
đSINOPSISđ
Ambrosia Heart atau yang biasa disapa Ann, adalah wanita cantik rupawan dengan otak cemerlang dan sangat kompeten dalam pekerjaannya. Ia sering mengalami pelecehan seksual secara verbal oleh bos-bosnya terdahulu.
Karena traumanya akan hal itu, saat bekerja pada bosnya yang ke delapanâNy. Roxanne Levine, seorang konglomerat wanita di Sydney yang luar biasa berbakat dalam bisnis, Ann mengubah dirinya menjadi sekretaris berpenampilan cupu yang tidak menarik secara visual.
Ann yang betah bekerja dengan Roxanne pun berharap pekerjaannya kali ini akan berlangsung selamanya. Hingga Suatu hari, anak lelaki semata wayang RoxanneâAlexander Benigno Delwyn Levine atau biasa dipanggil Alex Levine memutuskan pulang ke Sydney untuk mulai mengambil alih perusahaan ibunya, agar sang ibu bisa pensiun di waktu yang diinginkannya.
Namun sejak kedatangan Alex, seakan kedamaian Ann di kantor sirna sudah. Dihadapkan dengan bos tampan setiap hari membuat Ann menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menghindari Alex. Sayangnya hal itu justru membuat Alex penasaran dan malah berbalik mengejarnya.
***
Sang Sekretaris
.
.
.
Tok. Tok.
Setelah mengetuk pintu kayu yang kokoh itu sebanyak dua kali, Ann mendorong gagang besi berukir antik di hadapannya dan melongokkan kepalanya di sela pintu yang terbuka.
"Anda memanggilku, Roxy?" tanya Ann dengan sopan kepada bosnya.
Roxanne Levine, satu-satunya konglomerat wanita di Australia yang terkenal akan bakat bisnisnya yang menakjubkan, duduk di belakang meja kebesarannya. Mengintip sekretaris andalannya itu dari balik kacamatanya yang melorot.
"Masuklah, Ann!" perintahnya seraya meletakkan pena dan dokumen yang dipegangnya ke atas meja.
Ann mengangguk satu kali lantas mendorong pintu itu lebih jauh hingga terbuka lebar. Langkahnya pasti saat mendekati sang bos besar yang sudah hampir dua tahun ini menjadi atasannya.
__ADS_1
Wanita muda berusia 27 tahun yang bersembunyi di balik pakaian konservatif dan kacamata berbingkai hitam tebal itu menghentikan langkahnya tepat satu setengah meter di depan meja Presiden Direktur.
Roxanne Levine berdiri dari duduknya, bersandar pada dinding kaca di ruangan kantornya yang mewah dan terletak di tingkat paling atas Gedung Aurora Place, di tengah kota Sydney untuk mengamati orang kepercayaannya itu.
"Ada beberapa poin penting yang harus kau lakukan untukku hari ini, Ann!"
Ann tersenyum simpul lantas mengaktifkan layar notepad yang selalu dibawanya kemana-mana. Dibukanya aplikasi polaris office yang biasa dipakainya untuk menyimpan catatan-catatan penting dalam notepad kerjanya.
Seperti saat ini, saat Bos Roxanne memintanya untuk mencatat poin-poin penting dari tugas-tugasnya hari ini. "Aku siap, mam," seru Ann dengan sikap tenangnya.
Roxanne selalu terpesona akan sikap alami gadis di hadapannya itu. Tenang dan profesional. Sepanjang pengetahuannya, semua hal yang ada pada seorang Ambrosia Heart begitu mempesona baginya.
Terlepas dari cara gadis itu mendandani dirinya ketika di kantor atau ketika ia sedang berada di luar kantor, selama itu dilakukannya untuk sebuah pekerjaan, Ann akan selalu berpenampilan nerdy namun tetap nampak profesional.
Tapi diam-diam Roxanne tahu bagaimana sosok asli seorang Ambrosia Heart. Meski sejak awal wawancara perekrutan, Ann sudah memakai topeng cupunya, tapi Roxanne yang sudah lebih dulu menyelidiki background Ann menemukan fakta tentang penampilan gadis itu yang sebenarnya.
Begitupun dengan alasan mengapa kini Ann lebih memilih berpenampilan cupu ketimbang mengumbar kecantikan alaminya.
"Baik, Mam!" Ann mengetik dengan cepat dan menunggu bosnya melanjutkan.
"Kedua," lanjut Roxanne dengan intonasi yang masih setegas sebelumnya, "Aku memutuskan untuk jadi mengambil set perhiasan zamrud yang pernah ditawarkan oleh Pawn Stone waktu itu. Tapi, aku mau bukti kevalidan atas surat-surat keasliannya atau transaksi dibatalkan."
"Saya rasa itu bisa di atur, hanya saja butuh tambahan waktu untuk pengecekannya." Ann memperkirakan sambil membuat tulisan di notepadnya.
"Tidak masalah, Ann. Aku tidak membutuhkannya untuk memakainya dalam waktu dekat kok, aku hanya ingin memiliki benda itu sebagai salah satu koleksiku saja."
Ann mengangguk mengerti, jari-jarinya berhenti bergerak untuk menunggu poin selanjutnya. Ketika bosnya itu tidak segera melanjutkan, Ann menatap wanita yang usianya hampir sama dengan mendiang ibunya itu dengan penuh tanya. "Apakah sudah semuanya, Roxy?"
"Hampir, Ann. Hampir..."
Ann adalah satu-satunya staff eksekutif di Levine Enterprises yang memanggil orang nomor satu di perusahaan itu dengan sebutan 'Roxy'.
__ADS_1
Roxanne mengizinkannya sebab ia sangat menyukai Ambrosia Heart sebagai sekretarisnya dan sebagai pribadi yang begitu cemerlang di matanya.
"Terakhir dan yang paling penting..." Roxanne kembali menuju dinding kaca yang diberi pelapis anti silau dan memandang ke luar dengan murung.
Waktunya untuk serius, ia memperingatkan dirinya sendiri. Ia tidak ingin gegabah namun ia juga tidak ingin kehilangan sesuatu yang begitu berharga untuknya dibandingkan apapun di dunia ini.
"Terakhir tapi yang terpenting..." ulang Roxanne dengan suara lantang, "Aku ingin kau mencari seorang detektif swasta profesional, Ann!"
Ann mengerjap-ngerjapkan matanya dari balik kacamata non-minus yang tampak tebal itu. "Maaf bisa anda ulangi, Mam?" tanya Ann dengan penuh keraguan.
"Tidak, kau tidak salah dengar, Ann! Aku memang menyuruhmu mencari seorang detektif swasta, yang sangat ahli dalam bidangnya, dan sangat handal, yang profesional sampai-sampai ia pasti berhasil mencari sesuatu yang bahkan tidak mungkin," jawab Roxanne dengan berapi-api.
"Maaf, Roxy! Tapi kalau boleh aku tahu, apa yang sesuatu yang tidak mungkin yang ingin kau cari itu?" Ann kembali bertanya setelah mampu mengembalikan ekspresi poker face-nya.
Roxanne kembali murung. Setelah mendesah pelan lalu mendengus keras-keras, ia pun berujar, "Aku ingin membatalkan rencana pernikahan putraku dengan tunangannya karena aku tidak menyukai wanita itu. Tapi aku juga tidak ingin menyakiti Alex secara terang-terangan, jadi aku ingin kau membantuku menyelidiki kelemahan wanita penipu itu agar aku bisa membuatnya meninggalkan Alex-ku untuk selama-lamanya."
Jari-jari lentik Ann melayang di udara, di atas notepad keluaran terbaru yang dibelikan Roxanne untuknya agar mempermudah pekerjaannya.
Untungnya Ann masih cukup sadar untuk tetap mempertahankan tangan kirinya memegangi benda elektronik mahal yang senilai tiga kali gaji bulanannya itu. Mata gadis itu membulat, sebulat bibirnya yang menyerupai huruf 'O' kala sedang melongo.
Ann tak mampu berkata-kata, pun ia tak mampu menalar poin terakhir yang keluar dari mulut sang atasan. Kalimat yang diucapkan Roxanne menggema di telinganya, tapi tak cukup jelas untuk diterima oleh otak kirinya.
Setelah sekian detik terpaku, akhirnya, hanya satu kalimat yang berhasil meluncur dari bibir Ann untuk merespon perintah dari Presiden Direkturnya itu.
"Anda pasti bercanda," balas Ann.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue....