
***
Hari ini adalah hari liburnya, tapi suasana hati Malika malah sedang tidak karuan. Ia galau, ia gundah serta gulana. Rasanya ia ingin seharian ini membenamkan diri di bawah selimutnya.
Tapi hal itu tak mungkin dilakukan mengingat dirinya adalah seorang ibu yang memiliki dua orang balita aktif yang butuh selalu di perhatikan.
Berhubung hari liburnya sama dengan hari libur Mbak Tiya. Jadi asisten rumah tangganya itu hari ini sedang pulang ke kampungnya di daerah kabupaten dan baru akan kembali besok lusa.
Alhasil, sejak pagi tadi, si kembar sudah heboh ingin main ke rumah Tante Rima mereka.
"Ayo Mami, Banguuunnn...kita mau main sama tante Rimaaaa!" rengek si kembar.
Meski anak-anaknya sudah kompak menaiki tubuhnya untuk membangunkannya. Malika hanya menggeliat pelan di atas kasurnya tanpa menjawab rengekan anak-anaknya. Ia benar-benar sedang mager alias males gerak.
Pikiran Malika sepenuhnya tertuju pada Taki. Bos besarnya itu benar-benar sudah menguasai otaknya. Ia rindu sekaligus takut untuk bertemu Taki lagi.
Malika masih dapat mengingat apa yang terjadi kemarin sore dalam perjalanan pulang. Dan ia pun jadi baper sendiri lalu menghentak-hentakkan kakinya dari dalam selimut yang membuat anak-anaknya jadi naik turun di atas tubuhnya. Tapi si kembar malah kegirangan dibuatnya dan tidak ingin berhenti naik turun.
Di waktu yang sama, namun tempat yang berbeda, Taki juga sedang galau di rumahnya sendiri. Ia merindukan Malika dan anak-anaknya. Ia tidak ingin absen bertemu mereka barang sehari saja.
Tapi karena hari ini mereka berdua sama-sama sedang libur kerja jadi tidak ada alasan bagi Taki untuk menjemput Malika. Tidak ada alasan pula baginya untuk datang ke rumah wanita yang telah menguasai hati dan pikirannya itu.
Taki lalu mengingat kembali kejadian di mobil kemarin.
#Flashback On
"Kalau gitu terima aku, Malika. Jadikan aku suamimu, jadikan aku ayah dari anak-anakmu dan menikahlah denganku!" Taki berkata dengan sungguh-sungguh.
Kedua bola mata Malika melebar, "Apa??? Nikah???" tanyanya tercengang.
"Iya, nikah! Aku enggak deketin kamu untuk sekedar menjalin hubungan sementara atau main-main, Malika! Aku lagi ngelamar kamu ini!!!" Taki berkata dengan gemas.
Malika langsung melepaskan tangannya dari genggaman Taki setelah mendengar ajakan Taki itu. Taki melongo melihat respon yang diberikan Malika. Ia merasa kecewa.
"Maaf! Tapi bagi wanita yang pernah gagal mengarungi biduk pernikahan seperti aku, keputusan menikah lagi bukanlah hal yg mudah untuk dilakukan."
Malika berkata sambil menunduk. Ia tak berani menatap mata Taki yang justru terus menatapnya lekat dari kursi kemudinya.
"Banyak hal yang harus aku pertimbangkan, Taki. Salah satunya adalah faktor keluarga. Aku belum mengenal keluargamu dan keluargamu pun belum mengenalku. Aku sangat tidak ingin mengalami kegagalan lagi, Taki. Aku tidak mau merasakan hal itu lagi." suara Malika terdengar mulai parau.
Taki tepekur mendengar alasan Malika. Sejujurnya Taki ingin bertanya lebih banyak, Taki ingin mereka berdiskusi tentang hal itu lebih jauh. Tapi Taki mengerti bahwa Malika sedang menahan sesak di dadanya.
Taki tidak ingin membuat wanita itu menangis. Ia tidak akan kuat melihatnya. Jadi ia memutuskan untuk menahan perasaannya dan memilih diam.
"Tolong antar aku pulang sekarang!" pinta Malika dengan nada memelas.
Taki tidak punya pilihan selain mengantar wanita yang hampir menangis itu pulang tanpa memaksanya untuk bicara lagi.
#Flashback Off
Setelah ia keceplosan melamar Malika begitu saja. Taki merasa sangat menyesal. Padahal ia ingin melamar Malika dengan momen yang lebih romantis dan tak terlupakan.
Taki berpikir, untuk dapat meyakinkan Malika agar mau menikah dengannya, ia harus dapat meyakinkan keluarganya dulu tentang Malika. Tapi sebelum itu ia harus tahu sedikit tentang kehidupan rumah tangga Malika di masa lalu.
Akhirnya Taki ingat akan sepupu Malika, ia pun segera menelepon Satria. Mereka kebetulan saling bertukar nomor ponsel saat sedang sama-sama menjaga si kembar ketika makan malam bersama dulu.
📱SATRIA AJI
Halo!
📱TAKI SAHARA
Halo Sat! Ini aku Taki!
📱SATRIA AJI
Oh, iya, Ki. Ada apa?
📱TAKI SAHARA
Boleh aku ke rumahmu sekarang? Ada hal yang ingin kutanyakan padamu dan Rima tentang Malika.
📱SATRIA AJI
Boleh saja. Kebetulan aku sedang cuti hari ini. Ada jadwal check up untuk program kehamilan Rima di Rumah Sakit.
📱TAKI SAHARA
Kapan sebaiknya aku ke sana?
__ADS_1
📱SATRIA AJI
Sekarang pun tidak apa-apa. Kebetulan kami baru sampai di rumah.
📱TAKI SAHARA
Oke, kalau begitu bisa minta alamat kalian?
📱SATRIA AJI
Jalan Merapi nomor dua belas. Tidak jauh dari rumah Malika kok.
📱TAKI SAHARA
Oke, aku ngerti. Aku ke sana sekarang, sampai ketemu!
Akhirnya setelah mendapat alamat Rima dan Satria, Taki bergegas menuju ke sana. Ia harus tahu bagaimana kehidupan rumah tangga Malika sebelumnya agar ia dapat secepatnya pula memikirkan cara meyakinkan Malika.
Sementara itu, di rumah Malika, si kembar rewel terus ingin main ke rumah Rima. Padahal Malika sudah mengalah dengan menuruti mereka bermain enjot-enjotan di atas kasur dengan kakinya.
Namun nampaknya anak kembarnya itu masih tidak puas hingga terus saja mengganggu Malika yang sedang suntuk dan galau memikirkan lamaran Taki kemarin. Setelah berusaha keras untuk bertahan, Malika akhirnya menyerah juga dari paksaan si kembar.
"Iya deh iyaaa, Mami anterin kalian ke rumah Tante Rima. Tapi Mami mandi dulu ya, kalian tunggu sambil nonton TV, Oke?" pinta Malika pada kedua balita aktif itu.
"Oke, Mami!" balas keduanya dengan kompak.
Mereka pun berlari kecil menuju ruang tamu untuk menyalakan TV sementara Malika menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
***
Di rumahnya, Rima menceritakan bagaimana pedihnya kehidupan rumah tangga Malika dengan Haris kepada Taki. Pria blasteran Jepang itu jadi sedikit mengerti kenapa Malika begitu sulit untuk memutuskan menikah lagi, karena bagi Malika pernikahan hanyalah kenangan buruk.
"Kemarin aku melamar Malika!" ungkap Taki pada Rima dan Satria yang langsung melongo.
"Serius???" suami istri itu pun kompak memastikan kebenaran ucapan Taki barusan.
Taki mengangguk cepat. Ia juga menceritakan pada mereka bagaimana reaksi Malika saat itu.
"Makanya sekarang kamu cari tahu alasan kenapa Malika bersikap demikian ke kita?" tanya Rima.
Lagi-lagi Taki mengangguk. Dan kini, setelah Taki mengerti situasinya, ia hanya tinggal memikirkan cara untuk meyakinkan Malika lagi agar mau menikah dengannya.
Toh sebenarnya Malika pun memiliki perasaan yang sama dengannya. Hanya saja Malika takut untuk memulai kembali. Dan Taki hanya harus menghapus rasa takut Malika itu.
Namun karena anak-anaknya sudah berteriak-teriak kegirangan, mau tidak mau Malika terpaksa memasukkan motornya ke halaman rumah Malika.
Taki dan Malika akhirnya bertemu di teras rumah Rima tanpa sengaja. Malika yang kaget dan tak siap menghadapi Taki, berusaha untuk pergi lagi. Saat Malika sudah berbalik badan, Taki dengan cepat memegang pergelangan tangan Malika sambil berkata,
"Kita harus bicara!"
Malika tak menjawab pun tak sanggup melihat ke arah Taki. Wanita itu hanya memalingkan wajahnya sambil menunduk. Si kembar melihat kedua orang dewasa di depan mereka dari bawah kaki-kaki Malika.
Tanpa melepaskan tangannya dari tangan Malika, Taki lalu berjongkok untuk bicara pada si kembar.
"Reo-Leo, Om Taki boleh pinjam Mami kalian sebentar?" tanyanya dengan lembut.
"Pinjam buat apa?" tanya salah satu dari mereka.
"Om Taki mau belikan kalian sosis bakar jumbo tapi tidak tahu belinya di mana, boleh pinjam Mami kalian untuk mengantar Om Taki ke penjualnya?" rayu Taki.
Keduanya pun langsung mengangguk cepat setelah mendengar alibi Taki.
"Terima kasih, Om janji tidak akan lama kok! Kalian tunggu di sini sama Tante Rima dan Om Satria ya!" pinta Taki.
Dan si kembar pun kembali menganggukkan kepala mereka lalu segera berlari menuju Om dan Tantenya yang tengah berdiri di ambang pintu masuk sedari tadi.
Taki lalu sedikit menyeret Malika untuk masuk ke dalam mobilnya. Malika hanya bisa menurut dengan pasrah. Taki melajukan mobilnya menuju daerah Gajahan, Pasar Kliwon.
Di sana terdapat kedai pinggir jalan yang menjual aneka bakaran termasuk sosis bakar jumbo yang ia janjikan kepada si kembar.
Setelah memesan kepada si penjual sosis, Taki kembali ke mobilnya di mana Malika berada. Sambil menunggu pesanan mereka siap, Taki mengungkapkan bahwa ia sudah tahu perihal kehidupan pernikahan Malika sebelumnya.
"Jadi kamu nyia-nyiain waktu libur berhargamu hanya demi ngorek-ngorek masa lalu aku?"
"Malika, asal kamu tahu ya! Bagiku enggak ada yang sia-sia kalau itu ada hubungannya denganmu. Dan lagi yang aku lakukan ini demi meyakinkan kamu untuk nerima aku, supaya kamu mau menikah sama aku!"
"Kamu udah tahu kan sekarang, alasanku enggak pingin nikah lagi?" tanya Malika dengan nada datar sedatar ekspresi wajahnya.
"Aku udah tahu, tapi aku masih enggak pengen menyerah tentang kamu. Aku enggak akan melakukan satu hal buruk pun yang mantan suamimu lakukan. Aku enggak akan bikin kamu menderita lagi, walaupun hanya dalam mimpi, aku tidak ingin kamu merasakan sakit yang sama seperti pernikahanmu dulu."
__ADS_1
"Sudah cukup, aku enggak bisa dengar lebih dari ini. Ini terlalu berlebihan. Buatku kata-katamu terlalu muluk, Taki."
"Bukan itu yang mau aku dengar dari kamu! Tolong kasih aku kesempatan untuk menunjukkan keseriusanku. Aku sedang melamarmu, LAGI, tidakkah kamu mengerti, Malika?!" pinta Taki dengan memohon.
Malika dapat melihat ketulusan dari sorot mata pria itu. Ia pun menarik nafas panjangnya. "Baiklah. Jika kamu mampu menerima anak-anakku, dan mereka pun bisa menerimamu, maka aku akan berkata 'Iya'!"
Wajah Taki seketika berubah sumringah. Ia pun mengeluarkan ponselnya dari kantong kemejanya lalu menyodorkan ke hadapan Malika setelah menekan icon untuk melakukan panggilan video call ke nomor kontak Satria.
Dan ketika Rima di seberang sana menerima panggilan Taki itu, seketika wajah si kembar pun muncul di layar.
"Rim, lakukan sekarang!" pinta Taki.
"Okeeyy, Reo-Leo, tante tanya yaa! Kalo Om Taki jadi Papi baru kalian, mau enggak?" Rima menanyai si kembar dari seberang telepon.
"Mauuuu!" jawab keduanya kompak.
"Kenapa?" tanya Rima lagi.
"Om Taki baik sih." jawab Reo.
"Om Taki ganteng." jawab Leo.
"Tuuhh denger sendiri kan??? Gue dan Satria juga setujuuuuu banget-nget-nget-nget-nget, lo bisa nikah sama Taki. Lo berhak bahagia, Malika! Come on, MOVE ON dong, Buk!!!" ujar Rima memprovokasi.
Mendengar semua itu, Malika merasa terkalahkan. Ia merasa tidak ada alasan lagi baginya untuk kabur dari cinta seorang Taki Sahara.
"Gimana???" tanya Taki pada wanita di hadapannya.
Malika pun akhirnya hanya bisa mengangguk pasrah menerima keadaan itu.
"Baiklah. Aku menerima lamaranmu! Aku mau menikah sama kamu!" jawabnya kemudian.
"Good Job!" seru Taki senang. "Terima kasih banyak, Rima, Satria! Dan kalian, anak-anak. Tunggu kami yaa!" ujar Taki lalu memutus video call.
Ketika sambungan telepon dengan si kembar sudah terputus, Malika memberikan satu syarat kepada Taki.
"Aku harus apa?" tanya pria itu.
"Jika kamu sudah memiliki kami, tolong jangan pernah lepaskan kami!" pinta Malika dengan serius.
"Memang siapa yang akan melakukan itu?" jawab Taki.
"Hanya berjaga-jaga aja!" balas Malika.
"Aku mungkin tidak bisa memberikan seisi dunia ini, tapi aku bisa memberikan seluruh duniaku. Sebesar itulah perasaanku pada kalian!"
Taki mengungkap perasaannya sambil meraih tengkuk Malika lalu mendekatkan wajahnya sendiri ke arah Malika dan mencium bibir wanita pujaannya itu. Mengunci bibir Malika pada bibirnya dan dalam hatinya.
Ciuman itu mereka lakukan cukup lama, hingga tanpa sadar tangan Taki mulai menjalar ke daerah yang berbahaya. Ketika tangannya hampir menangkup dada Malika yang masih di terbungkus bajunya, untungnya Taki seketika tersadar.
"Gawat!" pekiknya kemudian.
"Kenapa?" tanya Malika yang masih terlena.
"Sepertinya aku harus segera menikahimu!"
"Hah, apa?"
"Karena tubuhku sudah tidak bisa kukendalikan lagi saat bibirku sudah mengecap bibirmu!" jawab Taki dengan lugas.
Malika seketika merona. "Tapi bagaimana dengan keluargamu?"
"Aku bisa membawa keluargaku untuk melamarmu dalam waktu dekat!" umbar Taki.
"Jangan begitu! Mereka kan belum mengenalku dan aku pun belum mengenal mereka!" jelas Malika.
"Kalau begitu kamu harus mau aku kenalkan kepada mereka sebagai calon istriku, Oke!"
"Kalau mereka menolakku?"
"Aku janji itu tidak akan terjadi! Tapi apa kamu yakin bisa menerima kekuranganku?" Taki ingin memastikan ketulusan Malika.
Malika sempat terdiam, lalu akhirnya mengangguk.
Kemudian mereka pun sepakat untuk bertemu keluarga Taki ketika mereka pulang dari Jepang.
.
.
__ADS_1
.
To Be Continue....