinci jika kau sudah di Sydney, Anakku.
📱ALEX LEVINE
Akan kukabari nanti kapan aku pulang.
📱ROXANNE LEVINE
Very well... aku tunggu kabarmu, Nak! Take care!
📱ALEX LEVINE
Kau juga, Bu. Jaga dirimu!
"YEESSS!!! WELL DONE!!!" pekik Roxanne girang. Ia hampir melompat-lompat jika tidak ingat bahwa dirinya sedang memakai heels dan tak ingin keseleo karena tingkah konyolnya sendiri.
"Apa anda baik-baik saja, Mam? Saya disini untuk menyampaikan bahwa saya sudah mendapatkan detektif swasta yang anda perlukan itu. Tinggal tunggu perintah selanjutnya darimu saja, Roxy," lapor Ann dengan poker face-nya yang biasa.
Bukannya menjawab pertanyaan sekretaris andalannya itu, Roxy yang masih kegirangan karena persetujuan Alex untuk mencoba belajar menjadi pemimpin Levine Enterprises, malah langsung memeluk Ann hingga membuat gadis itu melongo saking kagetnya.
Ann sungguh tidak menyangka dirinya malah akan mendapat pelukan erat dari sang atasan di pagi hari seperti ini. Padahal ia sengaja masuk ke ruangan Presiden Direktur untuk mengabarkan bahwa ia sudah menemukan detektif swasta yang kompeten, sampai Ann menemukan Roxy sedang bertelepon dengan putranya, dan memutuskan untuk menunggu.
"Tunda dulu penugasan untuk detektif itu Ann, tunda saja dulu! Karena ada yang lebih penting dari itu sekarang," Roxanne melepaskan pelukannya namun masih memegang kedua lengan Ann lalu mengajak gadis itu berputar-putar layaknya Merry Go Round di sebuah taman bermain.
"Dan jika saya boleh tahu, apa yang lebih penting dari tugas detektif itu, Roxy?" Ann bertanya sambil membetulkan letak kacamatanya yang melorot dan miring setelah Roxanne berhenti mengajaknya berputar-putar.
"Berita pentingnya adalah... Alex akan pulang, Ann. Kau bisa bayangkan itu? Putraku akan pulang untuk belajar menggantikan posisiku sebagai Pemimpin Levine Enterprises. Aku merasa sudah mendapatkan hadiah Natalku tahun ini," sorak Roxanne kegirangan.
Kedua mata besar Ann membulat semakin lebar, ia shock dengan apa yang didengarnya. Tunggu dulu! Jika Alex Levine akan menggantikan Roxy memimpin perusahaan, berarti di masa depan, ia tak lagi bekerja di bawah Roxanne Levine, melainkan Alex Levine. Begitukah? Ambrosia menalar jalan cerita ini sesukanya.
Dan tiba-tiba ide itu terdengar sangat buruk bagi sang sekretaris andalan, Ambrosia Heart. Sangat... sangat... BURUK!
.
.
.
To Be Continue...
__ADS_1