SEJUTA CINTA

SEJUTA CINTA
SEKRETARIS BURUK RUPA (8)


__ADS_3

Terasa seperti kencan


.


.


.


Ambrosia masih terbengong tak percaya jika saat ini, seorang Alex Levine yang sejak awal perjumpaannya dengan pria itu selalu bersikap sok berkuasa dan sok tampan, kini mau-maunya memberinya tumpangan menuju ke sebuah butik milik salah satu desainer kenamaan dari Australia—Carla Zampatti.


Alex mengantarnya dengan mobil pribadi milik ibunya, dan bahkan menyupirinya. Meski terlihat tenang saat duduk di kursi penumpang di samping kemudi Alex, namun di dalam hatinya, Ambrosia begitu gusar. Ia menerka-nerka sendiri, apa yang kira-kira akan dilakukan Alex untuk menjebaknya.


Ambrosia sangat yakin pria yang sedang mengemudi di sisi tempat duduknya itu begitu membencinya, lalu... apa alasan Alex Levine bermurah hati mengantarnya mengambil gaun malam yang akan dipakainya pada acara pelelangan itu? Ambrosia bertanya-tanya sendiri.


Di dera rasa penasaran yang begitu tinggi, membuat perut Ambrosia terasa kaku dan sedikit nyeri, hingga tanpa sadar ia meraba perutnya sendiri.


Alex menyadari keanehan pada sikap Ambrosia dan mulai mengkhawatirkan wajah wanita itu yang nyaris pucat secara tiba-tiba. "Kau kenapa, Ann? Wajahmu pucat, apa kau baik-baik saja?" tanya Alex sambil sesekali melirik ke arah sekretaris andalan ibunya itu.


"Tidak," jawab Ambrosia dengan tegas. "Saya hanya merasa sangat penasaran sampai-sampai perut saya kaku," imbuhnya terus terang.


"Dan apa yang membuatmu penasaran itu?" Alex mengernyitkan keningnya.


"Saya penasaran, kenapa anda mau repot-repot mengantarkan seorang karyawan biasa seperti saya pergi ke butik dengan perlakuan khusus seperti ini?" akhirnya Ambrosia melontarkan pertanyaan yang sedari tadi disimpannya dalam hati.


Mendadak Alex menepikan mobilnya di pinggiran jalan alternatif menuju Central Park Mall, Meski tak mematikan mesin mobilnya, tapi Alex memasang rem tangan demi mengamankan posisi mobilnya.


Lagi-lagi Ambrosia merasa heran dengan sikap tak terduga Alex. *A*pa lagi yang akan dilakukan pria aneh ini? pikir Ambrosia saat itu.


Alex terkekeh sebelum menjawab, "Jadi barusan perutmu kaku hanya karena kau penasaran setengah mati dengan alasanku mengantarmu ke butik sekarang ini?" tanya Alex memastikan sambil menoleh ke arah Ambrosia.


Ambrosia mengangguk cepat tanpa menjawab dengan suara. Ia terlalu malas menanggapi sikap Alex yang terlalu ambigu baginya.


"Aku hanya ingin membantumu memilihkan gaun yang tepat untukmu. Itu saja," jawab Alex dengan santai saat akhirnya Ambrosia berani menanyakan motif pria itu.


"Jadi menurut anda, saya tidak akan bisa memilih dengan benar gaun yang akan saya pakai sendiri, begitu?" Ambrosia merasa tersinggung dengan alasan yang dilontarkan Alex.


Dan kali ini, Alex benar-benar dibuat tergelak dengan pertanyaan Ambrosia, "Kau serius menanyakan itu padaku?" Alex balas bertanya sambil memberikan tatapan mencibir ke arah wanita yang duduk di sebelahnya.


Ambrosia semakin merasa kesal. Kedua matanya yang lebar langsung menyipit dari balik lensa kacamata tebalnya. "Apa maksud anda?" tanya Ambrosia dengan geram.


Perubahan ekspresi di wajah Ambrosia sangat menghibur bagi Alex, terus terang... hal inilah yang ingin terus dilihatnya, makanya ia dengan sengaja ingin mengantar si nona sekretaris ke butik untuk memilih gaun pesta itu.


"Dengar, Ann! Aku ini model, dan aku yakin aku lebih tahu tentang fashion ketimbang dirimu," ujar Alex dengan penuh percaya diri.


Dua jari telunjuk Alex sengaja ia arahkan dari atas kepala Ambrosia lalu turun hingga ke kaki wanita itu sambil menggelengkan kepalanya dan berdecak dengan keras. Membuat wajah Ambrosia seketika memerah karena menahan emosinya, merasa bahwa Alex telah mengejek penampilannya lagi. Dan kali ini tepat di hadapannya.


Merasa tidak ingin lagi menanggapi ucapan Alex yang terlalu menjengkelkan menurutnya. Dengan jengah Ambrosia memilih memalingkan wajahnya ke arah jendela yang berseberangan dengan posisi Alex.


Alex tersenyum penuh kemenangan sebelum akhirnya melepaskan rem tangan mobilnya dan membawa mereka berdua melesat kembali menuju House of Carla Zampatti sesuai rencana semula.


***


House of Carla Zampatti, Central Park Mall, SYDNEY.


Alex melepas jas dan dasinya sebelum keluar dari mobil. Cuaca yang terik siang itu cukup membuatnya kegerahan, hingga Alex dengan sengaja membuka dua buah kancing bagian atas kemeja birunya.

__ADS_1


Ambrosia yang sudah keluar dari mobil lebih dulu, melirik pria tampan nan seksi itu dengan sedikit bersemu. Meski begitu hatinya malah kesal, karena telah membiarkan dirinya sedikit tergoda untuk menikmati ketampanan seorang Alex Levine.


Alex berjalan tepat di sisi Ambrosia dengan langkah bak modelnya, dengan satu tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana sementara tangan yang satunya lagi mengacak rambutnya dengan bebas.


Sial... dia memang tampan. Ralat! Sangat tampan! pikir Ambrosia saat mencoba melirik Alex secara diam-diam.


Alex berusaha sekuat tenaga menyembunyikan tawa gelinya saat menyadari sikap kikuk Ambrosia ketika berjalan di sampingnya. Aku bersumpah, akan kubuat ini jadi lebih menyenangkan lagi! gumam Alex dalam hatinya.


Di dalam butik, Alex berkeliling dengan seksama memilih-milih beberapa gaun yang menurutnya cocok untuk Ambrosia kenakan. "Lihat caraku memilih gaun-gaun itu, Ann! Watch and learn!" ujar Alex menyeringai.


Ambrosia mengikuti di belakang pria jangkung itu sambil menahan geramannya. Sesekali ia menerima gaun yang telah dipilih Alex dengan kedua tangannya. Dan Alex baru berhenti memilih setelah melihat tumpukan gaun sudah menutupi sebagian wajah Ambrosia.


"Cobalah, Ann!" perintah Alex kemudian.


Ambrosia terbelalak, "Semua ini?"tanyanya.


"Iya, SE-MU-A-NYA!" jawab Alex sambil menuju ke arah sofa yang disediakan di dalam butik itu lalu duduk di atasnya dengan santai sambil menyilangkan kaki. "Aahh, letihnya!" gumam Alex sambil bersandar dan memejamkan matanya.


"Tapi saya tidak mungkin...." Ambrosia mencoba untuk membantah.


"Mungkin!" potong Alex dengan cepat. "Dan jika dalam dua detik kau tidak masuk ke dalam ruang pas itu, maka aku akan menyeretmu masuk ke dalam sana dan membantumu memakai gaun-gaun itu satu per satu," ancam Alex dengan membuka kembali matanya dan menatap lurus ke arah Ambrosia.


Ambrosia langsung merinding. Merasa ngeri akan ancaman Alex, Ambrosia memutar bola matanya dengan jengah sebelum akhirnya ia memilih menurut untuk masuk ke dalam fitting room dengan sangat terpaksa.


Dasar pria gila! maki Ambrosia dalam hati.


Setelah hampir dua jam sukses membuat Ambrosia bolak balik berganti gaun, akhirnya Alex memutuskan memilih tiga buah gaun untuk Ambrosia bawa pulang.


"Tunggu dulu! Kenapa harus sebanyak ini?" Ambrosia menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukankah saya hanya perlu satu buah gaun saja?" tanya Ambrosia bingung.


"Berjaga-jaga untuk apa?" balas Ambrosia tidak terima.


"Well... yeah, siapa tahu kau butuh gaun pengganti saat di acara itu Siapa tahu kau menumpahkan cocktail di atas gaunmu tanpa sengaja. Mungkin saja kan." Alex mengedikkan kedua bahunya. "Lagi pula itu dibayar dengan kartu perusahaan, jadi kau tidak perlu khawatir soal tagihanny."


"Justru karena alasan itulah saya tidak bisa menerima sebanyak ini, Sir." protes Ambrosia lagi.


Alex makin kesal kala mendengar Ambrosia yang masih ngotot untuk protes. "Sudahlah! Anggap ini bonus untukmu, untuk kerja kerasmu selama ini, lagipula Roxy sendiri kan yang menyuruhmu membeli gaun, aku yakin dia tidak akan masalah berapapun jumlah gaun yang akan kau ambil. Aku jamin itu."


"Tapi, Pak...."


"STOP! Aku malas berdebat denganmu! Aku lapar! Kalau kau masih banyak bicara, akan aku tinggal," potong Alex cepat sambil melenggang pergi keluar dari butik itu.


Dan dengan kesal, Ambrosia lagi-lagi hanya bisa mengikuti langkah pria itu. Sambil berjalan menuju sebuah restoran di dalam mall, Alex mengeluarkan ponselnya lalu menelepon ibunya—Roxanne.


"Hi, bu, kami sudah membeli gaun seperti yang kau suruh, aku memilihkan tiga gaun sekaligus tapi sepertinya sekretaris andalanmu ini keberatan."


"....."


"Tenang saja aku sudah berhasil memaksa nya untuk menerima gaun-gaun itu, dan karena sekarang aku lapar jadi aku akan mengajaknya untuk makan siang terlebih dahulu baru setelah itu kembali ke kantor. Bagaimana? Tidak apa-apa kan?"


"....."


"Baiklah, Bu, Akan ku sampaikan padanya! Terima kasih. Sampai ketemu nanti."


Ambrosia mensejajarkan langkahnya dengan langkah Alex sambil menatap intens ke arah pria itu, berharap ada yang akan Alex katakan kepadanya perihal pembicaraan Alex dengan Roxanne di telepon barusan.

__ADS_1


"Apa?" tanya Alex saat menyadari tatapan menunggu dari Ambrosia.


"Dia bilang apa? Bisa katakan pada saya bagaimana pendapat Roxy tentang jumlah gaun yang anda pilihkan?" tanya Ambrosia terlihat jelas bahwa wanita itu sangat penasaran.


Alex tersenyum smirk. "Akan kukatakan setelah kita memesan makanan. Aku lapar sekali, kau tahu?" jawabnya kemudian.


Ambrosia mendengus keras, "Siapa suruh anda memilih begitu lama! Saya tidak keberatan memakai yang mana saja!" gerutunya.


"Tapi aku keberatan merusak taste fashionku demi menuruti kemalasanmu. Tidakkah kau mengerti bahwa kita berdua adalah wakil dari Levine Enterprises di acara itu? Seharusnya kau pun mengerti bahwa penampilan kita besok adalah 'wajah' dari perusahaan kita? Dan kau ingin berpenampilan ala kadarnya, begitu? Yang benar saja, Ann," omel Alex panjang lebar.


Ambrosia tepekur sambil menatap langkah kakinya sendiri. Alex benar, pikirnya. Dia tidak seharusnya keras kepala saat Roxy telah mempercayakan acara besok kepadanya dan Alex. Ia seharusnya mampu bersikap profesional seperti biasanya bahkan ketika dirinya harus berpasangan dengan pria paling menyebalkan itu sekalipun.


Alex lagi-lagi merasa puas telah membuat seorang Ambrosia terdiam. Ia menyunggingkan kembali senyum kemenangannya. Sepertinya hari ini adalah hari keberuntunganku, batin Alex senang.


Setelah keduanya duduk di sebuah restoran yang Alex kehendaki, di dalam Mall Central Park. Ambrosia lagi-lagi dibuat tercengang ketika Alex membantunya menarik sebuah kursi untuk dirinya layaknya seorang gentlemen.


"Jangan bengong terus! Ayo duduklah, harus berapa kali kubilang bahwa aku sudah sangat lapar," omel Alex untuk yang kesekian kalinya di hari itu.


Dan kali ini, Ambrosia menuruti perintah Alex dalam diam. Saat memilih menu pun, Alex juga menawarkan kepada Ambrosia apakah ia ingin memilih makan siangnya sendiri.


Ambrosia menggeleng sesaat, lalu menjawab, "Saya terbiasa makan siang seadanya di kantor, jadi saya tidak tahu apa yang harus saya pilih di restoran semewah ini," jawabnya jujur.


Apa? Dia tidak pernah makan di restoran semacam ini? Alex sedikit shock dibuatnya. "Bolehkah aku memilihkannya untukmu?" tanyanya pada Ambrosia yang duduk tenang dihadapannya.


Ambrosia tampak merenung lalu mengangguk mengiyakan, "Silakan, Pak! Dan terima kasih atas bantuannya," jawabnya dengan formal.


"Kalau begitu apa yang bisa dan tidak bisa kamu makan, Ann?" tanya Alex sambil membuka-buka buku menu.


"Saya tidak bisa makan makanan bersantan. Dan saya juga tidak bisa makan kacang polong," jawab Ambrosia dengan ekspresi serius.


Alex tersenyum mendengar jawaban Ambrosia, "Lucu sekali," gumamnya.


Dan tanpa sadar Ambrosia mengerucutkan bibirnya begitu saja sambil memandang ke arah lain, demi menghindari tatapan Alex yang seolah sedang menggodanya.


Menggemaskan! pikir Alex


"Ibuku bilang tidak apa-apa jika kita sedikit terlambat pulang ke kantor, dan tidak apa-apa juga bagimu untuk mengambil lebih dari tiga gaun dari butik itu. Lihatkan, apa kubilang!" Alex menjawab rasa penasaran Ambrosia setelah dirinya selesai memesan menu untuk makan siang mereka berdua.


Ambrosia mendesah pelan. Meski masih dengan berat hati, tapi Ambrosia akhirnya terpaksa menerima semua gaun itu jika memang Roxanne sendiri tidak masalah.


"Menurutmu, bukankah kita berdua seperti sedang kencan?" Alex tiba-tiba bersikap tak terduga lagi.


Membuat Ambrosia terbelalak seketika, "A-apa? Berkencan? Kita?" pekik Ambrosia. Ekspresi poker facenya hancur sudah, mendadak berubah menjadi wajah tersipu yang merona merah muda.


Alex terkesima melihatnya, sekaligus luar biasa senang. Tak hanya beberapa kali dapat memenangkan perdebatan dengan si Nona Angkuh, dia pun akhirnya bisa juga menghancurkan topeng ketus dari wajah seorang Ambrosia Heart.


Ini menyenangkan! batin Alex girang.


Dan siang itu, Alex akhirnya sukses membuat Ambrosia salah tingkah dan tidak dapat makan siang dengan tenang. Namun, meski Alex terus menggodanya, entah kenapa Ambrosia tak lagi merasa kesal seperti saat mereka berangkat tadi.


.


.


.

__ADS_1


To Be Continue...


__ADS_2