
***
Malika segera menuju ke PANKEKI BAKERY setelah buru-buru menyelesaikan kiriman pesanannya. Untungnya waktu masih menunjukkan pukul satu siang ketika ia tiba di toko roti itu.
Seperti biasa, Malika langsung menuju ke front desk untuk menyampaikan maksud kedatangannya.
"Permisi, Mbak! Saya mau menghadap Pak Zacky bisa?" tanya Malika pada gadis di balik front desk itu.
"Oh, tadi kaya'nya Pak Zackynya lagi keluar, Bu!" jawab gadis itu tampak sedikit bingung.
"Boleh saya tunggu, Mbak? Soalnya saya sudah ada janji sama beliau." pinta Malika.
"Baik, Bu. Silahkan!"
Dan lagi-lagi, gadis dari front desk yang ber-yukata baby pink itu mengantarnya ke ruang tunggu kantor Pak Zacky.
"Silahkan tunggu di sini ya, Bu. Nanti kalau Pak Zacky kembali, akan langsung saya sampaikan ke beliau bahwa anda menunggu di sini." ujar gadis itu.
Malika hanya mengangguk sambil tersenyum mengiringi kepergian staff front desk tadi keluar dari ruang tunggu.
Malika mendudukkan dirinya di sofa yang ada dalam ruangan itu. Sejujurnya ia mengantuk sekali mengingat hampir semalaman ia mengerjakan pesanan.
Ia baru bisa tidur sebentar sekitar jam tiga pagi lalu sudah harus bangun lagi jam lima pagi untuk menyiapkan kebutuhan anak-anaknya sebelum ia menitipkan mereka di rumah Rima.
Untungnya tadi ia memulai pengantaran pesanan lebih awal. Karena ternyata banyak jalan yang dilaluinya mengalami kemacetan. Ia berangkat dari rumah jam delapan lebih lima belas menit. Dan baru selesai mengirim semua pesanan pukul dua belas siang lebih.
Makanya Malika langsung meluncur ke PANKEKI BAKERY tanpa sempat pulang untuk makan siang. Entar aja lah, habis teken kontrak, pulang dari sini baru aku makan di rumah Rima. Pikirnya. Padahal tadi pagi ia juga tak sempat sarapan saking repotnya mengurus dua anak.
Rasa lelah yang bergelayut di tubuhnya, tempat duduk yang nyaman dan ruangan yang dingin ber-AC membuat kantuk datang dengan cepat dan langsung menguasai Malika. Dan ia tertidur tanpa sadar di ruang tunggu.
Sementara itu, Taki yang sedang bekerja di dapurnya sendiri di divisi roti tiba-tiba mendengar bunyi ponselnya berbunyi. Ia lalu melepas sarung tangan plastik dari tangan kanannya untuk mengambil ponsel dari saku celemeknya.
Tanpa melihat siapa yang menelepon karena matanya masih fokus pada pekerjaannya, Taki langsung menekan tombol receiver pada ponselnya dan menempelkan benda pipih itu di telinganya lalu menjepitnya dengan bahu.
📱TAKI SAHARA
Halo
📱ZACKY NUGROHO
Ki, lo di mana sekarang?
📱TAKI SAHARA
Gue lagi ngerjain stok toko buat nanti malem, kenapa?
📱ZACKY NUGROHO
Berarti lo ada di toko kan sekarang? Lo udah makan siang?
📱TAKI SAHARA
Iya udah, gue enggak makan di luar kok. Dari tadi gue di dapur.
📱ZACKY NUGROHO
Kalo gitu tolong dong gantiin gue teken kontrak kerja sama Malika. Gue masih lama nih ngantri dokternya, entar kalo gue tinggal, si Niky ngamuk-ngamuk lagi.
📱TAKI SAHARA
Emang Malikanya udah dateng?
__ADS_1
📱ZACKY NUGROHO
Barusan gue telepon front desk buat ngecek, katanya sih dia udah dateng. Sekarang lagi nungguin di ruang tunggu kantor.
📱TAKI SAHARA
Oo, ya udah. Gue kelarin kerjaan dulu baru entar gue samperin Malikanya di sono. Tinggal dikit lagi kok ini.
📱ZACKY NUGROHO
Oke, jangan lama-lama ya. Kesian dia, katanya hari ini full pengantaran pesenan. Pasti dia keteteran ngatur waktu kalo enggak buruan dikelarin kontraknya.
📱TAKI SAHARA
Siiaaappp
Taki lalu berhenti sejenak dari aktivitasnya setelah memasukkan kembali ponselnya ke dalam kantong celemek.
Pikirannya seketika melayang pada sosok cantik Malika si calon staff baru asistennya Nanda.
Kok gue jadi gampang banget mikirin cewek itu ya? Masa' iya gue naksir Malika?! batin Taki bertanya-tanya.
Tapi ia segera menggelengkan kepalanya untuk menepis pikiran itu. Malika itu cantik dan muda. Tidak seharusnya dia yang tak sempurna ini berani-berani mendekati wanita itu. Taki kembali mendoktrin pikirannya sendiri untuk tidak coba-coba mencintai siapapun.
Beberapa saat kemudian, Taki yang sudah menyelesaikan pekerjaannya lalu bergegas menuju ruang tunggu. Tapi saat ia membuka pintu itu secara perlahan, dilihatnya Malika tengah tertidur di sofa ruangan itu seorang diri.
Taki langsung teringat apa yang dikatakan oleh Zacky tadi di telepon, Apa dia ketiduran karena kelelahan ya? Tebak Taki.
Taki membuka pintu ruangan itu lebar-lebar dan tidak bermaksud menutupnya lagi. Namun bukannya segera membangunkan Malika dari tidurnya, ia malah ikutan duduk di sofa lain yang berhadapan dengan sofa yang ditiduri Malika.
Taki duduk di sana sambil terus memandangi Malika. Meski mulutnya terdiam, tapi pikirannya sedang berperang dengan hatinya. Ia tak ingin membuka hatinya pada siapapun tapi kenapa justru pintu hatinya malah terbuka dengan sendirinya saat ia berhadapan dengan wanita ini.
Taki terus menatap wajah tertidur Malika dalam diam. Ia bahkan bisa betah seharian berlama-lama tetap dalam posisi itu jika yang dilihatnya adalah Malika. Entah kenapa wanita itu begitu cepat menguasai pikirannya dan menyelinap ke dalam hatinya.
Malika yang sempat menggeliat untuk merenggangkan otot-ototnya dengan setengah sadar mematikan alarm ponsel yang ia keluarkan dari sakunya. Lalu tiba-tiba ia teringat ia sedang berada di mana.
"Ya Ampun!!!" pekiknya sambil bangkit terduduk. Dan ketika matanya melihat sosok yang sedang duduk tak jauh darinya, Malika kembali memekik. "Ya Ampun!!! Maaf!!!"
Malika langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil merapikan rambut panjangnya yang berantakan akibat tertidur tadi.
Taki yang melihat reaksi Malika awalnya tercengang, namun akhirnya ia tersenyum geli melihat kekikukkan wanita muda itu. Ia pun merasa bahwa reaksi Malika barusan sangat lucu dan manis.
Imut banget! Pikir Taki.
Dengan wajah yang merah merona, Malika kembali meminta maaf kepada Taki yang masih betah duduk diam di hadapannya.
"Nggg...anu, Maaf, Pak! Sa-saya, ketiduran!" kata Malika gugup.
Taki tetap diam karena ia sedang menahan tawanya.
"Nngg, saya ada janji sama Pak Zacky. Itu..mau teken kontrak kerja katanya!" jelas Malika.
Tak ingin lagi membuat Malika merasa tidak nyaman, Taki segera berdiri dari duduknya lalu berjalan ke arah pintu. "Mari ikut saya!" ajaknya pada Malika.
Dengan sigap, Malika turut berdiri lalu mengekori Taki dari belakang. Mereka berdua kemudian berdiri di depan pintu ruangan yang bertuliskan 'Ruang Pimpinan'. Taki membuka pintu itu lalu mempersilahkan Malika untuk masuk lebih dulu baru kemudian dirinya.
"Silahkan duduk di sana!" perintah Taki pada Malika sambil menunjuk pada satu set sofa yang ada di tengah-tengah ruangan itu.
Malika menurutinya. Ia dengan canggung duduk di salah satu sofa paling ujung. Taki kemudian mengambil beberapa berkas dari atas meja kerja Zacky yang ia ketahui sebagai berkas kontrak kerja Malika.
Ia kemudian membawa berkas-berkas itu di hadapan Malika sembari menyodorkan sebuah pena.
__ADS_1
"Ini dokumen kontrak kerjanya. Kamu akan di kontrak selama enam bulan dulu sebagai masa percobaan, lalu jika kinerjamu bagus tidak menutup kemungkinan kami akan memperpanjang kontrakmu setiap satu tahun sekali." jelas Taki.
Malika mengambil dokumen-dokumen itu lalu membacanya. "Kapan saya bisa mulai kerja, Pak?" Malika bertanya sambil terus membaca lembar demi lembar kertas itu.
"Masuklah mulai besok, karena pesanan bulan ini sudah penuh jadi Chef Nanda sangat keteteran hanya dengan dua asisten. Jam kerja staff dapur mulai pukul delapan tiga puluh pagi hingga pukul empat tiga puluh sore. Nantinya kamu akan mendapat kertas checkloc untuk absensi harian dan jadwal kerja serta jadwal libur dalam sebulan yang dilakukan secara bergantian." terang Taki.
Tak lama, Malika sampai pada halaman gaji dan ia pun tercengang kala melihat rincian gaji yang akan diperolehnya.
Taki yang bisa menangkap ekspresi terkejut Malika saat melihat rincian itu pun langsung berusaha menjelaskan.
"Di sini kami menggaji karyawan dalam masa percobaan sama seperti karyawan kontrak. Bedanya ada pada tunjangan. Jika karyawan percobaan hanya akan diberi uang transport dan uang makan per hari di luar gaji pokok, sedangkan pada karyawan kontrak, kami menambahkan tunjangan kesehatan dan tunjangan hari tua yang semuanya itu akan mengikuti nilai inflasi yang berlaku di tiap tahunnya."
Malika nampak manggut-manggut dengan mata berbinar. Jujur saja semua ini melebihi ekpektasinya. Ia tak menyangka, bisa bergabung dengan toko roti terkenal bahkan mendapatkan gaji yang lebih tinggi daripada yang ia harapkan.
Saat ini Malika benar-benar bersyukur atas karunia Tuhan yang diberikan padanya. Ia jadi ingin segera bertemu dengan keluarganya untuk memberitahukan kabar baik ini.
"Di mana saya harus tanda tangan, Pak?" tanya Malika pada Taki.
"Di sini dan di sini!" Taki menunjuk pada kolom paling bawah di dua kertas yang berbeda.
Dan Malika pun langsung menanda tanganinya dengan antusias. Setelah itu Taki pun ikut menanda tangani kedua berkas itu di kolom yang tertulis 'Pimpinan' lalu memberikan stempel resmi PANKEKI BAKERY.
Saat itulah Malika langsung melongo melihatnya. Ia yang selama ini berpikir bahwa Taki hanyalah seorang Chef ternyata juga seorang pimpinan di toko roti terkenal itu.
"Anda, Pimpinan di sini, Pak? tanya Malika nekat ingin memastikan isi dalam pikirannya.
Taki tersenyum tipis lalu mengangguk singkat.
"Tapi anda juga Chef di sini?" tanya Malika lagi.
Dan lagi-lagi Taki mengulang jawabannya dengan respon yang sama seperti sebelumnya.
"Kalau begitu, Pak Zacky itu siapa?" Malika kembali kepo.
"Dia wakil saya di sini. Dia yang biasanya mengurus masalah perkantoran sedangkan saya cuman tinggal acc saja. Selebihnya saya lebih sering di dapur bagian roti." jelas Taki masih dengan senyum di bibirnya.
Malika tampak mengangguk-angguk penuh arti. Namun karena ia teringat pada kedua anaknya, ia lalu segera pamit untuk pulang.
"Apa sudah selesai, Pak?" tanyanya.
"Iya, sudah. Kamu boleh bawa satu salinan kontrak kerja ini. Dan untuk CV-mu kemarin, karena tidak ada arsip yang asli maka kami akan simpan sebagai arsip karyawan kami. Tidak apa-apa?" Taki mencoba memastikan.
"Iya, Pak! Silahkan saja, tidak apa-apa!"
"Baiklah kalau begitu, saya ucapkan selamat bergabung dengan kami di PANKEKI BAKERY!" Taki menyodorkan tangannya dengan ragu.
Namun Malika tampak bersemangat menyambutnya dan membalas jabatan tangan Taki dengan wajah sumringah.
"Terima kasih atas kesempatan yang telah diberikan pada saya. Saya akan berusaha semaksimal mungkin agar dapat berguna di sini." janji Malika dengan tulus. "Kalau begitu saya permisi dulu, Pak!" pamit Malika.
Taki hanya mengangguk dan diam mematung sambil menatap punggung Malika yang mulai menjauh lalu menghilang di belokan lorong menuju pintu keluar.
Chef muda itu lalu menatap tangan yang tadi berjabat dengan Malika lekat-lekat. Entah kenapa tadi ia sempat gemetaran, namun saat Malika menyambut tangannya, seketika sekujur tubuh Taki bagai kesetrum aliran listrik yang ringan namun menyengat.
Ya Tuhaannnn, ada apa denganku? Taki lalu duduk kembali di ruang kantor pimpinan itu sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue ....