SEJUTA CINTA

SEJUTA CINTA
AMNESIA MENDADAK (6)


__ADS_3

Sesampainya di pasar, mereka mampir lebih dulu ke kedai susu segar yang juga menjual aneka sosis dengan beberapa pilihan cara memasak.


Ada yang digoreng dengan saos asam manis, ada yang hanya dibakar dengan saus barbeque, dan ada pula yang direbus dengan kuah kaldu yang nikmat.


Max membeli seporsi sosis goreng asam manis untuknya sendiri, lalu seporsi sosis bakar barbeque untuk Lyra, dan dua gelas susu segar untuk mereka berdua. Keduanya menikmati sarapan mereka sebelum memulai acara utama yaitu berbelanja.


Setelah menyelesaikan sarapan mereka. Keduanya mulai berjalan mengelilingi pasar. Tak berapa lama, Lyra dan Max nampak membeli banyak sekali bahan makanan segar yang mereka butuhkan selama menginap di villa. Keduanya jadi sangat menikmati acara belanja yang diselingi wisata kuliner mereka.


Tak lupa Lyra membeli buah-buahan segar yang dikemas dengan cantik untuk buah tangannya berkunjung ke rumah Roy nantinya.


Sepulang dari pasar, sesuai rencana, keduanya menyempatkan mampir ke rumah Roy. Ternyata Roy sudah tiba lebih dulu di rumahnya, dan tentunya sudah memberitahukan perihal kedatangan Lyra jadi seluruh keluarga Roy sudah siap menyambut Lyra dan Max di rumah mereka.


"Selamat datang untuk kalian berdua," ucap Roy saat membuka pintu. "Waahhh, kalian belanja banyak sekali," tambahnya ketika melihat barang bawaan Lyra dan Roy.


"Well, Max baru saja terluka, dan dia butuh tempat yang nyaman untuk memulihkan diri. Itulah sebabnya aku memutuskan untuk menginap di villa selama beberapa hari!" jelas Lyra.


"Hmm, pantas saja," balas Roy singkat. "Aku sudah memperbaiki saluran listrik yang terputus akibat terkena petir. Juga mengganti beberapa bola lampu yang mati karena konslet. Gasnya juga sudah kuisi ulang, jadi malam ini meskipun hujan kembali turun aku rasa kalian akan baik-baik saja," Roy melaporkan semua hasil kerjanya pada Lyra dan Max.


"Terima kasih, Roy," kali ini Max yang menjawab.


"Santai saja, Masuklah!" balas Roy pada Max.


Roy meraih kantong belanjaan yang dibawa Lyra dan Max sekaligus, lalu membantu keduanya meletakkan semua belanjaan itu ke tempat yang tepat. Di meja panjang dekat pintu masuk, agar Lyra dan Max tidak lupa membawanya kembali saat mereka pulang ke villa nanti.


"Oh sayangku, kenapa kau lama sekali tidak berkunjung ke villa? Apa kau tidak merindukan orang-orang tua ini?" tanya ayah Roy yang langsung memeluk Lyra secara bergantian dengan ibu Roy.


"Maafkan aku, Tuan dan Nyonya Watson. Aku sama sekali tidak bermaksud begitu," jelas Lyra mencoba membuat alibi.


"Tidak apa-apa sayang, kami mengerti kesibukanmu di kota besar. Lalu siapa pria tampan ini?" tanya Nyonya Watson berusaha mengalihkan perhatian.


Mendengar Ibu Roy bertanya, Max segera memperkenalkan dirinya sendiri. "Perkenalkan saya Max Fherem, kekasih Lyra," ujarnya.


Mendengar Max memperkenalkan dirinya sebagai kekasih Lyra, sontak saja kedua suami istri itu pun kaget sekaligus sumringah. Mereka tak menyangka akhirnya Lyra membawa lelaki pilihannya berkunjung ke villa milik Ayah Lyra.


"Luar biasa," balas Tuan Watson menjabat tangan Max. "Ayah Lyra pasti akan sangat menyukaimu. Kau sangat tampan dan terlihat sangat mencintai Lyra," tambahnya sambil menepuk-nepuk pundak Max. Membuat Max tersipu sekaligus bahagia mendengarnya.

__ADS_1


Akhirnya Lyra dan Max bercengkerama dengan keluarga Roy sepanjang siang hingga sore di hari itu. Mereka makan siang bersama bahkan bergantian menggendong bayi perempuan Roy yang cantik dan lucu.


"Wah, kau sudah sangat cocok sekali menggendong bayi, Ly," puji Ryana yang langsung membuat pipi Lyra bersemu merah.


Max yang mendengarnya sekaligus menangkap perubahan wajah Lyra yang bersemu, jadi mulai membayangkan jika kelak Lyra akan menggendong bayinya sendiri, bayi mereka. Tak ayal, Max jadi senyum-senyum sendiri karenanya.


Menjelang sore, akhirnya keduanya pamit pulang dari rumah Roy sebelum gelap. Dalam perjalanan pulang ke villa, Max terus saja menggandeng tangan Lyra. Membuat keduanya masing-masing membawa kantong belanjaan dengan sebelah tangan yang tersisa.


"Aah melihatmu menggendong bayi Roy tadi. Aku jadi ingin cepat-cepat melihatmu menggendong bayi kita sendiri, Ly," Max terus terang.


Lyra seketika melongo mendengar ke terus terangan Max itu. Ya Ampun, sejak kapan pria di sampingnya ini jadi begitu apa adanya begini.


Biasanya Max lebih sering diam seolah menyimpan sesuatu di dalam pikirannya. Apakah amnesia Max yang merubah karakter pria itu? tanya Lyra dalam hati.


Lyra spontan berhenti melangkah saat mendengar ucapan Max. Max pun menoleh menyadari Lyra yang tertinggal beberapa langkah di belakangnya.


"Ada apa, Ly?" tanya Max polos seolah tak menyadari bahwa Lyra terkejut dengan ucapannya barusan.


"Apa kau yakin? Maksudku apa kau serius ingin memiliki bayi bersamaku?" tanya Lyra tak percaya.


"Oh, Max," Lyra langsung terharu mendengarnya. Ternyata memang Max begitu sangat mencintainya.


"Tidakkah kau juga memiliki perasaan yang sama denganku, Ly?" kali ini Max yang bertanya dengan hati-hati.


"Tentu saja, Max," jawab Lyra tak kalah lugas. "Aku pun juga sering membayangkannya, tapi mendengar keinginan itu langsung dari mulutmu sendiri membuatku merasa seperti kau baru saja melamarku," ungkap Lyra dengan mata berkaca-kaca.


Max pun langsung memeluk Lyra yang mulai menangis perlahan dengan sebelah tangannya yang masih bebas dari kantong belanjaan.


Untuk sesaat mereka berpelukan di tengah jalan menuju villa dengan canggung, hingga hujan yang tiba-tiba turun membuat keduanya langsung tersentak kaget.


"Cepat kembali ke villa, Ly. Sebelum hujannya semakin deras!" seru Max.


Mereka berdua akhirnya berlari menembus hujan yang ternyata langsung turun dengan derasnya. Langit sore itu pun langsung berubah menjadi gelap seiring munculnya awan-awan gelap pembawa hujan.


Setibanya di teras villa, Max dan Lyra terlanjur basah kuyup. Untung saja kantong-kantong kertas belanjaan mereka sudah diganti menjadi kantong-kantong plastik oleh Roy sesaat sebelum mereka pulang dari rumah Roy tadi.

__ADS_1


Roy bilang untuk mengantisipasi munculnya hujan dadakan seperti ini dan ternyata prediksi Roy benar. Membuat Max dan Lyra berpikir bahwa Roy benar-benar pria hebat yang berhati malaikat.


Beruntung villa Lyra memiliki teras kecil dengan atap yang bisa dijadikan tempat berteduh bagi mereka berdua. Lyra langsung membuka pintu villa sesaat setelah mereka sampai di teras.


Max pun langsung memasukkan kantong-kantong belanjaan mereka dan menaruhnya di atas lantai dekat pintu bagian dalam villa.


Keduanya tak langsung masuk ke dalam villa, Max dan Lyra berteduh lebih dulu di teras villa agar air hujan yang membasahi sekujur tubuh mereka berdua tidak menetes dan membasahi lantai villa.


Max membuka jaket dan baju nya di depan Lyra, tanpa sengaja memamerkan tubuh maskulinnya yang basah. Ia lalu menggantung baju-bajunya tadi di pagar teras yang terbuat dari kayu.


Melihat pemandangan menakjubkan itu seketika hasrat wanita dewasa Lyra muncul ke permukaan. Lyra pun menggigit bibir bawahnya kuat-kuat.


Max sedikit melompat-lompat agar air hujan yang membasahi tubuhnya terjatuh. Pria itu juga menyibak air yang membasahi rambutnya dengan kedua tangan. Lagi-lagi Lyra harus sekuat tenaga menelan salivanya melihat semua hal itu.


"Tunggu di sini, akan aku ambilkan handuk dan jubah mandi untuk mengeringkan badanmu," kata Max pada Lyra dengan bertelanjang dada.


Max terlebih dulu mengeringkan telapak kakinya di keset depan pintu sebelum akhirnya memasuki villa sambil berjinjit.


Tak lama, pria itu kembali muncul dengan handuk dan jubah mandi di tangannya. Max langsung memakaikan jubah mandi di tubuh Lyra tanpa membuka pakaian basah wanita itu lebih dulu.


Max lalu membantu mengeringkan rambut Lyra dengan handuk. Saat itulah Max melihat bibir Lyra yang gemetar dan membiru karena kedinginan.


Di dorong rasa khawatir, tanpa Lyra sadari, Max tiba-tiba menunduk dan mencium bibir wanita itu. Berharap dapat menyalurkan kehangatan ke dalam bibir Lyra melewati bibirnya.


Lyra mengerjap saat Max melepaskan ciumannya. "Bibirmu membiru, kita harus segera mengeringkan tubuhmu," Max beralasan seolah mengerti pertanyaan yang terlontar dari tatapan mata Lyra tanpa wanita itu perlu mengucapkannya.


Hentakan dari gosokan handuk yang dilakukan Max pada rambut Lyra serta gerakan menggigil yang terjadi pada kedua kakinya, membuat Lyra sedikit terhuyung hingga dengan refleks ia menyandarkan kedua tangannya di atas dada Max yang bidang, basah, dan polos.


Max terkesiap, tangannya langsung berhenti menggosok rambut Lyra dengan handuk. Lyra pun mendongak menatap Max dalam diam. Keheningan tercipta di antara keduanya untuk sekian menit. Entah apa yang yang mereka berdua pikirkan di benak masing-masing.


Hingga Max yang lebih dulu berinisiatif untuk memecah keheningan yang canggung itu, " Ayo kedalam! Kau harus segera melepaskan seluruh pakaian basah itu dari tubuhmu sebelum terserang hipotermia," ucap Max sambil membimbing Lyra masuk ke dalam villa lalu menutup pintu villa itu rapat-rapat.


Ditariknya tangan Lyra yang entah kenapa hanya diam menurut saja menuju ke kamar tamu yang ditempati Max selama menginap.


*****

__ADS_1


__ADS_2