
***
Waktu bergulir hingga tiba saatnya orang tua dan kakak perempuan Taki---Hana, kembali ke Tanah Air.
Setelah makan malam di hari pertama keluarganya kembali berkumpul, Taki langsung mengungkapkan keinginannya untuk menikah dengan seorang janda muda beranak dua yang notabene adalah salah satu karyawan di PANKEKI BAKERY.
"Namanya Malika. Usianya dua puluh empat tahun. Dia asisten Chef Nanda di toko kita. Tapi yang merekomendasikannya bekerja di sana adalah aku. Aku mengenalnya dari Niky dan Zacky. Setelah melalui tes wawancara dan tes kemampuan di bawah pengawasanku, Nanda dan Zacky. Malika akhirnya dinyatakan lulus dan kami pun merekrutnya di toko." ungkap Taki pada keluarganya.
"Tapi apa alasan wanita semuda itu hingga bercerai. Apa dia tidak memikirkan nasib masa depan anak-anaknya kelak?" tanya Ibunda Taki.
Taki lalu menceritakan perihal kehidupan rumah tangga Malika yang memprihatinkan dengan mantan suaminya. Ia membeberkan seluruh kisah masa lalu Malika yang ia ketahui dari Rima dan Satria sebagai keluarga Malika yang tersisa.
"Kasihan sekali wanita itu! Di usia semuda itu sudah melewati begitu banyak penderitaan!" Ibunda Taki merasa iba mendengarnya.
"Tapi apa kau yakin dengan keputusanmu ini, Taki? Maksud ayah, kau ini pria bujang yang pastinya tidak akan sulit untuk mendapatkan wanita yang lebih baik daripada wanita itu!" kini sang ayah yang meragukan keputusannya.
Taki sudah bisa menduga hal ini, ia pun hanya bisa menghela nafas beratnya. Dan mungkin inilah saat baginya untuk memberi tahukan tentang apa yang tengah di alaminya kepada keluarganya.
"Bagiku tidak ada wanita yang lebih baik dari pada Malika! Aku tidak hanya jatuh cinta padanya tapi juga pada anak-anaknya. Dan aku ragu aku bisa mencari istri setulus Malika dengan keadaanku ini, Ayah!" Taki menjelaskan.
"Apa maksudnya dengan keadaanmu? Memangnya kau kenapa?" tanya Hana yang tiba-tiba jadi khawatir mendengar kalimat terakhir adiknya itu.
"Aku divonis infertil oleh dokterku di Jepang kemarin!" ungkap Taki.
Kedua orang tua serta kakak Taki seketika mematung. Mereka seolah baru saja mendengar bunyi petir yang begitu memekakkan telinga mereka sehingga membuat mereka shock. Wajah mereka tiba-tiba menjadi pucat saking terkejutnya.
"Apa itu benar, Nak?" tanya Ibunda Taki merasa sedih.
"Sebelum pulang, dokter memberikan hasil akhir laporan kesehatanku dan mengungkapkan hal itu padaku secara langsung. Katanya itu adalah efek samping dari obat-obatan yang kukonsumsi selama berbulan-bulan dirawat." beber Taki.
"Apa wanita itu tahu tentang keadaanmu ini?" tanya Hana.
"Malika sudah tahu dan dia bisa menerimanya, tapi yang membuat ia sempat ragu menerima lamaranku justru karena traumanya tentang pernikahan dan pendapat kalian tentangnya. Terus terang ia sudah minder duluan sebelum bertemu kalian. Aku jadi harus susah payah membujuknya agar mau menikahiku." Taki bercerita dengan ekspresi putus asa.
Melihat kegalauan di wajah anaknya, Ibunda Taki malah tersenyum simpul.
"Ternyata kau bisa juga ya berwajah seperti itu? Padahal saat kau dinyatakan lumpuh setelah sadar dari koma, wajahmu malah jauh lebih tenang! Ibu jadi penasaran pada wanita ini." ujar Ibunda Taki.
Orang tua Taki yang sempat bersikap skeptis atas keputusan Taki itu akhirnya mulai luluh. Mereka pun mencoba untuk membuka hati dan ingin bertemu wanita yang membuat putra mereka termehek-mehek.
"Kalau begitu kenalkan dia pada kami di resto tempat aku akan bertemu dengan calon jodohku. Kita bisa berkenalan di sana sekaligus memperkenalkannya sebagai calon istrimu. Melihat sikapmu ini, kau pasti tetap akan menikahinya dengan atau tanpa restu kami. Iya kan?" Hana tersenyum lebar.
Taki pun membalas senyuman kakaknya itu lalu setuju dengan usul Hana. Pembicaraan mereka pun terhenti ketika masing-masing dari mereka kembali ke kamarnya sendiri-sendiri untuk beristirahat.
Tapi hanya Taki yang menyusul Hana di kamarnya, dilihatnya kakaknya itu sedang memegang sebuah kalung dengan liontin berbentuk hati yang bisa dibuka dan berisi sebuah foto.
Foto itu adalah foto Hana dengan mantan suaminya. Taki merasa iba melihat kakaknya yang masih belum bisa move on dari mantan suaminya itu.
"Apa kau masih mencintainya? Masih menginginkannya kembali?" tanya Taki sambil duduk di tepian kasur di samping Hana.
"Perasaanku tidak pernah berubah hingga detik ini." jawab Hana dengan tegas.
"Kalau begitu kenapa kalian berpisah???"
"Aku tidak mau menjadi penghalang impiannya. Aku tidak mau mengekangnya dengan pernikahan kami!"
"Lalu di mana orang itu sekarang?"
"Terakhir kudengar kabarnya dia ada di Yokohama, sedang mengadakan pameran fotografinya, tapi saat aku di Jepang dan mencoba menghubungi galerynya beberapa kali, tidak ada respon darinya." ujar Hana lesu.
__ADS_1
"Kalau kau masih mencintai orang itu, lalu kenapa kau mau dijodohkan?"
"Aku kasian melihat ayah dan ibu yang terus-terusan mengkhawatirkanku." Hana tersenyum getir kala mengucapkan itu.
"Tapi kau tidak akan bahagia jika begitu!" Taki menatap miris pada kakaknya.
"Apa kau bahagia dengan Malika?" giliran Hana yang bertanya.
"Sangat!" jawab Taki dengan yakin.
"Baguslah, perjuangkan dia, jangan jadikan dia seperti aku!" Hana lalu bersandar pada pundak Taki.
"Tidak akan!" Taki menjawab sambil merangkul pundak Hana dan mengecup puncak kepala kakaknya.
***
Di hari pertemuan keluarga, orang tua Taki dan Hana sampai sengaja datang ke restoran tempat janjian mereka lebih awal. Mereka ingin mengenal Malika dan anak-anaknya lebih dulu sebelum jadwal pertemuan dengan calon jodoh Hana tiba.
"Gimana penampilanku? Aku berlebihan atau malah terlalu biasa?" tanya Malika pada Taki dan anak-anaknya dengan gugup.
Mereka yang sudah tiba di hotel dan terpaksa berhenti di lobi hotel ketika Malika lagi-lagi menanyakan tentang penampilannya.
"Kau sudah cantik, Mami!" ujar si kembar dengan kompak mengacungkan jempol mungil mereka.
"Mereka benar, kau sudah cantik sekali! Dan penampilanmu pas, tidak berlebihan." sahut Taki kemudian menarik pinggang Malika ke arahnya.
Pria itu lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Malika dan berbisik, " Dan aku sangat suka penampilanmu hari ini!" tambahnya.
Membuat pipi Malika langsung bersemu merah muda. Dan wanita itu pun refleks memukul dada bidang Taki dengan keras.
Malika langsung panik merasa menyesal telah memukul Taki sekeras itu. "Aduh, maaf-maaf, sakit ya?" tanya Malika dengan khawatir.
Tapi Taki malah menggeleng, kemudian tersenyum jahil, "Hatiku enggak sakit kok, cuman berdebar!" godanya.
"Iiisshhhhh....GOMBAL!!!" Malika lalu melengos demi menyembunyikan wajahnya yang seperti kepiting rebus setelah mendengar gombalan Taki.
Mereka pun kembali meneruskan langkah menuju sebuah restoran mewah yang berada di lantai dasar hotel bintang lima tersebut.
Malika yang akhirnya bisa berkenalan dengan keluarga Taki pun menjadi terharu setelah menerima perlakuan baik dari keluarga laki-laki itu. Bahkan orang tua Taki langsung menyukai anak-anak Malika. Mereka menyuapi si kembar makanan dan es krim dengan ramah dan telaten.
Hingga tiba-tiba si kembar mengatakan ingin ke toilet. Taki yang awalnya menawarkan diri untuk menemani mereka kemudian di tolak secara halus oleh Malika.
"Biar aku saja, kamu belum terbiasa nanti malah kerepotan!" ujar Malika.
Ia lalu mengantar kedua anaknya itu ke toilet. Dan saat keluar dari toliet, Malika dan anak-anaknya tanpa sengaja berpapasan dengan mantan suami serta keluarganya.
"Apa yang kau lakukan di sini wanita sial???" pekik mantan ibu mertua Malika dengan sengit. "Aahh kenapa kami harus bertemu dengan pembawa sial sepertimu di saat penting begini? Jangan bilang kau mengikuti kami sengaja untuk mengacaukan acara perjodohan Haris dengan calon istri barunya, Hah???"
Wanita tua itu terus saja mengomel. Malika tak membalas, ia diam saja karena sedang berada di tempat yang tidak semestinya bersikap seenaknya sendiri, ditambah lagi ada keluarga Taki di sana. Malika tidak ingin membuat Taki dan keluarganya malu karena bertengkar dengan orang tua itu.
Merasa tidak mendapatkan perlawanan, Malika pun dimaki-maki dimuka umum oleh mereka. Meskipun begitu Malika hanya diam dan berlutut untuk memeluk kedua putranya yang sudah menangis melihat Mami mereka di marahi.
Hati Malika terasa hancur. Namun tanpa ia duga, Taki yang melihat Malika di bully dari kejauhan langsung menghampiri mereka. Ia lalu menggendong Leo dan mengajak Malika pergi dari tempat itu sambil memeluk pundak Malika yang menggandeng Reo.
Semua orang tercengang dibuatnya. Tak terkecuali keluarga mantannya Malika yang tiba-tiba melihat Malika di bawa pergi oleh laki-laki tinggi dan tampan. Mereka semua melongo.
Dan setelah kepergian Taki bersama Malika berserta anak-anaknya, Haris serta keluarganya mendekati meja di mana orang tua Taki dan kakaknya berada. Ternyata orang yang akan di jodohkan dengan Hana adalah Haris.
__ADS_1
Namun belum sempat Haris dan keluarganya duduk, keluarga Taki lebih dulu berdiri dan pergi dari tempat itu dengan kesal. Hana yang masih dapat menahan emosinya, akhirnya menyatakan bahwa mereka membatalkan rencana perjodohan itu.
"Maaf, tapi keluarga kami tidak dapat melanjutkan rencana perjodohan ini karena wanita yang baru saja kalian hina itu adalah calon menantu di keluarga kami. Permisi!" ujar Hana lalu ikut pergi dari sana menyusul orang tuanya.
Orang tua Taki bertemu dengan Taki dan Malika di lobi luar hotel, mereka menyuruh Taki mengantar Malika dan anak-anaknya pulang dulu untuk menenangkan diri.
"Yang sabar ya, Nak! Semoga kau selalu kuat! Mereka pasti akan mendapatkan balasannya!" ujar Ibunda Taki berusaha membesarkan hati Malika seraya memeluknya.
Malika membalas pelukan Ibunda Taki itu dengan hangat. Ia sudah sangat ingin menangis namun sekuat tenaga ditahannya.
"Antar Malika dan anak-anaknya pulang, Taki. Besok ajaklah mereka ke rumah untuk membicarakan pernikahan kalian!" titah sang Ayah yang langsung disambut senyuman lebar oleh Taki.
Taki akhirnya mengantar Malika dan anak-anaknya pulang. Sesampainya di rumah Malika, si kembar yang sudah berhenti menangis dan mulai mengantuk langsung di ajak ke kamar mereka oleh Mbak Tiya.
Sementara Taki yang sejak awal sudah tahu bahwa Malika sedang menahan tangisnya segera memeluk tubuh wanita itu dengan lembut.
"Jangan tahan tangismu lagi! Ada aku yang akan menampungnya. Menangislah sepuasmu, Malika! Selama kamu lakukan itu dalam dekapanku!" ujar Taki
Mendengar pernyataan tulus dari Taki, seketika pertahanan Malika untuk tidak menangis runtuh sudah. Air matanya langsung tumpah mengikis perih di hatinya. Malika menangis keras dalam pelukan Taki. Pria yang telah ditakdirkan untuknya.
***
Sementara itu, di rumah keluarga Taki...
Orang tua Taki dan Hana dikejutkan oleh kehadiran seorang tamu yang tak mereka sangka-sangka. Hana bahkan sampai langsung menjatuhkan kunci mobilnya ketika melihat seorang pria yang sedang berdiri di depan pintu utama rumahnya.
"Hajime!!!" pekik Hana sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Ia tak percaya pria itu ada di sini, di hadapannya. Ia tak percaya pria yang hingga detik ini dicintainya itu datang lagi kepadanya.
"Maafkan kelancanganku, Ayah, Ibu! Aku datang untuk meminta restu kalian untuk rujuk kembali dengan Hana! Selama setahun ini aku sadar bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya! Aku mohon, maafkan keegoisanku dulu dan izinkan kami bersama lagi!" pinta pria itu pada orang tua Hana.
Kedua orang tua itu tercengang. Hana pun tercengang. Tapi hatinya membuncah bahagia. Ayah Hana yang akhirnya melihat perubahan ekspresi di wajah putrinya hanya bisa tersenyum tipis.
Ia lalu berjalan masuk ke dalam rumah bersama istrinya. Namun saat melewati Hajime yang berdiri tak jauh dari depan pintu rumahnya, lelaki tua itu berkata...
"Masuklah! Kita bicarakan ini di dalam saja. Tidak baik membicarakan sesuatu yang penting di depan rumah begini."
Mendengar hal itu, Hajime langsung membungkuk dalam-dalam sebagai tanda penghormatan kepada kedua orang tua Hana sebelum akhirnya menyusul mereka ke dalam rumah sambil menggandeng tangan Hana yang menangis bahagia.
TAMAT
.
.
.
Assalamu'alaikuumm,,,πππ
holaaa pembaca semua π€
FYI aja kalo sekarang Cerita Pendek MOVE ON udah ada versi novelnya loohhh π
Judulnya masih sama koQβMOVE ONβdengan kisah yang lebih seru tentang Malika & Taki π
Kepoin yuukkkksss π€π€π€
__ADS_1