SEJUTA CINTA

SEJUTA CINTA
AMNESIA MENDADAK (5)


__ADS_3

Lyra yang terbangun saat matahari sudah terbit, langsung mendudukkan diri saat masih menguap dengan mengucek matanya.


Setelah matanya sudah benar-benar terbuka, dilihatnya jam antik yang sudah ada sejak ayahnya masih hidup dan berdiri kokoh di dekat perapian.


Ternyata sudah menunjukkan pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Gawat! pekik Lyra dalam hati. Dia kesiangan bangun. Kalau sudah begini tidak akan sempat bikin sarapan lalu ke pasar.


Tapi kalau tidak keburu ke pasar tradisional, mereka lagi-lagi harus makan dengan bahan seadanya mengingat lokasi dekat villa masih minim minimarket yang menjual bahan makanan yang cukup lengkap.


Itulah mengapa, Lyra lebih suka belanja di pasar tradisional yang selain lengkap, bahan makanan yang dijual di pasar juga lebih fresh dari pada yang biasanya dijual di minimarket.


Lyra melirik pria di sebelahnya yang masih tertidur dengan wajah tampannya itu. Hmm, sepertinya dirinya harus meninggalkan memo sebelum pergi ke pasar. Agar Max tidak mencari-carinya saat dia pergi. Begitu pikir Lyra.


Lalu secepat kilat wanita itu segera bangun dari posisi duduknya dan bergegas naik ke kamarnya di lantai atas untuk cuci muka, menyikat giginya, dan berganti baju. Lyra mengucir rambut panjangnya model ekor kuda agar lebih nyaman berbelanja di pasar tradisional yang biasanya dikunjungi banyak orang.


Setelahnya, Lyra mengambil sebuah kertas memo dan pena dari dalam laci nakas tempat tidurnya. Ditulisnya pesan yang akan ditinggalkannya untuk Max saat dirinya ke pasar tradisional nanti.


Setelah semua selesai, Lyra kembali turun ke lantai bawah untuk segera berangkat ke pasar. Namun, tanpa dia duga, Max sudah tidak ada lagi di tempat pria itu berbaring tadi, di atas permadani di depan perapian.


"Max!" panggil Lyra sambil menyusuri ruang perapian. "Kau dimana? Kau sudah bangun?" tanya Lyra lagi sambil terus mencari pria itu.


"Aku disini, Ly. Dan ya, aku sudah bangun," jawab Max yang baru saja keluar dari pintu kamar bawah.


Sepertinya pria itu juga sudah mencuci muka dan mengganti bajunya. Max bahkan sudah melepas perban dikepalanya dan hanya menutup lukanya dengan plester pelindung luka.


Saat Lyra menoleh ke arah Max, dilihatnya rambut Lyra yang terkibas indah membuat Max terpesona. Leher jenjangnya yang tak tertutupi rambut panjang Lyra yang sedang dikucir kuda, membuat Max berkali-kali menelan salivanya sendiri.


"Oh, kau sudah ganti baju?" tanya Lyra kaget.


"Iya, karena aku ingin pergi denganmu. Bolehkan?" Max mendekati wanita itu lalu merapikan anak rambut dari pipi Lyra yang menyangkut di ujung bibir gadis itu.


"Kau mau ikut aku ke pasar?" tanya Lyra meyakinkan.


Max mengangguk singkat. "Aku tahu kita kesiangan dan tak sempat sarapan disini, jadi kupikir, bagaimana kalau kita ke pasar sambil sekalian mencari sarapan disana. Pasti mereka juga menjual berbagai macam makanan siap makan di pasar kan?" Max menyampaikan idenya.


Lyra manggut-manggut, "Tapi apa kau tidak apa-apa berjalan-jalan? Kepalamu bagaimana? Tidakkah masih sakit?" tanya Lyra khawatir.


"Tenang saja, Ly. Aku tak akan memaksa ikut jika aku merasa tidak cukup sehat untuk ikut. Aku koki, kau ingat? Jadi aku tahu persis seperti apa suasana di pasar tradisional itu." jawab Max yakin.

__ADS_1


"Baiklah, Max. Ayo kita berangkat sebelum semua bahan makanan yang berkualitas itu habis terjual," ajak Lyra akhirnya.


Saat baru saja mengunci pintu villa dari luar, seorang pria memanggil Lyra sambil berjalan mendekati tempat Lyra dan Max berdiri.


"Lyra!" teriak pria itu.


Lyra menoleh lalu tersenyum pada pria itu sambil melambai-lambaikan kedua tangannya dengan riang. "Roooyyy!" panggil Lyra menyebutkan nama pria itu.


Membuat Max mengangkat sebelah alisnya heran. Dalam hati Max bertanya-tanya, apa hubungan Lyra dengan laki-laki itu.


Saat lelaki itu sudah mendekat, di depan mata kepala Max, pria itu langsung memeluk Lyra, menggendongnya, lalu memutar-mutar tubuh Lyra layaknya komidi putar. "Wah, wahhh, kau makin cantik saja, Ly," puji pria itu terus terang.


Dan melihat Lyra yang malah tertawa-tawa menerima perlakuan pria itu, membuat Max semakin mengernyitkan keningnya heran sekaligus tak suka. Apalagi setelah mendengar pujian yang dilontarkan pria itu terhadap Lyra.


Max tidak suka lelaki itu memeluk tubuh Lyra. Max benci melihat sikap lelaki itu yang seakan sangat mengenal Lyra, dan Max cemburu saat Lyra justru terlihat senang bertemu dengan pria itu bahkan tertawa-tawa dalam pelukan pria itu.


Di dorong rasa cemburunya yang besar, Max menangkap tubuh Lyra dari gendongan pria itu, menurunkannya dan menarik Lyra ke dalam pelukannya lalu mengunci tubuh Lyra disana.


"Apa kau tidak akan mengenalkannya padaku, Sayang?" tanya Max ditujukan pada Lyra namun matanya menatap pria itu setajam mungkin, untuk menunjukkan pada pria itu bahwa dirinya tidak menyukai adegan yang baru saja dilihatnya.


Lyra seketika terpaku dalam pelukan Max. Sementara pria itu akhirnya menyadari bahwa lelaki yang sejak tadi berdiri di samping Lyra bukanlah hanya teman biasa dilihat dari reaksinya yang tidak biasa.


Seketika Max membalas uluran tangan Roy sambil memperkenalkan dirinya sendiri. "Dan aku Max Fherem, kekasih Lyra. Salam kenal."


Mendengar Max menyebut dirinya sebagai kekasihnya membuat kedua pipi Lyra bersemu merah. Hatinya pun tak luput dari serangan bunga aneka rupa dan warna entah dari mana.


"Oh, Wow, aku tak pernah menyangka Lyra akan membawa kekasihnya ke villa berharga ini," sahut Roy lalu tersenyum lebar. "Selamat kawan, itu artinya kau istimewa," bisiknya sambil menepuk lengan Max.


Max seketika berbangga hati mendengar ucapan selamat dari Roy. Tatapan Max melembut seiring perubahan suasana hatinya yang kini berbunga sekaligus menurunkan kewaspadaannya pada Roy.


"Bagaimana kabar istrimu, Roy?" tanya Lyra setelah melepaskan diri dari pelukan Max.


"Baik, sangat baik. Kami bahkan baru saja mendapatkan seorang bayi cantik yang lucu," balas Roy dengan tawa bahagia.


"Benarkah?" pekik Lyra tak kalah senang. "Bolehkah aku melihatnya?" tanyanya lagi pada Roy.


"Tentu saja, datanglah ke rumahku kapanpun kau suka. Ajaklah Max juga. Ryana pasti akan sangat senang bertemu dengan kalian. Orang tuaku juga ada di sana. Mereka sudah menginap selama beberapa hari," Roy antusias.

__ADS_1


"Oh, pasti menyenangkan sekali!" Lyra tampak tak kalah antusias.


Melihat ekspresi senang dari Lyra membuat Max menyarankan sesuatu yang baru saja terbesit di benaknya.


"Bagaimana kalau kita berkunjung ke rumah Roy sepulang dari berbelanja ke pasar?" usul Max pada Lyra.


"Oh, itu ide yang sangat bagus Max!" sahut Lyra senang. "Kita bisa melewati jalan sedikit memutar untuk bisa ke rumah Roy sepulang dari pasar. Kebetulan sekali rumah Roy berada di tengah-tengah antara pasar dan villa ini," terang Lyra. Dan Roy hanya mengganggukkan kepalanya.


"Baiklah, setelah aku mengecek sambungan listrik di villa ini, aku akan segera pulang untuk memberi tahu orang rumah jika kau akan datang bersama Max," timpal Roy.


"Itu bagus sekali Roy. Listriknya memang mati total setelah petir besar semalam," balas Lyra melaporkan.


"Sudah kuduga! Pasti telah terjadi sesuatu dengan listriknya, baiklah akan kuperiksa," jawab Roy. "Lalu bagaimana denganmu, Ly? Apa kau baik-baik saja? Kau kan phobia kegelapan?" tanya Roy kemudian dengan nada khawatir.


"Aku baik-baik saja, Roy. Untunglah ada Max yang menemaniku disini," jawab Lyra sambil tersipu malu mengingat kejadian semalam.


"Semalaman kami terpaksa tidur di depan perapian karena tubuh Lyra yang membeku akibat serangan gelap mendadak semalam," lapor Max pada Roy.


"Terima kasih telah menjaganya, Kawan." Roy menepuk-nepuk punggung Max dengan tulus berterima kasih. Membuat Max sedikit merasa malu atas sikap ramah Roy padanya.


Max pun hanya membalas ucapan terima kasih Roy itu dengan balas menepuk punggung pria bertubuh besar itu.


"Baiklah, akan kuperiksa juga sisa cadangan gas di villa ini. Akan kuisi ulang jika memang sisa sedikit agar kalian berdua tak perlu khawatir kehabisan gas untuk perapian ataupun untuk memasak," ujarnya meyakinkan.


"Kalau begitu kami akan pergi ke pasar sekarang, Roy. Sebelum semakin siang," pamit Lyra.


"Pergilah, guys. Bersenang-senanglah," balas Roy melepas Lyra dan Max.


Akhirnya Lyra dan Max berjalan bersama menuruni bukit melewati perkebunan sayuran menuju pasar. Sepanjang perjalanan Lyra bercerita tentang Roy dan keluarganya pada Max.


"Aku dan Roy sama-sama anak tunggal. Dan karena umurnya yang lebih tua dari pada aku, kami saling menganggap diri kami sebagai adik dan kakak," terang Lyra bernostalgia.


Max hanya mendengarkan sambil tersenyum melihat Lyra yang juga tersenyum-senyum saat menceritakan kisah masa kecilnya dengan Roy.


"Kau tahu, dari dulu Roy sudah naksir pada Ryana, si anak petani cabai. Bahkan saat Ryana berkencan dengan anak seorang kepala desa, Roy sampai menguntit acara kencan mereka demi melindungi Ryana dari anak kepala desa yang terkenal mesum itu," cerita Lyra sambil tertawa.


Max jadi ikut tertawa saat Lyra tertawa. Melihat Lyra bercerita dengan begitu bahagia membuat Max turut bahagia. Bahkan hanya dengan bersama Lyra saja sudah membuat Max merasa begitu bahagia.

__ADS_1


*****


__ADS_2