SEJUTA CINTA

SEJUTA CINTA
AMNESIA MENDADAK (7)


__ADS_3

Setelah mereka berdua berada di dalam kamar itu. Tanpa peringatan, Max langsung menyandarkan tubuh basah Lyra di balik pintu yang langsung ditutupnya ketika mereka masuk.


Diciumnya bibir Lyra dengan rakus dan kedua tangan yang sibuk membuka pakaian basah Lyra satu per satu. Entah bagaimana—Lyra tidak pernah benar-benar yakin bagaimana itu bisa terjadi—mereka berdua berakhir di tempat tidur Max.


Kedua kaki Lyra yang dingin diselipkannya di antara kaki-kaki Max yang besar dan hangat meski celana jeans yang masih dipakai oleh pria itu juga terasa lembab karena air hujan.


Tubuhnya yang hampir polos dan hanya menyisakan sehelai dalaman melekat rapat pada tubuh bagian bawah Max yang mulai panas. "Apa kau masih merasa dingin, Ly?" tanya Max sedikit bergumam.


Lyra sudah tak mampu lagi bicara. Tenggorokannya seakan terkunci. Perasaan yang mulai muncul ketika tubuh atasnya yang sudah polos tak terhalang melekat rapat pada dada Max dengan cepat berubah menjadi kenikmatan yang begitu kental hingga terasa menyakitkan.


Max pun merasakan kerinduan mendalam terhadap tubuh Lyra—wanita yang telah sekian lama diidamkannya—hingga akal sehatnya seakan dibutakan.


Lyra tahu apa yang akan terjadi, Max pun tahu, mereka berdua tahu. Dan karena Lyra tak hanya sekedar menginginkan ciuman Max tetapi semua yang bisa diberikan pria itu kepadanya—Lyra pun langsung mendongak ketika Max mencari-cari bibirnya.


Kedua tangan Max lalu bergerak turun merangkum tubuh atas Lyra yang terbentuk sempurna, membuat puncaknya mengeras, menusuk telapak tangan pria itu. Max lalu menundukkan kepalanya, mengulum puncak yang mengeras itu, hingga membuat sebuah desahan lembut lolos dari bibir Lyra.


Lyra seakan mendengar Max membisikkan namanya, tetapi semua kata sudah tak ada artinya lagi kala Max menarik celana jeansnya yang lembab ke bawah. Lyra menyentakkan satu-satunya pakaian yang masih menempel pada tubuh Max, dengan berani sekaligus malu-malu, mengambil inisiatif untuk pertama kali sepanjang hidupnya.


Yang lebih mengejutkan lagi, Lyra sama sekali tidak bercumbu dengan tenang saat permainan mereka kian memanas. Lyra terkejut menyadari dirinya sendiri memanggil-manggil nama Max secara berulang-ulang. Memohon sentuhan pria itu, meminta Max memanjakannya di tempat-tempat yang diinginkannya dengan bibir pria itu.


Max tersenyum lebar. Ia sangat tak menduga jika Lyra benar-benar wanita yang luar biasa. Wanita yang pemalu sekaligus penuntut. Membuat Max semakin tertantang untuk mendominasi permainan agar Lyra sungguh-sungguh terpuaskan.


Max ingin saat itu berlangsung selamanya. Ingin membuatnya jadi luar biasa mengesankan untuk Lyra. Lebih dari itu, menjadi tak terlupakan. Tapi saat dirinya sudah ada di atas tubuh Lyra yang sudah polos seutuhnya, Max tak dapat menahan dirinya lagi.


"Lyra, aku tidak tahan lagi. Bolehkah aku..." suara Max menggema parau. Tertahan di ujung perasaannya yang membara.


"Tak apa, Max. Aku siap," bisik Lyra yang juga sedang melayang-layang di tepi kepuasan yang baru pertama dirasakannya.


Tubuh Max melompat bangkit untuk mempersiapkan dirinya saat mendengar Lyra yang telah mengizinkan. Saat merasakan kelembutan kulit Lyra yang mulai basah, Max langsung melancarkan aksinya. Menuruti hasratnya yang menggebu dan tak dapat ia kendalikan lagi. Ia melakukan gerakan berulang yang terasa begitu manis dan nampak begitu indah bagi Lyra.


Dengan nafas tertahan, Max merasakan tubuh Lyra yang menegang dalam pelukannya. Kedua tangan Lyra mencengkeram kuat lengan Max yang membuat pria itu tahu bahwa Lyra pun hampir mencapai tujuan yang sama dengannya.


Max berjuang keras mendapatkan kendali dirinya lagi, tapi terlambat. Kepalanya terdongak jauh kebelakang, matanya terpejam rapat, tubuhnya bergetar hebat, dengan cepat Max masuk sekali lagi.


Dan setelah satu tarikan nafas bergetar yang sangat dalam, Max dan Lyra lalu memekik lirih secara bersamaan mengiringi pelepasan mereka berdua. Seketika tubuh Lyra pun terkulai.


Max menyikap helaian anak rambut yang menutupi sebagian wajah Lyra. Dihapusnya peluh yang membasahi wajah cantik wanita itu. Dan ketika Max bangkit dari atas tubuh Lyra, dilihatnya darah segar yang mengalir dari dalam inti tubuh wanita itu. Seketika Max terbelalak.


"Lyra! Jangan bilang kau..." Max menggantungkan kalimatnya saat dilihatnya Lyra langsung menutup wajahnya dengan kedua tangan karena malu.

__ADS_1


Max salah tingkah dibuatnya. Ia lalu mengambil sekotak tisu dari nakas dan mulai membersihkan darah itu. Seketika Lyra kaget lalu melompat hingga terduduk.


"Tidak, tidak, Max! Biar aku— biar aku lakukan sendiri," pinta Lyra dengan wajah yang merah karena malu.


Max mengerti, lalu disodorkannya kotak tisu itu pada Lyra. "Maafkan aku, Ly," ujar Max tulus.


Lyra tersentak mendengar permintaan maaf dari Max itu. "Kenapa? Apa kau menyesal?" tanya Lyra murung.


Max menggeleng sambil mengusap kepala Lyra lembut. "Aku menyesal karena tidak melakukannya dengan lembut. Jika aku tahu ini adalah pengalaman pertamamu, aku pasti akan melakukannya dengan lebih hati-hati," jawab Max.


Lyra tersenyum lega. Ia takut jika Max kecewa karena dirinya yang belum pernah tersentuh lelaki manapun. "Oh, Max! Kau sudah memberiku sesuatu yang tidak pernah aku rasakan dan itu membuatku bahagia," ujar Lyra sambil memeluk Max.


"Terima kasih, Ly. Terima kasih telah menjadikanku yang pertama," balas Max sambil mengecup kening Lyra dalam-dalam.


Malam itu, bak dua sejoli umur belasan tahun yang belum dewasa. Max dan Lyra yang tenggelam dalam hasrat mereka masing-masing, memadu kasih berkali-kali hingga pagi tiba.


Keduanya melupakan belanjaan yang masih tergeletak di lantai dekat pintu. Melupakan hujan yang masih deras mengguyur di luar villa. Dan melupakan keberadaan seorang Melody Lynn di muka bumi ini.


***


Keesokan harinya, saat waktu hampir beranjak siang, lagi-lagi Lyra yang lebih dulu terbangun daripada Max seperti hari sebelumnya.


Lyra merasa seakan ada orang asing yang bersembunyi dalam dirinya selama ini—makhluk lapar yang selalu menuntut untuk dicumbu sekaligus jiwa pemalu yang terlalu penurut untuk mengikuti dorongan yang tidak pernah Lyra sangka ada dalam dirinya.


Lyra tak pernah menyangka kesempatan itu akan datang. Kesempatan untuk merasakan kenikmatan yang tak pernah terbayangkan bahkan dalam imajinasi Lyra paling liar sekalipun.


Lyra tersenyum puas hingga telinganya tiba-tiba mendengar suara gedoran pintu villa yang membabi buta, seolah orang yang sedang menggedor pintu villa itu akan segera mendobrak pintunya jika tak segera dibukakan.


Lyra melonjak kaget lalu bangkit dari ranjang dan mengambil apapun yang dapat menutupi tubuh polosnya. Diraihnya jubah mandi yang tergeletak di lantai tak jauh dari pintu kamar Max.


Ketika Lyra baru saja selesai memakai jubah mandi dengan sempurna, dilihatnya Max yang juga terbangun karena merasa terganggu oleh suara gedoran di pintu villa itu.


"Siapa itu, Ly?" tanya Max masih dengan mata yang menyipit.


"Entahlah, aku belum tahu. Biar kulihat ya, kau tunggu saja di sini!" perintah Lyra pada Max.


Secepat kilat Lyra berjalan menuju pintu villa lalu mengintip dari lubang pintu untuk melihat siapakah gerangan yang menggedor-gedor pintu villanya hingga sedemikian rupa.


Dan ketika Lyra melihat sosok Melody Lynn dari lubang pintunya, mendadak jantungnya berdegup kencang. Ya Tuhan! pekik Lyra dalam hati.

__ADS_1


Bagaimana mungkin seorang Melody bisa sampai kesini? batinnya bingung. Bagaimana mungkin Melody bisa tahu dimana villa pribadinya berada. Kaki-kaki Lyra seketika lemas.


"Siapa, Ly? Kenapa tak segera kau bukakan pintu?" tanya Max yang sedang berjalan kearahnya.


Nampak pria itu sudah mengenakan celana panjangnya meski masih bertelanjang dada. Seketika Lyra semakin gugup dibuatnya. Dirinya belum siap untuk menceritakan yang sebenarnya kepada Max. Menceritakan tentang Melody dan perselingkuhan Melody dengan Dylan.


"Ng, anu— Max. Ng—" Lyra sangat gugup, bingung tidak tahu harus berbuat apa. Harus menjelaskan mulai dari mana.


Sementara suara gedoran dari luar pintu villa nampak semakin emosional. Beruntung villa Lyra tidak memiliki tetangga di kanan kiri yang cukup dekat dari villanya, sehingga mungkin akan terganggu dengan kehebohan yang dibuat oleh Melody di luar sana.


"Ada apa? Kenapa kau begitu gugup? Siapa orang gila yang menggedor pintu seperti itu?" tanya Max. Merasa penasaran, Max mencoba mengintip dari lubang pintu namun segera Lyra cegah dengan menarik lengan pria itu kebelakang.


"Jangan dilihat, Max!" sergah Lyra ketakutan.


Max mengernyit bingung. Tidak paham dengan perilaku Lyra saat ini. "Ada apa? Biar kulihat siapa orangnya?" kata Max.


"Jangan! Kumohon!" pinta Lyra mengiba.


"Tapi kenapa, Ly? Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya Max dengan ekspresi seriusnya.


Mau tidak mau Lyra jadi mengangguk menjawab pertanyaan Max itu. Melihat reaksi jawaban Lyra, Max seketika membelalakkan matanya.


"Demi Tuhan, Lyra! Apa yang kau sembunyikan dariku? Aku pikir kita sudah cukup dekat untuk tidak saling menyembunyikan apapun lagi?" intonasi suara Max mulai meninggi.


"Maafkan aku, Max!" ucap Lyra lirih dan takut menghadapi kemarahan Max saat pria itu mengetahui kenyataannya nanti.


"Jangan minta maaf dulu, Ly! Jelaskan apa yang kau sembunyikan padaku dulu! Apa itu ada hubungannya dengan orang yang sedang menggedor pintu ini?" tanya Max dengan rahang mengeras sambil menunjuk ke arah pintu.


Lyra lagi-lagi hanya bisa mengangguk.


"Jangan bilang orang yang ada dibalik pintu ini adalah kekasihmu yang lain yang datang untuk mencarimu?" tanya Max mulai geram.


"Bukan, Max!" jawab Lyra masih dengan suara yang lirih.


"Ya Ampun, Lyra. Lalu siapa dia?" Max mulai berteriak.


"Dia bukan kekasihku seperti tuduhanmu tadi, tapi dia adalah kekasihmu—Melody Lynn. Seorang model cantik yang lebih muda darimu, dari kita. Dialah kekasihmu yang sebenarnya, dan bukan aku," jawab Lyra panjang lebar dengan suara yang bergetar. Sekuat tenaga Lyra menahan diri agar tidak menangis di hadapan Max.


***

__ADS_1


__ADS_2