
Part Time
Pokoknya hari ini gue harus bisa ngomong ke ibu! Harus!
Sheryn menelan salivanya dengan gugup. Melipat bibirnya demi menahan getarnya. Sudah sejak beberapa minggu lalu ia menunda-nunda hal ini. Tentang keinginannya untuk bekerja part time agar dapat mengumpulkan uang tabungannya sendiri, dan tidak hanya selalu bergantung kepada sang kakak seperti sebelum-sebelumnya.
Di awal masa kuliahnya dulu, Sheryn terpaksa meredam keinginannya itu karena sang ibu beralasan masih terlalu dini baginya untuk mencoba pekerjaan paruh waktu. Sang ibu khawatir Sheryn belum mampu membagi waktu antara kuliah, part time, dan beristirahat. Karena itulah beliau belum memberikan ijinnya.
Namun kini, dirinya sudah memasuki akhir semester tiga. Dan di jurusan yang diambilnya, masa-masa setelah Ujian Akhir Semester (UAS) seperti saat ini adalah momen yang paling tepat untuk menjajal pekerjaan paruh waktu, karena sudah bebas praktikum dan tidak ada kelas yang harus dihadirinya.
Untuk kesekian kalinya, Sheryn mengambil napas dalam-dalam agar lebih rileks lalu melirik ke arah sang ibu yang sedang mengisi sebuah pot dengan tanah. Mereka sedang berkebun berdua saja di taman di samping rumah, dan bagi Sheryn ini adalah kesempatannya meminta ijin sang ibu karena suasana yang tenang dan mendukung.
Sheryn memulainya dengan sebuah deheman sebelum akhirnya membuka suara, "Bu, Sheryn udah boleh kerja part time nggak?"
Seketika gerakan tangan ibunda Sheryn yang tengah mengambil pupuk terhenti. Sang ibu terpaku selama sekian detik hingga akhirnya meneruskan kembali aktivitasnya sambil tersenyum. "Kuliahnya gimana?" tanya sang ibu dengan tenang.
Mengetahui sang ibu pasti akan menanyakan hal tersebut, Sheryn sudah mempersiapkan jawabannya jauh-jauh hari. Maka iapun menjelaskan tentang kuliahnya yang sedang dalam masa tenang menjelang libur semester. Disusul dengan testimoni dari beberapa teman sekampus bahkan beberapa seniornya tentang betapa tepatnya mencari kerja sambilan di saat seperti ini.
"UASku udah selesai, tinggal tunggu hasilnya aja. Dan karena tiga semester awal kemarin, aku sudah ambil masing-masing full sks, jadi semester depan aku bisa lebih santai. Nggak masalah kalau aku cuman ambil delapan puluh persen dari total sksku demi menyesuaikan waktuku untuk part time nanti," jelasnya.
Sang ibu tampak mengulum senyum sembari meneruskan kegiatan berkebunnya. Sebuah tanaman mawar jingga yang telah memiliki beberapa bunga ia letakkan dengan hati-hati ke dalam pot yang baru ia lapisi tanah dan pupuk. Beliau melakukan semua itu sambil mendengarkan penjelasan Sheryn sekaligus mengagumi sifat si putri bungsu yang selalu mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang.
"Ibu bisa tebak, sepertinya kamu juga sudah menentukan lokasi part time yang kamu incar. Iya kan?" tanya sang ibu tanpa menoleh ke arah putrinya.
Sheryn menggangguk malu-malu, dan memberikan penegasan melalui sebuah jawaban, "Iya, Bu. Aku emang sudah punya gambaran beberapa lokasi cafe maupun toko yang menerima part timer anak kuliahan," tegas Sheryn sambil menekan-nekan gundukan tanah di pangkal pohon dolar berukuran mini yang ia tanam.
"Kalau ibu boleh tahu, di mana saja lokasinya?"
Tanpa pikir panjang Sheryn segera menjelaskan beberapa tempat usaha yang telah ia survey karena berada di sekitaran kampusnya, "Juga ada satu lagi kafe yang terkenal bergaji besar, Bu. Walaupun lokasinya agak jauh dari kampusku sih, tapi masuk pertimbanganku karena kafe itu tepat di depan kantornya kak Sarah."
__ADS_1
"Walaupun lokasinya di depan kantor kakakmu, tapi ibu agak kurang sreg kalau kamu kerja sambilan di kafe. Ibu lebih tenang kalau kamu kerja sambilan di toko buku atau toko yang biasa-biasa saja. Kalau di kafe ibu takutnya ...." belum sempat ibunda Sheryn menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Nathan yang muncul di arah belakang mereka langsung ikutan nimbrung.
"Maafkan saya kalau menyela, Bu. Tapi saran saya justru akan lebih baik kalau Sheryn bekerja di kafe depan kantor kak Sarah. Dengan begitu mereka bisa pulang bareng. Dan saya bisa jamin kalau Sheryn akan tetap aman jika bekerja sambilan di sana," terang Nathan yang kemudian ikut berjongkok di sisi ibunda Sheryn.
Sheryn dan ibunya mengernyit dengan kompak, berusaha mencerna kalimat demi kalimat yang Nathan ucapkan barusan. Namun, akhirnya wanita paruh baya itu justru bertanya, "Darimana Nak Nathan bisa yakin jika Sheryn akan aman bekerja di sana?"
Nathan tersenyum lembut terhadap ibunya Sheryn, sementara ia menahan geli saat melihat ekspresi Sheryn yang nampak hampir melongo tak percaya. Ia berdehem sebelum akhirnya memberikan jawabannya, "Karena saya pemilik kafe itu, Bu."
Kali ini, baik Sheryn maupun ibunya, tidak mampu lagi menahan rasa terkejut mereka atas jawaban yang diberikan Nathan. Ibu dan anak itu sama-sama mematung di tempat mereka berjongkok. Benar-benar tak menduga fakta yang baru saja diungkap oleh Nathan.
***
Setelah mendapat persetujuan sang ibu, bahkan juga kakak perempuannya—Sarah. Sheryn akhirnya berpasrah diri untuk melamar kerja sambilan di kafe milik Nathan.
Meski awalnya ia tidak menempatkan kafe itu sebagai prioritas setelah mengetahui bahwa Nathan adalah pemiliknya—karena dirinya tidak terlalu suka berdekatan dengan Nathan, namun Sheryn seolah tak punya pilihan setelah sang ibu menyatakan akan merasa lebih tenang jika Sheryn bekerja di kafe milik Nathan yang notabene kini bagian dari keluarganya.
Dan hari ini, Sheryn diminta Nathan agar datang ke kafenya sepulang kuliah untuk melakukan wawancara kerja. Walaupun wawancara itu hanya sebagai formalitas karena Nathan sudah tentu akan menerima Sheryn bekerja untuknya, tetapi Sheryn tetap melakukannya dengan penuh kesungguhan karena menurutnya itulah etika yang benar sebelum memulai bekerja di suatu tempat.
"Sheryn," panggil Nathan lirih dengan mulut yang hampir membulat menyerupai telur. Gadis itu menoleh ke arahnya dan tersenyum. Sebuah senyuman yang langsung mengalihkan dunia Nathan sepenuhnya ke arah wajah yang meski cantik tetapi nampak tegas itu.
Nathan bersumpah, ia merasa kesulitan menelan salivanya sendiri saat melihat wujud Sheryn yang berbeda dari biasanya. Mata Nathan turun menuju kedua kaki Sheryn yang terbuka—yang tak tertutup celana jeans seperti biasa.
Saat Sheryn berjalan mendekat ke arahnya, lalu berdiri di hadapannya, sekali lagi Nathan menyadari sesuatu, bahwa gadis itu ternyata lebih tinggi dari yang Nathan kira selama ini—sekitar seratus tujuh puluh senti. Berbeda dengan tubuh Sarah yang lebih mungil. Begitu pikir Nathan.
Nathan terus memandang Sheryn dan lupa berkedip. Darahnya memanas melihat kaki langsing dan jenjang itu hanya tertutup sebagian. Ia masih tidak menyangka Sheryn akan datang dengan memakai rok span selutut yang diluar dugaan terlihat cocok untuknya.
Namun, sedetik kemudian Nathan menjadi kesal saat menyadari ada lebih dari satu pria di kafe itu menoleh ke arah Sheryn dengan tatapan mendamba. Nathan menggeleng lemah, ia tidak berhak menghakimi mereka—para pria itu. Ia sendiri merasa tak bisa bernapas normal sejak melihat kemunculan Sheryn dari balik pintu kafe. Sebuah kejutan yang menyenangkan.
Meski penampilannya benar-benar sopan. Tapi pengaruh rok itu terhadap Nathan begitu kuat seolah gadis itu memang datang untuk merayunya dan bukannya untuk wawancara kerja. Apa gue udah berubah jadi maniak?Nathan keheranan pada isi otaknya yang vulgar.
__ADS_1
Saat seorang karyawannya tanpa sengaja menyenggolnya dari belakang, seakan pikiran Nathan yang tadinya melanglang buana kemana-kemana seketika tertarik kembali ke dalam otaknya dan langsung mengembalikan kesadarannya.
"Ups, sorry, Bos!" sesal karyawan itu sambil meringis ke arah Nathan yang langsung mengerjap-ngerjapkan matanya.
Nathan tak menanggapi pemuda itu dan langsung kembali menoleh ke arah Sheryn yang masih berdiri dengan wajah polosnya di balik mesin kasir tepat di hadapan Nathan.
"Aku datang untuk wawancara," terang Sheryn dengan ekspresi datar.
"Oh, eh, iya ... sebentar!" balas Nathan tanpa sanggup mengontrol diri atas kekagumannya terhadap sosok Sheryn saat ini, "Nes, tolong selesaikan update menu barunya!" perintahnya sambil menoleh ke arah staff yang sedang berdiri tak jauh darinya.
Merasa tugasnya telah ada yang mengambil alih, Nathan segera membimbing Sheryn menuju ke sudut kafe lalu menarik sebuah kursi untuk gadis itu dan mempersilahkannya duduk. Sheryn mengangguk singkat sebelum menduduki kursi itu dan dengan gaya yang luwes menyibak helaian rambutnya yang terjuntai di depan dada ke belakang punggung.
Mendadak bibir Nathan mengering saat melihat gerakan itu. Lagi-lagi pikirannya langsung kosong dalam sedetik. Blank. Tak dapat memikirkan apapun. Bagai orang bodoh yang terhipnotis.
"Jadi, bisa kita mulai wawancaranya? Atau Pak Nathan lebih suka menyebutnya sebagai briefing karena aku sudah pasti diterima kerja di sini?" Sheryn langsung menunjukkan sikap to the point sambil tersenyum setelah mereka berdua sudah sama-sama duduk, dan saling berhadapan.
Senyum seksi seketika menghiasi mulut Nathan, mencoba memberitahu Sheryn lebih dari sebuah kata-kata bahwa pria itu menyukai apa yang didengar dan juga dilihatnya. Nathan mengagumi sikap Sheryn yang meski menganggap apa yang akan mereka lakukan itu sekedar formalitas, tapi tak dapat dipungkiri jika gadis itu tetap datang dengan etika dasar yang benar.
Nathan memiringkan kepalanya sambil bersedekap, "Terserah kamu aja mau disebut apa. Apapun itu kita tetap akan melakukannya, tapi dengan satu syarat!" ucapnya tegas.
Sheryn mengerutkan dahinya dengan mata yang menyipit menatap Nathan, "Apa?"
"Kamu nggak boleh, dilarang keras, bahkan haram hukumnya bagimu memanggilku 'Pak'. Nggak, Sher! Aku nggak mau dipanggil begitu, apalagi sama kamu!" tegas Nathan dengan ekspresi yang berubah serius.
.
.
.
__ADS_1
To Be Continue...