SEJUTA CINTA

SEJUTA CINTA
MOVE ON (6)


__ADS_3

***


Setelah dinyatakan lolos tes wawancara, esoknya Malika kembali ke PANKEKI BAKERY untuk menunjukkan keahliannya membuat cake.


Di salah satu sudut ruang dapur divisi cake di toko roti itu, Malika sudah siap untuk memulai tesnya.


Celemek sudah terpasang, rambut panjangnya sudah ia gelung ke atas lalu memakai penutup kepala agar tidak ada rambut yang jatuh pada adonan, bahan-bahannya sudah disiapkan, oven dan alat lainnya juga sudah tersedia dengan lengkap.


Sip, udah siap semua. Kata hati Malika menyakinkan dirinya.


Tapi selain dirinya, yang ada di sudut ruangan itu hanya Zacky, sementara dua Chef yang akan bertindak sebagai juri atau penilai belum hadir di sana.


Namun tak lama, dua orang Chef yang ditunggu-tunggu pun akhirnya muncul juga. Chef Taki datang dengan membawa bundelan map yang berisi CV sekaligus dokumen pribadi milik Malika. Entah kenapa pria itu terus saja menentengnya kemana-mana sejak kemarin.


Sementara Chef Nanda tampak bersemangat melihat Malika yang akan membuat cake. Ia bahkan sampai sengaja duduk di kursi terdekat dengan posisi Malika, demi dapat memperhatikan dengan lebih seksama bagaimana langkah-langkah yang digunakan wanita itu dalam membuat cake.


"Oke, Malika. Hari ini kamu mau bikin cake apa?" tanya Chef Nanda tampak sangat antusias.


"Kayanya kurang tepat kalau peserta tes yang menentukan soal ujiannya sendiri. Silahkan Chef saja yang menentukan!" jawab Malika tegas.


"Wah, nantangin kamu ya?!" balas Chef Nanda sambil tersenyum lebar lalu menoleh pada Zacky dan Taki. "Gue suka gayanya!" ujarnya pada kedua rekannya. "Oke, kalo gitu kamu coba bikin Birthday Cake aja, biar sekalian saya bisa lihat skill dekorrating kamu!" perintah Chef Nanda.


"Maaf Chef, Birthday Cake-nya untuk laki-laki atau perempuan dan temanya apa?" tanya Malika lagi.


Chef Nanda kembali tercengang, Detail sekali pemikiran wanita ini. Hal yang bagus untuk di tanyakan oleh seorang cakery sebelum mengerjakan pesanan customernya. Chef Nanda memberikan penilaiannya dalam hati.


"Coba bikin Birthday Cake untuk seorang ibu yang dipesankan anaknya sebagai bentuk kasih sayang mereka ke ibunya itu. Temanya terserah kamu. Pokoknya ceritanya begitu." ujar Chef Nanda kemudian.


"Baik, Chef!" balas Malika dengan lugas.


"Anggap kamu lagi ngerjain ini di rumah kamu sendiri biar enggak nervous!" seru Taki pada Malika.


Dan Malika hanya mengangguk menanggapi seruan Taki tersebut.


Yang bikin nerveous malah karena baking sambil diliatin kalian-kalian ini, Pak! Kata batin Malika.


Malika lalu mulai melakukan step by step proses pembuatan kue tart yang diminta Chef Nanda tadi dengan ekspresi setenang mungkin.


Ia menimbang dan mengayak, menuang dan mencampur lalu mencicip hingga mengoven. Semua itu dilakukannya seolah tanpa beban di mata ketiga penilainya.


Setelah kue yang dimasaknya keluar dari oven, Malika terlebih dulu mendinginkan cake itu di cooling rack sebelum memberikan hiasan di atasnya.


Selama menunggu cakenya dingin, ia menggunakan waktunya untuk membereskan seluruh sisa bahan dan alat yang telah digunakannya hingga bersih dan rapi seperti sedia kala.


Sebelum mendekor cake, Malika lebih dulu menyiapkan bahan-bahan dan alat-alat yang dibutuhkannya untuk mendekor.


Setelah dirasa cake-nya sudah siap untuk dihias, Malika memotong cake tersebut tepat di tengah-tengahnya menjadi dua bagian. Ia lalu mengoleskan selai Marmalade* di tengah-tengah bagian cake sebagai isian lalu menyatukan kembali kedua cake potongan tadi seperti semula.


Dan tanpa diduga, sebagai dekorasi luarnya, Malika hanya mengoleskan buttercream putih tipis-tipis di atas cake lalu memberikan hiasan beberapa tangkai bunga mawar putih di bagian atas maupun bawahnya.


"Done!" seru Malika saat ia merasa cakenya sudah benar-benar siap.


Ia lalu menyodorkan cake buatannya itu ke hadapan ketiga pria penilainya. Sementara ketiga pria itu mengamati cake buatannya, Malika lalu membereskan semua alat dekor yang telah digunakannya sampai bersih.


Setelah ia selesai bersih-bersih. Saat ia kembali menoleh ke arah para Chef dan Zacky, ternyata mereka bertiga sudah mencicipi cake buatannya.


"Saya pengen tahu, kenapa kamu buat cake ini untuk cerita yang saya sebutkan tadi? Kenapa harus simple vanilla cake kombinasi Marmalade?" tanya Chef Nanda setelah Malika sudah kembali duduk di hadapannya.


"Sebenernya balik lagi ke selera masing-masing ya, Chef. Tapi saya pernah dapat orderan Birthday Cake yang ceritanya mirip seperti itu dan pas saya bikinkan cake yang seperti ini, ternyata ibunya suka sekali." jawab Malika dengan tenang.


"Apa testimoninya?" Chef Nanda makin penasaran.


"Katanya sih karena tidak terlalu manis, memang saya mikirnya kan karena biasanya orang tua apalagi orang tua perempuan tidak terlalu suka manis mengingat kadar gula darah mereka yg seringnya bermasalah. Jadi saya kepikiran untuk membuatkan simple vanilla cake aja daripada cake coklat yang lebih manis rasanya." terang Malika.


"Fillingnya, kenapa kamu pakai Marmalade? Dan bukan selai jenis lain?" tanya Chef Nanda lagi.


Meski Chef Nanda yang mendominasi pertanyaan, namun Chef Taki nampak tetap menyimak setiap jawaban yang dilontarkan Malika.


"Karena orang tua cenderung lebih suka yang rasa manis pahit seperti Marmalade daripada manis kecut seperti selai strawaberry atau selai nanas. Sedangkan kalau pakai selai coklat malah kemanisan, dan kalau pakai selai kacang bikin kolesterol naik." beber Malika apa adanya.


Chef Nanda tampak tersenyum simpul sambil manggut-manggut menerima penjelasan dari Malika itu. Ia lalu meneruskan memakan cake di depannya dengan antusias.


"Kenapa memilih menggunakan dekorasi na*ked cake ketimbang dekorasi classic cake?" Giliran Chef Taki yang penasaran akan tampilan cake buatan Malika yang minim buttercream itu.


"Kembali ke penjelasan saya yang pertama tadi Chef, saya sengaja dekor simple seperti na*ked cake ini karena hanya perlu pengolesan buttercream tipis-tipis agar para orang tua tidak keder duluan karena kepikiran kadar gulanya kalau mau makan cake itu!"


"Lho ini tangkai mawar putihnya kamu ganti tusuk sate?" Chef Nanda kaget setelah mencabut hiasan bunganya yang ada di atas cake.


"Iya Chef, karena kalo pakai tangkai bunga aslinya bisa merusak rasa dan bikin cakenya bau getah!" ujar Malika.


Chef Nanda pun kembali tersenyum puas mendengar jawaban demi jawaban yang dilontarkan Malika.

__ADS_1


"Katamu kemarin kamu belum pernah kursus ataupun sekolah kuliner, lalu dari mana kau dapat semua informasi tadi?" Taki lagi-lagi bertanya.


"Saya rajin lihat youtube dan sosial media lainnya mengenai cake, Chef. Saya suka observasi tentang cake gitu. Tapi kadang juga dari pengalaman sendiri sih." Malika nampak tersenyum mengakhiri jawabannya.


Ketiga pria yang ada di hadapan Malika hanya saling pandang satu sama lain. Dan mereka lalu memutuskan untuk mengakhiri tes kemampuan hari itu mengingat semua yang ingin mereka ketahui dari Malika sudah cukup mereka dapatkan.


"Baiklah, Malika. Kita sudahi tes kemampuan untuk hari ini. Selanjutkan akan kami rundingkan lebih dahulu apakah jadi memperkerjakan kamu di PANKEKI BAKERY atau tidak. Nantinya kamu akan kami hubungi via telepon untuk keputusan finalnya. Bagaimana?" Zacky berkata panjang lebar.


Malika menggangguk mengerti. Ia lalu melepas celemek serta tutup kepala yang sedari tadi dipakainya. Merasa tak perlu lagi menggelung rambutnya, Malika lalu melepaskan ikatan pada rambutnya itu.


Dan tanpa Malika sadari, Taki menatap intens setiap gerakan yang dibuatnya. Entah Taki sendiri sadar atau tidak tapi kedua rekan Taki tampak menyadari tatapan penuh arti sang CEO kepada calon staff baru mereka.


Chef Nanda yang lebih dulu menangkap tatapan penuh arti Taki kepada Malika lalu menyenggol lengan Zacky, dan memberi kode lewat matanya agar Zacky turut melihat tatapan mata Taki pada Malika.


Zacky tersenyum simpul melihat sepupu iparnya yang nampak tertarik pada seorang perempuan. Ia akan langsung memberitahu Niky tentang hal ini.


Setelah pulangnya Malika, Chef Nanda dan Taki masih betah berbincang dengan cake buatan Malika sebagai kudapan mereka. Keduanya membicarakan tentang keputusan yang akan mereka ambil untuk memperkerjakan Malika atau tidak.


"Kalau menurut gue sih, so far cuman dia yang memenuhi kriteria sebagai asisten gue. Orangnya rajin, cekatan, detail, dan tahu apa yang harus dia lakukan." kata Chef Nanda memberikan penilaiannya.


"Skillnya gimana menurut lo?" Taki menyahut sambil kembali memasukkan sesendok lagi potongan cake Malika tadi ke dalam mulutnya.


"Skillnya sih apa adanya ya, gue maklum lah karena dia otodidak. Cuman yang gue suka dari dia tuh, dia punya passion di bidang ini. Jadi enggak cuman buat nyambung hidup aja tapi dia ada minat dan menurut gue juga dia ada bakat sih." balas Chef Nanda menggebu-gebu.


"Gue setuju ama lo soal itu!" Taki manggut-manggut. "So, apa kita rekrut aja?" tanya Taki pada rekannya itu.


"Gue sih oke aja, gue suka cara kerjanya, soal skill ntar kita bisa improve skillnya lewat program short training yang kita sponsori untuk staff-staff yang kompeten, gimana?" jawab Chef Nanda.


"Kayanya lo dari awal emang udah good feeling sama Malika." Taki terkekeh. Ia lalu menyesap coffee lattenya.


"Bukannya lo juga? Gue tahu dari si Zacky kalo elo yang ngebolehin dia ngelamar kerja disini?" tembah Chef Nanda.


Dan seketika Taki tersedak kopinya sendiri. Chef Nanda yang melihat hal itu pun langsung tertawa terbahak dibuatnya. Ternyata bosnya bisa juga se-kikuk ini ketika ngomongin seorang wanita.


SIALAN si Zacky, gosiiipp aja kerjaannya. Rutuk Taki dalam hati sambil mengusap mulutnya yang berantakan akibat tersedak minumannya barusan.


***


Selepas maghrib, Malika yang sudah berhasil menidurkan anak-anaknya akhirnya mempunyai waktu untuk prepare bahan-bahan untuk membuat pesanan yang akan ia kirimkan esok.


Sesuai daftar pesanan di bukunya, ada beberapa pesanan cake untuk besok jadi Malika berencana membuatkan semuanya sekaligus malam ini juga agar besok ia hanya tinggal melakukan pengirimannya saja.


Ia lalu bergegas mengambil ponselnya dari atas lemari es untuk segera menerima telepon itu.


Siapa ya jam segini nelepon? Jangan-jangan Rima, tapi ada apa? Malika bertanya-tanya dalam hati.


Setelah ponselnya ada dalam genggaman, dilihatnya sebuah nomor asing tertera di sana.


Hahh? Nomor siapa ini? Pikirnya. Dan itu membuat Malika jadi sempat ragu untuk menerimanya. Tapi akhirnya keraguan itu ditepisnya dengan pikiran positif.


Jangan-jangan ada pelanggan yang menelepon dengan nomor yang belum masuk ke kontak-ku. Tebak Malika.


Ia lalu menekan tombol receiver pada layar ponselnya itu.


📱MALIKA SHARNAZ


Halo, selamat malam.


📱ZACKY NUGROHO


Selamat malam, dengan Malika Sharnaz?


📱MALIKA SHARNAZ


Ya betul, saya sendiri.


📱ZACKY NUGROHO


Maaf menelepon malam-malam begini. Saya Zacky dari PANKEKI BAKERY.


📱MALIKA SHARNAZ


Oh iya, Pak Zacky. Ada yang bisa saya bantu?


📱ZACKY NUGROHO


Saya mau memberitahukan perihal keputusan para Chef setelah melihat kemampuan kamu tadi siang, Malika.


Seketika jantung Malika berdebar, ia tak percaya akan langsung diberi keputusan secepat ini. Bahkan di hari yang sama setelah dirinya melakukan tes kemampuan.


📱MALIKA SHARNAZ

__ADS_1


Iya, gimana, Pak?


📱ZACKY NUGROHO


Jadi setelah melakukan perundingan, kami memutuskan untuk merekrut kamu menjadi asistennya Chef Nanda di bagian cake. Gimana?


DEG!!! Jantung Malika serasa berhenti berdetak sesaat tadi. Nafasnya jadi sesak merasakan bahagia yang seketika membuncah dari dalam hatinya.


Matanya mulai berkaca-kaca namun ia berusaha mengendalikan emosi dalam suaranya agar tetap terdengar tenang selama percakapannya dengan Zacky berlangsung.


📱MALIKA SHARNAZ


Serius? Beneran saya diterima, Pak?


📱ZACKY NUGROHO


Iya, jadi apa kamu bisa ke PANKEKI BAKERY lagi besok pagi untuk teken kontrak kerja?


Malika berpikir sejenak untuk mempertimbangkan jadwalnya besok. Kalau dia bisa mulai melakukan pengiriman sekitar jam sembilan pagi, mungkin ia bisa menyelesaikan pengiriman pesanan setelah makan siang.


📱MALIKA SHARNAZ


Saya besok baru bisa ke sana kurang lebih setelah makan siang, Pak? Atau sore, karena besok saya full pengantaran pesanan cake online saya.


📱ZACKY NUGROHO


Oke tidak masalah, asal jangan lebih dari jam tiga sore ya?


Malika kembali sumringah mendengar jawaban Zacky yang tidak mempermasalahkan waktu kedatangannya.


📱MALIKA SHARNAZ


Baik, Pak. Saya usahakan sebelum jam tiga sore saya sudah ada di PANKEKI BAKERY untuk menemui anda.


📱ZACKY NUGROHO


Baiklah kalau begitu, sampai jumpa besok. Selamat malam.


📱MALIKA SHARNAZ


Baik, Terima kasih banyak, Pak. Selamat malam.


Setelah teleponnya ditutup. Malika seakan ingin melompat-lompat saking senangnya. Malika nampak begitu gembira menerima berita itu.


Ia langsung berlari kecil menuju ke kamar kedua anaknya untuk menciumi mereka sambil tak henti-hentinya mengucap syukur.


Ini semua rejeki kalian, Nak. Berkat kalian di samping Mami, Mami jadi lebih kuat. Mami janji kita akan hidup lebih baik lagi kedepannya. Mami janji demi kalian berdua.


Air mata bahagia Malika nampak berlinang. Ia begitu bersyukur atas rejeki yang didapatnya ini. Rasa syukurnya kali ini bahkan jauh lebih besar ketimbang saat ia diputuskan bercerai dari mantan suaminya.


Malika lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi dengan hari riang. Ia pun membuat pesanan-pesanan cake itu dengan senyum lebar yang terkembang tanpa henti.


‌.


.


.



To Be Continue...


*‌Marmalade


Adalah selai yang mengandung kulit buah, dan biasanya terbuat dari jenis buah jeruk. Ketika kita mengoleskannya, kita dapat melihat potongan-potongan kecil kulit buahnya, yang juga memberikan sensasi pahit ketika memakannya.



‌***





 



__ADS_1


__ADS_2