
Permohonan Bos Besar
.
.
.
"Anda pasti bercanda!" balas Ann.
Ann sungguh-sungguh berharap perintah terakhir dari atasannya itu adalah prank yang sengaja dibuat Roxanne untuk menggodanya, atau sebuah kejutan April Mop yang ditujukan untuknya beberapa minggu lebih cepat dari waktu yang seharusnya.
Tapi sayangnya harapan Ann langsung sirna kala melihat Roxanne menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Tidak sayangku, aku tidak bercanda," jawab Roxanne dengan menampakkan wajah keibuannya.
Ann berharap ia salah mengerti, tapi ia yakin ia tak salah dengar. "Dengan kata lain anda ingin memisahkan putra anda sendiri dengan wanita yang dicintainya? Begitu?" suara Ann mendadak parau.
Kali ini Ann dengan jelas melihat bosnya itu menganggukkan kepala dengan yakin. Meski ia juga menyadari ekspresi murung yang tergambar jelas di wajah Roxanne Levine, tetapi wanita itu jelas-jelas menginginkan putranya sendiri patah hati dengan penuh keyakinan.
Rahang Ann mengeras dan ia menatap Roxanne dengan tatapan tak percaya, berusaha memikirkan jawaban yang dapat menunjukkan keberatannya dan tidak membuatnya dipecat tentu saja.
"Tapi, tapi kenapa?" Ann merasa tidak rela.
Pasalnya ia mengenal Roxanne Levine tidak hanya sebagai wanita sukses yang mandiri dan pekerja keras namun juga sebagai seorang ibu tunggal yang sangat menyayangi putra semata wayangnya.
Meski Ann belum pernah sekalipun bertemu dengan Alexander Benigno Delwyn Levine atau biasa dipanggil Alex Levine semenjak ia bekerja selama hampir dua tahun di Levine Enterprises, tetapi Ann begitu yakin jika Mr. Alex adalah sosok pria hebat yang tumbuh dengan bahagia dari kasih sayang ibunya.
"Bukankah selama ini anda bilang bahwa Mr. Alex begitu mencintai tunangannya. Dan anda tidak masalah jika mereka berdua menikah?" Ann mendekap notepadnya erat-erat dengan tubuh yang nyaris gemetar didera emosi.
Roxanne mendesah pelan. Ia memilih duduk kembali di atas kursi kebesarannya lalu melepas dan meletakkan kacamatanya di atas meja. Sambil bersandar, Roxanne memijit pangkal hidungnya dengan tangan kanan.
"Itu sebelum aku bertemu dengan wanita itu!" jawabnya datar. "Kau tahu Ann? Oh, Tidak...! Kau tidak akan mengerti sebab kau belum menjadi seorang ibu. Tapi saat aku bertemu tunangan Alex, Insting keibuanku langsung memperingatkanku bahwa wanita itu tidak baik untuk Alex," beber Roxanne.
"Oh, Roxy..." Ann gemetaran melihat Roxanne seakan putus asa.
__ADS_1
Tidak! pekik Ann dalam hati. Jangan wanita ini! Jangan wanita yang sangat ia kagumi ini! pintanya. Ann sungguh tak ingin Roxanne Levine merasa merana barang sedikitpun. Baginya, wanita itu adalah pengganti mendiang ibunya. Yang selalu ingin ia jaga dan ia bahagiakan. Secara diam-diam.
"Entah kenapa hatiku merasa yakin, Ann. Wanita itu, pasti akan membuat Alex-ku terluka," imbuh Roxanne dengan suara bergetar.
Ann tak sanggup lagi. Ia tak sanggup mendengar dan melihat kekalutan pada seorang Roxanne Levine. Maka saat dilihatnya Roxy menunduk untuk menyembunyikan emosinya, Ann menarik napas dalam-dalam lalu kembali pada mode sekretaris profesionalnya.
"Apa anda yakin mengizinkan saya yang orang luar ini untuk ikut campur atas urusan pribadi putra anda, Mrs. Levine?" tanya Ann dengan tegas.
Ia sengaja menekankan panggilan resmi Roxanne demi sebuah formalitas yang dibutuhkannya. Formalitas dari seorang atasan yang memerintahkan bawahannya.
Roxanne mendongak cepat. Mata tuanya langsung berbinar takjub melihat postur Ann yang seolah menyatakan 'Anda bisa mengandalkanku!' itu.
"Ya! Aku mengandalkanmu, Ambrosia Heart!" seru Roxanne dengan penuh ketegasan. "Dan terima kasih karena kau bersedia menerima tugas ini!"
Roxanne akhirnya tak dapat lagi menutupi keharuannya, wanita tua itu kemudian kembali menundukkan wajahnya, menghadap ke meja kerjanya, dengan bahu yang nampak berguncang perlahan.
Untuk pertama kalinya dalam menjelang dua tahun masa kerjanya di Levine Enterprises, Ann ikut campur pada urusan pribadi seorang Alex Levine, putra tunggal dari Roxanne Levine, pria yang bahkan belum pernah ditemuinya. Dan untuk pertama kalinya pula, Ann melihat wanita nomor satu di tempatnya bekerja itu menangis.
***
Setelah merasa dirinya cukup normal untuk kembali bekerja, Ann melangkah dengan yakin ke meja kerjanya yang tak jauh dari depan pintu ruangan milik wanita yang barusaja menyuruhnya mencari senjata rahasia untuk menghancurkan pertunangan sang putra mahkota.
Belle kembali dari pantry dengan membawa dua cangkir kopi panas saat Ann sudah duduk di kursi sekretariatnya. Meja sekretariat khusus untuk Presiden Direktur di Levine Enterprises sangat panjang dan melengkung.
Bentuknya hampir setengah lingkaran dengan sekat yang membagi menjadi tiga bagian. Satu bagian untuk Ann, dan dua bagian lain untuk Belle dan Elsa yang merupakan sekretaris junior yang membantu meringankan tugas Ann sebagai sekretaris utama Roxanne Levine.
"Aku dapat pesan dari Elsa kalau ia akan datang sekitar jam sepuluh. Ia harus mengantri di perusahaan ekspedisi untuk menyelesaikan pengiriman parcel-parcel rutin untuk panti asuhan yang kita sponsori," lapor Belle pada seniornya itu.
Ann mengiyakan dengan acungan jempolnya sambil meringis, "Lalu bagaimana dengan laporan triwulananmu?" tanya Ann.
"Aku sudah mengirimnya ke emailmu sebelum aku ke pantry untuk membuat kopi tadi," jawab Belle tegas.
Ann langsung membuka email via komputernya yang memang sudah menyala daritadi dan menyeringai. "Good job!" serunya puas.
__ADS_1
"Lalu? Adakah tugas tambahan untukku hari ini, Ann?" tanya Belle sambil menyodorkan salah satu dari cangkir kopi itu kepada Ann.
Ann menerima kopi itu dari tangan Belle lalu gantian menyerahkan notepadnya kepada gadis yang hampir setahun menjadi asistennya itu.
"Pilihlah salah satu dari dua poin itu! Pilih yang menurutmu paling bisa kau lakukan," titah Ann sebelum menyesap kopinya dalam-dalam.
Belle menerima notepad andalan seniornya itu setelah tangannya melepas cangkir kopi jatah Ann yang ia buatkan sebelumnya. Belle nampak mempertimbangkan lebih dulu perintah yang tertulis pada gadget canggih itu dan berakhir memilih poin yang kedua.
"Aku tidak pernah bisa membuat para manager kita di New York untuk mendengarkan saranku, jadi biar aku yang mengurus tentang kalung zamrud itu," Belle menyodorkan kembali notepad milik Ann.
"Dan aku rasa jika kau pergi ke Pawn Stone sekarang juga, kau bisa nebeng si Tampan Luke dari divisi IT, karena seharusnya saat ini ia akan ke The Logins yang berada tepat di sebelah Pawn Stone untuk mengambil laptopnya yang diservis di sana."
Ann menyarankan Belle dengan cangkir kopi yang masih berada di tangan kanannya.
Belle memicingkan matanya penuh curiga, "Bagaimana kau bisa tahu jadwal Luke Anderson si IT tampan itu? Jangan bilang kalau kalian bertemu setelah jam kerja?" tuduh Belle.
Ann kembali menyesap kopinya sambil menggeleng, "Dia bilang padaku saat kami kebetulan berada dalam satu lift yang sama tiga hari lalu," jawab Ann santai.
"Oh, Ann... andai saja penampilanmu semenakjubkan daya ingatmu, kau pasti akan menjadi wanita paling menawan di Levine Enterprises," ucap Belle ketika memandang ke arah Ann dengan mata berbinar.
Gadis itu lalu memasukkan ponsel serta buku catatannya yang bersampul kulit ke dalam tas tangannya dan bergegas pergi menuju lift yang kebetulan sedang kosong.
"Aku anggap ucapanmu itu sebagai pujian jadi terima kasih, Belle! Hati-hati di jalan!" Ann membalas ucapan Belle dengan sedikit berteriak sambil melambaikan tangannya dengan mulut yang menempel di bibir cangkir.
Ann masih dapat melihat lambaian tangan Belle sebelum menghilang di balik pintu lift yang tertutup otomatis.
Ia menyesap kopinya beberapa kali lagi, lalu meletakkan cangkir keramik putih itu ke atas meja kosong yang sedikit jauh dari jangkauannya. Jaga-jaga kalau-kalau ia lupa akan cangkir itu lalu tanpa sengaja menyenggolnya saat sedang serius bekerja.
"Oke, Ann! Waktunya menyelesaikan PR kecil sebelum mengerjakan tugas besar yang sebenarnya," gumamnya pada diri sendiri sebelum meraih gagang telepon dan mulai menelepon manager perwakilan Levine Enterprises yang ada di New York.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue...