
Di sisi lain, Lyra merasa kebingungan menghadapi pria-pria yang mengerumuninya. Rasa kikuknya saat berbicara dengan terlalu banyak pria sekaligus mulai kambuh.
Dirinya harus segera keluar dari kerumunan itu jika tidak ingin rasa mualnya muncul dan berakhir dengan memuntahkan seluruh isi perutnya.
Akhirnya, setelah mendapat celah yang tepat, Lyra buru-buru menarik diri dari sana dengan dalih ingin segera ke toilet. Para pria itupun dengan berat hati melepasnya, dan Lyra merasa sangat lega telah berhasil lolos dari mereka.
Ketika mendorong pintu masuk ke toilet, Lyra melongo melihat ramainya bagian dalam toilet oleh para pengunjung wanita. Apa karrna sedang ada pesta, makanya toiletnya jadi penuh begini? Lyra bertanya-tanya.
Akhirnya ia pun urung ke toilet dan memilih membelokkan langkah menuju balkon super luas yang didesain mirip taman buatan dengan pohon-pohon asli di beberapa sudutnya.
Lyra memilih bersandar pada salah satu pohon yang berada di sudut paling luar. Dengan posisi menghadap ke pagar pengaman balkon yang membuat sosok Lyra tertutup sepenuhnya oleh batang pohon hingga sama sekali tak tampak dari arah pintu balkon.
Lyra berpikir setelah ini dirinya akan langsung pulang saja. Meski pestanya belum usai namun Lyra merasa semua tugasnya malam ini telah usai.
Dia sudah menghadiri pesta sesuai perintah, dia sudah menyapa tuan rumah juga menyampaikan salam serta permintaan maaf dari bosnya kepada pemilik acara. Apalagi? Missions complete. pikir Lyra.
Semua sudah ia lakukan jadi mungkin tidak masalah baginya untuk pergi lebih awal dari pesta ini. Meski besok dia libur dari pekerjaannya tapi Lyra ingin mengunjungi rumah ibunya. Jadi dia harus segera pulang untuk mempersiapkan diri.
Ketika dirasa dirinya sudah cukup menghirup udara malam hari dari balkon, Lyra hendak melangkah keluar dari bayangan pohon ketika telinganya mendengar suara-suara yang dikenalnya.
Suara dua orang dewasa yang tidak asing di telinganya, suara pria dan wanita. Itu Melody dan Dylan Lennox, tebak batin Lyra. Apa yang mereka berdua lakukan di luar sini? tanya Lyra dalam hati.
Keberadaan dua orang itu secara otomatis mengurungkan niat Lyra untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tanpa mengeluarkan tubuhnya dari balik pohon, Lyra mengintip kedua orang itu.
Dilihatnya Melody yang juga bersandar di salah satu pohon dengan Dylan yang sedang menghimpit tubuh gadis itu. Mata Lyra membelalak ketika Melody dan Dylan saling menempelkan bibir mereka dan saling mencicipi bibir satu sama lain.
Tak hanya itu, Lyra pun mendengar tawa cekikikan mereka berdua di sela-sela aktifitas mesum itu. Dengan cepat Lyra mengeluarkan ponsel dari dalam Clucth Bag hitamnya, lalu menyalakan alat perekam sebagai bukti kebusukkan seorang Melody Lynn.
"Berani-beraninya kau menggodaku di malam pesta peringatan pernikahanku sendiri, dasar rubah kecil yang nakal," celoteh Dylan tanpa menghentikan ciumannya pada bibir dan leher jenjang Melody.
Tak lupa kedua tangan pria itu yang tak henti-hentinya melakukan sesuatu yang vulgar di bagian atas tubuh Melody, yang langsung menyembul keluar saat Dylan menarik kebawah gaun bermodel kemben berwarna zamrud, yang malam ini dipakai Melody.
Lyra menutup mulutnya menahan mual melihat adegan panas secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. Meski sudah dua puluh sembilan tahun, tapi Lyra sama sekali belum pernah melakukan adegan seintim itu dengan pria-pria yang pernah menjadi kekasihnya.
Maka Lyra pun heran melihat Melody yang dengan santainya melayani nafsu birahi Dylan yang notabene adalah suami orang lain, sementara Melody sendiri adalah kekasih dari sahabat pria yang sedang dicumbunya itu. Benar-benar gila, pikir Lyra.
"Memangnya apa alasanku memakai gaun yang mudah dibuka ini jika bukan untuk menggodamu?" balas Melody diakhiri dengan cekikikan bercampur desahan kala tangan Dylan mulai membuatnya merasakan kenikmatan.
"Tapi bisa juga kau memakainya agar mudah bercinta singkat dengan Max di salah satu sudut hotel ini, iya kan?" suara Dylan menggema parau dalam keheningan balkon.
"Sayangnya itu tidak mungkin." balas Melody cepat. "Kau tahu, selama tiga bulan lebih aku mengencani temanmu itu, dia sama sekali tidak pernah menyentuhku bahkan ketika aku dengan sukarela melemparkan diriku padanya," beber Melody dengan sebelah tangan yang terselip di sela resleting celana panjang Armani milik Dylan yang sudah terbuka.
"Wah pantas saja kau masih selalu mencariku bahkan ketika kalian sudah resmi berpacaran." Dylan tertawa.
"Hanya kau yang sanggup memuaskanku, sayang," rayu Melody tepat di telinga Dylan, membuat hasrat pria yang sudah beristri itu makin memuncak.
Dan tanpa ragu, Dylan segera mengangkat bagian bawah gaun yang dipakai Melody hingga langsung mengumbar bagian intim gadis itu yang ternyata tidak dilapisi pakaian dalam. Membuat Dylan terkejut sekaligus senang, merasa permainannya akan semakin mudah dan cepat selesai.
Mendengar seluruh percakapan menjijikkan itu, membuat Lyra teramat muak terhadap keduanya. Khususnya pada Melody Lynn. Bisa-bisanya Max akan menikahi gadis semacam itu. Tidak, ini tidak bisa dibiarkan, pikir Lyra masih dalam persembunyiannya.
Tak lama, ketika Dylan dan Melody yang akhirnya telah menyelesaikan permainan mesum mereka dan kembali ke dalam ruangan, Lyra lagi-lagi memantau situasi sebelum akhirnya benar-benar keluar dari persembunyiannya.
Dengan hati-hati Lyra memasuki ruangan berharap tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa dirinya baru saja masuk dari arah balkon.
Namun ketika Lyra hendak menuju ke pintu keluar, seseorang memanggilnya dari arah belakang tubuhnya.
"Lyra!" panggil Max yang ternyata sudah berdiri disana entah sejak kapan.
__ADS_1
Lyra terkejut setengah mati. Pikirannya bertanya-tanya apakah Max memergokinya yang baru saja masuk dari balkon atau Max memergokinya yang telah melihat adegan porno antara Melody dan Dylan?
Lyra tak berani berkata-kata, takut jika dirinya salah berucap hingga berakibat fatal.
"Mau kemana kau?" tanya Max dengan melipat kedua tangan di depan dadanya.
"A-aku mau pulang. Sepertinya sampanye memang tidak cocok untuk perutku," jawab Lyra terbata.
Tanpa di duga Max malah berjalan mendekat ke arahnya, melepas jas mahalnya lalu memakaikannya di pundak Lyra.
"Aku akan mengantarmu pulang," ucap Max sambil merangkul pundak Lyra, dan dengan sedikit dorongan akhirnya Lyra pun mulai berjalan mengikuti langkah Max keluar dari hotel itu.
"Tapi bagaimana dengan Melody? Apa kau tidak akan mengantar kekasihmu pulang?" tanya Lyra heran.
"Tidak apa, Melody baik-baik saja. Dia masih betah disini dan dia bisa pulang sendiri atau menginap di hotel ini. Terserah dia," jawab Max santai tanpa beban. "Aku yakin dia akan memilih untuk meneruskan berpesta disini daripada harus pulang denganku." Max meyakinkan Lyra.
Lyra akhirnya hanya bisa pasrah diantar pulang oleh Max. Di dalam mobilnya, Max tampak fokus menyetir. Lyra menatap wajah pria tampan di sampingnya itu lekat-lekat.
Ingatannya kembali pada kejadian di balkon tadi. Bagaimana ini? tanya Lyra dalam hati. Bagaimana jika Max mengetahui kebusukkan Melody, kebusukkan kekasih yang ingin dinikahinya itu. Apakah Max akan terluka? Lyra bertanya-tanya.
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Max tiba-tiba tanpa menoleh pada Lyra namun ternyata pria itu tahu bahwa Lyra sedang menatapnya.
"Tidak apa-apa," jawab Lyra dengan lirih. "Maaf jika aku mengganggumu menyetir." Lyra menundukkan kepalanya.
"Hei, ada apa? Kau kelihatan sedih?" tanya Max sambil sesekali melirik ke arah wanita yang duduk di sampingnya itu.
"Aku bilang, aku tidak apa-apa. Aku hanya mengantuk," jawab Lyra asal.
"Kalau begitu tidurlah! Nanti akan kubangunkan jika sudah sampai di apartemenmu." Max merapikan jasnya yang sedang dikenakan Lyra agar lebih menutupi tubuh wanita itu.
Aahh, pria ini benar-benar selalu bisa membuatnya meleleh hanya dengan perhatian-perhatian kecil seperti ini, gumam Lyra dalam hati.
Meskipun Max mengatakan akan membangunkan Lyra setelah mereka sampai di apartemen Lyra, nyatanya pria itu malah asyik memandangi wajah tidur wanita keturunan Pakistan-Tionghoa-Melayu itu.
Di dalam mobilnya yang sudah terparkir di parkiran gedung apartemen Lyra, Max masih betah berlama-lama memandangi wajah cantik Lyra yang khas. Max melipat kedua tangannya di atas kemudi stir, lalu menyandarkan kepalanya di atas sana dengan posisi wajah yang menoleh ke arah Lyra.
Seandainya, seandainya saja dirinya mempunyai keberanian untuk mengakui perasaannya pada wanita itu sejak lama. Mungkin saat ini dirinya sudah bisa memiliki Lyra seutuhnya.
Sayangnya Max terlalu takut untuk merusak hubungan persahabatannya dengan Lyra yang sudah terjalin sangat lama. Max takut jika dirinya mengungkapkan cintanya yang mendalam, dirinya justru malah akan kehilangan Lyra dan merusak persahabatan mereka selama ini.
Klise memang, tapi nyatanya seorang Max Fherem memang sepengecut itu jika harus berhadapan dengan seorang Lyra Rampal.
"Ngg..." Lyra mengucek matanya pelan. "Apa kita sudah sampai, Max?" tanya Lyra.
"Mmm, yah. Kita sudah sampai," jawab Max enggan.
Lyra mengerjap-ngerjapkan matanya mencoba mengembalikan pandangannya. "Barusan atau sudah lama?" tanyanya lagi pada Max yang masih memandanginya lekat.
"Lumayan," jawab Max singkat.
"Ish, kau ini! Kenapa kau tak bangunkan aku?" Lyra yang sedikit gemas lalu menyikut lengan Max pelan.
Max tak merespon. Pria itu bahkan tak bergeming dari posisinya sedari tadi. Seolah ada lem super kuat yang sudah menempelkan kepalanya di atas tangan yang terlipat di kemudi mobilnya.
"Kau bilang kau lelah, dan kau memang tertidur sangat nyenyak jadi aku tidak tega membangunkanmu." Max beralasan.
"Tapi sekarang jadi kau yang lelah karena menungguku bangun. Untung saja aku bangun cepat, kalau sampai pagi aku tidak bangun bagaimana?" Lyra mengerucutkan bibirnya bagai anak kecil yang merajuk minta dibelikan es krim.
Max yang melihat bibir Lyra merasa tergelitik untuk mencium dan menyesap habis bibir itu. Namun apa daya nyalinya tidak sekuat itu. Dalam hatinya Max bergumam, biarpun dirinya harus menunggui Lyra tidur sampai kiamat pun Max rela.
Lyra terdiam membalas tatapan intens Max padanya. Lyra membatin, haruskan pria sebaik Max menikahi gadis sebusuk Melody? Lyra rasanya ingin sekali menunjukkan rekaman suara Melody pada Max, tetapi dirinya masih tak sampai hati.
__ADS_1
Lyra takut akan membuat Max terluka. Tapi cepat atau lambat Max pasti akan mengetahui kebusukkan gadis itu. Akan baik jika Max cepat mengetahuinya, tapi bagaimana jika Max terlambat mengetahuinya dan terlanjur menikahi Melody? Aahhh, Lyra jadi galau sendiri.
"Apakah aku boleh menginap?" tanya Max lirih.
Lyra yang tak siap memasang kuping jadi melewatkan pertanyaan Max barusan. "Hah, Apa?" tanya Lyra kaget.
Max yang juga kaget dengan pertanyaan yang otomatis terlontar dari bibirnya barusan, segera mengangkat kepalanya dari atas kemudi. "Aah, tidak. Aku hanya bicara sendiri. Sepertinya aku juga sudah lelah," kilahnya.
"Kau yakin akan kuat menyetir sampai ke rumahmu?" tanya Lyra khawatir.
"Jika kau khawatir padaku, aku tidak keberatan menginap di tempatmu kalau kau mengizinkan," gurau Max.
Tanpa diduga Lyra tampak memikirkannya dengan serius. Mimik wajah Lyra yang sedang serius pun langsung mengundang tawa Max.
"Pfffttt...Hahahaha, Ya Ampun Lyra, aku cuma bercanda! Tidak mungkin kau memikirkannya sungguh-sungguh kan?" Max terbahak-bahak sambil mengacak puncak kepala Lyra, membuat gelungan rambut gadis itu terlepas lalu terjatuh ke pundak Lyra yang indah dan sedikit terbuka.
"Tapi aku memang serius memikirkannya. Dan kupikir tidak apa-apa kau menginap." jawab Lyra dengan tampang polos.
Max melongo mendengar penuturan sekaligus melihat perubahan penampilan wanita di sampingnya itu. Max berpikir, bagaimana dia bisa jadi semakin cantik hanya dengan merubah gaya rambutnya saja? Dan bagaimana dia bisa dengan mudah mengizinkan seorang pria untuk menginap di apartemennya?
"Kau bercanda?" Max balik bertanya setelah sukses menyadarkan dirinya dari feromon yang ditebarkan Lyra. "Tunggu, Ly. Kau— tidak mungkin, maksudku— pernah membiarkan seorang pria untuk menginap di apartemenmu kan?" tanya Max tergagap.
"Tentu saja tidak!" jawab Lyra lugas. "Bahkan satu-satunya lelaki yang sering keluar masuk tempatku itu hanya kau tahu," gerutunya.
Max menghela napasnya lega. Sesaat tadi dirinya sampai sempat berpikir bahwa Lyra sudah pernah membiarkan seorang pria menginap di tempatnya karena dengan mudahnya wanita itu memberi izin padanya untuk menginap.
"Lalu kenapa kau mengizinkanku menginap?" tanya Max tajam pada Lyra. Sebongkah harapan mencuat dari dalam diri Max, harapan bahwa wanita itu melihatnya sebagai pria spesial yang diinginkan oleh Lyra.
"Well, Kupikir itu sudah jelas, karena kau sahabat terbaikku dan aku mengkhawatirkanmu jika kau harus menyetir dalam keadaan lelah, apalagi aku yang telah membuatmu lelah," cerocos Lyra membeberkan berbagai macam alasan.
Raut wajah Max mendadak keruh saat mendengar kata 'sahabat' terlontar dari bibir Lyra. Namun akhirnya Max merutuki dirinya sendiri yang telah begitu lancang berharap sesuatu yang muluk dari Lyra. "Aku baik-baik saja, Terima kasih," balas Max datar.
Tapi aku tidak baik-baik saja setelah tahu bahwa kekasihmu tukang selingkuh apalagi dengan suami orang lain dan karena aku juga ingin lebih dekat denganmu, aku ingin meningkatkan level hubungan kita lalu menggantikan posisi gadis rubah itu di hatimu. Namun semua kalimat itu hanya mampu dibisikkan Lyra hanya dalam hatinya.
Keheningan merasuk diantara keduanya yang sibuk dengan pikiran masing-masing, dan dengan perasaan masing-masing.
"Baiklah, kurasa kau harus pulang lalu beristirahat dan aku juga harus tidur karena besok aku akan pergi ke tempat ibuku." Akhirnya Lyra berinisiatif memecah keheningan yang canggung itu.
"Kau akan ke tempat ibumu besok?" tanya Max.
"Iya, mumpung besok aku off kerja jadi aku ingin menemui ibuku." Lyra melepas sabuk pengamannya lalu meraih Clucth hitamnya dari dashboard mobil Max.
"Jam berapa?" tanya Max penasaran.
"Entahlah, sepagi yang aku bisa. Karena kau tahu, butuh waktu hampir dua jam untuk tiba disana, dan aku tidak akan menginap jadi, yaahh— begitulah rencananya." Lyra membuka pintu mobil Max lalu merentangkan kakinya keluar.
"Apa kau akan pergi sendiri?" Max masih bertanya meski harus mengintip dari dalam mobil sedan mewahnya.
"Tidak, tapi dengan calon suamiku," gurau Lyra yang langsung membuat Max menoleh dengan kasar ke arahnya.
"Hahahaha, Bercanda. Kali ini kau yang kena." Lyra terpingkal melihat Max menepuk dahinya sendiri setelah mendengar tawa Lyra pecah.
"Tentu saja aku berangkat sendiri, memang dengan siapa lagi?" jawab Lyra jujur sambil mengedikkan bahunya. "Baiklah, Tn. Max Fherem. Kurasa kau harus benar-benar pergi sekarang," usir Lyra lembut.
Max terdiam sesaat seperti hendak mengungkapkan sesuatu namun akhirnya tidak jadi. Pria itu malah nampak mengangguk-anggukkan kepalanya sebelum akhirnya melambaikan tangan dari dalam mobilnya, ke arah Lyra yang sudah masuk ke dalam pintu lift, menuju ke lantai dimana kamarnya berada.
***
__ADS_1